Siapa Sosok Bertangan Dingin Dibalik Kesuksesan Sekolah Insan Cendekia Madani?



Sudah lama saya mendengar nama sekolah Insan Cendekia Madani di Serpong Tangerang. Kalau ga salah, waktu Dipo, keponakan saya disekolahkan di boarding school ini sejak SMP sampai lulus SMA. Waktu itu, setiap ada family gathering, Dipo paling susah ditemuin. Kata maminya, peraturan sekolahnya sangat ketat. Jadi kalau ga urgent-urgent amat, ya, susah. 

Melihat perkembangan Dipo selama sekolah di Insan Cendekia Madani, jujur, saya pengen banget anak-anak saya menghabiskan masa remajanya di boarding school ini. Lingkungan yang tepat saya yakin dapat membentuk anak memiliki karakter dan pondasi yang kuat. Tahu sendiri, kan, usia remaja yang labil sering bikin resah. 




Alhamdulillah, saya dan teman-teman Blogger berkesempatan berkunjung ke sekolah Insan Cendekia Madani, Kamis, 19 November 2019 silam. Di area seluas 12 hektar kami diajak melihat langsung lingkungan sekolah yang bikin saya jatuh hati. 




Berikut kesan saya : 





1. Pemandangan asri sudah membetot hati sejak memasuki pintu gerbang. Pohon-pohon rindang yang tertata harmonis dengan deretan gedung-gedung dan gemericik air dari kolam ikan koi terasa bukan seperti di lingkungan sekolah. Di area ini ada beberapa pilihan untuk ngobrol atau berdiskusi. Mau duduk di bangku beton di pinggir kolam ikan koi, di meja-meja cantik di depan perpustakaan atau di gazebo-gazebo. Dijamin betah berlama-lama di sini 😍

2. Fasilitas utama. Selain bangunan inti sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA dengan rata-rata siswa berjumlah 20 orang, sekolah ini juga menyediakan perpustakaan, masjid, tiga laboratorium dan lapangan olahraga yang mencakup lapangan basket, lapangan bulu tangkis, lapangan futsal, lapangan sepak bola, dan dua kolam renang berukuran standar olimpiade. 




3. Fasilitas penunjang : 

- restoran untuk tempat makan siswa, guru dan karyawan. Setiap olahan menu yang disajikan oleh chief sesuai rekomendasi ahli nutrisi. 
- gedung conventional hall yang masih dalam proses pembangunan, 
- lapangan parkir yang luas, cukup menampung 300 mobil
- puluhan kendaraan antar jemput, 
- minimarket, 
- laundry, 
- atm center, 
- klinik sekolah dan 
- beberapa bis sekolah yang digunakan untuk menunjang kegiatan siswa di luar sekolah seperti lomba, study tour dan lain-lain. 



4. Fasilitas lainnya berupa edupark dan mini zoo. Di sekolah Insan Cendekia Madani ada kebun buah naga, puluhan ekor rusa, budidaya ikan nila yang didatangkan bibitnya dari BPPT untuk dikonsumsi siswa, guru dan karyawan. Btw dari hasil pengembangan air tanahnya juga bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti K****n water. Wowwww 😋

5. Kurikulum Sekolah menerapkan kurikulum 2013 dan kurikulum Cambridge standar Internasional yang dipadukan dengan kurikulum kenabian. Kalau kurikulum nasional ICM mengikuti sistem pendidikan di tanah air, kurikulum kenabian ICM memberi landasan nilai dan moralitas sebagai fondasi kehidupan di masa depan, sedangkan kurikulum Cambridge untuk mempersiapkan modal bersaing bagi siswa siswi ICM baik di dunia nasional maupun kancah internasional. 

FYI, kurikulum Cambridge mengajarkan anak didik untuk berargumentasi dan mendiskusikan masalah-masalah dalam mata pelajaran. Jadi, ga heran, saat terima raport mid test (saya lupa istilahnya apa) orang tua tidak akan langsung menerima raport. Tapi anak akan mempresentasikan kemajuan yang telah didapat selama tiga bulan bersekolah, apa kendala yang dihadapinya selama ini, sehingga diharapkan saat akhir tahun kemajuannya akan terlihat. 




Sebagai lembaga pendikan dengan standar internasional, sekolah Insan Cendekia Madani menerapkan program English Day untuk membentuk kebiasaan menggunakan bahasa Inggris pada siswa siswinya. Kalau di kelas, siswa dan guru wajib berbahasa Inggris, khusus di English Day seluruh komponen yang ada di lingkungan ICM wajib berbahasa Inggris. Makanya, pak security dan cleaning service di sini juga cas cis cus lho bahasa Inggrisnya heheh... 

Yang menarik, waktu saya diajak berkeliling ke seluruh fasilitas di ICM, ucapan assalamualaikum terus terdengar di telinga saya. Saya perhatikan, wajah murid-murid yang saya temui saat school touring terlihat bersemangat. Salah satu siswa kelas tiga malah tanpa malu-malu menyambut kedatangan rombongan dan salim tangan sambil bercerita kalau dirinya baru saja melakukan sholat Badiyah. Masya Allah. 

Oh iya, untuk meningkatkan kemampuan literasi, seluruh siswa/i juga diwajibkan berkunjung ke perpustakaan dan ikut program membaca. Murid dibolehkan memilih satu bacaan di perpustakaan dan dikembalikan seminggu kemudian. Untuk mencegah buku sekedar dipinjam saja tanpa dibaca perpustakaan memberi lembar kerja untuk diisi. Apa sih buku yang dibacanya, mengenai apa, bercerita tentang apa. Kira-kira seperti itulah. 




Dengan kultur pendidikan yang menyenangkan dan mensupport penuh sekolah ICM tak bisa dianggap remeh. Berbagai penghargaan di ajang kompetisi nasional maupun internasional, baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler disikat habis. Tentu ini tak bisa terlepas dari sosok bertangan dingin dibalik kesuksesan ICM. Siapa dia? 

Beliau adalah Tamsil Linrung yang dikenal sebagai pengusaha dan politikus. Lahir dari keluarga seorang guru membuat Tamsil paham sekali pentingnya pendidikan sebagai pijakan dalam membentuk karakter diri manusia dan peradaban bangsa. 

ICM lahir dari rasa prihatinnya melihat sekolah-sekolah elit, modern dan berkualitas didominasi sekolah non muslim. Padahal jumlah penduduk muslim di negara kita terbesar di dunia. Besarnya jumlah penduduk ini kenapa tidak diimbangi dengan kehadiran lembaga pendidikan yang unggul, berkualitas dan representatif? 

Oleh karena itu, lahan yang dimilikinya, yang sedianya akan dijadikan komplek perumahan akhirnya diputuskan untuk dijadikan sekolah islam berkualitas. Melalui ICM diharapkan lembaga pendidikan ini memiliki integritas, menjadi pusat kebangkitan science dan kebudayaan islam di Indonesia yang mampu melahirkan gagasan-gagasan besar untuk kebaikan umat manusia. Masya Allah. 










Nah, inilah perwujudannya. Saat langkah kita memasuki pintu gerbang ICM rasanya mungkin seperti surga kali, ya? Adem, tentram, damai. Bikin betah berlama-lama di sini karena seperti rumah yang menyambut hangat. Sapaan hangat dan senyum ramah bolak balik saya temui mulai dari garda terdepan, yakni pak security, staf dan guru ICM juga murid-muridnya. 

Tamsil Linrung adalah sosok yang kompleks, selain memiliki kecekatan sebagai pengusaha, ketulusan seorang ustadz, kemampuan berpolitisi diapun juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tali Foundation didirikan sekitar delapan tahun lalu dengan mengusung tiga aksi sosial yakni ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Karena tiga hal inilah yang menurutnya menjadi permasalahan paling mendera dan pelik dalam masyarakat. 




Bentuknya, dalam sektor ekonomi Tali Foundation memberikan bantuan modal usaha tanpa agunan bagi pedagang kecil yang selama ini tak pernah dilirik lembaga perbankan karena dinilai usaha mereka tidak bankable. 

Di sektor kesehatan, Tali Foundation mengadakan sunatan massal, medical check up, pemeriksaan gigi dan sosialisasi gerakan masyarakat sehat secara gratis bagi masyarakat yang terkendala. 

Dan terakhir, di sektor pendidikan Tali Foundation memberikan beasiswa penuh untuk pelajar tak mampu di semua jenjang pendidikan. Mereka disekolahkan di sekolah unggulan seperti sekolah ICM Serpong. Lima siswa penerimah beasiswa dari ICM kini telah menjadi mahasiswa ITB melalui jalur undangan. Jadi tidak perlu ikut ujian SNMPTN lagi tapi dilihat dari rekam akademik dari kelas X hingga kelas XII. Selamat yaa 




Dalam perjalanan pulang, hati dan pikiran saya ga bisa move on. Saya membayangkan mas Tsaka dan Dega bisa menempuh pendidikan di sekolah ICM. Di sinilah tempat ideal yang bisa membantu mereka untuk tumbuh menjadi pribadi dan karakter unggul SDM yang berpijak pada ketauhidan (iman) agar siap bersaing di era industri 4.0 yang sudah di depan mata. Semoga Allah memudahkan, aamiin. 

Agama tanpa ilmu adalah buta, ilmu tanpa agama adalah lumpuh. ~ Albert Einstein. 




















Komentar