Obesitas dan Gangguan Penglihatan Dapat Dicegah dan Ditangani, Ini Caranya



Siapa coba yang ga gemes kalau lihat anak yang menul-menul pipinya. Kalau jalan ginak ginuk. Lucuk yaa... Tapi coba kalau dia sudah gede, hmmm, masih gemes ndak? Kalo saya koq bayanginnya engap ya... *Engap = bahasa betawi = sesak. 

Bicara soal berat badan, kebanyakan orang, tuh, inginnya punya berat badan ideal. Tapi, lucuknya, keinginan cuma sebatas keinginan aja. Usahanya tidak ada. Gaya hidupnya tidak diubah meskipun katanya sudah diet dan olahraga. 

Obesitas artinya over konsumsi kalori. Setiap individu memiliki jumlah kalori yang perlu dikonsumsi untuk proses tubuh bisa berjalan dengan baik. Bila kalori yang dikonsumsi berlebihan dan berlangsung dalam jangka waktu lama dapat terjadi penumpukan kalori dan semua nutrisi yang ada diubah menjadi deposit lemak. 

Hieks, saya akui untuk konsisten memang tidak mudah. Godaannya banyak sekali, masya Allah. Pesen makanan melalui online dan kemana-mana tinggal order ojol jadi jarang jalan kaki. Atau jajan gorengan abang-abang di pinggir jalan yang dimakan sambil duduk di depan laptop dengan segelas kopi susu sachetan hangat, waah luar biasa rasanya. Tapiiiii, rupanya semua itu jahapp, gaess!!




Sebagaimana dipaparkan dr. Cut Putri Arianie - Direktur P2PTM Kemenkes RI , "gemar mengkonsumsi junk food yang tinggi gula, garam, dan lemak serta kurang makan buah dan sayur ditambah malas bergerak membuat kita rentan terkena obesitas." 

Yuk, mari kita cek berapa lingkar pinggang dan berapa indeks massa tubuh kita. Caranya dengan membagi berat badan seorang dengan kuadrat tinggi badan. Dari situlah kita bisa menilai tubuh kita termasuk ke dalam kategori kurus, ideal, kelebihan berat badan atau obesitas. Alhamdulillah saya masih ((MASIHH) aman tapi perlu waspada, karena beda satu digit lagi saya sudah masuk ke dalam kategori kelebihan berat badan huhuhuh... 

Dalam pemaparannya lebih lanjut Kemenkes RI menemukan fakta : angka obesitas dari tahun ke tahun di Indonesia meningkat terus, dimana trennya terjadi peningkatan kasus obesitas pada anak-anak. Padahal obesitas adalah salah satu penyakit tidak menular yang memiliki risiko kesehatan serius, bahkan dapat menyebabkan kematian. Ga nyangka, kan, gara-gara batuk saja, orang obesitas bisa sesak napas dan berujung kematian? Sila googling sendiri kasus Satia bocah obesitas asal Karawang. 


Berdasarkan riset 2018 dari Harvard T.H. Chan School of Public Health disebutkan bahwa orang yang mengalami kenaikan berat badan 2 hingga 9 kilo sebelum usia 55 tahun meningkatkan risiko kematian dini dan penyakit tidak menular yang didominasi penyakit kardiovaskular (terutama penyakit jantung iskemik dan stroke), diabetes, osteoporosis, kanker (terutama endometrium, payudara, ovarium, prostat, hati, kandung empedu, ginjal dan usus besar). 


Beruntung saya dan teman-teman Bloggercrony berkesempatan hadir di acara sosialiasi pecegahan dan penanganan penyakit tidak menular di gedung Sujudi Kemenkes RI, Jakarta. Acaranya sarat ilmu, saya tsyukaaa banget. Melalui kegiatan ini, sebagai salah satu sendi stake holder di bidang kesehatan, saya bisa mengajak lingkungan terdekat saya untuk menjaga kesehatan mata. Pun melalui tulisan-tulisan saya di media sosial dan blog. 



Moment bulan Oktober ini menjadi penting dikarenakan seluruh dunia memperingati hari penglihatan dan hari obesitas secara bersamaan. Hari penglihatan sedunia sebenarnya diperingati setiap hari kami minggu ke dua bulan Oktober. Nah, tahun ini hari penglihatan sedunia jatuh tanggal 10 Oktober 2019, beda satu hari dengan hari obesitas sedunia yang jatuh pada 9 Oktober 2019. Sebab itu dalam rangka peringatan hari penglihatan sedunia dan hari obesitas sedunia acara sosialiasi pencegahan dan penanganan penyakit tidak menular digelar pada 8 Oktober 2019 silam di Kemenkes RI. 

Kembali ke obesitas, tidak ada cara lain untuk mencegahnya kecuali membudayakan program CERDIK yang dianjurkan Kemenkes. Jangan malas bergerak atau aktifitas fisik minimal 30 menit sehari atau kalau jalan setara dengan 10 ribu langkah. Bila sudah kelebihan berat badan segera diet, modifikasi perilaku dan konsultasi gizi ke ahli medis. 




Yudhi Adrianto, S.GzRD dari PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia)  mengingatkan, jangan lupa 3J yakni jumlah, jadwal dan jenis makanannya. Jenis makanan yang dimaksud adalah makanan berserat tinggi seperti beras merah, jagung, roti gandum, oatmeal, dan kentang. Ini merupakan karbohidrat terbaik yang membuat kita merasa kenyang lebih lama. Kalau kenyang lebih lama kita jadi enggan ngemil kan. 

"Makan sayur itu penting. Tapi sayurnya jangan digulai. Cek kandungan gula dalam minuman kemasan. Pilih daging ayam tanpa kulit. Karena inilah sumber protein dengan kandungan lemak sedang" ~ Yudhi Adrianto, S.GzRD. 

Tak lupa kesehatan mata pun harus kita jaga.Terkadang orang sering memainkan ponsel di kasur dengan kondisi kamar yang gelap. Tanpa disadari pengaturan cahaya dari layar ponsel disetel jadi ke yang paling tinggi. Padahal pendaran cahaya ponsel itu berbahaya, teman-teman. Retina mata bisa rusak. Paparan langsung sinar biru dapat menembus bagian luar mata hingga ke bagian dalam mata. Sinar biru ini juga bersifat supresif ; mampu menghilangkan kantuk. Ayo pernah kan, saat mau tidur, untuk memunculkan rasa kantuk kitanya malah main hape. Pendaran sinar biru ponsel inilah yang justru membuat rasa kantuk jadi hilang. 

Menurut dr. M. Siddik, SpM dari PERDAMI (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia) masalah gangguan kesehatan mata berdampak pada setiap kelompok umur dan kesejahteraan mereka seperti : 

1. lanjut usia = katarak, glaukuma, AMD (degenerasi makula),
2. usia sekolah dan usia lebih dari 40 tahun = kelainan refraksi mata (perlu kacamata) 
3. bayi = ROP (retinopati pada bayi prematur)
4. penderita diabetes = retinopati diabetes

Sebab itu, dalam rangka hari penglihatan sedunia beliau menghimbau masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mata - dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama! Karena apa, dari 8  juta penduduk Indonesia ditemukan mengalami gangguan penglihatan. Angka tersebut dari 6,4 juta orang mengalami gangguan penglihatan berat serta 1,6 jutanya lagi mengalami kebutaan. "Dari angka-angka ini, sebetulnya 80% adalah kebutaan yang bisa dicegah atau diobati," tegasnya. 

FYI, katarak menjadi salah satu penyebab kebutaan yang paling mengkuatirkan dan faktanya katarak mayoritas terjadi pada kelompok masyarakat miskin. Bila tidak ditangani dengan serius, dikuatirkan pada tahun 2030 Indonesia akan mengalami tsunami katarak. Ngeri yaa 😢




Ada banyak cara yang dapat kita terapkan untuk hidup sehat. Masalahnya, bila pola tersebut belum dijadikan sebuah kebiasaan yang ada kita jadi terbebani. Sebab itu kita ga bisa memaksakan. Lakukan perlahan-lahan saja yang penting konsisten. 

Berikut ini tips menjaga kesehatan : 
1. untuk mencegah rabun jauh perlu pencahayaan yang baik untuk kegiatan sehari-hari seperti saat membaca dan belajar. 

2. Konsumsi makanan sehat, jauhi rokok dan alkohol

3. Rutin melakukan aktivitas fisik. Ajak anak bermain di luar rumah daripada main hape terus di dalam rumah. 

3. Untuk menghindari paparan sinar UVA-B gunakan pelindung seperti kacamata hitam, payung, topi dan 

4. Periksakan mata : 
- bila penglihatan terganggu
- bila diri kita atau salah satu keluarga telah berusia 40 tahun atau lebih dini lagi bila memiliki faktor risiko penyakit mata atau riwayat keluarga. 
- ada bayi lahir prematur, anak usia sekolah, ada riwayat diabetes atau riwayat glaukuma 

5. Bagi pengguna gadget dan komputer seperti kita maka sebaiknya istirahat secara berkala setiap 20 menit. Caranya dengan mengalihkan pandangan ke arah yang jauh, senam mata. Melihat hape atau membaca dengan jarak sejauh 30 cm dan beri filter anti silau. 




Terakhir, jangan lupa yaa deteksi dini penyakit ; cek tekanan darah, gula darah, indeks massa tubuh/lingkar perutnya. Ayo, kapan terakhir kali mengukur lingkar pinggang? Hmmm, sehat itu mahal, teman-teman. Mari kita perbaiki gaya hidup dan pola makan kita yang salah selama ini. 

Komentar