Sebarkan Virus-Virus Cinta Membaca Melalui Gelaran IIBF 2019



Bagi teman-teman yang suka membaca seperti saya, hari terakhir IIBF 2019 ibarat kabar duka. Rasanya lima hari penyelenggaraan pameran buku di JCC Senayan terlalu sebentar. Masih banyak buku incaran yang belum saya temukan.  Pun acara-acara yang luput saya hadiri. Padahal, totally, ada puluhan kegiatan menarik terkait perbukuan berupa promosi, transaksi, diskusi, dan interaksi di kalangan penerbit, penulis, pustakawan dan pelaku industri kreatif lainnya.


Kebetulan tahun ini saya sempat dua kali berkunjung ke IIBF 2019. Pertama waktu pembukaan, dan yang ke dua pas penutupan. Bukan tanpa disengaja memang, namun karena kebetulan pas senggang waktunya saja di waktu-waktu tersebut. Kebetulan di hari terakhir IIBF 2019 saya punya waktu leluasa banget. Jadilah sepanjang siang sampai malam saya betah ngendon di zona kalap. Tau-tau kepala saya pusing. Ah rupanya sudah kelamaan berdiri dan bekal air minum sudah habis. Kemudian saya lirik jam tangan, wah sudah waktunya makan malam. Pantes pusing hihihi...



Zona kalap merupakan sentra tempat buku-buku murah dijual. Ini menjadi daya tarik luar biasa di IIBF. Ada lebih dari 7 ribu judul buku berbahasa Indonesia dan buku import dengan potongan harga hingga 90%. Aneka buku baik fiksi maupun non fiksi bahkan mainan edukasi ada di sini.



Buku-buku craft dengan teknik rajutan, kain flanel, menjahit favorit saya dibandrol mulai harga 15 ribu rupiah. Buku novel science fiksi kesukaan Dega dibandrol harga 15 ribu rupiah juga. Beli aahhh. 

Excitednya, dari hasil ngubek-ngubek saya menemukan tanpa sengaja harta karun incaran. Novel Erstwhile. Terus terang saya sudah lama penasaran dengan judul buku ini. Gara-gara waktu liputan konser musik Ismail Marzuki yang dibawakan komposer musik Ananda Sukarlan, menurutnya, sebagian lantunan nadanya terinspirasi dari novel tersebut. Wah jadi ga sabar membuka plastik pembungkusnya, ingin segera membaca.

Tadinya saya sempat kuatir persediaan uang di dompet kurang. Rupanya di sini telah disediakan cashier tunai dan non tunai. Kalau begitu amaaann...




Tidak hanya zona kalap yang mampu membius saya. Tepat persis di depan zona kalap, seolah ada yang menuntun tau-tau kaki saya sudah mendarat di stand Magfiroh Publishing. Ini merupkan stand khusus buku-buku religi. Soal harga, wuih saya sempat tercenung lama. Mahal atau murah relatif sergah hati saya.  Melihat kemasan buku hard cover dan isi di dalamnya yang pasti bermanfaat bagi manusia yang selalu haus pencerahan, saya tak merasa rugi sama sekali mampir di sini. 

Menariknya, di sini juga ada box buku untuk mengapreasiasi pengunjung yang ingin hijrah. Kadar level hijrahnya pun benar-benar untuk pemula. Jadi buku-buku sholat, dan kewajiban di bulan Ramadhan dibandrol mulai dengan harga dua ribu lima ratus rupiah saja, teman-teman. Jujur saya tergelitik dengan buku-buku di sini. Rasanya kehausan saya akan buku-buku religi berkualitas seolah sirna seketika. Apalagi selain fitur bayar cash atau debit di sini kita bisa membayar via gopay. Malahan dapet cashback 20 persen lagi. Asik kaan... 







Oh iya, kalau mau Al Quran gratis bisa langsung ke stand Kedubes Arab Saudi. Free lho! Tapiiii mentang-mentang free setiap pengunjung harus melalui uji tantangan test baca Al Quran. Maksudnya jelas, sih, supaya Al Quran dibaca sampai di rumah. Jadi jangan cuma jadi pajangan aja. 





Lepas dari sini mata saya tertumbuk di stand Perpusnas. Ada antrian apakah gerangan? Wah rupanya di stand ini juga menjadi ajang sosialiasi. Setiap pengunjung yang ingin membuat kartu anggota Perpustakaan tak perlu jauh-jauh ke Perpusnas tapi bisa langsung di sini. Prosesnya sebentar koq. 

Tapi sebelum pencetakan kartu anggota, pendaftar mengisi data diri dulu di dua komputer yang disediakan. Setelah itu difoto dan tanpa menunggu lama, kira-kira lima menit jadi deh kartu anggota perpusnas. Selamat ya yang sudah bikin. Selamat juga bagi pengunjung yang mampir di booth Perpusnas karena bisa mendapat termos stainles untuk isi air panas. Alhamdulillah, saya kebagian, dong hehehee...




Di sini saya sempat ngobrol dengan petugas Perpusnas yang berjaga terkait pemilihan tema kuliner di ajang IIBF 2019. Menurutnya, (maaf saya tak nanya namanya) kuliner adalah salah satu bagian dari kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Maka dari itu buku-buku kuliner selalu dicari banyak orang. Bahkan orang luar negeri pun kerap mencari buku-buku kuliner khas Indonesia untuk mempelajari citarasanya. Nah, Perpusnas memiliki koleksi ribuan buku kuliner. So, mari kita ke perpusnas dan ikut lestarikan kekayaan kuliner bangsa kita melalui buku. 

Kesimpulan. Warisan terbaik kita pada generasi selanjutnya adalah kecintaannya pada ilmu. Dan buku dekat dengan ilmu.Maka jangan putuskan rantai itu. Untuk menumbuhkan kecintaan anak pada bacaan mulailah dari keluarga. Ayo kita mulai sebarkan virus-virus cinta membaca. Sampai bertemu lagi IIBF 2020.











Komentar