Kamis, 27 Juni 2019

Mari Buka Diri Wujudkan Mimpi Melalui Ajang Allianz Explorer Camp 2019

Juni 27, 2019 0


Selain hobi menirukan dialog dalam film, persis kaya lagi dubbing, dengan mudah saya bisa menemukan ketertarikan Dega pada bidang lain, misalnya masak. Beberapa kali dari iseng-iseng jualan pas jam istirahat sekolah, makanan kreasinya sold out lho dibeli teman-temannya. Girang banget dia. Bertolak belakang dengan Dega, mas Tsaka hobinya malah main game. Dari ceritanya saya baru tau kalau point - point yang dikumpulkan bisa dijual. Dia sendiri sudah beberapa kali mendulang rupiah dari jualan point gamenya. Pantesan ga pernah minta pulsa😄

Sebagai orang tua saya dan suami tetap menghargai dan mendukung mereka selalu. Meskipun begitu, tak lupa terselip harap semoga aktivitas fisik seperti main sepeda, jogging dan main basket juga tetap dijalankan Dega dan mas Tsaka. Biar gimanapun saya ngeri juga dengan dampak dari kurangnya aktivitas fisik pada anak. Mulai dari obesitas hingga penyakit jantung, diabetes, stunting sampai stress. Itu bisa menyebabkan prestasi secara keseluruhan bisa terganggu, kan? 

FAKTA : Berdasarkan survey yang dilakukan Common Sense Media, pengguna internet dan gawai usia remaja 13 - 18 tahun menghabiskan waktu rata-rata sembilan jam sehari berinteraksi dengan gawainya. Kondisi ini menyebabkan banyak remaja yang terlalu terikat dengan gawainya, kurang memiliki aktivitas fisik yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuhnya, dan kurang berexplorasi. 

Nah, bicara soal minat tak banyak orang tua yang mampu mendeteksi minat anak-anaknya. Kalaupun iya, tak sedikit orang tua yang justru melarang anak-anaknya menggeluti hobi yang tak biasa. Contohnya aja anak lelaki yang hobinya nguprek di dapur kaya Dega atau anak perempuan tapi hobinya main bola. 

Hmmmm, ironis banget.



Begini teman-teman. Setiap anak memiliki bakatnya sendiri-sendiri. Dan sekedar info aja, bakat itu tak muncul begitu saja tapi adakalanya harus digali dari minatnya. Jangan ragu mengajak dia keluar dari zona nyaman dengan mengenalkan dan belajar ketrampilan baru di bidang apapun. Latih kepercayaan diri dan berpikir dengan mindset berbeda. Itu hal penting untuk menggali potensi dan bakat minat mereka. Kalau perlu, ajak dia untuk ikut ajang Allianz Explorer Camp. 

Apa itu Allianz Explorer Camp? 
Allianz Explorer Camp - Football Edition merupakan sebuah ajang mencari bibit unggul di bidang sepak bola. Menyasar target pada remaja berusia 14 - 16 tahun sejak digelar tahun 2010 silam program yang dulunya dikenal dengan Allianz Junior Football Camp ini telah menarik minat ratusan remaja yang tersebar di lebih dari 20 negara di dunia. Di Indonesia sendiri, program ini telah berjalan sejak tahun 2012, dan kali ini di tahun ke delapan diselenggarakannya diikuti 18 ribu peserta. 



Sebagaimana dijelaskan Karin Zulkarnain - Chief Marketing Officer, Allianz Life Indonesia dalam press conference pada 24 Juni 2019 silam, "jika sebelumnya program ini fokus pada kegiatan on pitch atau bermain sepak bola di lapangan saja, pada Allianz Explorer Camp kali ini, sesuai dengan penyematan nama 'eksplorer', selain pengembangan program sebelumnya, juga memberikan kegiatan off pitch yang akan mengeksplorasi topik-topik di luar sepakbola seperti kegiatan pengembangan diri dan kepemimpinan. Semua itu dikemas menarik untuk remaja sehingga mereka dapat memiliki keseimbangan dalam mengekspolarasi bakat dan minatnya."


Membentuk Kepribadian Melalui Sepakbola 
Hal senada juga dikatakan Joos Louwerier - Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia. Menurutnya, perkembangan era teknologi di masa kini memberi tantangan yang lebih besar pada orang tua dalam mendidik anak dan remajanya. Di sisi lain, Allianz Indonesia menyadari pentingnya peran anak dan remaja sebagai generasi masa depan bangsa tak bisa diabaikan begitu saja. Untuk itu, Allianz Indonesia berkomitmen dan menggandeng orang tua untuk bersama-sama menanamkan nilai-nilai yang penting dimiliki generasi muda yakni sportivitas melalui program Allianz Explorer Camp. 



Dalam press conference yang digelar di Holywing Resto, Epicentrum, Kuningan Jakarta juga hadir Laksmiarti Saraswati - psikolog. Dari sudut pandangnya beliau memaparkan, "ketika menginjak usia remaja sebaiknya remaja mau menantang dirinya sendiri dan beranikan untuk membuka diri terhadap bidang dan kesempatan apapun yang menjadi minatnya. Kita ga pernah tau akan jadi apa nanti kita ketika dewasa. Mungkin saja bisa menjadi pemain bola profesional. Jadi jangan takut untuk mengembangkan dan beranikan tantang diri sendiri untuk mencoba bidang dan ketrampilan baru. 

Terkait dengan program Allianz Eksplorer Camp, sepakbola bisa menjadi jembatan dalam meraih cita-cita. Karena dalam permainan sepakbola diperlukan kerjasama tim, melatih mandiri, melatih adaptasi di lingkungan baru, juga penanaman sikap sportivitas. Karakter seperti ini diperlukan ketika dewasa dalam dunia pekerjaan apapun. 



Seperti diungkapkan Martin Demichelis - Allianz Explorer Camp 2019 Ambassador yang juga FC Bayern Munchen Legend, dirinya tak pernah menyangka kalau namanya menjadi populer seperti ini. Ia berpesan, untuk menjadi pemain profesional seperti dirinya, kerja keras saja tidaklah cukup. Siapapun bisa jadi pemain bola terkenal, siapapun bisa masuk televisi. Tapi modal sebagai pemain terkenal tidaklah cukup untuk memperoleh keberhasilan karir. 

Ia pun memberi tips bahwa kunci kesuksesan adalah kepribadian yang baik. Sebagai remaja yang hobi mencoba-coba ia menyarankan agar menjauhi lingkungan yang berpengaruh buruk. Kebiasaan jelek seperti begadang, makan junk food atau minum-minuman keras harus dihindari dengan memilih teman bergaul yang baik. 

Ia kemudian mencontohkan Lionel Messy sahabatnya yang humble. Melalui sahabatnya ini ia belajar banyak hal yang ikut membantu membentuk kepribadiannya seperti sekarang. "Untuk itu membentuk pertemanan yang baik adalah penting dan pasti akan bertahan seterusnya," pungkasnya sambil tertawa. 



Saya terkesima. Kesan dan pesan Martin Demichelis yang sejatinya ditujukan buat pemenang Allianz Explorer Camp yang duduk bersama para orang tuanya tampaknya pas diaplikasikan buat siapapun. Saya setuju dengan pendapatnya mengenai pemilihan teman. Bahkan dalam hadits Quran pun dijelaskan mengenai hal ini. Berteman dengan penjual arang kita akan turut hitam, berteman dengan penjual minyak wangi akan turut wangi kita. 

Selamat ya buat Adinda Dwi Citra P dan Fariz Fadilla yang akan terbang ke Munich Jerman pada 22 - 27 Agustus 2019, sedangkan Azrazifa Kayla, Bayu Tegar Saputra, M. Faiz Fahriza, Nur Yufa, Ravel Jerico dan Zahra Naqiyyah Primadi yang akan berangkat ke Singapura dalam Asia Camp pada 23 - 26 Juli 2019 nanti. 



Buat yang penasaran, pada Allianz Explorer Camp tahun lalu, lebih dari 50 remaja dari 23 negara telah ambil bagian dalam kamp empat hari yang didukung mitra Allianz FC Bayern Munchen. Setiap harinya, para peserta berlatih dengan pelatih tim muda FC Bayern Munchen, mendapat kesempatan bertatap muka dengan idola mereka seperti Arjen Robben, Jèrôme Boateng, Thomas Müller dan ikut serta dalam sharing session bersama pembicara ahli di bidangnya. 

FYI, kedelapan remaja ini telah menjadi pemenang yang mengalahkan sekitar 2 ribu peserta yang mendaftar dan menyisihkan 1300 remaja terpilih yang mengikuti seleksi fisik pada 22 - 23 Juni 2019 di lapangan PSTP Tebet Jakarta Selatan. Dan kerennya lagi, dua diantaranya adalah remaja putri lho. 

Martin yang menjadi coach clinic dalam seleksi fisik menyatakan kekagumannya pada kedelapan remaja ini. "Mereka bermainnya sangat bagus dan memiliki potensi yang luar biasa di sepakbola. Saya berharap para remaja ini dapat menjadi inspirasi teman-teman di luar sana untuk terus berusaha meraih mimpinya."

Sekali lagi selamatttt ya....  Saya percaya setiap usaha ga akan mengingkari hasil. Satu pesan yang saya ingat jangan pernah takut bermimpi. Beranikan tantang diri sendiri untuk menggali potensi yang masih belum terlihat. Untuk para orang tua mari ubah mindset kita soal gender dan minat anak. Tugas kita hanyamendukung dan mensupport anak-anak kita. Yuk semangat 😍















Senin, 24 Juni 2019

Koki-koki Cilik 2 ; Film Keluarga Yang Krispi, Penuh Inspirasi dan Sarat Edukasi

Juni 24, 2019 0


Akhirnya,  timeline saya reda juga dari postingan teman-teman dan keluarganya yang ceritain jalan-jalan liburan lebaran kemarin. Maaf ya teman-teman,  kadang-kadang saya tu suka mikirin kapan gitu bisa plesiran. Apalagi pelesirannya ke pegunungan nan sejuk. Kan bikin envy 😙

Tapi tenang teman-teman. Meskipun ga kemana-mana tapi saya dan keluarga bisa tetep happy, koq. Ada banyak kegiatan pengisi liburan di rumah yang so pasti bermanfaat dan menambah bonding family. Salah satunya adalah masak bareng anak-anak saya. Seru lho 😍

Oh iya, ngemeng-ngemeng siapa hayo yang anaknya hobi masak? Mau anak lelaki ataupun anak perempuan tetap kita dukung minatnya ya. Siapa tau saat besar nanti bisa jadi Chef ternama. Siapa tau yang hobinya makan terus makanya jadi suka masak (kaya Dega anak saya, eh kaya Kevin ding) bisa jadi Celebrity kaya Chef Evan ketika besar nanti. 

Eh, siapa Chef Evan memangnya? Penasaran kaaan? 



Oke sebelum saya ulas siapa Chef Evan saya mau kupas dikit ya resensi cerita dalam film Koki-koki Cilik 2. Flash back aja, mungkin teman-teman agak saru dengan judulnya. Ya memang, film ini merupakan sequel dari Koki-koki Cilik yang tayang tahun 2018 lalu. 

Mengulang kesuksesannya kembali film ini dibuat dengan ceritanya yang masih sama mengenai kisah yang terjadi di Cooking Camp. Namun kali ini ada yang spesial karena ada tiga tokoh baru yakni Adit, Tante Adel dan Chef Evan.  Konfliknya pun lumayan berat karena ada bumbu persaingan, perisakan dan kehilangan. Disamping itu dalam film ini juga ada semangat persahabatan, tolong menolong dan yang terutama ada cinta. Komplit deh! Nyesel kalau ga ditonton. 

Semuanya berawal dari keinginan enam alumni Cooking Camp untuk reuni dengan Chef Grant. Sayang sekali sesampainya mereka di lokasi kondisi Cooking Camp terlihat tak terurus. Semak belukar dan dedaunan kering ada di mana-mana. Kalau tak hati-hati melangkah bisa-bisa tertimpa dahan pohon 😌

Rasa penasaran mengantarkan mereka menemui Chef Grant yang dilihat dari penampilannya ya sama juga tak terurusnya. Padahal aslinya mah Chef Grant ganteng asalkan ga berewokan gitu hihihi... 

Akan tetapi alih-alih senang dikunjungi Bima, Melly, Kevin, Alva, Niki dan Key, Chef Grant malah mengusir mereka. "Cooking Camp sudah ditutup. Sana pulang," sergahnya kasar. 

Bukan anak-anak kalau tak ada akalnya. Dengan berbagai upaya mereka akhirnya bisa membujuk Chef Grant untuk bangkit lagi dari keterpurukan. Mereka pun berencana berjualan ala Food Truck untuk mencari dana agar Cooking Camp tak terancam ditutup permanen. 



Pucuk dicinta ulam tiba. Disaat mereka lagi kebingungan mau jualan apa, Adit yang baru saja datang dan mau ikut kelas Cooking Camp mengusulkan jualan Sandwich. Resep Sandwichnya memang luar biasa enaknya. Sampai-sampai, Chef Grant tanpa sadar malah mengambil sandwich jatahnya Alva. Kocak deh. 

Akan tetapi hidup memang tak selalu mulus. Food Truck mereka sempat kena penertiban Satpol PP. Mau tak mau keuntungan berdagang harus direlakan untuk menebus kembali perlengkapan jualan yang disita. Tapi dasar anak-anak, mereka tetap ceria dan bersemangat. Bahkan Adit yang terkesan dingin dan pendiam juga ikut-ikutan riang. Senangnya hati tante Adel melihat senyum Adit mengembang lagi. Sampai tetiba kehadiran Chef Evan menggelapkan hati Adit kembali. Dia kembali murung. Begitupun keenam kakak-kakak Adit - demikian Adit memanggil alumni Cooking Camp. 

Ah, di sini saya jadi sedih deh. 

Akhirnya satu demi satu pertanyaan terjawab. Rupanya Chef Evan dan Chef Grant telah saling kenal sejak kecil. Bahkan mama Adit rupanya adalah juara pertama Cooking Camp batch pertama. Itu sebabnya bakat memasak Adit menurun dari orang tuanya ya? 

Lantas mengapa Cooking Camp harus ditutup, bukankah antusias pendaftarnya sangat baik? Apakah semua itu gara-gara Chef Grant? Ataukah gara-gara Chef Evan? Apakah alumni Cooking Camp mampu menggelar kembali Cooking Camp seperti semula? 

Yuk ditonton ah di bioskop terdekat pada 27 Juni 2019 nanti. Kenapa saya sarankan nonton film ini, tak lain karena film Koki-koki Cilik 2 sarat bermuatan edukasi yang dikemas tanpa nada menggurui. Kak Setto yang hadir dalam press conference juga menyarankan untuk mengagendakan nonton film Koki-koki Cilik 2 sebagai pengisi liburan sekolah yang penuh inspirasi dan sarat edukasi. 




Sayapun sependapat. Film produksi MNC Production ini sama sekali tidak menjemukan ditonton selama 1,30 menit. Karakter tokoh-tokohnya kuat seperti Melly yang sok tua gayanya, Bima yang melindungi, Niki yang lembut hati, Kevin yang doyan makan, Alva yang kecil-kecil tua atau Adit yang pemurung semakin membuat film ini semakin berwarna.  Apalagi kehadiran Tante Adel yang keibuan dan selalu tersenyum terasa mendamaikan hati. Jangankan Chef Grant yang kepincut saya pun demikian. Salut buat Viva Westi sang sutradara yang dengan apik mampu menggabungkan genre anak-anak dan dewasa dalam sebuah tontonan yang pas dijadikan tontonan keluarga ini.

Minggu, 02 Juni 2019

Persiapan Yang Harus Dilakukan Agar Mudik Aman, Selamat dan Sehat Sampai Tujuan

Juni 02, 2019 0


Masuknya aja lewat jendela. Syukur-syukur bisa duduk, kalau ga dapat bangku paling tidurnya di lantai beralas koran atau pasrah berdiri di toilet sambil nahan bau pesing. Kalau malam terpaksa pasang lilin biar ga kegelapan. Mana gerah karena kipasnya rusak semua. Belum lagi penjual asongan yang hilir mudik, aakk, mengganggu banget deh. 

Ada yang punya pengalaman begini waktu naik kereta?

Saya pernah. Tapi itu dulu lho. Sekarang ini layanan dan fasilitas kereta api semakin baik. Tiketnya aja sudah bisa dibeli online. Mustahil ga kebagian bangku. Empuk dan ber-AC pula. Sekarang kita sudah ga was-was juga terhadap incaran si mata copet. Seneng ya. 

kendaraan umum VS kendaraan pribadi 
Bicara soal mudik, buat saya sama artinya dengan bicara soal bujet. Sebab itu banyak orang yang memilih mengendarai motor menuju kampung halamannya. Bahkan ada yang nekat membawa anak istri dan bawaan yang ga sedikit. Biar irit maksudnya. Judulnya harus sampai ke kampung bagaimanapun caranya. Sebagiannya lagi daripada beli tiket bis yang pasti kena tuslah, atau beli tiket pesawat yang sekarang harganya naik-naik ke puncak gunung, naik mobil menjadi pilihan sebagian masyarakat untuk perjalanan mudiknya.

Saya sendiri pernah boncengan motor dengan suami ke Pemalang. Sebelumnya lagi pernah ke Wonogiri naik kereta sampai Solo yang dilanjutkan carter kendaraan lagi ke kampung halaman simbah. Pernah juga naik bis malam kalau mau langsung sampai di depan rumah simbah. Pernah juga bawa mobil baik nyetir sendiri ataupun cuma jadi penumpangnya aja waktu ke Lampung. Hasilnya capek luar biasa. 

Beruntung selama ini ga pernah, sih, mengalami musibah apapun. Padahal faktanya angka kecelakaan selama arus mudik cukup bikin jantung saya ciut. Yang terbaru kecelakaan mobil akibat ban pecah di bilangan Subang sampai memakan korban jiwa. Duh kasihan, perjalanan mudik alih-alih bahagia malah bikin nestapa. 

Saya bisa memahami mengapa orang kerap bela-belain banget untuk bisa mudik. Mangan ra mangan sing penting kumpul istilahnya. Namun tradisi mudik menjadi sorotan karena angka kecelakaannya terbilang sangat tinggi. Itulah sebabnya pemerintah dan berbagai pihak berupaya terus memperbaiki layanan dan infrastruktur agar pemudik aman dan selamat sampai tujuan. Bukan hanya kereta, perbaikan layanan dan fasilitas untuk moda transportasi umum lainnya juga ditingkatkan. 

Dalam acara Ngabuburit Sehat yang digelar Kemenkes dan Kemenhub di stasiun Gambir pada 28 Mei 2019 silam, Sekretaris Jenderal Kemenhub - Djoko Sasono mengatakan, untuk mencegah terjadinya kemacetan dan penumpukan kendaraan seperti peristiwa tol Brexit taun lalu Kemenhub akan memberlakukan sistem one way di tol Trans Jawa dimulai dari Cikampek hingga Semarang. Terhitung diberlakukan dari arus mudik tanggal 30 Mei hingga 2 Juni dan saat arus balik pada 7 - 9 Juni 2019. 

System one way ini merupakan hasil evaluasi dan langkah perbaikan dari Kemenhub untuk menciptakan rasa aman dan selamat bagi pemudik selama mudik. 



Ibu Nila F Moeloek - Menteri Kesehatan menanggapi dengan baik langkah-langkah yang dilakukan Kemenhub. Ditambahkannya, secara umum layanan moda transportasi umum sudah bagus. Jadi mengapa tak menggunakan moda transportasi umum saja daripada kendaraan pribadi. Karena mengendarai motor sejatinya tidak disarankan untuk perjalanan jauh. 

Bisa juga ikut program mudik gratis dari pemerintah. Kita ga perlu cape-cape lagi berkendara motor dan yang pasti bisa menghemat bujet transportasi. Bila kuatir selama di kampung halaman ga bisa wira wiri nah manfaatkan saja fasilitas pengiriman motor dari Kemenhub. Semuanya gratis. Orangnya mudik, motornya juga ikut mudik, deh 😍

Akan tetapi kalau pertimbangannya tetap membawa mobil boleh-boleh saja. Toh, sekarang sudah ada jalan tol trans Jawa dan Sumatera. Itu bisa menghemat waktu perjalanan sehingga diharapkan angka kecelakaan dapat diminimalir. 

Agar perjalanan mudik aman, sehat dan selamat sampai tujuan ada beberapa cara yang dapat kita lakukan. Diantaranya adalah melakukan persiapan internal (kesiapan diri) dan persiapan eksternal (kesiapan kendaraan) serta menjaga perilaku bersih dan sehat agar perjalanan mudik aman dan selamat sampai tujuan. 




Persiapan Sebelum Mudik sekitar H - 7 

1. Pastikan kondisi fisik yang sehat dan prima sebelum mudik harus terjaga penuh. Apalagi dalam keadaan berpuasa dikuatirkan kesehatan menurun akibat kecapean dan kurang asupan bergizi ditambah polusi dan debu di perjalanan. 

Khususnya buat supir, at least seminggu sebelum keberangkatan ritme jam biologis tidur sudah distel dan disesuaikan dengan waktu perjalanan. Maksudnya untuk membiasakan diri supaya ga mudah mengantuk selama perjalanan. 



Oh iya biasanya untuk mencegah kantuk maka supir kerap ngegas pol, nih. Maksudnya sih biar istirahatnya sekalian aja di tempat tujuan. Tapi itu ga boleh ya teman-teman. Kondisi badan jangan dipaksakan toh niatnya mudik itu untuk bersenang-senang. Jadi nikmati saja perjalanannya. Kalau terasa jenuh di jalan tol yang lempeng aja kita bisa keluar tol dan nikmati kuliner di daerah-daerah yang disinggahi. Jangan dipatok harus sampai tujuan jam berapa, jelas bu Nila. 

Selain itu untuk mengatasi rasa lelah dan jenuh, sebaiknya supir beristirahat setiap empat jam sekali. Syukur-syukur ada supir cadangan jadi bisa bergantian nyetir. Nah tugas kita sebagai penumpang simpel aja. Bangkitkan suasana menggairahkan selama perjalanan dengan cerita-cerita lucu sehingga supir tak merasa ngantuk. 

2. Periksa kelaikan kendaraan karena salah satu faktor eksternal penyebab kecelakaan adalah kondisi kendaraan. Mas Fitra - komunitas bikers menyarankan untuk mengecek dulu kondisi kendaraan di bengkel-bengkel resmi. Mungkin saja fungsi gas dan remnya ada yang kendor, pengapian bermasalah, kipas mesin ngadat juga kondisi ban mobil. Jangan sampai kejadian pecah ban karena kelebihan muatan atau kepanasan tergerus aspal jalan, duh bisa saja itu menyebabkan kita celaka. 


Btw selama di perjalanan kita dihimbau untuk patuh dan disiplin pada rambu dan aturan lalu lintas. Jangan ngebut biar cepat sampai. Jangan ugal-ugalan salip sana sini. Ingat teman-teman, nenek moyang kita pelaut bukan pembalap lho 😜

Perilaku Bersih dan Sehat supaya mudik aman dan selamat

Yeayyy akhirnya tiba juga hari keberangkatan. Selama perjalanan jauh tidak dimungkiri kita akan terpapar debu, panas matahari dan fasilitas umum seperti toilet umum atau jajanan. 

Pesan dr. Kirana Pritasari, MQIH - Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, "menjaga kesehatan harus dimulai dari diri sendiri."

Ada baiknya kita membawa makanan bekal dari rumah yang tidak cepat basi daripada jajan. Contohnya buah-buahan yang siap konsumsi misalnya jeruk, apel atau pisang. Untuk makanan yang mengenyangkan pilih lemper, lontong isi, atau telur rebus daripada makanan bersantan dan bercitarasa pedas. 

Waaa, lemper tuh bawaan favorit ibu saya tuh. Ga usah ribet bawa alat makan lain, cukup tinggal buang daun pisang pembungkusnya aja. Selesai. Etapi jangan lupa buang sampahnya jangan di sembarang tempat ya.

Oiya, misalkanpun teman-teman tetap jajan pilih warung yang terlihat bersih dan jangan lupa cek tanggal kadaluarsanya bila membeli produk kemasan. Satu hal yang harus diwaspadai adalah kasus pembiusan. Sebaiknya hindari menerima makanan atau minuman dari orang asing, ya. 

Terkait dengan polusi dan debu jangan lupa cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah makan. Kalau tidak ada air, gunakan tissue basah atau cairan pembersih tangan. Ini penting teman-teman untuk mencegah penyakit pencernaan yang mungkin bisa menyerang kita. Begitupun kala menggunakan toilet umum. 

Andai dalam perjalanan teman-teman mendadak sakit jangan sungkan untuk mampir ke pos kesehatan terdekat ya. Siapa tau teman-teman kepalanya pusing, muntah-muntah, gatal-gatal, atau perut sakit dan sering buang air. Pokoknya jangan kuatir soal biaya. Kartu JKN dapat digunakan di seluruh daerah Indonesia. "Jadi jangan lupa dibawa di dompet sebelum mudik," pesan dr. Bambang Wibowo, SpOG, MARS. 

Ibu Nila menambahkan, ada 6.047 pos kesehatan yang tersebar di seluruh provinsi. Buka selama 24 jam nonstop selama H-7 sampai H+7 lebaran dan tenaga medis yang kompeten telah disiapkan untuk menangani pemudik yang sakit. 

Melihat kesiapan Kemenkes dan Kemenhub dalam upaya memberikan pengalaman mudik yang aman, sehat agar selamat sampai tujuan diharapkan angka kecelakaan dapat diminimalisir. Jadi boleh dong kalau saya titip pesan. Jangan mudik bawa Khong Guan buat emak terus pas baliknya minta bawain beras sekarung ya 😂 






















L