Kamis, 09 Mei 2019

Seminar IDLC : Berbagai Problematika Seputar Peralihan Hak Atas Tanah Yang Harus Kita Tahu



Teman-teman, hari gini siapa, sih, yang ga ingin punya harta dan uang melimpah? Coba kita perhatikan, kalau ada topik pembahasan soal gimana cara menghimpun kekayaan tentu tak sedikit yang antusias nyamber, ye kan? 

Nah, sayangnya pembahasan soal uang juga sensitif karena kerap bersinggungan dengan hubungan baik. Sudah banyak ribut-ribut soal uang yang kita dengar. Kakak beradik rebutan rumah orang tuanya yang sudah meninggal, ribut harta gono gini akibat perceraian, pembagian saham dalam kerjasama bisnis yang berakhir ricuh ataupun jual beli aset yang berujung dengan pertikaian. 😔



Terkait dengan kemelut yang mungkin saja dapat kita alami, dalam seminar rutin yang diselenggarakan IDLC di Ibis Tamarin, Menteng, Jakarta pada 30 April 2019 silam beruntung saya bisa berkesempatan hadir lagi. Kali ini topik yang diangkat sangat lekat dengan kehidupan mengenai 'Berbagai Macam Proses Peralihan Hak Atas Tanah dan Potensi Permasalahan Yang Timbul'. Wah, berat nih kayanya.

Namun saya salah sangka. Seminar setengah hari rupanya berlangsung cukup 'panas'. Puluhan  peserta yang berprofesi sebagai Notaris dan PPAT, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia tak henti bertanya dan langsung diulas dengan gamblang oleh keynote speaker Mba Irma Devita. 

Ga heran sih dengan jam terbang selama dua puluh tahunan, sebagai Notaris dan PPAT di Jakarta Utara ibu satu anak ini juga dikenal sebagai trainer dan speaker di berbagai forum, baik nasional maupun internasional. Pun sebagai founder lembaga pelatihan IDLC mba Irma termasuk aktif membagikan pengalamannya melalui blog dan buku-buku mengenai hukum yang ditulisnya. Yang terbaru yakni aplikasi irmadevita sebagai salah satu penunjang pembelajaran hukum secara berkesinambungan melalui smartphone. Dan ada lagi yang terbaru rupanya,  beliau juga nulis komik, lho. Waaah,produktif sekali ya 🙈






Sebelum mengulas habis seluruh materi mba Irma Devita mengatakan, "sejatinya berbagai problematika dapat diantisipasi sejak awal. Memang, sih, kelihatannya ribet dan makan waktu tapi percaya deh, potensi permasalahan yang timbul di masa datang dapat diminimalir kalau Notaris sudah bekerja sesuai SOP."

Tambahnya lagi, White colour crime itu banyak. Tak dapat dipungkiri Notaris kerap dihadapkan pada pihak-pihak yang sedemikian meyakinkannya sehingga kami kira benar. Pernah ada kejadian akte lahir saya pun sempat dipalsukan orang.

Duh, ga kebayang, bagaimana dengan saya atau teman-teman yang buta sama sekali dengan kenakalan-nakalan oknum jahat. Bisa-bisa habis semua harta yang dikumpulkan pelan-pelan. Macam mba Irma aja masih ada yang niat memperdaya ya 😢




Kembali ke laptop. Dalam seminar yang dimoderasi mba Alya Rohali ada tiga pokok pembahasan mengenai proses peralihan hak atas tanah.  

1. Hak Atas Tanah dan Proses Peralihannya 
Dalam UUD 45 disebutkan pada dasarnya seluruh tanah yang berada di wilayah bumi Indonesia adalah milik negara. Landasan hukum ini sering menjadi acuan dalam keputusan-keputusan yang dibuat Notaris dan PPAT.

Terkait dengan kepemilikan hak atas tanah mba Irma mendefinisikan jenis hak atas tanah yang dibagi dua; primer dan sekunder. Kalau Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usah dan Hak Pengelolaan termasuk ke dalam jenis primer. 




Sedangkan hak atas tanah yang termasuk jenis sekunder (derivatif) yaitu : 
  • HGB/HGU/HP di atas tanah Hak Milik atau HPL,
  • Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) di atas HPL Atau hak primer lainnya,
  • Hak Pakai di atas tanah negara, 
  • Hak Sewa di atas tanah Hak Milik/HGB/HGU/Hak Pengelolaan atas tanah negara,
  • Hak untuk memungut hasil hutan.

Masing-masing hak atas tanah memiliki penguasaan yang berbeda-beda tapi dari nilai ekonomisnya hak jenis primer dapat diperjualbelikan dan dijadikan jaminan hutang. Dibuktikannya dengan surat kepemilikan hak. 

Mba Irma mengatakan, hak pakai di atas tanah negara yang masuk ke jenis sekunder tak bisa dipindah tangankan ya, karena masuknya ke dalam asset negara. Hak Pengelolaan merupakan hak menguasai tanah negara yang sifatnya khusus. Artinya kewenangan dilimpahkan langsung kepada pemegang HPL. Dalam hal ini pemegang HPL adalah intansi pemerintah, pemda, BUMN dll. Kalau kita nekat ya siap-siap aja masuk ranah hukum. Berani? hehehe

Contoh kasus lain yang diangkat yakni jual beli dengan asing. Di sini saya sempat teringat debat capres waktu itu yang mem-blow up hal begini. Menurut mba Irma, jual beli dengan orang asing itu sah-sah aja, syaratnya WNA tersebut harus berdomisili di Indonesia selama lebih dari satu tahun. Nantinya WNA bisa menggunakan hak pakai di atas hak milik atau hak pakai di atas tanah HGB yang dituangkan dalam perjanjian. Jadi WNA tetap tidak diperbolehkan 'memiliki' tanah di negara kita ya teman-teman, dia hanya bisa 'memakai' saja.




Begitupun dalam kawin campur. Kalau terjadi perceraian atau meninggal dunia dan meributkan harta gono gini, kembali lagi ke undang-undang bahwa WNA tidak dapat memiliki hak atas tanah ; baik penuh maupun separuh. Hak atas tanah sifatnya turun temurun jadi WNA otomatis  tidak bisa memiliki fisik rumah atau tanah. Namun tetap ada solusinya koq. WNA bisa menerima uang penjualan dari rumah atau tanah karena kembali lagi dia tak boleh memiliki fisiknya tapi dalam bentuk liquid saja. 

Dalam keterkaitannya dengan jual beli Mba Irma menyarankan, kalau mau beli tanah atau bangunan yang harganya murah hati-hati. Jangan tergiur. Siapa tau sertifikatnya sedang digadaikan lalu si oknum bikin sertifikat baru dengan alasan hilang. Kalau ini terjadi, sertifikat ada double bahkan triple karena semua pihak merasa punya hak atas tanah atau bangunan yang disengketakan tersebut. Bisa ditebak kelanjutannya gimana kan? Sereemmm 


2. APHB (Akta Pembuatan Hak Bersama)

Hak bersama merupakan sebuah kondisi dimana ada dua orang atau lebih yang sama-sama berhak atas tanah (HAT) atau hak milik atas rumah susun (HMRS). Biasanya hak bersama didapatkan dari garis vertikal yakni warisan dan garis horizontal yakni perkawinan.

Dikarenakan salah satu pihak ingin mengakhiri hak bersama maka melalui pejabat PPAT pembagian hak bersama atau nama kerennya APHB menjadi solusinya. Mekanisme APHB sama seperti dalam jual beli aja namun penghitungan pajak yang menyertai sedikit ada perbedaan.

Berikut contoh kasus APHB yang berkaitan dengan jual beli dan hibah waris.

Dicontohkan Adi meninggal dunia dan meninggalkan istrinya Bella dan dua anak Citra dan Dana. Kedua anaknya sepakat untuk menyerahkan hak atau bagian tanah warisannya kepada ibu mereka, Bella.




Maka perhitungannya sebagai berikut :
Bella menerima 1/2 harta bersama + 1/2 x 1/3 = 4/6 bagian
Citra dan Dana masing-masing menerima 1/6 bagian

Perhitungan pajaknya sebagai berikut :

Jika Citra dan Dana yang melepaskan bagiannya untuk diberikan kepada ibunya maka proses yang ditempuh adalah APHB atau jual beli dengan perhitungan sebagai berikut :
Pph ----> 2/6 x (nilai transaksi x 2.5%
BPHTB ----> 2/6 x Nilai transaksi - NJOPTKP x 5%

Jika Bella yang melepaskan bagiannya untuk anaknya yakni ke Citra dan Dana maka proses yang ditempuh adalah HIBAH (bukan waris ya karena hukum waris dibagi begitu ada kematian) dengan perhitungan sebagai berikut :
PPh ---> dibebaskan dengan catatan jika SKB dikabulkan 
BPHTB ---> 2/6 x nilai transaksi - NJOPTKP x 5%

Tahapan prosesnya sebagai berikut :

1. yang pertama kali dilakukan adalah proses balik nama waris dan membayar BPHTB waris.

2. Setelah itu ditentukan apakah akan dibuatkan APHB atau akta Hibah atau APHB? 
  • Kalau Akta : jual beli prosesnya melalui jual beli biasa
  • Kalau Akta Hibah : jika mekanismenya hibah, bila SKB dikabulkan maka pengenaan pajaknya dibebaskan untuk hibah satu garis lurus baik ke atas maupun ke bawah
  • Kalau APHB atau Akta Pembagian Hak Bersama : jika mekanismenya melalui APHB

3. Nah step terakhir proses balik nama kepada pembeli atau penerima APHB. 

Daripada menggunakan metode waris sebaiknya pakai metode hibah asalkan disetujui dan ikhlas semuanya. Karena kalau menggunakan metode hibah penghitungan pajaknya lebih murah ~ Irma Devita 

2. Inbreng
Topik yang dibahas terakhir  mengenai inbreng. Ada yang tau? Inbreng adalah sebuah istilah dimana seseorang menyetorkan modal dalam bentuk asset pribadinya ke dalam harta kekayaan perusahaan. Jadi modal dalam perusahaan patungan ga cuma punya uang tunai aja teman-teman. Punya skill atau asset juga bisa dijadikan modal. 

Dengan memasukkan ke dalam harta kekayaan perusahaan maka setiap pemberi modal berhak mendapatkan saham. Namun yang harus diperhatikan, asset yang dijadikan modal tersebut berarti sertifikatnya harus dibalik nama menjadi atas nama PT bukan atas nama perseorangan lagi. Kesimpulannya,  peralihan hak atas tanah di sini artinya sama aja dengan mekanisme jual beli.




Mba Irma menyarankan, untuk kasus seperti ini sebaiknya sebelum nyetor aset kekayaan untuk dibuatkan akta inbreng cek dulu sahamnya dihargai berapa rupiah. Karena seluruh pemodal akan mendapat keuntungan saham, maka kewajiban bayar pajak juga akan menyertai. Selain itu perusahaan juga akan dikenakan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Kalau ga salah pajak penghasilan kena 5% dan BPHTB juga sama 5 %.

Demikianlah pemirsaaah, ilmu agraria jadi makin bertambah nih. Rupanya berbagai problematika seputar peralihan hak atas tanah yang harus kita tahu dapat mencegah potensi terjadinya masalah di kemudian hari. Andai masih belum tercerahkan  teman-teman bisa donlod aplikasi irmadevita ya di playstore dari gadeget teman-teman, atau silakan kunjungi : 




Youtube : https://www.youtube.com/channel/UC7whoBnXTxlEgky9W5ZmgGA

Website : https://irmadevita.com/

Instagram : https://www.instagram.com/irmadevitacom/?hl=id

Dan bagi teman-teman yang ingin ikutan seminar yang digelar IDLC silakan pantau aja di : 

Instagram : https://www.instagram.com/eventidlc/?hl=id















69 komentar:

  1. Jam terbang itu penting banget karena mereka tahu seluk beluk permasalahan yang kadang gak bisa terpecahkan ditempat lain. Ih zaman sekarang canggih banget sii serba digital cerdas banget ya mbak Irma Devita ini edukasi nya buat kita yang awam sama urusan hak tanah

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba, urusan hak tanah keliatan sepele dan jauh dari keseharian kita ya, tapi siapa tau bisa aja terjadi dan dialami kita mengingat persoalannya juga sering kita dengar kan. Beruntung sekarang ada Mba Irma yang ga pelit bagi informasi buat kita ya

      Hapus
  2. Wah...begitu beragam ya, permasalahan hak atas tanah itu. Mskpn tidak harus menjadi ahli, tak ada salahnya kita belajar mengenali juga ttg hal ini ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, karena siapa tau kita pun bakal ngalaminnya kan

      Hapus
  3. Edukasi yang sangat bermanfaat bagi yang tidak mengerti hukum. Ternyata lumayan riweh juga ya urusan tanah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. riweuh tis karena semua pihak pasti merasa benar dan diakui pendapatnya, maka peran notaris dalam hal ini selain membuat akta juga memberi penyuluhan hukum dgn benar supaya ga jadi sengketa ke depannya

      Hapus
  4. Ribet kayaknya kalau udah ada sengketa tanah. Tetapi, kita memang harus tau untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mak, amit-amit siapapun tentu ga ingin ngalamin kejadian yg menyangkut soal uang tapi seperti yg mba irma bilang, white colour criminal itu banyak, mafia pertanahan itu banyak. kalau ga hati2 bisa kita jadi korbannya

      Hapus
  5. Wah, mbak Diah Woro tulisannya lengkap banget sdh bak Notaris/PPAT atau bisa jd memang Diah seorang Notaris. Membaca tentang (1) hak atas tNah dan proses peralihannya paragraf terakhir, mengingatkan bunda pafa petistiwa pahit yg dialami anak bunda: karena terlalu awam dlm hal tanah, ua terjerimus pada "kenakalan" Notaris dan antek2nya. Pembelian tanah 360 meter persegi tak kunjung nisa bundaburus ke BPN karena pembuatan peta selalu OVERLAPPING. Seharusnya Notaris sblm menyelesaikan tugasnya kan hrs mengadakan cross-check ke Kecamatan/kelurahan tentang keberadaan tanah tsb. Bunda yg mengurusnya ke bpn hingga bunda mendptkan bukti2 tanah yg dibeli anak bunda itu BODONG. Bukti sfh lengkap tp tami tdk bisa menuntut hak kami (sekitar 300-an juta). Knp? Kl kami menuntut penjual yg naksl betkomplot dngn notaris via Pengadilan akan membutuhkan biaya lbh dari jumlah itu. Akhirnya stlh 4thn mengurusnya kami pasrah dan mengikhlaskan uang dan tanah itu. Penjualnya pun tdk bisa ditemukan. Ada mafia tanah dibelakangnya. Semoga Allah mengampuni mereka yg menzolimi kami. Hukum dr Allah akan lbh berat ketimbang hukum dunia. Maaf komentar bunda panjang ya, mungkin bisa hal ini bunda jadikan tema utk postingan kelak, hehe.... Big hug buat penulis postingan Diah Woro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah Bun, sedih aku bacaa kisah bunda. Benar bun, ga ada cara selain ikhlas semoga tergantikan ya bun. Aamiin.

      Dari cerita yang disampaikan bunda, aku jadi ingat pesan mba Irma bahwa Notaris ga main acc aja sama surat dokumen yg ditunjukkan klien. Dirinya harus menelusuri keabsahan surat2nya jadi makan waktu lama. Kadang pihak Bank juga ga kooperatif membagikan informasi terkait jaminan sertifikat tanah yg digadaikan klien ke Bank misalnya.

      Hapus
  6. aih mak jadi pelajaran pisan soal peralihan hak atas tanah. aku awam banget soal ini. padahal papiku pensiunan notaris wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sama mak, akupun ga paham soal begini-begini. taunya beres aja makanya aku ga mau beli rumah yg bukan perumahan karena takut sama legalitas tanahnya. Daripada jdi masalah sementara uangku cuma itu-itunya mending via developer aja deh semua diurusin sampe akad kredit dgn notaris

      Hapus
  7. mbaaaak, ini berguna banget buat saya yang awam. Udah menikah gini kan jadi banyak ngobrolin pertanahan, tapi saya mah banyak gak nyambungnya. Mesti belajar pelan-pelan. Makasih ya, baru tahu ada seminar gini dan juga penulis mba Irma

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, mba Irma Devita selain bekerja sebagai Notari dan PPAT juga Blogger dan udah nulis banyak buku ttg hukum praktis lho. Bahasanya enak jadi mudah dimengerti sama kita yg masih awam

      Hapus
  8. Hal seperti ini walau terlihat ribet, tapi mesti diurus karena penting sekali. Hak Kita sebagai pemilik tanah jangan sampai hilang karena kurang surat2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mas arief, gapapalah lama ya karena memang semua dokumen harus dibuktikan kepemilikannya

      Hapus
  9. Masalah tanah memang kompleks dan banyak faktor ya mba. Makanya negara benar-benar menaruh perhatian pada tanah masyarakat ya mba. Masyarakat mulai teredukasi, agar paham seluk beluk pertanahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali mba, bahkan sebelum ada di dalam UUD 45 aturan mengenai tanah juga sudah ada aturan2nya sejak jaman Belanda. aku lupa deh tapi yg jelas persoalan hak kepemilikan itu rentan masalah

      Hapus
  10. Wah ini sangat diperlukan, bacaan segar banget. Soalnya dulu sering ngurusin peralihan tanah dan pajaknya, jadi kangen kerja lagi hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaa, bagikan dong pengalamannya mba. aku juga semakin penisirin dan makin pengen banyak tau soal tanah. Soalnya ada temanku ribut2 soal rumah keluarga. ada yang mau dijual ada yang mau dipertahankan. dengernya pusing hehe

      Hapus
  11. apa apa itu akad awal memang harus jelas & tertulis biar ga bikin ribut, makasih ilmu agarianya ya mba, saya minim banget, inbreng aja saya baru tahu^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sama2 mba, semoga bermanfaat ya. aku pun baru tau inbreng itu apa hehe

      Hapus
  12. Wah dapat ilmu baru seputar hak atas tanah nih setelah mampir ke postingan ini. Sering lihat sengketa dan perdebatan antar saudara tentang hak tanah ini sih, makanya harus paham ilmunya yah mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mba, semoga kita ga ada ribut2 ya kalau udah paham potensi permasalahan yg bakal timbul soal kepemilikan tanah

      Hapus
  13. Yang kayak gini musingin tapi perlu banget untuk dipelajari. Biar nggak kena tipu atau kejahatan lainnya. Masa akta lahir aja bisa dipalsukan. Huhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu, akta lahir aja koq bisa2nya kepikiran dipalsukan. itulah yg namanya white colour crime fifah, bisa aja kita yg jadi korbannya, aamit amit ya

      Hapus
  14. Wah, berat ya bahasannya. Aku pun buta soal hal ini. Paling kalo ada perlu apa-apa, aku bakal tanya sodaraku yang notaris. Aku percaya ke dia soal tanah waris juga. Udah dibaca-baca pun, dulu, aku tetep buta. Tapi memang iya sih, soal tanah ini sensitif banget. Bisa bikin pertikaian/perang dingin keluarga. Kudu bener-bener deh hukumnya. Masing-masing yang bertikai tahu hak-haknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan selain bisa nanya sodaranya yg notaris teh nia bisa cari2 infonya ke aplikasi irmadevita aja teh. bahasanya praktis koq pasti kita yg awam bisa ngerti

      Hapus
  15. Karena sengketa tanah jadi bisa ribut antar keluarga ya miris banget, kirian cuma ada di sinetron aja ternyata realnya juga banyak ya. Belajar mengenai pertanahan bagus juga supaya gak ada kesalahan kalau ada apa-apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak lid kejadian ribut2. Tayangan selebriti juga sering memberitakan pesohor2 yg ribut soal harta gono gini, rebutan anak sampe rebutan warisan. adaaa hehee

      Hapus
  16. Duh mba Diah kali ini tulisannya berat banget ya ,, semoga aja jauh-jauh deh ya kita dari sengketa tanah gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, terus aku inget soal papa kamu beli rumah di tasik yg ujungnya zonk. duuh semoga kita ga ngalamin ya, sedih punya uang ga seberapa dan boleh dikumpulin pake keringat dan air mata harus hilang gitu aja huhu

      Hapus
  17. Tapi di tempatku banyak bule yg punya lahan luas. Pinter dia, nikah sama penduduk lokal terus ntar pake nama istrinya. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak irul. Di bali sama lombok juga kuliatnya begitu. Tapi kalau terjadi perceraian atau meninggal si bule tetep ga bisa memiliki fisik tanah dan bangunan koq mak

      Hapus
  18. Saya juga awam masalah tanah mbak....tapi memang benar untuk kasus2 yg berhubungan dgn tanah ini harus kita pelajari betul2 agar tidak salah tafsir atau malah dibodohi orang...karena masih ada orang yang saat ini membeli tanah dan bangunan tanpa memikirkan sertifikat. Jadi dia hanya beli saja dan menjadi kebingungan ketika si pemilik tanah sebenarnya sudah meninggal...inilah yang membuat pembeli susah untuk balik nama akta tanah karena ribet nya prosedur balik nama akta tanah... Baca tulisan ini jadi tahu tentang masalah bangunan berikut hak kepemilikan nya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya mba yuni. aku pernah menuliskan cerita ini juga di tulisanku yg lalu, jadi pak edi beli rumah pak tono tapi ga dibalik nama. tau2 pak tono mau jual rumahnya lagi ke pak agus tapi pas mau dibalik nama sama pak agus rupanya pak edi udah meninggal. akhirnya diporotin tuh sm anak2 nya pak edi karena perlu tanda tangan semua anak. amit2 jangan sampe kejadian ya mba

      Hapus
  19. Waahh penting bgt nih ilmunya Mak, banyak bgt emang yg udah jd korban, kita jg hrus belajar biar gak 'dikerjain'

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul des setidaknya kalau kita tau potensi permasalahan yg bakal timbul kita bisa mencegahnya supaya ga kena dikerjain ya

      Hapus
  20. Saya sekarang lagi mengurus pembuatan sertifikat tanah, dulu beli tanah dari tangan ketiga dan belum ada sertifikatnya, setelah diberi tahu untuk segera diurus sertifikatnya saya urus karena ini belinya tangan ketiga dan secara hukum belum jelas karena belum ada sertifikat tanah

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul itu mba, sebaiknya kalau jual beli harus disegerakan proses kepemilikannya.

      Hapus
  21. Kadang bagi aku urusan beginian tuh ribet banget dan sering banget ketemu konflik di lapangan. Kadang berurusan dengan mafia tanah lah atau surat menyurat yang menguras energi. Tapi ternyata emang penting ya untuk tahu lebih banyak agar bisa menyikapi kendala-kendala di lapangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, penting banget memang mengetahui dinamika pekerjaan pertanahan. ga bisa dianggap sepele rupanya pekerjaan notaris ya karena ada kaitannya dengan hukum. kitapun kudu tau juga biar paham potensi permasalahan yg siapa tau bakal kita alami

      Hapus
  22. Wah..ada apps nya yang bisa di download.
    Kalau ada yang perlu ditanyakan, bisa konsultasi via online kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba ada aplikasinya yang bisa didonlod melalui playstore kita. So far belum ada konsultasi via online mba tapi utk sekarang kita bisa membaca berbagai informasi mengenai tanah, akta2 dan ada fitur yg bisa ngecek profil perusahaan. jadi siapa tau aja ada sertifikat perusahaan yg dijual ke beberapa pihak secara bersamaan

      Hapus
  23. Jd inget almarhum ayah dulu kerjanya di agraria..hitu deh ngurusin setifikat tanah..mmg suka banyak masalah ternyata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya complicated ya mba, karena pekerjaannya tak boleh menciderai hukum

      Hapus
  24. Terima kasih mbak woro, jadi ikut belajar. Penting ini ya untuk mengetahui seluk beluk harta berupa tanah. Agar tidak mudah terperdaya oleh orang orang yang berilmu tapi miskin hati nurani. Apalagi kalau udah urusan sengketa tanah. Ribeut banget kalau ga tau hukum yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibu aku juga pernah ngalamin di tahun 80an beli tanah. karena jarang dicek, tau2 pas datang ngecek eh patok tanahnya udah digeser orang dikit2. buru2 ibu aku jual tanahnya daripada jadi masalah

      Hapus
  25. Waaahh penting banget ini mbak edukasi kyk gini., Soalnya zaman krng banyak developer nakal ya. Bilangnya di iklan apa ttg izin tanahnya eh ternyata kenyataannya apa.Aku mau ah dunlud aplikasinya thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pril, developer kurang modal makanya ngumpulin duit klien dulu utk bayar ganti rugi tanah yg dipake buat lahan. serem ya

      Hapus
  26. Saya gak tau permasalahan hak tanah sih Mbak tapi ya siapa tahu di kemudian hari saya berhadapan dengan permasalahan seperti ini. So tulisannya informatif banget nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba siska, semoga bermanfaat ya mba

      Hapus
  27. masalah tanah ini memang ribet banget yaa, Mba. Tak sedikit orang-orang yang saya kenal yang bersengketa memperebutkan tanah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ga jauh2 ya mba, nonton televisi juga selalu ada aja perihal sengketa tanah

      Hapus
  28. Aku juga pernah dapat pelajaran nih saat beli rumah mba, ada yang claim tanah belakang dan bawa sertifikat lain yang lebih tua umurnya. Jadi aku harus selesaikan dan bayar lagi.. sekarang harus benar-benar perhatikan

    BalasHapus
  29. ALhamdulillah banget ini ikut acara ini Mba Diah
    kita jadi tahu hak atas tanah yang kita miliki ya
    banyak ilmu, dan kita semakin melek mengenali

    BalasHapus
  30. Loh, Mbak saya jadi kepo, kok bisa akta lahirnya dipalsukan?
    Bersyukur banget ya Mbak, bisa ikut acara sebermanfaat ini.... Thanks untuk sharingnya lo!

    BalasHapus
  31. ilmu yang bermanfaat nih terkait hak atas tanah, lengkap pula, ijin untuk save ya mbak.. untuk paanduan di kemudian hari..

    BalasHapus
  32. Masalah tanah jaman skrng memang harus jelas bangt. Tapi di daerah saya banyak yang rampas tnh orang, tanah kosong dibangun gitu aja.

    BalasHapus
  33. Waaah jd tau sedikit soal kerjaan nitaris

    BalasHapus
  34. Jadi belajar dikit ini ttg pertanahan..jadi kalau kita mengalami di waktu mendatang bisa buat referensi. thanks for sharing mbak

    BalasHapus
  35. Kalau sudah membicarakan tanah atau agraria udah deh luas, makanya daku nggak nambah kuliah lagi ke PPAT/notaris 😀

    BalasHapus
  36. Soal uang ini memang agak sensitif, Mbak. Termasuk saat teman pinjam uang, lalu ditagih.
    Duh, dia malah lebih galak dan bahkan ada yang lupa hahaha.
    Apalagi ini masalah tanah ya, Mbak.
    termasuk kasus Bapak saya dulu. Tanah warisannya mau disertifikatkan, ef, Embah saya ga boleh. katanya nanti mau dijual lah, buat ngambil uang di bank lah hahaha.

    BalasHapus
  37. Baca ini jadi tercerahkan. Karena memang masalah tanah itu sangat pelik

    BalasHapus
  38. Hak atas tanah ternyata hukumnya hukumnya bermacam-macam ya. Agar tidak terjadi silang sengketa di kemudian hari, harus minta bantuan notaris agar jelas status hukum tanah tersebut. Saya membacanya harus pelan-pelan dan berapa kali agar mengerti. Soalnya selama ini butuh banget soal hukum tanah 😁

    BalasHapus
  39. Masalah pertanahan dan kepemilikan itu riskan sekali dan terkadang menjadi sumber konflik yang luar biasa. Ini menjadi ilmu baru buat saya, masih awam dengan masalah pertanahan.

    BalasHapus
  40. Talk show yang bermanfaat apalagi peralihan hak atas tanah yg sarat akan problem dan permasalahan yang sifatnya pelik dan kerap sensitif

    BalasHapus
  41. Aq jd mikir buat ganti nama di sertifikat tanahku nih, slama ini msh atas nama bpkq, tp bpkku dah mninggal. Dan aq tau ini bkal tibet bgt karena harus bkin surat waris dlu 🤣

    BalasHapus
  42. aku harus save postingan ini
    hehehe scara suami kemarin nyuruh aku simpan setifikat tanah gitu ahahhahaha kudu belajar dan baca ini terus ya

    BalasHapus