Minggu, 19 Mei 2019

Hindari Hipertensi. Ketahui Tekanan Darahmu



Kesimpulannya, masa golden periode ibu saya sudah berakhir. Ada beberapa syarafnya yang tak dapat berfungsi dengan baik. Kami, anak-anaknya, ga menyangka akibat serangan stroke sampai begini. Ibu sempat lumpuh total. Makannya dialiri dengan selang sonde. Buang air besarnya pun sampai dibantu alat pencahar atau ventilasi mekanik lain. Sedih luar biasa. Namun gimana, penyesalan selalu datang belakangan, kan? 

Boleh dibilang kami masih beruntung. Ibu cukup tangguh untuk pergi begitu saja meskipun kerusakan otak ibu parah sekali. Namun pelan-pelan ibu kembali pulih. Satu-demi satu organ tubuhnya bisa berfungsi lagi. Sekarang ibu sudah bisa jalan meski masih tertatih-tatih. Hanya saja untuk bicara dan fungsi alat gerak tangan kanannya masih belum bisa berfungsi sampai sekarang. Rusak permanen. 



Namun kami menyadari saat serangan stroke terjadi, kematian bisa saja mengancam nyawa ibu. Hipertensi yang dideritanya selama bertahun-tahun bak bom waktu. Hampir tak ada gejala selain sakit kepala hebat yang sering bikin ibu marah-marah. Dan itu konyolnya kita anggap lumrah-lumrah aja. Namanya juga lagi kumat dartingnya. Padahal saat itu sang silent killer ini sudah mengintai ibu saya, hieekz...


Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) merupakan masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara berkembang dan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat. 


Bertepatan dalam rangka hari Hipertensi sedunia yang jatuh pada 17 Mei, saya dan teman-teman Blogger kembali menghadiri event kesehatan yang digelar Kemenkes RI. Mengambil tema "Know Your Number, Kendalikan Tekanan Darahmu Dengan Cerdik" diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dan mendukung dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi. 




Mengapa penyakit hipertensi perlu dikendalikan? 

Diketahui dari data WHO tahun 2015 menunjukkan ada sekitar 1,13 milyar orang di dunia yang menyandang hipertensi. Artinya, 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosa penyakit kardiovaskular ini. Yang memprihatinkan, jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan tahun 2025 akan ada 1,5 milyar orang yang terkena hipertensi dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. 




Di Indonesia sendiri, pada tahun 2016 dari total kematian sebesar 1,5 juta orang justru penyebab kematian terbanyak adalah penyakit kardiovaskular 36,9%, kanker 9,7%, penyakit DM dan endokrin 9,3% dan Tuberkulosa 5.9%. Dari angka tersebut diketahui faktor risiko yang menyebabkan kematian berasal dari tekanan darah (hipertensi) sebesar 23,7%, hiperglikemia sebesar 18,4%, merokok sebesar 12,7% dan obesitas sebesar 7,7%. 

Ngeri yaaa 😱

Akan tetapi kita tak perlu cemas karena nyatanya tingginya angka hipertensi disebabkan penderitanya tidak mengetahui kalau dirinya terkena Hipertensi. Dan kelompok yang dinamakan hipertensi primer ini jumlahnya ga main-main, teman-teman. Ada 90 persen lho. Sedangkan 10% nya lagi masuk ke dalam jenis penyebab hipertensi sekunder. Kalau ini diketahui penyebabnya diantaranya orang yang mengalami kelainan pembuluh darah, ginjal, gangguan kelenjar tiroid, penyakit kelenjar adrenal dan lainnya. 

Kuncinya, Pola Hidup Sehat 

Dalam pemaparannya dr. Cut Putri Arianie, MHKes - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular mengatakan akibat pengaruh gaya hidup masa kini yang serba instant membuat kebanyakan orang jadi malas melakukan aktivitas fisik. Contohnya saja untuk bepergian. Tak perlu jalan kaki tapi orang lebih suka pesan ojol. Demikianpun makanan. Daripada memasak atau membeli sendiri orang lebih suka pesan antar makanan. 

Padahal itu tak dibenarkan. Bandingkan aja, pola hidup sehat orang jaman old dengan jaman now. Sehat-sehat orang jaman dulu kan? Nah untuk itu mari lakukan kembali pola hidup sehat seperti yang orang tua-tua dulu lakukan. Karena artinya kita telah mencegah dan mengontrol hipertensi. 



Berikut pola hidup sehat yang dianjurkan :

1. Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam dan lemak. Direkomendasikan dalam sehari jumlah penggunaan garam ideal tak lebih dari satu sendok teh kecil, gula tak lebih dari empat sendok makan dan lemak tak lebih dari lima sendok makan. 

2. Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal. Direkomendasikan hitungannya 18,5 - 22,9 kg/m2 dengan melakukan diet sehat di atas. 

3. Gaya hidup aktif dengan olahraga teratur. Dianjurkan olahraga teratur dengan jalan kaki 30 - 45 menit (3km)/hari setiap dua hari sekali. 

4. Stop merokok dan

5. Bagi yang suka dianjurkan untuk membatasi konsumsi alkohol. Untuk laki-laki batasannya 2 unit minuman perhari sedangkan untuk perempuan batasannya 1 unit minuman perhati. 

Dokter Cut menegaskan, dengan menghindari faktor risikonya maka Hipertensi dapat diobati dan dicegah dengan mengukur tekanan darah secara berkala, koq! Yang penting kita menghindari penyebabnya. 



Tapi gimana, susah pasti dong ya menghindari gorengan. Jujur, cemilan ternikmat di sore hari apalagi kalau bukan gorengan dan segelas teh manis panas 😕 Silakan aja, sih, asalkan siap minum obat seumur hidup. 

Ingat... Pengobatan hipertensi tak sebentar, teman-teman. Pengobatannya lama dan terus menerus sepanjang hidup. Tak boleh lupa minum obat seperti ibu saya. Sekali lupa bisa berbahaya. Tekanan darah bisa saja naik sewaktu-waktu pun serangan stroke berulang. 

Terkait dengan tingginya prevalensi Hipertensi di Indonesia dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH,FINASIM - Perhimpunan Hipertensi Indonesia mengatakan, "beban negara yang disebabkan tingginya pengobatan hipertensi terus meningkat setiap tahunnya. Ini menjadi PR besar. Karena nyatanya faktor resiko Hipertensi ada yang dapat diubah dan tidak." 

Nah bertambahnya umur, jenis kelamin dan genetik merupakan faktor genetik yang tidak dapat diubah. Hipertensi jenis ini cenderung muncul secara bertahap selama bertahun-tahun. Inilah yang kerap tak dicurigai karena tak ada gejala yang ditimbulkan. 




Sedangkan faktor resiko yang dapat diubah yakni perilaku tidak sehat antara lain merokok, diet rendah serat, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, kegemukan, alkohol dan tingkat stress yang berlebihan. 

Upaya atasi Hipertensi

Ada berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam pencegahan dan pengendalian hipertensi, diantaranya : 

1. meningkatkan promosi kesehatan melalui KIE dalam pengendalian hipertensi dengan perilaku CERDIK dan PATUH. 

2. Meningkatkan basis masyarakat dengan self awareness melalui pengukuran tekanan darah secara rutin. 

3. Penguatan layanan kesehatan khususnya hipertensi. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti meningkatkan akses ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan cara optimalisasi rujukan, dan peningkatan mutu layanan. 




4. Di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) upaya pencegahan komplikasi hipertensi khususnya jantung dan pembuluh darah juga terus ditingkatkan melalui Pelayanan Terpadu (PANDU) Penyakit Tidak Menular. 

5. Pemberdayaan masyarakat dalam deteksi dini dan monitoring faktor risiko hipertensi melalui Posbindu PTM yang diselenggarakan di masyarakat, di tempat kerja dan institusi. 

Satu-satunya cara untuk menentukan secara yakin adanya hipertensi atau tidak adalah melalui tes tekanan darah secara berkala. Karena bisa saja kita mengalami gejala berikut yang mengindikasikan hipertensi yakni : 


sakit kepala,
pusing berputar,
nyeri dada,
mimisan,
penglihatan berkunang-kunang, 
mudah lelah,
kesemutan pada tangan dan kaki.


Jika mengalami gejala di atas jangan ditunda lagi untuk mengunjungi layanan kesehatan terdekat, teman-teman. Jangan sampai organ tubuh kita ikut rusak, ya. Dengan mengadopsi gaya hidup sehat diharapkan terjadi penurunan tekanan darah. 

Adapun pemeriksaan dilakukan secara berkala setiap 1/2 - 1 tahun sekali. Dokter Cut menyarankan, supaya tak lupa jadwal sesuaikan saja dengan tanggal lahir atau bulan lahir. Dengan begitu kita dapat mengontrol tekanan darah atau melanjutkan pengobatan jika kita terkena hipertensi. 

Algoritmanya sebagai berikut. Bila tekanan darah kita lebih dari 140/90 - 159/99 mmHg artinya kita sudah masuk ke dalam hipertensi derajat satu. Bisa diupayakan dengan pencegahan dan modifikasi perbaikan pola hidup dengan menerapkan CERDIK yakni : 

Cek Kesehatan secara teratur
Enyahkan asap rokok
Rajin aktivitas fisik dan olahraga
Diet sehat gizi seimbang
Istirahat cukup 
Kelola Stress

Namun bila tekanan darah kita lebih dari 160/100 mmHg artinya kita sudah masuk ke dalam Hipertensi derajat dua. Untuk mengendalikan hipertensi ada baiknya jadilah orang yang PATUH yakni : 

Periksa kesehatan secara berkala
Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat
Tetap diet sehat dan gizi seimbang
Upayakan berakvitas fisik dengan aman
Hindari merokok, minum-minuman beralkohol dan zat karsinogenik 



Nah sampai di sini apakah teman-teman masih berat hati melakukannya? Saya tidak. Terus terang dari apa yang ibu saya alami saya kuatir dengan faktor risiko yang sama. Apalagi dari genetiknya ada kemungkinan saya punya bakat hipertensi juga dan kemudahan zaman yang serba memudahkan menjadikan saya malas bergerak. Takut ahh.. Yuk cek tekanan darah kita sesegera mungkin. Sebelum terlambat. 











13 komentar:

  1. wah keterangannya komplit bangett Mba, makasi yaa.. , saya jadi sadar sehat itu mahal, mencegah lebih baik daripada mengobati ya, mari kita mulai bergaya hidup sehat :)

    BalasHapus
  2. Aku langsung ngeri pas tau bahwa di Indonesia pada tahun 2016, total kematian sebesar 1,5 juta orang penyebab kematiannya macam-macam. Terus faktor risiko yang menyebabkan kematian berasal dari tekanan darah (hipertensi) sebesar 23,7%, lumayan tinggi juga yah. Harus mulai hidup sehat nih :D

    BalasHapus
  3. Fakta2 mengerikan tentang hipertensi ternyata banyak banget.
    Semogaaaaa kita semua terhindar dari penyakit ini dan penyakit2 degeneratif lainnya
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  4. bener banget.. menerapkan pola hidup sehat itu kunci hidup tanpa penyakit

    BalasHapus
  5. nah itu tuh, kadang karena ngerasa masih muda agak lalai cek tekanan darah. Padahal semuanya perlu cek kesehatan kan ya

    BalasHapus
  6. Ayahku masih merokok padahal punya darah tinggi dan memang susah ya untuk menyarankan sama orang tua pola hidup sehat

    BalasHapus
  7. Kalo hipertensi itu ngeri2 sedap soalnya kalo udah kena harus dijaga makanannya yah

    BalasHapus
  8. saya hipotensi malah
    klu tensi naik malah cuma 130
    tp tetap waspada ya
    karena sama sama ga bagus klu dibiarkan

    BalasHapus
  9. Kalo kata temen saya sih, pola yang sehat adalah, makan banyak, olahraga banyak, sesekali check up juga bisa.

    BalasHapus
  10. Aku darahnya rendah banget malahan, kak...
    Juga beberapa kali kesemutan dan kepala berkunang-kunang.
    Apalagi kalo sedang stres. Waah...kambuh deeh...

    Hipertensi ini gejalanya memang sering diabaikan orang yaa, kak...
    Semoga kita lebih aware terhadap apa yang kita rasakan.

    BalasHapus
  11. Di keluarga suamiku ada riwayat hipertensi Mbak..
    memang lebih baik menghindari dan mengendalikan ya sebelum terjadi yang lebih parah.
    Noted, jadilah orang yang PATUH , periksa kesehatan secara berkala atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, tetap diet sehat dan gizi seimbang, upayakan berakvitas fisik dengan aman, hindari merokok, minum-minuman beralkohol dan zat karsinogenik

    TFS

    BalasHapus
  12. AKu sering banget mengalami tekanan darah rendah
    abis duduk atau jongkok, pun tidur kalo tiba2 bangun langsung pening banget
    AKu pengen menerapkan pola hidup sehat juga biat nggak hipertensi bahaya
    makasih mba diingatkan

    BalasHapus
  13. Membicarakan tensi .., sebetulnya takut juga.
    Tapi lewat artikel ini kita semua jadi tersadarkan untuk selalu rutin mengecek kondisi tensi.

    Aku jadi ingat, salah satu teman kerjaku yang punya tensi rendah mengalami stroke total.
    Gara-garanya mengkonsumsi kopi hitam melebihi batasan wajar.
    Sehari dia sanggup mengkonsumsi 5 gelas kopi hitam perharinya.

    BalasHapus