Rabu, 13 Maret 2019

Kiat Bangun Masyarakat Berpengetahuan Melalui Rakornas Bidang Perpustakaan 2019



Teman-teman, kapan, sih, terakhir kali kamu ke perpustakaan? Kalau saya baru aja bareng anak anak main-main isi liburan di Perpustakaan Nasional bulan lalu. Dan kebetulan kemarin saya main-main lagi, nih, ke Perpustakaan Nasional Jakarta tapi bukan untuk numpang WiFi sambil cari source tulisan, sih, tapi untuk menghadiri Press Conference Rakornas Perpustakaan 2019.

Apa itu Rakornas? Kalau dari KBBI Rakornas adalah kepanjangan dari Rapat Koordinasi Nasional. Ini merupakan gelaran kegiatan yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional selama empat hari penuh. Tepatnya dari tanggal 13 - 16 Maret 2019 yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta.

Kabarnya, seluruh rangkaian acara tersebut disambut dengan antusias. Pasalnya lebih dari 2.000 peserta akan hadir. Mereka berasal dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus dan Sekolah, serta para pustakawan dan para penggiat literasi seluruh Indonesia. Wowww. 

Saya terus terang penasaran, apa, sih, magnetnya sehingga kegiatan ini begitu mencuri perhatian? Eiimm, bisa jadi karena Narsum yang hadir mengisi setiap sesi Talk show memang mumpuni. Tercatat sejumlah menteri di kabinet Gotong Royong akan hadir diantaranya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Brojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Wakil Ketua Ombudsman Adrianus E. Meliala, Pimpinan Komisi X DPR RI, Kepala Perpustakaan Nasional, Ketua Kademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, serta Nara sumber lainnya.



Dalam Press Conference yang berlangsung pada 11 Maret 2019 silam tema yang diusung yakni "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat". Adapun hadir beberapa narasumber, diantaranya :
1. Dra. Ofy Sofiana, M.Hum sebagai Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi.
2. Dr. Joko Santoso, M.Hum sebagai Kepala Biro Hukum dan Perencanaan.
3. Dra. Sri Sumekar, M.Si sebagai Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional.
4. Dr. Bachtiar sebagai Kepala Pusat Penerangan Kemendagri.
5. Dra. Woro Titi Haryanti, MA sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan.

Dalam penjelasan Narsum yang hadir kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 memiliki target untuk menciptakan manusia berkualitas dan berdaya saing di era globalisasi. Tujuan ini juga sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 yang menetapkan penguatan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu skala prioritas nasional, dan masuk dalam RPJMN 2020 - 2024.

Sebagai wadah untuk mencapai tujuan tersebut perpustakaan berperan penting sebagai akses penguatan literasi masyarakat. Caranya dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya baca di masyarakat secara sistematik. 




Dari tema yang diangkat tersebut saya bisa memahami betapa selama ini secara keseluruhan masih banyak masyarakat yang enggan datang ke  perpustakaan. Banyak faktor memang yang menyebabkannya. Dari pengalaman saya sendiri, suasana perpustakaan yang kurang nyaman ditambah setiap ke perpustakaan dimana koleksi bukunya ga pernah ada penambahan menjadi pemicu keengganan saya mampir ke perpustakaan.

Diakui Dra. Ofy Sofiana, M.Hum kini Perpusnas tampil dengan wajah baru. Bila dulu perpustakaan menjadi sekedar tempat untuk membaca buku saja namun kini telah bertranformasi menjadi ruang terbuka. Di sini masyarakat bisa berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual dan berlatih ketrampilan hidup melalui fasilitas yang disediakan. Ada WiFi, ruang membaca yang nyaman, full AC, parkir murah, juga koleksi buku yang komplit.

Ada banyak kegiatan yang telah diselenggarakan perpustakaan seperti workshop menulis dan workshop membordir. Bahkan ke depannya bakal ada workshop membatik di atas media yang ga biasa. Namanya Daluang. Daluang adalah lembaran tipis seperti kertas yang dibuat dari kulit pohon Daluang yang pembuatannya dengan cara memukul-mukul kulit pohon hingga tipis. Baru tau kan? Makanya banyakin baca 

Dari kegiatan workshop yang diselenggarakan Perpustakaan di beberapa daerah dampak positif dapat dirasakan. Kesejahteraan peserta workshop semakin meningkat melalui pengaplikasian ilmu yang didapatnya saat workshop untuk membuka usaha.

Dra. Woro Titi Haryanti, MA pun merisaukan kemalasan orang Indonesia untuk membaca. Menurutnya, tingkat literasi negara kita cukup rendah. Padahal buku adalah jendela dunia. Kita bisa punya wawasan dari membaca buku. "Percuma punya perpustakaan di rumah kalau jadi pajangan saja," tegasnya.

Sebab itu kita tak perlu mencemaskan kekuatiran akan persaingan di era revolusi industri 4.0 yang sudah ada di depan mata kita. Karena akses untuk memenangkan persaingan adalah dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya membaca.

Bahkan pemerintah pun telah menyiapkan dananya. Menurut Dr. Bachtiar dana yang disiapkan sejumlah 1,78 Trilyun yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2018 disebutkan bahwa Perpusnas mendapat mendapat mandat sebagai penanggung jawab penyaluran Dana Alokasi Khusus yang mencakup pemerataan layanan perpustakaan hingga ke desa, peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif, pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, peningkatan manfaat TIK, penguatan kerjasama dan jejaring perpustakaan, peningkatan budaya dan kampanye gemar membaca, peningkatan kualitas dan beragam koleksi hingga pelestarian kandungan informasi bahan perpustakaan dan naskah kuno.

Waah, jadi ga sabar ya menunggu perpustakaan lainnya bertransformasi seperti Perpusnas sekarang. Yuk ah budayakan kembali tradisi membaca. Tak harus lama, koq. Meluangkan 5 menit dalam sehari untuk membaca sudah cukup untuk membuka wawasan kita.  Dan jangan malas juga ke perpustakaan ya, karena setidaknya sepulang dari sana ada satu ilmu baru yang kita dapatkan. Setuju? 珞

Tidak ada komentar:

Posting Komentar