Rabu, 27 Maret 2019

Dukung Masa Depan 33 Juta Anak Bareng SGM Explor Melalui Aksi Nutrisi Generasi Maju

Maret 27, 2019 0


Teman-teman, kalau bicara soal aksi, apa sih yang muncul di kepala? Jangan bilang aksi tuh unjuk rasa yang dilakukan sekelompok orang sambil meneriakkan tuntutan di titik-titik konsentrasi massa, ya? Karena aksi yang saya bahas kali ini lain, teman-teman. Aksi yang saya ulas kali ini berkaitan dengan masa depan anak bangsa. Sebab itu, yuk ah dukung masa depan 33 juta anak bareng SGM Eksplor melalui aksi nutrisi generasi maju. 

Dalam peluncuran gerakan sosial AKSI NUTRISI GENERASI MAJU pada 20 Maret 2019 silam SGM Explor mengajak seluruh masyarakat Indonesia memberikan dukungan bagi 33 juta anak Indonesia. Dukungan yang dimaksud agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi maju dan mampu bersaing di sengitnya era revolusi industri 4.0 yang sudah ada di depan mata.

Tentu kita tau, untuk mewujudkan bangsa kita menjadi bangsa yang maju tidaklah mudah. Sumber daya manusia yang unggul adalah kunci yang membentuk negara kita agar mampu bersaing dengan negara lain. Nah, untuk mempersiapkan terciptanya generasi maju, unggul dan berkualitas di masa depan maka asupan penuh gizi dan bernutrisi menjadi hal yang tak bisa ditawar lagi. Untuk itu, dukungan penuh dan komitmen kuat dari seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mempersiapkan sejak dini bibit-bibit unggul di masa depan menjadi sebuah harapan yang menggembirakan.

Gerakan Sosial - Aksi Nutrisi Generasi Maju 
Bertempat di Hermitage Hotel, Cikini, Jakarta dalam peluncuran gerakan sosial Aksi Nutrisi Generasi Maju hadir sebagai pembicara :

1. Meida Octarina, MCN selaku Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK.

2. Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor.

3. dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK selaku Dokter Gizi Klinis

4. Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc., Sci. selaku Sosiolog dari Universitas Indonesia

5. Alyssa Soebandono, seorang aktris dan ibu dari dua anak.


Sebagai seorang ibu, aktris yang akrab dipanggil Icha memiliki harapan sebagaimana para ibu lainnya yang menginginkan anak-anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan kreatif. Istri dari Dude Harlino ini sangat menyadari pentingnya asupan nutrisi yang baik dimulai sejak awal kehamilan. Karena tumbuh kembang otak anak (berkaitan dengan kecerdasan dan respon motorik) dimulai sejak dalam kandungan. "Nah, tugas kita sekarang adalah memastikan agar anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi generasi maju yang dapat meneruskan pembangunan bangsa sehingga mereka nantinya bisa menikmati kehidupan yang lebih baik."

"Oleh karena itu, mari bersama-sama kita memperkuat pondasi utama utnuk mencapai kemajuan itu dengan memberikan akses nutrisi yang baik bagi anak-anak Indonesia. Kita bisa mulai ikut dengan menunjukkan aksi dukungan kita melalui gerakan Aksi Nutrisi Generasi Maju dari SGM Eksplor untuk mendorong anak-anak Indonesia tumbuh menjadi Anak Generasi Maju yang dapat membangun masa depan negara ini menjadi lebih kuat dan maju," ajak Alyssa.

Caranya bagaimana?



Mudah sekali. Kita hanya perlu meng-upload foto di media sosial Instagram dan Facebook menggunakan pledge (di Faebook menggunakan frama profile foto dan di Instagram menggunakan sticker gift) yang sudah tersedia templatenya. Satu aksi melalui foto yang diupload sama dengan satu dukungan nutrisi berupa 1 kotak susu SGM Explor untuk anak generasi maju. Periode kampanye ini berlangsung pada 1 Maret - 10 Juli 2019 yang berdekatan dengan Hari Anak Indonesia.

Dalam penjelasannya, Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor mengatakan, "aksi nutrisi generasi maju memiliki misi yang besar. Dengan semangat kemajuan dan prestasi yang sudah banyak dicapai bangsa kita saat ini, kami ingin mengajak berbagai pihak bersama-sama mendukung 33 juta anak-anak Indonesia menjadi generasi maju."

Aspirasi kami adalah agar masyarakat menyadari bahwa ke depannya nanti anak-anaklah yang nantinya akan menguasai bidang ekonomi, teknologi dan berbagai sektor penting lainnya. Di tangan merekalah nanti yang menentukan masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik. Tentunya untuk mencapai cita-cita tersebut dukungan dalam pemenuhan nutrisi menjadi faktor penting bagi kemajuan mereka di setiap tahap tumbuh kembangnya.

AKSI NUTRISI GENERASI MAJU mentargetkan 33.000 dukungan dari berbagai pihak yang akan diwujudkan dengan pemberian 33.000 kotak susu SGM Eksplor untuk anak-anak di atas usia satu tahun sebagai gerakan sosial yang nantinya didonasikan untuk anak-anak Indonesia di berbagai kota atau kabupaten di seluruh Indonesia. 


Untuk mendukung gerakan sosial AKSI NUTRISI GENERASI MAJU, SGM Eksplor juga menggelar kegiatan edukasi di 5 kota besar, yaitu Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. "Melalui rangkaian kegiatan tersebut kami ingin terus memberikan edukasi tentang nutrisi yang lengkap dan stimulasi yang tepat serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung 33 juta anak Indonesia agar dapat tumbuh optimal sehingga mendorong terciptanya generasi yang berkualitas dan progresif yang memotori kemajuan Indonesia di masa depan," ungkapnya lagi.


Pondasi Tumbuh Kembang Optimal Berawal Dari Kecukupan Nutrisi 
Anak adalah harta berharga bagi setiap keluarga. Orang tua manapun pasti ingin memberikan yang terbaik dan mempersiapkan bekal di masa depan untuk anak-anaknya.Tak hanya perhatian, soal kesehatan, lingkungan, pendidikan, asupan makanan dan pola asuh yang baik merupakan andalan optimal orang tua untuk memberi bekal anak-anaknya menapaki masa depan dengan lebih baik.




Dari data profil kesehatan Indonesia yang diterbitkan Pusat Data Informasi 2017 Kemenkes tercatat ada 33 juta anak usia dini yang mendominasi piramida penduduk Indonesia saat ini. Untuk itu, dukungan seluruh masyarakat diperlukan mengingat negara kita diprediksi akan menjadi negara maju di tahun 2045. BTW, prediksi ini bukan tanpa perhitungan lho teman-teman. Riset terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diprediksi mencapai US$ 10 Trilyun pada 2030 dan berada di peringkat ke-4 sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Wooowwww... 😍

Meida Octarina, MCN selaku Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK mengingatkan, "sebagai kelompok populasi yang besar, lebih dari 33 juta anak Indonesia nantinya yang akan menjadi penggerak roda kemajuan bangsa kita di masa depan. Dapat kita bayangkan, seperti apa majunya Indonesia jika setiap anak dari jumlah tersebut memberikan ide, inovasi dan karya sesuai kemampuan terbaik mereka?"

Menyadari hal itu, SGM Eksplor yang telah berpengalaman selama lebih dari 60 tahun melalui penyediaan produk bernutrisi dan edukasi berupaya mewujudkannya sebagai bentuk dukungan bagi kemajuan bangsa. Melalui gerakan sosial Aksi Nutrisi Generasi Maju SGM Esplor yang rasanya enak dan harganya terjangkau serta berstandar Internasional mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mempersiapkan masa depan anak yang tentu tidaklah mudah dilalui. Tidak instant. Harus dipersiapkan sejak dini, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan.

Sosiolog dari Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmin, S.Sos., M.Soc., Scl pun menambahkan, dalam upaya menciptakan generasi maju pengembangan kualitas hidup seseorang dimulai sejak dini dan didukung lingkungan sekitar secara masif. Dukungan kolektif masyarakat untuk memberikan akses pemenuhan nutrisi bagi anak sejak dini dapat mendorong terciptanya generasi yang berkualitas dan ikut menentukan masa depan bangsa ini."

"Dengan adanya sinergi antara pemerintah, pihak swasta, akademisi dan masyarakat akan membentuk support system bagi lebih 33 juta anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi maju dan memberi kontribusi terhadap pembangunan bangsa ke depannya," ujar Daisy.



Bicara soal kualitas generasi maju tidak salah kalau kita kembali lagi mengingat bahwa nutrisi punya peran penting di dalamnya. Anak yang berkualitas datang dari orang tua yang berkualitas pula, setuju? Maka pemahaman mengenai gizi terutama bagi kita para wanita sebagai calon ibu adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar. Bagaimana anak mau doyan makan sayur kalau kita sendiri enggan memakannya. Bagaimana anak mau doyan makan ikan kalau tidak mau diancam ditenggelamkan oleh ibu Menteri Susi?

dr. Nurul Ratna Mutu Manikam memaparkan, sungguh sempit sekali kalau kita berpikir bahwa nutrisi hanya dikaitkan dengan makanan aja. Meskipun kita tak bisa pungkiri bahwa nutrisi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi sangat berperan pada masa tumbuh kembang anak. Apalagi saat ini kita dihebohkan dengan masalah stunting yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan anak akibat kurang gizi. Sedih bukan?






dokter Ratna mengingatkan, makan bukanlah sekedar kegiatan memasukkan makanan saja ke dalam mulut, lalu dikunyah dan ditelan. Banyak anak-anak melakukan gerakan tutup mulut karena menganggap makan adalah kegiatan yang menakutkan. Nah, membiasakan budaya makan bersama keluarga rupanya bisa menjadi sebuah momen yang mengasikkan buat anak. Melalui makan bersama kita bisa sekaligus mengedukasi dengan cara fun memperkenalkan fungsi dan manfaat wortel di piring makan anak misalnya. Dengan demikian secara tak langsung kita telah turut menciptakan bibit-bibit unggul bangsa di masa depan.

Jadi, yuk ah mulai dari sekarang kita perbaiki pola kebiasaan makan keluarga. Karena tubuh yang sehat dengan nutrisi lengkap merupakan salah satu pondasi tumbuh kembang optimal anak yang menentukan kualitas mereka di masa depan nanti seperti apa, betul apa betul? 😍




Selasa, 26 Maret 2019

Peringati Ulang Tahun Ke 21, Keluarga BUMN Saling Bersinergi Upayakan Generasi Muda Indonesia Mampu Bersaing di Kancah Internasional

Maret 26, 2019 0
Beri aku seribu orang tua,  niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda,  niscaya akan kuguncang dunia.  ~ Bung Karno. 

Merinding.  Kalau kita renungkan, pesan Bung Karno mengandung pesan yang sangat mendalam, lho! Sebagai penerus masa depan bangsa, di tangan pemudalah nasib bangsa kita titipkan. Tentu secara logika kita tak ingin calon-calon pemimpin bangsa melempem bak kerupuk diguyur kuah jadi seblak. Sebagaimana pesan Bung Karno, yang kita inginkan tak lain agar anak bangsa mampu bersaing di sengitnya era globalisasi ; dimana ilmu dan teknologi sedemikan pesatnya berkembang. Namun pertanyaannya, mampukah mereka mengguncang dunia? 





BUMN Goes To Campus 
Pertanyaan saya setidaknya mendapatkan titik cerah ketika hadir dalam event BUMN Goes To Campus di Universitas Singaperbangsa Karawang, 21 Maret 2019 silam bareng PT Pupuk Indonesia. Bersama teman-teman Blogger dan Media sebelum menuju ke satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri di Karawang ini kami berkumpul dulu di gedung PT. Pupuk Indonesia, Kemanggisan, Jakarta Barat sejak pagi buta. Seketika otak saya langsung memetakan lokasi PUSRI yang cukup dekat dengan rumah ibu saya. (Oiya, btw, sampai sekarang meskipun sudah berganti nama menjadi PT. Pupuk Indonesia, wilayah ini masih tenar dengan nama PUSRI, lho 😙)



Sesampainya di Unsika, sayup-sayup dari panggung terdengar suara, "jika kamu menjadi Direktur utama BUMN apa yang akan kamu lakukan?" 

Pertanyaan sederhana namun menggelitik. Saya tersenyum membayangkan jawaban apa yang dilontarkan mahasiswa-mahasiswa peserta kompetisi ini. Ahay, benar aja. Ketika pemenang pertama CEO Future Competition membacakan esai yang berisi ide pemikirannya aplaus luar biasa dari 2500 mahasiswa yang hadir sontak menggemuruh. Kereeeeen...




Kompetisi CEO Future merupakan salah satu dari tiga kompetisi yang digelar dalam rangkaian BUMN Goes To Campus di Karawang untuk merebut hadiah uang tunai hingga puluhan jutaan rupiah. Kompetisi Vlog bertema : Kiprah BUMN membangun negeri dan Kompetisi Got Talent sebuah ajang adu bakat diikuti mahasiswa di Karawang dan sekitarnya disambut dengan antusias. Luar biasa. 

BUMN Berbagi
Masih di event BUMN Goes To Campus, tak hanya memberikan hadiah kepada pemenang-pemenang kompetisi, pemberian beasiswa dari PT Pupuk Indonesia kepada mahasiswa berprestasi dan pembagian sertifikat kepada ratusan peserta magang bersertifikat dan yang telah konsisten mengikuti Creative Class selama beberapa bulan terus terang membuat saya ikut bangga sekaligus terharu. Mungkin di 'sana', Bung Karno ikut tersenyum melihat ini 😊

Bagaimana tidak. Di masa awal kepemimpinan pemerintah sekarang kita mengenal program nawa cita, ya kan? Nah, salah satu dari agenda yang dicita-citakan adalah meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

So far,  sebagian besar program nawacita yang diluncurkan satu demi satu telah terwujud. Bak kepingan puzzle satu demi satu terkumpul membentuk bayangan "ohh jadi maksudnya begini" kenapa infrastruktur digenjot pembuatannya. "Oh jadi maksudnya ini" kenapa SDM Indonesia menjadi fokus pemerintah tak lain agar mampu bersaing di era globalisasi. 


Nah, dalam rangkaian hari ulang tahunnya yang ke-21, kalau diibaratkan usia seseorang, BUMN boleh dibilang telah memasuki usia seperti mahasiswa-mahasiswa yang saya temui sekarang. Menjelang kedewasaannya diwujudkan dengan saling bersinergi di antara keluarga BUMN yang berjumlah 143 perusahaan. 

Sebagaimana dikatakan Aas Sadikin, Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia dalam sharing session kepada mahasiswa-mahasiswa, "kami adalah salah satu dari keluarga BUMN. Kehadiran kami diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan masyarakat. Melalui pupuk bersubsidi yang disalurkan kepada petani yang berhak menjadi sebuah inisiatif kami untuk menjadi agen pembangunan ekonomi negara."

Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro yang juga hadir tak lupa mengajak mahasiswa khususnya yang berada di Jawa Barat khususnya di Karawang untuk terus dapat mengasah kemampuan diri. "Karena kebutuhan akan SDM berkualitas akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jadi pengembangan diri sangatlah penting sehingga nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi maksimal untuk pembangunan terutama di Jawa Barat," ungkapnya. 

Untuk memberikan rasa nyaman dan aman akan masa depan, tak hanya memberikan bantuan berupa beasiswa kepada mahasiswa berprestasi PT Pupuk Indonesia pun nyatanya tergerak untuk mendirikan bangunan kantin mahasiswa Unsika. Pembangunan kantin ini untuk menunjang kebutuhan mahasiswa dalam memiliki dan menikmati kantin yang nyaman. 

Saya setuju banget. Semua hal memang bermula dari meja makan. Makanya sekarang ini ada anjuran untuk menghidupkan lagi meja makan di rumah dengan makan bersama.  Kita ga bakal nyangka hal-hal sepele hingga ide-ide brilyan mahasiswa bakal muncul dari obrolan di meja makan kantin Unsika ye kan? 



Sementara itu, harapan anak-anak santri di pondok pesantren Nihayatul Amal yang berada di Rawamerta Karawang memiliki ruang belajar dan kamar yang nyaman sebentar lagi tampaknya akan terpenuhi. Program Berbagi di Pesantren yang diluncurkan BUMN akan mendirikan enam ruang kelas dan fasilitas belajarnya. Tak hanya itu bangunan asrama untuk santriwati yang dilengkapi dengan fasilitas ala asrama seperti tempat tidur dan lemari juga akan dibangun dari kolaborasi bebetapa perusahaan BUMN.




Saya tersenyum terus melihat wajah-wajah penuh keceriaan anak-anak santri yang berjumlah sekitar 2500 orang kala menyambut kedatangan ibu menteri BUMN Rini Soemarno dan jajaran direksi perusahaan BUMN. Kehadiran Dirut PT PP (Pembangunan Perumahan), Dirut Jasa Raharja, Dirut BNI dan Dirut Telkom yang mendampingi Ibu Menteri BUMN Rini Soemarno dalam ceremony peletakan batu pertama tanda diresmikannya pembangunan fasilitas untuk pondok pesantren Nihayatul Amal. Alhamdulillah.




Dalam sambutannya, ibu Rini menegaskan, "memperingati hari ulang tahun BUMN ke-21 kami ingin berbagi. Karena dalam dunia usaha, tugas kami bukan saja untuk mencari keuntungan tapi juga untuk dapat langsung berbagi kepada masyarakat. Semoga kegiatan-kegiatan ini bisa membantu masyarakat terutama yang membutuhkan."




Dalam perjalanan pulang, seruan salam perpisahan dari adik-adik santri yang melepas saya dan teman-teman jadi mengingatkan saya akan tagline BUMN yakni One Nation, One Vision, One Family To Excellence. Saya yakin, kalau "bersama kita pasti bisa". Dengan kerjasama semua pihak semoga calon pemimpin masa depan bangsa dapat menerapkan prinsip BUMN dan mampu bersaing di kancah internasional.

Sebagaimana cita-cita Bung Karno ---- pemuda Indonesia dapat mengguncang dunia --- saya lantas melamunkan kira-kira guncangan apa ya yang bakal digebrak generasi muda yang saya temui hari ini? Kita tunggu aja. 

Terimakasih BUMN. Selamat Ulang Tahun. Teruslah Berbagi dan Menginspirasi 😍


Minggu, 17 Maret 2019

Rakornas Perpustakaan 2019 ; Upaya Wujudkan Ekosistem SDM Indonesia Melalui Penguatan Literasi

Maret 17, 2019 2


Kala membaca sesuatu sejatinya kita tidak hanya memahami arti dari hurup perhurup menjadi kata, kata perkata menjadi kalimat dan kalimat perkalimat menjadi paragraf. Akan tetapi kemampuan kita untuk memahami secara keseluruhan informasi yang dibaca merupakan pengertian literasi itu sesungguhnya. 

Memahami literasi tidak mudah teman-teman. Perlu waktu lama dari pembiasaan-pembiasaan membaca sejak dini. Di era 80-an, kala saya masih kecil, ketika sumber hiburan hampir tak ada, selain pesawat televisi yang mulai siaran di sore hari kegiatan membaca menjadi pengisi hari-hari saya. Ibu saya tanpa sengaja membuat saya jadi hobi membaca. Waktu itu ia sering membeli koran dan majalah bekas untuk dijadikan kantung beras (modelnya kaya kantung kertas gorengan di abang-abang gerobak). Tapi sebelum dijadikan kantung kertas saya pilih-pilih dulu yang menarik untuk saya baca-baca. Kebetulan di dekat rumah juga ada perpustakaan dan taman bacaan buku alias kios persewaan buku. Maka minat baca sayapun semakin tumbuh subur. 

Akan tetapi sejalan dengan pergeseran zaman, sebagian besar masyarakat kini semakin rendah intensitasnya dalam membaca. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya : 

1. Sistem akademik di sekolah dan kampus yang sangat padat membuat orang sudah jenuh untuk membaca dan mencari informasi lebih dari yang didapatnya. 

2. Ada alternatif lain yang lebih menghibur daripada membaca yakni chatting, nonton atau main games. Andaikan pun mencari informasi orang tetap lebih memilih mencari dari internet daripada membaca buku. 

3. Fasilitas umum seperti Mal, Karaoke, Bioskop dan taman hiburan lain yang asyik untuk hang out daripada membaca. 

4. Kesibukan ibu yang ikut berperan mencari nafkah menjadikan peran pentingnya dalam membiasakan anak membaca jadi semakin minim. 

5. Harga buku yang mahal menyebabkan orang enggan untuk membaca. Sementara itu perpustakaan yang sejatinya merupakan tempat untuk membaca buku seringkali fasilitas dan koleksi bukunya tidak memadai. Itupun kadang-kadang letaknya jauh sehingga membuat orang enggan membaca.




Dalam kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 saya kembali hadir tanggal 14 Maret 2019 silam di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta. Setelah sebelumnya hadir dalam Press Con yang berlangsung tanggal 11 Maret 2019 di Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, terus terang saya penasaran dengan kehadiran narasumber-narasumber yang silih berganti bakal mengisi materi dalam kegiatan yang berlangsung dari 13 - 16 Maret 2019 ini. Dan kabarnya, Rakornas kali ini sangat happening karena dihadiri sekitar dua ribu orang dari seluruh Indonesia. 😍



Setelah gong tanda diresmikannya pembukaan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan, setelah menggenjot pembangunan infrastruktur hingga tahun 2018 tujuan pemerintah selanjutnya adalah upaya untuk meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Caranya adalah dengan berfokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Ekonomi di tahun 2019.



Untuk mewujudkan upaya tersebut, perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem masyarakat yang berpengetahuan. Sebab itu sebagai contoh saja, Perpustakaan Nasional kini tampil dengan wajah baru. Tak lagi sebagai tempat membaca buku saja tapi perpustakaan kini juga berfungsi sebagai ruang co working space. Berbagai fasilitas dan layanan diperbaiki agar pengunjung betah berlama-lama menghabiskan harinya di perpustakaan. Tak lupa, layanan pustakawan yang ramah dan handal menjadi kunci utama kehadiran pengunjung perpustakaan. 

"Karena secara inklusif, masyarakat berhak mendapatkan layanan perpustakaan dimanapun mereka berada dan pada kondisi apapun. Hal ini dijamin oleh negara melalui Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, " jelas Tjahjo. 

Beliau memaparkan, dari total 82.505 desa/kelurahan di Indonesia baru 33.929 desa/kelurahan memiliki perpustakaan atau setara dengan 41.12%. Karenanya Kemendagri mendorong pemerintah daerah untuk memberi penekanan pada kepala daerah untuk : 

  • Untuk membentuk Dinas Perpustakaan bagi pemerintah daerah yang belum punya. 
  • Memperkuat struktur kelembagaan dan tata laksana perpustakaan. 
  • Mendorong penyelenggaraan perpustakaan umum berjalan dengan baik. 
  • Pentingnya pembangunan perpustakaan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar dan perbatasan (3TP). 
  • Optimalisasi pemanfaat NIK pada e-KTP sebagai Kartu Anggota Perpustakaan di seluruh wilayah Republik Indonesia. 
  • Mempercepat implementasi MOU Kerjasama, 
  • Dana DAK transfer ke daerah sebagian untuk pengembangan perpustakaan, literasi dan kegemaran membaca. Terutama penyediaan buku-buku life skill, home industri dan teknologi terapan. 



Untuk melihat langsung bagaimana peran perpustakaan bagi masyarakat, saya sempat berkunjung ke beberapa stand pameran yang digelar selama kegiatan Rakornas berlangsung. Saya takjub dengan hasil karya ibu-ibu di stand milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bandung Barat. Berbagai kerajinan tangan tertata cantik dari kreasi ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas perpustakaan. Ah, andai semua perpustakaan dapat menjadi ruang publik terbuka yang dapat memberikan manfaat untuk pengembangan skill semua masyarakat tentu kesejahteraan ekonomi sebagaimana yang dicita-citakan pemerintah akan tercapai dengan mudah. 


Jumat, 15 Maret 2019

Asyiknya Jalanin Bareng Prudential Ke Surganya Wakaf Produktif Di Subang

Maret 15, 2019 24


"Jadi, dari totalnya ada sepuluh hektar dimana dua hektarnya ditanami buah naga dan nanas Subang dengan sistem tumpang sari. Sebagian lahan lainnya ditanami buah jambu kristal, pepaya kalina dan pisang, sedangkan sisanya, sih, belum diolah," jelas kang Ade saat menemani saya dan teman-teman memetik buah naga.



Memetik buah naga adalah salah satu tawaran memikat bagi pengunjung yang datang ke kebun buah naga Indonesia Berdaya di desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang. Tanah yang tadinya ditelantarkan begitu saja kini menjadi harapan bagi petani warga sekitar.

Sebagai pembina, lembaga amil zakat Dompet Dhuafa mengelola dana wakaf umat menjadi wakaf produktif dengan menyulap lahan ini menjadi alternatif wisata keluarga yang mengasyikkan. Programnya itu bernama Indonesia Berdaya. Di sini, siapapun bisa datang dan merasakan langsung memetik buah naga yang matang pohon ; bisa dimakan di tempat atau di bawa pulang. Kata Kang Ade, buah pohon di sini rasanya memang beda. Lebih manis dari yang ada di pasaran. Rahasianya adalah penggunaan pupuk organik, jadi tanpa pupuk buatan. Pantas, rasanya enak.





Tak hanya itu, rupanya di sini juga ada homestay yang disewakan untuk pengunjung yang ingin merasakan lebih lama hawa sejuk alam segar di Subang. Jujur, membayangkan perjalanan lima jam dari Jakarta rasanya memang kurang sih waktunya. Mamah masih butuh piknik, nih, hahaha... 

Bagaimana tidak, saat turun dari kendaraan, mata saya langsung kepincut pada bangunan berdinding kayu yang unik dan minimalis. Sepanjang mata memandang, hawa sejuk dataran tinggi dan hijau royo-royo kebun buah naga dari kejauhan seolah memanggil-manggil saya untuk segera menghampiri. Namun saya harus bersabar dulu, karena panitia sudah memanggil saya dan teman-teman yang sibuk berfoto ria untuk makan siang dulu.






Dari kejauhan alunan degung Sunda terdengar merdu dari saung besar. Kamipun segera duduk lesehan. Meja panjang sudah ditata dengan daun pisang sebagai alasnya. Ada nasi liwet yang dibungkus ala timbel, tahu tempe goreng, ikan goreng dan bakar, ayam goreng, juga tumisan kangkung, ulukutek leunca, aneka lalapan dan beberapa jenis sambal yang eimmm bikin lidah saya goyang-goyang. Tanpa terasa, sambal terasi, sambal dadak dan sambal kecap jahe yang terhidang ludes seketika. Penutupnya apalagi kalau bukan jus Nanas dan jus buah naga, dan sate kedua buah tersebut. Hmmm, yummy.



Setelah makan siang saya dan Amel memutuskan untuk segera ke mushola untuk sholat Dzuhur. Mumpung belum ramai. Air dingin pegunungan yang membasuh muka sontak membangkitkan rasa bersyukur pada sang Maha Pencipta. Membayangkan desa ini mampu bangkit menjadi desa mandiri saya pun jadi membayangkan ada doa dan harapan di dalam biji-biji hitam renyah sate buah naga yang tadi saya telan.




Dari penjelasan kang Ade tadi, luas lahan tanam buah naga seluas dua hektar mampu menghasilkan dua ton buah naga. Satu pohonnya aja mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram. Pohon-pohon yang ditanam tunasnya akan terus tumbuh dan menghasilkan bibit-bibit pohon baru. Begitu seterusnya seperti halnya manfaat wakaf yang pahalanya mengalir terus. Wakaf akan selalu menjadi doa yang berlipat-lipat dan kebaikan yang menembus langit. Masya Allah.


WAKAF 
Selama ini yang kita tahu bahwa wakaf identik dengan sumbangan seseorang atas tanah dan bangunan yang dimilikinya untuk dijadikan pemakaman, masjid, mushola, sekolah dan lainnya. Artinya, hanya orang-orang mampu dan kayalah yang mampu dan mau mewakafkan hartanya. 

Namun itu salah besar. Kalau teman-teman membaca tulisan saya sebelumnya, nyatanya untuk berwakaf tidak perlu menunggu kaya dulu. Sama seperti shadaqah atau zakat kita diperbolehkan memberikan kepada siapapun yang kita rasa layak mendapatkannya. Akan tetapi bedanya, penerima zakat dan shadaqah dibebaskan menggunakan untuk apa yang diterimanya. Kalau dana wakaf beda. Dana wakaf harus dikelola supaya dapat memberi manfaat terus menerus bagi penerimanya. 


Dalam sambutannya mas Khohar dari Dompet Dhuafa mengatakan, kebun wisata Indonesia Berdaya ini merupakan salah satu bentuk dana wakaf yang dikelola bersama 30 petani binaannya. Mereka dilibatkan langsung untuk menggarap lahan dan melakukan perputaran program agroindustri. Sehingga tidak hanya menyuplai buah secara utuh ke pasar-pasar tradisional dan modern kabarnya juga sudah diekspor ke Eropa.

Sedangkan bagi pengunjung yang datang juga bisa membeli buah siap panen dengan memetik sendiri. Dari pendapatan jual - beli - sewa uangnya digunakan lagi untuk perputaran program Indonesia Berdaya. Nah dari sini kita bisa melihat, ya, bagaimana kontribusi Dompet Dhuafa dapat menghasilkan dan memberi banyak manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar dan buat pengunjunga yang dapat mendapatkan manfaat wisata edukasi petik buah naga sekaligus edukasi mengenai manfaat wakaf. 


Sebagai salah satu lembaga amil zakat, Dompet Dhuafa telah dikukuhkan sebagai lembaga amil zakat tingkat nasional oleh Menteri Agama RI tanggal 8 Oktober 2001. Atas dasar itu, Prudential mempercayakan Dompet Dhuafa sebagai salah satu nashir terpercaya dalam penyaluran dana melalui program wakaf PRUsyariah yang baru diluncurkan sekitar sebulan lalu.



Community Investment - We Do Good 
Mas Bobby perwakilan Prudential Indonesia menjelaskan, "program wakaf dari PRUsyariah Prudential menawarkan pilihan bagi nasabah dan calon nasabah dalam menyalurkan wakaf. Jadi, wakaf dalam bentuk asuransi itu diperbolehkan."

Dengan begitu, tak perlu menunggu kaya dulu ya untuk berwakaf. Melalui santunan asuransi pun nyatanya kitapun dapat berwakaf.



Wakaf adalah bentuk kedermawanan dalam agama Islam yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sehingga wakaf menjanjikan pahala yang tak putus-putus. Ibarat mata rantai kebaikan yang saling menyambung, demikian pun dengan komitmen terbaru Prudential Indonesia We Do Good atau Kami Mewujudkan Kebajikan.



Prudential percaya dalam bisnis unsur keseimbangan itu perlu. Kapan harus mendapat keuntungan, kapan harus beramal. Melalui program We Do Good, Community Investment Prudential berfokus pada empat pilar yakni pendidikan, filantropi, kesehatan dan keamanan dan pemberdayaan Indonesia Timur.

Bersyukur sekali saya bisa mengikuti lagi asyiknya jalanin bareng Prudential ke surganya wakaf produktif di Subang ini setelah sebelumnya melihat langsung bagaimana desa pra sejahtera di Jonggol yang belum ada listrik kini tersenyum cerah. Saya percaya, kebaikan akan mengikat seperti mata rantai yang menguatkan. Ketigapuluh petani dan keluarganya di sini sudah merasakan manfaat produktif dari wakaf. Efek domino sebuah proses wakaf telah bergulir ibarat bola salju yang semakin lama membesar.


Rabu, 13 Maret 2019

Kiat Bangun Masyarakat Berpengetahuan Melalui Rakornas Bidang Perpustakaan 2019

Maret 13, 2019 0


Teman-teman, kapan, sih, terakhir kali kamu ke perpustakaan? Kalau saya baru aja bareng anak anak main-main isi liburan di Perpustakaan Nasional bulan lalu. Dan kebetulan kemarin saya main-main lagi, nih, ke Perpustakaan Nasional Jakarta tapi bukan untuk numpang WiFi sambil cari source tulisan, sih, tapi untuk menghadiri Press Conference Rakornas Perpustakaan 2019.

Apa itu Rakornas? Kalau dari KBBI Rakornas adalah kepanjangan dari Rapat Koordinasi Nasional. Ini merupakan gelaran kegiatan yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional selama empat hari penuh. Tepatnya dari tanggal 13 - 16 Maret 2019 yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta.

Kabarnya, seluruh rangkaian acara tersebut disambut dengan antusias. Pasalnya lebih dari 2.000 peserta akan hadir. Mereka berasal dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus dan Sekolah, serta para pustakawan dan para penggiat literasi seluruh Indonesia. Wowww. 

Saya terus terang penasaran, apa, sih, magnetnya sehingga kegiatan ini begitu mencuri perhatian? Eiimm, bisa jadi karena Narsum yang hadir mengisi setiap sesi Talk show memang mumpuni. Tercatat sejumlah menteri di kabinet Gotong Royong akan hadir diantaranya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Brojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Wakil Ketua Ombudsman Adrianus E. Meliala, Pimpinan Komisi X DPR RI, Kepala Perpustakaan Nasional, Ketua Kademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, serta Nara sumber lainnya.



Dalam Press Conference yang berlangsung pada 11 Maret 2019 silam tema yang diusung yakni "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat". Adapun hadir beberapa narasumber, diantaranya :
1. Dra. Ofy Sofiana, M.Hum sebagai Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi.
2. Dr. Joko Santoso, M.Hum sebagai Kepala Biro Hukum dan Perencanaan.
3. Dra. Sri Sumekar, M.Si sebagai Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional.
4. Dr. Bachtiar sebagai Kepala Pusat Penerangan Kemendagri.
5. Dra. Woro Titi Haryanti, MA sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan.

Dalam penjelasan Narsum yang hadir kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 memiliki target untuk menciptakan manusia berkualitas dan berdaya saing di era globalisasi. Tujuan ini juga sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 yang menetapkan penguatan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu skala prioritas nasional, dan masuk dalam RPJMN 2020 - 2024.

Sebagai wadah untuk mencapai tujuan tersebut perpustakaan berperan penting sebagai akses penguatan literasi masyarakat. Caranya dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya baca di masyarakat secara sistematik. 




Dari tema yang diangkat tersebut saya bisa memahami betapa selama ini secara keseluruhan masih banyak masyarakat yang enggan datang ke  perpustakaan. Banyak faktor memang yang menyebabkannya. Dari pengalaman saya sendiri, suasana perpustakaan yang kurang nyaman ditambah setiap ke perpustakaan dimana koleksi bukunya ga pernah ada penambahan menjadi pemicu keengganan saya mampir ke perpustakaan.

Diakui Dra. Ofy Sofiana, M.Hum kini Perpusnas tampil dengan wajah baru. Bila dulu perpustakaan menjadi sekedar tempat untuk membaca buku saja namun kini telah bertranformasi menjadi ruang terbuka. Di sini masyarakat bisa berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual dan berlatih ketrampilan hidup melalui fasilitas yang disediakan. Ada WiFi, ruang membaca yang nyaman, full AC, parkir murah, juga koleksi buku yang komplit.

Ada banyak kegiatan yang telah diselenggarakan perpustakaan seperti workshop menulis dan workshop membordir. Bahkan ke depannya bakal ada workshop membatik di atas media yang ga biasa. Namanya Daluang. Daluang adalah lembaran tipis seperti kertas yang dibuat dari kulit pohon Daluang yang pembuatannya dengan cara memukul-mukul kulit pohon hingga tipis. Baru tau kan? Makanya banyakin baca 

Dari kegiatan workshop yang diselenggarakan Perpustakaan di beberapa daerah dampak positif dapat dirasakan. Kesejahteraan peserta workshop semakin meningkat melalui pengaplikasian ilmu yang didapatnya saat workshop untuk membuka usaha.

Dra. Woro Titi Haryanti, MA pun merisaukan kemalasan orang Indonesia untuk membaca. Menurutnya, tingkat literasi negara kita cukup rendah. Padahal buku adalah jendela dunia. Kita bisa punya wawasan dari membaca buku. "Percuma punya perpustakaan di rumah kalau jadi pajangan saja," tegasnya.

Sebab itu kita tak perlu mencemaskan kekuatiran akan persaingan di era revolusi industri 4.0 yang sudah ada di depan mata kita. Karena akses untuk memenangkan persaingan adalah dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya membaca.

Bahkan pemerintah pun telah menyiapkan dananya. Menurut Dr. Bachtiar dana yang disiapkan sejumlah 1,78 Trilyun yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2018 disebutkan bahwa Perpusnas mendapat mendapat mandat sebagai penanggung jawab penyaluran Dana Alokasi Khusus yang mencakup pemerataan layanan perpustakaan hingga ke desa, peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif, pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, peningkatan manfaat TIK, penguatan kerjasama dan jejaring perpustakaan, peningkatan budaya dan kampanye gemar membaca, peningkatan kualitas dan beragam koleksi hingga pelestarian kandungan informasi bahan perpustakaan dan naskah kuno.

Waah, jadi ga sabar ya menunggu perpustakaan lainnya bertransformasi seperti Perpusnas sekarang. Yuk ah budayakan kembali tradisi membaca. Tak harus lama, koq. Meluangkan 5 menit dalam sehari untuk membaca sudah cukup untuk membuka wawasan kita.  Dan jangan malas juga ke perpustakaan ya, karena setidaknya sepulang dari sana ada satu ilmu baru yang kita dapatkan. Setuju? 珞