Senin, 04 Februari 2019

Bedah Buku Jokowi : Pesan Untuk Tak Mudah Terpengaruh Terhadap Fitnah, Hoax dan Ujaran Kebencian,



Orang Indonesia dikenal dengan keramahan dan kesantunannya dalam bertutur. Orang Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang memiliki jiwa kepedulian yang tinggi pada sesama. Namun sayangnya akhir-akhir ini rasa peduli pada sesama jadi salah kaprah. Niatan berbagi justru kerap diwujudkan untuk sharing ujaran kebencian, hoax ataupun fitnah. Ironisnya yang 'termakan' dan mempercayai juga tidak sedikit. 

Tidak bisa dimungkiri hoax atau berita bohong semakin merajalela. Apalagi suhu politik kian memanas. Kita ketahui selama menjabat sebagai kepala negara pak Jokowi diserang berbagai fitnah mulai jadi antek asing, orang PKI atau anti ulama. Keluarganya pun ikut diseret-seret. Padahal, waktu beliau masih menjabat sebagai walikota Solo adem-adem saja. Kenapa baru sekarang jadi pada begitu sih? Duuhh...

Sebagai masyarakat terdidik, Keluarga Alumni IPB yang disingkat KamilIPB prihatin dengan maraknya berita memojokkan pak Jokowi. Apalagi banyak bukti yang mengungkapkan kalau masyarakat Jawa Barat khususnya di kota Bogor mudah termakan hoax, fitnah dan ujaran kebencian. Dikhawatirkan, dari satu sumber berkembang jadi ratusan hingga ribuan orang yang meyakini dan ikut menyebarkannya lagi.

Sebab itu, salah satu kiat yang dipilih KamilIPB untuk meluruskan kebenaran adalah dengan memberikan fakta dan data dari sumber yang valid. Melalui acara bedah buku mengenai Sosok Jokowi diharapkan masyarakat Jawa Barat khususnya Bogor mendapat pencerahan dengan mengenal sosok Jokowi melalui kehadiran narasumber yang tepat, diantaranya :

  • Albertiene Endah, penulis buku biografi sosok Jokowi
  • Budiman Sujatmiko, anggota DPR dan politikus
  • Siti Nurbaya Abubakar , menteri KLH yang juga alumni IPB
  • Iman Sugemma, pakar ekonomi yang juga alumni IPB
  • Kyai Abdullan bin Nuh, Ulama besar di Bogor




Beruntung saya berkesempatan hadir dalam event bedah buku Jokowi 'Menuju Cahaya' di Puri Begawan, Bogor, 3 Februari 2019 kemarin. Meskipun saya bukan alumni IPB tapi antusias peserta yang datang patut saya apresiasi. Tercatat ada seribu peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Disebutkan, ada yang datang atas nama organisasi relawan, pesantren, alumni perguruan tinggi di sekitar Bogor hingga masyarakat umum. Dalam acara ini juga ada bazar buku Jokowi. Kita bisa membeli buku biografi Jokowi "Menuju Cahaya" dengan harga diskon. Lumayan deh dari harga Rp 199 ribu menjadi seratus ribu rupiah aja.

Sebelum acara inti dimulai, hadirin disuguhi dengan penampilan seni budaya modern sunda, pemusik jalanan dan agriaswara (paduan suara IPB). Kolaborasi cantik ini merupakan pengingat akan budaya asli Indonesia yang harus kita jaga senantiasa. Bahwa kita ada di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika harus dijaga kelestariannya. Biar bagaimanapun kita adalah bangsa yang dikenal dunia akan kesantunan dan keramahtamahannya.



Siti Nurbaya Abubakar selaku keynote speaker memaparkan, sebagai bagian dari kabinet pemerintahan Jokowi dirinya bisa melihat dan merasakan relevansi antara hal-hal yang ditulis Albertiene Endah dengan keseharian pak Jokowi. Dari cara kerja dan pemikiran pak Jokowi dan dinamika yang ada pak Jokowi adalah sosok yang sensitif dengan persoalan rakyat. Berbagai program pro rakyat diantaranya KIS, KIP, PKH telah dapat dinikmati rakyat.

Albertiene Endah menuturkan hal yang sama. Suaranya tercekat menceritakan bagaimana masa kecil pak Jokowi yang menjalani hari-hari penuh kesulitan sebagaimana rakyat pada umumnya. Pembangunan yang didengung-dengungkan pemerintah masa itu, yang katanya 'untuk rakyat' rakyat yang mana? Janji-janji yang terus dihembuskan dari tahun ke tahun yang katanya akan mengangkat kesulitan hidup rakyat. Tapi kapan? Tidak ada.

Berbagai masalah dan penderitaan rakyat yang sejak kecil dikumpulkan Jokowi dan dibuktikannya saat takdir menentukan beliau menjadi seorang pemimpin negara. Waktu seolah tak pernah cukup buatnya, karena setiap waktu diisi dengan kerja, kerja, kerja.



Albertiene Endah pernah mengikuti pak Jokowi dalam kegiatannya dan penulis yang sudah membukukan lebih dari 50 buku ini tercengang kaget ketika untuk waktu makan pun dilakukan dalam mobil. Bagaimana mungkin orang nomor satu di Indonesia yang sejatinya dibanjiri fasilitas malah memilih tidak mampir ke restoran dulu?

Belakangan AE julukan Albertiene Endah memahami alasan pak Jokowi memilih makan di mobil karena terbatasnya waktu. Pak Jokowi tahu tak selamanya beliau menjadi pemimpin. Dirinya tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada itu sebabnya ia memilih makan di mobil saja dengan memanfaatkan waktu. Beliau hanya ingin kerja, kerja, kerja.

Masya Allah. Sayapun ikut tercekat mendengarkan cerita AE.

Memang benar teman-teman, untuk melihat etos kerja Jokowi tak cukup hanya dengan melihat dan mendengar saja, pun dengan hati. Begitu banyak tuduhan yang menyorot pak Jokowi sejatinya dapat kita selidiki kebenarannya alih-alih menyebarkan.

Kyai Abdullah bin Nuh mengatakan, jujur sebagai ulama di Bogor dirinya tak mengenal siapa Jokowi. Namun beliau meyakini ucapan KH Ma'aruf Amin yang mengatakan untuk melihat seseorang perhatikan siapa keluarganya, temannya dan lingkungannya.

"KH Ma'ruf Amin pernah menyatakan kalau dirinya kalah keimanannya dibandingkan pak Jokowi. Memasuki waktu sholat pak Jokowi segera menghentikan aktivitasnya dan terlebih dulu mengambil wudhu," ceritanya.

"Dari cerita itu saya yakin tak mungkin KMA bohong. Saya nyaman melihat Jokowi bisa berpasangan dengan KMA karena idealnya ada tiga elemen sebagai pemimpin yang harus kita pahami yakni ilmunya dalam seperti cendekiawan, bijaksana dan mempunyai ilmu politik dan taktis."



Dari tiga elemen ideal pemimpin tersebut, jarang sekali ada yang memiliki tiga elemen tersebut selain nabi Musa AS dan nabi Daud AS. Namun rupanya tiga elemen tersebut dimiliki Jokowi dan disempurnakan lagi dengan kehadiran KH Ma'ruf Amin, tutup Kyai Abdullah bin Nuh.

Budiman Sujatmiko menambahkan, sebelum menentukan siapa calon pemimpin yang kita pilih ada baiknya kita mempertanyakan apa sih cita-citanya dulu? Kalau cita-citanya menjadi presiden dan terkabul artinya jika orang itu telah mencapai posisi yang diinginkan, selesai. Tidak ada keinginan apa-apa lagi karena dia sudah nyaman dengan keberhasilannya itu. Sedangkan rakyat yang menjadi tanggung jawabnya gimana nasibnya ke depannya?

"Pak Jokowi adalah from zero to hero. Beliau tak memiliki ambisi jadi presiden. Tapi takdirlah yang menentukannya jadi pemimpin negara. Ketika beliau sekarang ada di posisi sebagai presiden harus kita pahami bahwa ini bukanlah tujuan akhirnya. Ini hanya transit saja," papar Budiman Sujatmiko.

Betul sekali, dari apa yang saya lihat, kalau pak Jokowi mau, mudah saja dia memanfaatkan fasilitas yang dia dapat selama menjadi Presiden. Kenyataannya beliau tidak mengambil secuil pun kemewahan yang mengiringinya. Keluarganya tetap naik pesawat kelas ekonomi. Anak-anaknya tak ada yang memanfaatkan fasilitas dan jabatan bapaknya untuk menjadi PNS atau politikus dan beliau sendiri bersama istrinya memilih tinggal di rumah kecil di lingkungan istana Bogor. Padahal beliau bisa menikmatinya.

Semoga seluruh peserta yang hadir dapat mengambil pesan untuk tak mudah terpengaruh terhadap fitnah, hoax dan ujaran kebencian. Apalagi menyoroti Jokowi yang nyata-nyatanya tidak seperti apa yang dituduhkan. Ini namanya black campaign karena mengarah ke hujatan dan fitnah. Hati-hati, sebaiknya saring dulu sebelum sharing ya.











1 komentar: