Minggu, 10 Februari 2019

5 Langkah Mudah Cegah DBD Secara Alami


Hari Minggu kemarin suara mesin fogging yang menderu-deru dari RT sebelah kembali mengingatkan saya akan rumah sakit. Saya teringat peristiwa ga enak pada akhir Desember tahun 2017 silam. Saat itu mba Nala dan Dega dua-duanya bergantian opname karena terkena Demam Berdarah. Bahkan waktu itu kondisi mba Nala sampai drop karena trombositnya menurun tajam. Diapun mau tidak mau harus menerima transfusi lima kantong darah. Duuh, setiap detik tak henti saya berucap doa agar diberikan keselamatan dan kesembuhan untuknya.

Setahu saya kalau fogging yang dilakukan RT sebelah bertujuan untuk mencegah endemi Demam Berdarah di sekitar komplek perumahan kami. Karena nyatanya dari siaran berita di televisi tren kasus penyakit DBD di kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan. Hingga tanggal 4 Februari 2019 total ada 410 kasus yang tersebar di 27 kecamatan termasuk kecamatan Cileungsi tempat saya tinggal dimana lima orang diantaranya meninggal dunia.



Tapi alangkah kagetnya saya kalau fogging rupanya tidak diperkenankan lagi penggunaannya sebagai cara untuk memberantas nyamuk Aedes Aegipty si penyebab demam berdarah. Dalam talkshow bareng Kemenkes RI di Kantorkuu Coworking Space, Kuningan, Jakarta, 7 Februari 2019 silam dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur P2PTVZ (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  Tular Vektor dan Zoonotik) mengatakan, "Fogging tidak boleh dilakukan sembarangan. Fogging hanya boleh dilakukan dalam keadaan KLB atau Kejadian Luar Biasa.



Beliau mengungkapkan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara fogging hanya mencemari lingkungan. Fogging juga menimbulkan masalah baru bagi kesehatan masyarakat karena rantai kehidupan yang putus dengan matinya binatang lain selain nyamuk. Disamping itu, akibat fogging nyamuk justru jadi makin sehat dan kuat sehingga dia kebal (resisten). Bukannya mati nanti malah tambah banyak. Lagipula fogging tidak bisa mematikan jentik nyamuk, fogging hanya bisa mematikan nyamuk dewasa.

Ada beberapa langkah mudah yang dapat kita lakukan untuk mencegah DBD dan memberantas nyamuk DB beserta anak-anaknya. Tapi sebelum itu kita perlu mengenali dulu habitat dan kebiasaan si nyamuk Aedes Aegipty ini, yuk. Menurut dokter Nadia, penyakit Demam Berdarah adalah penyakit endemi yang kerap terjadi di negara-negara tropis. Karena negara kita ada di wilayah ini maka kita perlu mewaspadai perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty terlebih di musim hujan seperti sekarang ini.



Nah bingung kan apa sih korelasinya antara perkembangbiakan nyamuk DB dengan musim hujan? Jadi begini, saat musim hujan tempat-tempat yang bisa menampung air hujan merupakan tempat yang paling disukai sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Perilaku kita yang kurang peduli akan sekitar membuat serangga penular penyakit DBD ini justru menyebabkan banyak korban berjatuhan.

"Kita perlu tahu bahwa telur nyamuk Aedes Egypti mampu bertahan tanpa air selama enam bulan. Di musim hujan ini telur-telur nyamuk ini berpotensial menularkan penyakit DB kalau sudah menetas dan jadi nyamuk dewasa. Sebab itu kita harus mewaspadai banyaknya genangan air dari tempat-tempat yang bisa menampung air sebagai tempat perindukan telur nyamuk DB. Bayangkan saja bila satu nyamuk mampu bertelur sebanyak 30 sampai 50 telur dan setiap dua sampai tiga hari sekali dia bertelur?" ~ dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur P2PTVZ (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  Tular Vektor dan Zoonotik)

Yang kerap membuat kecolongan karena nyamuk DB saat menggigit kulit manusia tidak langsung menyebabkan demam. Biasanya di hari ke tiga sampai hari ke lima pasien baru merasakan demam tergantung daya tahan tubuhnya. Nah kita perlu mewaspadai jam-jam praktek dia beroperasi. Menurut dokter Nadia, nyamuk DB biasanya menggigit di pagi dan sore hari dan ibarat vampir nyamuk betina akan menghisap darah manusia setiap dua hari sekali. Saat itulah virus dengue berpindah melalui air liurnya.




Sampai saat ini virus Dengue belum ada vaksinasinya. Itu adalah tantangan yang dihadapi pemerintah untuk menemukan vaksinnya. Sebagai masyarakat pemerintah juga mengharapkan agar partisipasi kita lebih ditingkatkan untuk mencegah DBD secara alami, bukan dengan cara fogging. Berikut caranya :

1. Melakukan 3Men : Menutup, Menguras, Mengubur

2. Menanam tanaman anti nyamuk seperti lavender atau sereh

3. Gunakan obat nyamuk semprot atau oles

4. Menjadi Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di rumah yang bertugas memantau  ada tidaknya jentik di bak rumah, tatakan pot gantung, tatakan dispenser, tatakan kulkas dan lainnya

5. Membuat perangkap Larvitrap.

Nah kebetulan saya dan teman-teman juga diajarkan membuat Larvitrap hanya dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Cukup siapkan botol air kemasaan berukuran besar, kantong kresek hitam, steples, lakban hitam, dan gunting.



Larvitrap yang sudah jadi dapat kita letakkan di pojok ruang keluarga, tapi jangan di dapur ya karena suhunya yang panas tidak disukai nyamuk. Adapun fungsi Larvitrap sebagai tempat bagi nyamuk untuk meletakkan telurnya. Setiap dua hari sekali kita dapat ambil telur untuk memutuskan rantai kehidupan nyamuk Aedes Aegypti dengan cara alami.

Jadi kepingin bikin larvitrap ah di rumah.






20 komentar:

  1. Pernah lihat kayak jentik nyamuk di gelas air untuk menggambar. Betul-betul, deh. Harus jeli banget, sampai ke tempat-tempat terkecil pun bisa aja ada jentik.

    BalasHapus
  2. Wah, membuat perangkap nyamuk ternyata tak sulit ya.. pengen coba juga ah ..

    BalasHapus
  3. Duuh.., aku denger DBD aja rasanya sudah serem mba, memang kudu cermat ya masalah bebersih yang berkaitan dengan air menggenang.
    apalagi aku , rumah aku dikelilingi kebun, nyamuk dimana-mana

    BalasHapus
  4. Wah terima kasih untuk tipsnya mba.. dan larvitrap bisa membantu banget ya. Di daerah kami lagi musim lagi nih DBD

    BalasHapus
  5. Belum ada larvitrap di rumah, tapi yang lain alhamdulillah udah. Di depan rumah nanam sereh lumayan banyak. Bisa ngusir nyamuk dan dijual juga, hahaha

    BalasHapus
  6. huaaaa itu larvitrap praktis banget ya cara buatnya.. simple dan berguna banget pastinya, bahannya juga gak susah didapat, cuusss mau buat juga aahh.
    makasih sharingnya ya Mbak :)

    BalasHapus
  7. Saya tuh, kalau ada fogging malah gak mau disemprot hingga ke dalam rumah. Cukup di luar rumah aja, soalnya rumah jadi penuh minyak hihihi ...
    Eh, ternyata memang sistem fogging kurang tepat, ya?
    Saya jadi ingin buat larvitrap juga. Di dalam botol tersebut diberi air juga, Mbak?

    BalasHapus
  8. Nyamuk Aedes aegypti itu emang masih jadi peer banget ya buat kita ... Kecil sih tapi kalo udah gigit dampaknya gede banget

    BalasHapus
  9. Wah baru tau kalau ternyata fogging hanya kalau untuk KLB ya.
    Pantesan di sini gak ada kabar2 mau fogging.

    Btw di dapurku tetep ada nyamuk, gemes aku

    BalasHapus
  10. Yoi, larvitrap ini memang cara yg sangat efektif untuk memutus rantai hidup nyamuk

    BalasHapus
  11. Larvitrap itu cuma dibungkus gitu doang mba? Jelasin dong cara buatnya sekalian di postingan. :)

    BalasHapus
  12. Sebenarnya kita ngga perlu khawatir sama DBD ya.. jika kita menjaga kebersihan lingkungan, menjaga pola hidup sehat, daya tahan tubuh cukup bagus maka bisa terhindar dari DBD.. yuk ah kita cegah DBD mulai dari diri sendiri

    BalasHapus
  13. Larvitrapnya harus kucoba nih, Mbak, ntar kalau pulang sekolah. Di rumah juga banyak botol bekas. Itu kalau di setiap pojok rumah dikasih larvitrapnya nggak masalah kan ya?

    BalasHapus
  14. Mba, aku udah nanem lavender tapi mati hiks.
    Aku sekarang sering mersihin juga kamar mandi, kemarin nemuin jentik nyamuk sedih hiks. Makasih tipsnya mba Diah.

    BalasHapus
  15. Beberapa minggu lalu di rumahku ada inspeksi mendadak dari petugas kesehatan setempat. Di rumahku ternyata ada 3 tempat jentik nyamuk. wahhh kalau enggak ada inspeksi itu, keluargaku mana tahu hehehhe

    BalasHapus
  16. Mak, itu caranya gimana bikin larvitrapnya, mau nyontek dooongg... Mendingan gini ya daripada difogging, bikin sesek napas lho. Kucing2 tetanggaku pasti pada stress klo ada fogging, suaranya itu lho dahsyaaatt...

    BalasHapus
  17. Di Jogja juga udah mulai digiatkan nih mbak pengawasan terhadap DBD. Soalnya ini kan penyakit tahunan. Semoga saja penyakitnua pergi jauh

    BalasHapus
  18. Sederhananya membuat Larvitrap.
    Aku belum punya dan mau bikin...

    Kemarin juga perumahan kami mengadakan fogging.
    Tapi ga sampai masuk ke rumah.

    Efektif gak yaa...?

    BalasHapus
  19. wah saya baru tau nih teknik larvitrap, iya juga yah daripada nyamuk membandel cari tempat bertelur lebih baik dibikinin aja sekalian

    BalasHapus
  20. Aku nih dulu menganggap DBD itu menular loh, karena dihari ke 4 aku dirawat tetiba suamiku juga kena DBD. Ternyata aku baru tau kemarin kenapa suamiku bisa DBD juga.

    BalasHapus