Selasa, 04 Desember 2018

Raih Masa Depan Lebih Cerah Melalui Program Kampung Terang Hemat Energi Signify



Teman-teman pernahkah merasakan beratnya bayar tagihan listrik?  Saya sering mengalaminya. Deg-degan banget setiap berdiri di loket pembayaran nunggu kasir menyebut sejumlah angka yang harus dibayar. Sering saya mikir, rasanya setiap hari tuh cuma nyalain lampu, televisi, kulkas, magic jar dan AC, aja. Tapi koq tagihannya besar sekali ya?

Buat saya listrik adalah hal penting jadi tetap harus dibayar seberapapun besarnya tagihan. Karena hampir semua pekerjaan di rumah jadi semakin mudah dikerjakan dengan adanya listrik. Buat menyetrika, mencuci, menyejukkan ruangan, mengawetkan makanan melalui proses pendinginan dan menggiling bumbu semuanya menggunakan listrik. Apalagi lampu. Sebagai alat penerangan, cahaya lampu dapat membantu konsentrasi belajar anak-anak. Saya ga maulah kalau pendidikan anak-anak jadi terhambat karena terkendala aksesnya.

Korelasi antara listrik dan kemiskinan 
Pasalnya, teman-teman percaya tidak kalau urusan listrik sangat penting kaitannya dalam penanggulangan kemiskinan? Begini, dari hasil analisis Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) terkuak bahwa listrik adalah bagian dari infrastruktur dasar yang dibutuhkan selain air bersih dan sanitasi. Keberadaan listrik bisa meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan.

"Salah satu penyebab utama ketimpangan dan kemiskinan adalah kurangnya akses terhadap kesehatan, pendidikan dan infrastruktur dasar (air bersih, sanitasi, dan listrik)," kata Rudi Gobel yang mewakili Sekretariat Wakil Presiden RI dalam paparannya di acara yang diselenggarakan Signify yang kita kenal dengan produk unggulannya bohlam Philips 28 November 2018 lalu di Lounge XXI Plasa Senayan, Jakarta.



Kalau dilihat di berbagai daerah di seluruh dunia, bila suatu daerah kurang memiliki tiga akses dasar tersebut (air bersih, sanitasi dan listrik) dikatakan angka kemiskinannya lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah yang lain yang sudah terpenuhi.

Kalau dilihat dari konteks negara nyatanya Indonesia mengalami rasio peningkatan elektrifikasi. Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi - JK pada tahun 2014 rasio angkanya dari 88,4% sekarang ada di angka 94,91%. Namun angka ini rupanya masih relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara Asean lain.

Nah, rasio elektrifikasi sebesar 94,91% terlihat tinggi, ya? Tapi rupanya masih ada sekitar 4 juta rumah tangga yang belum memperoleh sambungan listrik. Asumsinya, bila satu keluarga memiliki 5 anggota keluarga maka ada lebih dari 21 juta orang (hampir sama dengan populasi penduduk Australia) tanpa akses listrik dimana 1,6 juta diantaranya berasal dari keluarga miskin dan tidak mampu.



Lantas apa sih implikasinya bila tidak ada akses listrik? Kalau dari keluarga cukup mampu mereka bisa mencari substitusi lain dengan cara menggunakan lampu teplok atau genset. Akan tetapi buat 1,6 juta yang berasal dari keluarga miskin ini tadi mereka tidak punya alternatif sama sekali. Ketika malam datang tidak ada hal lain yang dilakukan selain tidur. Oh iya konon ada penelitian juga nih bahwa ketiadaan akses listrik membuat populasi daerah tersebut semakin banyak. Mau ngapain lagi di malam hari? hahahaha...

Pak Rudi menyampaikan, kalau dilihat dari jumlah desa, di negara kita nyatanya masih ada 12 ribu desa yang belum terjangkau listrik dengan baik. Tercatat ada 2500 desa yang belum mendapatkan layanan listrik sama sekali.

So, konsekwensinya bagi rumah tangga yang tidak punya akses listrik menyebabkan pengeluarannya jadi bertambah. Dalam sebulan sekitar Rp 100 ribu harus dikeluarkan untuk membeli 40 liter minyak tanah sebagai penerangan di rumahnya. Padahal, penerangan lampu dari minyak tanah itu tidak sehat. Data WHO menyebutkan ada sekitar 780 juta perempuan dan anak di dunia terpapar polusi udara akibat penggunaan minyak tanah dalam ruangan. NAH!!!!!

Lantas kalau ditanyakan apa sih susahnya memberikan akses listrik buat desa-desa tersebut? Pak Rudi menegaskan, pada prinsipnya yang sulit bukan menghasilkan listriknya tapi distribusinyalah yang sulit. Kita tahu biaya distribusi itu mahal sekali. Listrik ada tapi bagaimana kalau infrastrukturnya tidak ada? Jlebbbb...

Baca tulisan saya berikut :

Program kampung terang hemat energi 2017 - 2018
Untuk itu pemerintah bertekad memenuhi kebutuhan listrik secara merata bagi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Ditargetkan akhir 2019 rasio sebesar 99% dapat terpenuhi salah satunya dengan menggenjot proyek listrik 35 ribu watt yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Namun yang perlu digarisbawahi diperlukan kemitraan dari berbagai pihak untuk mencapai target. Jangan menggantungkan pada pemerintah saja. Berdasarkan Achievement Sustainable Development Goal yang digagas PBB juga menargetkan adanya sistem partnership sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan masa depan yang kita inginkan.



Salah satu pemimpin dunia di bidang pencahayaan Signify ikut melanjutkan tanggung jawab sosial perusahaan untuk membantu sesama. Melalui akses pencahayaan Signify yang dikenal dengan nama brand bohlam Philips menggerakkan program Kampung Terang Hemat energy yang telah berjalan sejak 2017 - 2018 ini. Program ini bertujuan menerangi kehidupan masyarakat yang kurang beruntung yang tinggal di daerah dengan akses listrik terbatas. Ada empat provinsi yang tersebar di Indonesia yang sebelumnya tinggal di kegelapan yaitu Sumatra Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku kini telah mendapat akses pencahayaan. Secara total tercipta lebih dari 2.850 titik penerangan baru menggunakan hampir 1.200 Philips Solar Home Lighting System dan Road Lighting System untuk menerangi rumah dan berbagai fasilitas umum di sekitar 20 desa terpencil di sana. Dengan jumlah populasi gabungan lebih dari 15 ribu orang telah memperoleh manfaat dari desa-desa yang kini lebih terang.



Kita diingatkan lagi oleh bapak Rami Hajjar, Country Leader untuk operasi/bisnis Signify di Indonesia, "tinggal di kota dimana akses pencahayaan diperoleh dengan sekali 'klik' sering membuat kita menganggap pencahayaan sebagai hal yang sepele. Kita gagal untuk menyadari bahwa ada orang lain yang masih hidup dalam kegelapan karena tinggal di daerah terpencil atau tidak mampu membeli listrik."

"Kami mendorong upaya-upaya untuk menyediakan akses pencahayaan bagi kelompok masyarakat ini dengan menggunakan sistem Philips LED bertenaga surya. Kami senang melihat bagaimana mereka sekarang dapat hidup, bekerja dan bepergian dengan lebih aman, mencapai pendidikan yang lebih baik dan meningkatkan kesehatan serta aktivitas ekonomi mereka."

Manfaat Elektrifikasi untuk menanggulangi kemiskinan 
Kembali lagi ke penyebab utama ketimpangan dan kemiskinan adalah kurangnya akses terhadap kesehatan, pendidikan dan infrastruktur dasar yaitu air bersih, sanitasi dan listrik. Namun dari berbagai penelitian LIPI rupanya dari ketiga infrastruktur dasar tersebut yang harus paling dulu disediakan adalah listrik. Alasannya jelas, sanitasi bisa kita atasi bila kita punya air bersih. Sedangkan kita butuh air bersih 24 jam, kan? Bagaimana mencari air bila gelap gulita?



Yang kedua adalah memperbaiki layanan kesehatan. Di pelosok desa, tenaga kesehatan dapat dengan mudah menghampiri rumah-rumah yang membutuhkan layanan kesehatan dengan adanya penerangan. 

Manfaat listrik bagi masyarakat miskin lainnya adalah memastikan ketersediaan pangan, menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan antar gender. Roda ekonomi misalnya di pasar dapat bergerak setiap saat. Tidak perlu menunggu matahari muncul untuk melakukan transaksi perdagangan. 

Dan yang terutama rupanya dampak positif listrik bagi masyarakat miskin dapat memperbaiki kualitas pendidikan. Karena dengan adanya penerangan anak-anak dapat memiliki waktu lebih banyak untuk belajar, pungkas Pak Rudi Gobel.



So apa yang dilakukan Signify bekerjasama dengan pemerintah adalah signifikan. Tiga bulan setelah perusahaan mendistribusikan lebih dari 500 Philips Solar Lighting Systems ke lima desa dan tiga dusun di Kalimantan Tengah, dengan populasi gabungan sebanyak 8ribu orang, setiap keluarga mampu menghemat rata-rata Rp 204ribu perbulan yang sebelumnya digunakan untuk beli bahan bakar minyak tanah. Penghematan pengeluaran ini tentu saja dapat dialokasikan untuk membeli makanan bergizi untuk keluarganya. See?

Cahaya untuk korban bencana alam
Ibu Lea Kartika Indra, Head of Integrated Communications Signify's operational/business in Indonesia yang juga hadir dalam pengumuman bahwa perusahaan telah menyelesaikan Program Kampung Terang Hemat Energi 2017 - 2018 menyampaikan,"dengan adanya akses ke sumber pencahayaan yang baik sangat penting untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Karena hal tersebut berdampak pada aspek sosial dan ekonomi."

ki - ka : Lea Kartika Indra, Rami Hajjar, Nonie Kaban, Rudi Gobel


"Beberapa bulan terakhir ini kami telah melihat sendiri bagaimana Sulawesi Tengah (Donggala dan Palu) dilanda bencana alam. Hari ini dengan rendah hati kami menyampaikan bahwa Signify telah menyiapkan donasi senilai Rp 5 milyar yang terdiri dari berbagai produk pencahayaan, termasuk bohlam, lampu jalan dan luminer serta penerangan tenaga surya," tutur ibu Lea.

Dalam penyerahan secara simbolik kepada Kopernik yang diwakili Nonie Kaban ibu Lea juga menyampaikan bahwa karyawan Signify juga telah memprakarsai pengumpulan donasi. Donasi berupa uang yang setelah ditambahkan perusahaan mencapai Rp 50 juta dan baru-baru ini disampaikan kepada UNICEF untuk membantu anak-anak yang terkena dampak bencana alam tersebut.

Sebelumnya, Signify juga turut ambil bagian membantu korban bencana Lombok. Ada 800 lentera tenaga surya Philips yang dibagikan di Lombok yang saat itu masih tinggal di tempat pengungsian dan hunian sementara.

"Berita tersebut sangat memprihatinkan. Kami menyampaikan simpati kepada korban dan keluarga mereka di sana. Saya rasa semua orang turut merasakan dampak dari bencana alam ini. Di Signify kami berkomitmen untuk menciptakan kehidupan yang lebih cerah dan dunia yang lebih baik. Untuk itu kami berupaya mendukung penanganan dan pemulihan paska bencana dengan menyediakan akses pencahayaan bagi wilayah yang membutuhkannya," tutup pak Rami Hajjar.

Alhamdulillah dapet hadiah doorprize. Thanks signify  :)


10 komentar:

  1. Semoga event ini lekas masuk ke desaku, tepatnya desa suamiku yang jalannya masih sepi akan listrik. Jadi kalo balik dari luar tuh sebelum magrib udah harus sampai, gelap gulita jalanannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah memangnya dimana mba? aku ga bisa bayangin gimana gelapnya kalau malam ya, ga bisa ngapa ngapain.

      Hapus
  2. Listrik sangat berperan penting bagi kehidupan tanpa listrik hidup jadi terasa suram , terimakasih untuk program signifikan untuk menciptakan dunia yang LBH baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahkan aktivitas pun lumpuh kalau ga ada listrik ya

      Hapus
  3. Benar Mba kalo gede dan emang dipake. Wajib bayar. Masalahnya nih, gede bayaran ga suai dengan apa yang dipake. Apalagi listrik pasca bayar. Jadi kami kirim foto mulu ke petugasnya supaya cocok tagihannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pernah kaya gitu juga. jd petugasnya rupanya ga datang ke rumah, jadi dia main tembak kwh aja, jadilah aku beberapa bulan bayarnya tinggi terus. dan ketika aku lapor ke PLN meterannya masih jauh dari tagihan. jadilah akhirnya aku ga bayar sampai balance antara meteran dan tagihan. selidik punya selidik rupanya petugas yg mencatat meteran itu dr outsourcing

      Hapus
  4. Masha Allah, program kayak ini bagus banget mbak. Memang betul kalau listrik adalah salah satu hal yang bisa menuntaskan kemiskinan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, proyek CSR Philips yg sekarang udah rebranding jadi Signify bermanfaat banget untuk masyarakat di pelosok ya

      Hapus
  5. Program bagus banget untuk daerah pedalaman dan terpencil agar mereka pun bisa menikmati listrik untuk kehidupan yg lebih cerah, ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, ujungnya cuma satu : kehidupan yg lebih cerah buat semuanya heheh

      Hapus