Rabu, 19 Desember 2018

Pentingnya Melek Literasi Keuangan Buat Perempuan



Sampai kini saya masih menyesali kondisi keuangan keluarga yang masih morat marit. Masih terbayang ketika masih jaman ngantor dulu, punya gaji cakep, tapi saya kurang peduli untuk memenej keuangan. Hobinya muter aja dari beli assesories, majalah mode, perabotan plastik yang katanya digaransi seumur hidup itu dan nongki-nongki kapan aja di mana aja. Alhasil tabungan dan investasi minim banget. Nyesek deh kalau bayangin anak makin besar tapi bekal biayanya malah bikin galau huhuhu... 

Memang sih sejak kecil saya tau emas punya nilai jual tinggi dari ibu saya. Sayapun mengikuti cara ibu dengan beli emas untuk diiinvestasikan untuk jaga-jaga saja. Lantas uang gaji saya dan suami dikumpulkan jadi satu dan dipecah-pecah sesuai posnya. Pos untuk biaya sehari-hari lain lagi dengan pos untuk tabungan. Tapi saya akui sekali lagi kalau selama ini saya kurang disiplin menabung. Ditambah lagi saya menabung hanya dari sisa pengeluaran. Itulah masalahnya. Tabungan ga ngumpul-ngumpul tapi argo pengeluaran jalan terus. 

SERAM. Jujur saya seram membayangkan dampak ke depannya soal masalah keuangan. Sudah banyak rumah tangga yang goyah yang disebabkan konflik ekonomi. Apalagi sebagai orang yang kerap mendapat julukan sebagai menteri keuangan, tugas perempuan itu amat complicated. Bukan hanya urusan 'sumur' dan 'kasur' aja tapi faktanya untuk urusan 'kasir' pun kita harus melek. NAH!!!  

Tentang Pelatihan Literasi Keuangan 
Dalam acara penutupan pelatihan literasi keuangan bagi perempuan yang diselenggarakan Prudential Indonesia saya mendapat quote menarik : 

Sebelum belanja tanyakan lagi ke dalam diri apakah ini Want atau Need. Ingin atau butuh? ~ Horas Tarihoran Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan dari OJK 

JLEBB... 

Saya kemudian membayangkan perabotan plastik yang katanya bergaransi seumur hidup itu kalau dirupiahkan nominalnya mencapai jutaan rupiah. Padahal sekarang semuanya cuma tersimpan di lemari aja. Ckckckk, andai saja saya sudah melek literasi keuangan sebagaimana 27 ribu perempuan di 24 kota seluruh Indonesia yang sudah tersentuh pelatihan keuangan dari Prudential. Mungkin lain lagi ceritanya ya? Namun ada angin segar rupanya. Saya belum terlambat untuk bisa melek literasi finansial juga. Kebetulan saya dioleh-olehi buku "TIPS MENGELOLA DANA untuk perempuan" yeayyyy... 

Nah, dari melihat, meraba dan menerawang pengalaman saya, berdasarkan Survey National Literasi Keuangan 2016 OJK disebutkan orang Indonesia nyatanya yang melek keuangan kurang dari 30%. Dari data itu pula terungkap bahwa literasi perempuan terhadap keuangan hanya sebesar 25,5% lebih rendah dibandingkan literasi pria 33,2%. Fix, saya masuk ke dalam kelompok ini.



Jeins Reisch, Presiden Director Prudential Indonesia yang hadir dalam acara yang berlangsung di gedung Dharma Wanita Kuningan, 11 Desember 2018 lalu menyampaikan, "kami menaruh perhatian besar kepada perempuan terhadap program peningkatan literasi keuangan yang kami jalankan. Karena hal ini sejalan dengan strategi pemerintah pula yang menempatkan perempuan sebagai prioritas utama dalam berbagai program peningkatan literasi keuangan Indonesia."

Sembilan tahun berjalan program pelatihan literasi keuangan untuk perempuan telah berhasil memberdayakan perempuan Indonesia. Mereka kini mampu mengelola keuangan keluarganya. Adapun rangkaian program pelatihan tahun ini dimulai sejak awal Oktober di kota Manado dan berlanjut ke Ambon, Sorong, Malang dan ditutup di Jakarta sekarang ini. Dari lima kota ini sebanyak 2500 perempuan telah mengikuti pelatihan. 

Pemilihan ke lima kota tersebut bukanlah asal main tunjuk aja. Sebelumnya pihak penilai melihat indeks literasi di bawah rata-rata nasional (29,6%) yakni seperti Manado (28,7%), Ambon (26,2%) dan Sorong (19,3%). Diharapkan dengan program pelatihan ini dapat membantu OJK dalam mencapai target literasi keuangan sebesar 35% di tahun 2019 nanti. Aamiin....



Tentang Community Investment Prudential Indonesia
Ibu Nini Sumohandoyo, Corporate Communication & Sharia Director Prudential Indonesia yang juga hadir dalam acara mengingatkan lagi kalau ada empat pilar yang diusung Prudential dalam program Community Investment atau proyek CSR Prudential. Keempat pilar tersebut adalah edukasi, filantropi, kesehatan dan keselamatan serta East Indonesia Powerment (pemberdayaan Indonesia TImur). 

Secara berkelanjutan, tim relawan yang juga adalah karyawan  Prudential melaksanakan program di luar jam kerjanya yang dapat memberi dampak nyata kepada komunitas dimanapun perusahaan berada. "Kami telah membantu anak-anak melawan kanker, memberi pelatihan literasi keuangan untuk perempuan dan anak hingga memberikan bantuan bencana alam," tuturnya. 

Terkait dengan pelatihan literasi keuangan buat perempuan, Prudential Indonesia melibatkan kemitraan dengan berbagai komunitas antara lain, komunitas istri nelayan, komunitas pedagang, UMKM, mahasiswa guru dan ibu rumah tangga. Dipertegas ibu Nini, pencapaian itu tidak lepas dari kerjasama dengan berbagai kementrian yaitu Kementrian Perdagangan, Kementrian Pariwisata, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Selama mengikuti pelatihan peserta mendapatkan pelatihan dasar mengenai pengelolaan keuangan dasar dari para pakar keuangan yang berasal dari karyawan Prudential Indonesia. Bersifat sukarela seluruh karyawan Prudential Indonesia yang disebut PRUvolunteer ini memberikan edukasi kepada peserta mengenai jenis lembaga keuangan (konvensional dan syariah) dan berbagai instrumen keuangan seperti tabungan, asuransi, pinjaman atau dana pensiun sebagai solusi proaktif untuk merancang masa depan keuangan yang terencana dan minim risiko. 

Kontribusi Prudential Indonesia tentunya tidak berhenti di sini. Perusahaan asuransi jiwa yang berdiri sejak tahun 1995 ini ingin menjangkau lebih banyak perempuan di banyak kota terutama di Indonesia bagian timur yang menjadi salah satu fokus pilar Community Investment Prudential Indonesia. 

Antara tahun 2018 hingga 2022 dari pencapaian sekarang yang sudah mencapai 25 ribu diharapkan akan naik dua kali lipat lagi. So, targetnya ada 50 ribu perempuan di seluruh Indonesia sudah mengikuti pelatihan ini. Mereka paham akan pentingnya melek literasi keuangan buat perempuan. Aamiin semoga tercapai ya.. 



65 komentar:

  1. Perempuan, khususnya bu ibu kudu pinter ngatur keuangan rumah tangga ya. Biar uangnya bisa terkontrol dengan baik yang bisa berdampak jangka panjang untuk masa depan anak-anaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul dew, kontrol utama harus ada di tangan istri ya

      Hapus
  2. bener banget ni, jaman sekarang perempuan harus melek literasi ga bolek ketinggalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus paham antara need and want sebelum membeli sesuatu ya mba hehe

      Hapus
  3. Seiring waktu, makin banyak kampanye tentang keuangan yang keseluruhannya selalu mengemukakan tentang Butuh atau Ingin.

    Dan karena itu, Alhamdulillah jadi semacam pengingat bagi saya kalau mau eror beli-beli sesuatu yang hanya terlihat 'lucu' aja.

    Bahkan, karena itu pula, saya perlahan jadi bisa mengabaikan diskon, even diskonnya bikin gelap mata hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihii, meskipun terlambat tau tapi setidaknya pengetahuan literasi mencegah kita makin terperosok ke hidup konsumtif ya mba

      Hapus
  4. Saya sempat kaget ketika dikatakan persentase literasi keuangan perempuan sangat rendah. Bahkan lebih rendah dari pria. Padahal perempuan suka belanja, ya hehehe. Tapi, memang masih banyak juga perempuan yang hanya bisa menghabiskaan uang tanpa melakukan pengelolaan keuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena pada dasarnya lelaki tau kapan harus beli barang jd biarpun mahal ga masalah dibeli tapi awet. Coba kalau perempuan, udha punya tas hitam masih cari yg hitamnya model begini model begitu. Belum lagi sepatunya udah ada yg hitam hak pendek masih cari yang ujungnya terbuka lah yg begini begitulah hahaa

      Hapus
  5. Aku pun masih belum bisa mengatur keuangan dengan baik. Adanya malah semakin boros dan lapar mata kalau ada promo big diskon.

    BalasHapus
  6. Kadang aku suka tergoda dgn keinginan padahal ga butuh2 amat...Tapi kalau itu bikin bahagia kenapa tidak ya...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahagia itu perlu mba tapi yg ga boleh jangan sampe kebablasan aja hihi

      Hapus
  7. butuh atau ingin? kalau selalu ngerasa pengen ini pengen itu akhire kita terbelenggu dengan namanya keborosan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini,, boros adl bukti lemahnya literasi perempuan hehe

      Hapus
  8. Untungnya mpo tidak maniak sama si plastik seumur hidup. Cukup lah dapat dari kuter.

    Ketidaktahuan membuat kita jadi belajar literasi bahwa mengatur keuangan itu penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, ini namanya perempuan sudah paham yang mana butuh yang mana ingin. congrats ya mpo

      Hapus
  9. Literasi keuangan bukan hanya penting bagi ibu rumah tangga yah mba tapi bagi perempuan manapun dan profesi apapun, saya dulu orangnya juga boros, tp setelah baca ini kudu aware sama keuangab

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, kontrol ada di kita perempuan sang menteri keuangan heheh

      Hapus
  10. Serius amat ngitung uangnya bu :) Jad, skr udah melek tentang literasi keuangan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, sampe alisnya nyatu gitu ya lid


      udah paham dong, gapapa telat daripada sama sekali ga paham ya

      Hapus
  11. Bener y mba biar nanti dlm keluarga Ada manjer keungan yaitu perempuan penting bngt belajr literasi sjk dini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyak, kan anak-anak belajar boros dan hemat darimana lagi kalau bukan dari kita orang terdekatnya tie hehe

      Hapus
  12. pelatihannya bagus banget apalagi yang diingatkan apakah kalau beli sesuatu itu want atau need?

    sepertinya kalau aku banyakan want-nya duh mulai berubah ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk resolusi 2019 ubah mindset soal want and need mba :)

      Hapus
  13. Dari dulu saya aware banget masalah keuangan, beruntung dapat suami yang juga sejalan. Tapi tetap sih, rasanya saya masih butuh literasi keuangan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, ga sampe kedodoran deh ya mba hehe

      Hapus
  14. justru perempuan harus benar- benar mengerti bagaimana mengatur keuangan karena biasanya mengatur keuangan keluarga ya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup bener mama bo, perempuan selain ngatur duit milik sendiri juga kudu ngatur uang keluarga

      Hapus
  15. Untuk mengendalikan keinginan, kadang aku sering pake kata-kata itu siih...
    "Ini BUTUH atau INGIN?"

    Kalau sudah punya jawaban, biasanya nafsu belanja jadi lebih terkontrol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi sampe rumah ga keingetan terus kan mba? selamat kalau gitu tandanya udah tau yg mana want yg mana need hehe

      Hapus
  16. Setuju sama mba Yola.

    Setiap belanja memang harus tanya diri dulu: "Butuh atau cuma ingin?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan jangan sekalipun ngajak shophasholic ya mba hahaha

      Hapus
  17. Aku belum pinter banget ngatur keuangan, tapi gak boleh ninggalin nabung. Kadang sampai gak jajan banyak agar tabungan tetep ada masuk. Butuh banget deh pelatihan keuangan kaya gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kudu nambahin pemasukan ya mba supaya slot nabung ga keganggu

      Hapus
  18. Kl ikut acara yg bagus konten postingan jd berbobot, ya. Bunda udah jarang ikut2 acara seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul bun, jadi nambah wawasan kita deh. Bunda sibuk kali ya jd jarang ikut event?

      Hapus
  19. Aku dulu juga pleek gt, uang gajian ga jelas kemana, kok rasanya adaaa aja yg mau dibeli.

    Tapi sekarang untungnya mulai tersadar. Sisihkan di awal buat beli rdpu, invest lain, bayar2, belanja. Sisanya baru buat jajan kalo masih ada 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu, jd yg bener yang duluan itu justru nabung ya, sementara selama ini nabung malah sisa hadehh hahaha

      Hapus
  20. Bagus ya pelatihannya. Memang penting pelatihan keuangan untuk ibu-ibu agar semua ibu melek literasi keuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, perempuan itu literasi finansialnya memang rendah sih jd harus melek deh kita semua ya

      Hapus
  21. Kudu pinter mengelola keuangan rumah tangga ya tapi kalo aku sih suamiku yang mengelola. Alhamdulillah, bisa investasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aiihh seneng banget itu leyla kalau suamimu bisa mengelola uang. malah enak gitu ya kita ga pusing hehehe

      Hapus
  22. Bener mbaa
    Salah satu buktinu komen orang lihat orang lain selalu nyatet pengeluaran dg bilang PELIT
    Padahal kan biar jelas semuanyaaa makanya dicatet
    Di situ ngerasa sedih
    Dan trnyata stelah baca ini bener y Indonesia masih blom melek2 bgt
    Masih kurang dr 30 persen
    Huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Org yg julid kalau lihat org yg apa apa dikalkulatorin kalau lg belanja tandanya emang belum melek literasi mba. Pdhl tantangannya kan bukan gimana menghabiskan uangnya tp gimana bs irit dan bs dpt lebih hehee

      Hapus
  23. Ah sama mba saya baru ngeh kalau ada persoalan dengan keuangan setelah resign, karena dulu waktu kerja nggak ngeh, sekarang setelah resign sering mandangin tumpukan baju di lemari dan perabotan plastik yang kalau diuangkan jadi jutaan rupiah itu hanya jadi pajangan, huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedih ya mba sekarang mah kalau liat plastik dipajang doang pdhl itu ga bisa dijadiin mas kawin buat anak ntar heheh

      Hapus
  24. Aku juga gitu mbak, begitu liat biaya sekolah anak2 sekarang jadi nyesel kenapa nggak disiplin mengatur keuangan dari dulu. Sekarang baru ngerasain deh, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk ah sekarang move on mba, ga ada istilah terlambat koq

      Hapus
  25. Bener mba, perempuan kudu melek literasi keuangan. Kan perepuam itu menteri keuangan keluarga hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup setuju, karena di tangan perempuan lah masa depan calon pemimpin bangsa berada *Tsah hehee

      Hapus
  26. Wah asik ya kalo bisa ikut pelatihan ini. Di Semarang udah oerper ada apa belum sih, aku aku mau nih belajar mengelola keuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga pelatihan financial literasi buat perempuan semakin banyak ya mba

      Hapus
  27. emang ya Mbk kalau ada gaji rutin itu godaan buat belanja hehe tau-tau udah habis. Pengalamanku banget hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. gajinya kan tujuh koma, alias tanggal tujuh udah koma huhuhu

      Hapus
  28. WAh, aku termasuk yang belum melek literasi keuangan nih. Selama ini ya hanya mengikuti alur pengeluaran uang tanpa ada perencanaan apa2. Huhuuu.. harus segera berbenah diri ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk ah bebenah diri mba, ga ada istilah terlambat koq buat kita mah hehe

      Hapus
  29. Wah, bener banget. Perempuan sebagai pihak yang sering pegang uang, melek keuangan mutlak perlu. Demi keuangan rumah tangga yang sehat, ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan sampe rumah tangga goyah akibat finansial ah, serem

      Hapus
  30. Setujuu..perempuan harus melek literasi keuangan

    BalasHapus
  31. Aku pun meski ga mau pegang uang gaji suami tapi tetep berusaha bisa investasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus itu, investasi dan proteksi itu penting koq sebagai payung kalau kita kena hujan ibaratnya

      Hapus
  32. Semenjak jadi IBu Rumah Tangga memang kudu banyak update ilmu tentang financial ini, susah-susah gampang, kadang goyah sedikit ludes itu hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo sekarang dompetnya diikat gembok mba heheh

      Hapus
  33. Nah ini, penting banget ya perempuan pandai mengelola keuangan, biar keuangan keluarga jadi lebih sehat dan bisa punya tabungan juga untuk situasi tak terduga. Keren pelatihannya ini, semoga terus diadakan ya

    BalasHapus