Kali kedua Rasa Yang Sama Nikmati Olahan Bebek di Resto Bebek Bentu (2)

Drrtttttt...

Pesan whatsapp masuk ke hape saya.  Dari Jun, "Mbaa, kalau ga keburu yawda gapapa besok-besok aja. Ntar makin siang makin rame soalnya."

"Iya Jun. Sorry gue ga jadi mampir beli Bandeng Presto. Sabar ya, gue naek Tije soalnya. Parah nih empat kali dicancel mulu sama babangnya," balas saya.






Sesampainya di resto Bebek Cempaka Putih saya telat sekitar satu jam dari waktu yang disepakati. Benar kata Jun,  barisan motor-motor yang diparkir menunjukkan kalau resto Bebek Bentu yang jam bukanya pukul 11.00 WIB sudah terlihat ramai. 

Sambil melepas helm Ojol yang saya naiki dari halte Tije Pasar Cempaka Putih saya lihat Jun dan Cheo (si gantengnya Jun dan Olla) sudah memesan menu. Mereka berdua duduk di bagian outdoor yaitu di bagian depan.

"Agak panas, ya?" keluh saya sambil menarik kursi untuk memilih menu makan siang saya.

"Kalau mau yang indoor ada di dalam, ada AC-nya, Mba," tunjuk Jun ke arah kaca jendela yang memisahkan ruang outdoor dan indoornya. "Mau di dalam?" tawarnya. 

"Ngga usah deh. Di sini aja, Jun. Kayanya lebih rame di dalem ya?"

"Mungkin karena jam makan siang juga, Mba. Jadi crowded-lah." 

Family Resto 
Sambil haha hihi pandangan saya menyapu ke seluruh penjuru resto Bebek Bentu Cempaka Putih. Suasana homey rumah yang disulap jadi resto Bebek Bentu membuat saya merasa seolah bertandang ke rumah teman. Hangat sekali. Nuansa alami yang ditampilkan dari hiasan artistik tanaman hijau merambat imitasi di salah satu dinding dengan sepasang kursi dan meja teras menjadi spot cantik untuk sesi foto-foto. 




Masih di bagian outdoor, di bagian pintu masuk ada sepasang ondel-ondel yang menyambut kita menuju ke ruang indoor. Seolah semakin menegaskan kekhasan tradisional Indonesia di sudut lainnya berderet wastafel yang terbuat dari baskom tanah liat. Di atas wastafel-wastafel ini di atasnya diletakkan beberapa cermin jendela dengan ukir-ukiran kayu sehingga kesan intim dan hangat bak berada di rumah terasa sekali ambiencenya.




Sambil menunggu pesanan saya datang, hilir mudik pegawai yang melewati meja saya dengan membawa baki pesanan pengunjung tidak membuat mereka jadi acuh tak acuh. Dengan sigap mereka tetap siaga memperhatikan pengunjung yang membutuhkannya. Siapa tau sambil mengantarkan pesanan pengunjung ke meja-meja yang ramai dengan celoteh dan denting sendok beradu dengan piring ada pengunjung yang melambaikan tangan untuk order menu. Terus terang untuk kesigapan pegawai resto Bebek Bentu saya acungkan jempol, deh. Mereka tetap gesit meskipun di jam-jam ramai seperti ini. 

Ahaaa, dua puluh menit berikutnya, pesanan saya sampai juga. Dikarenakan kemarin ketika bareng anak-anak ke Bebek Bentu Serpong saya batal makan Bebek Kecombrang maka inilah saatnya hahahah *Devils_laugh

Makan siang saya di resto Bebek Bentu Cempaka Putih sebagai berikut : 

Bebek Kecombrang dengan nasi
Buat saya menu ini selalu ngangenin. Sejak pertama kali mencicipinya di acara Blogger Gathering Bebek Bentu Serpong Jaya rasa menu ini sangat unik di lidah saya. Meskipun sudah mengingat-ingat rasanya tapi saya tetap masih belum tahu apa rahasianya sampai seenak ini. 

Menurut Jun yang juga sedang kelojotan dengan pedasnya Bebek Kecombrang di piringnya, saat memasak kecombrang, kupas dulu kulitnya helai per helai sehingga ditemukan bagian putihnya. Nah ini bagian yang muda dan enak dimasak.



I see. Pantas saja sewaktu masak kecombrang untuk campuran lodeh koq rasanya seperti sereh. Mungkin karena sudah tua ya? hihihihi

Oke balik lagi ke menu Bebek Kecombrang. Kalau dilihat dari penampakan Bebek Kecombrang ala resto Bebek Bentu di dua tempat yang saya kunjungi (Serpong Jaya dan Cempaka Putih) keduanya sama enaknya. Tidak ada bedanya malah. Padahal Chefnya kan lain, ya? 

Bebek yang digunakan sama-sama berukuran besar. Dagingnya empuk, coba deh kalau disobek, gampang deh. Selain itu, rasa bumbunya juga meresap ke dalam sehingga saya sampe kaya orang kurang kerjaan, tulang sayap bebeknya masih saya kunyah-kunyah terus. Dan sayapun masih mengincar kulit bebek yang masih menempel di daging bebek yang ada di piring Jun. Sepertinya Jun sengaja makannya belakangan. Tapi, haaapp, seketika kulit bebek yang disayang-sayang Jun sudah pindah ke mulut saya. "Sorry, Jun. Enak tau!" ahahahah...

Dan yang terpenting bebeknya ga bau amis lho. Saya acungkan jempol untuk yang memasaknya. Memasak bebek itu memang gampang-gampang susah. Kalau orang yang ga tau trik memasaknya, pasti bau amisnya ga hilang. Bau itu malah yang bikin enegh dan sempat membuat saya kapok makan bebek di tenda pinggir jalan. *Sad

Jus Sirsak
Untuk minuman sengaja saya berpaling dari jus Kedondong dan memilih jus Sirsak. Terus terang saya penasaran dengan rasanya. Kira-kira rasanya semurni sirsak yang diblend atau lebih banyak gulanya ya?



Eiiimmm, sesaat saya seruput dari sedotan saya tertegun sejenak.  Aah segar sekali. Komposisi rasa asam sirsak dan manis gulanya pas banget. Kekentalan emulsinya meyakinkan saya kalau resto Bebek Bentu ga pelit dalam pembuatannya. Daging sirsak yang digunakan banyak nih. 

Es Teh Tarik 
Terakhir saya memesan es teh tarik. Ini sebenarnya cuma iseng aja sih sambil menunggu perut buncit kami kempes. Buat yang niat diet bisa gagal total ini mah.






Masih sambil ngobrol, pandangan saya kemudian tertuju ke balik kaca ke ruang indoor. Suasana sudah mulai sedikit sepi. Rasa penasaran memaksa saya untuk menelusuri interior resto Bebek Bentu. Dari pintu masuk di bagian kiri tersusun meja-meja bulat dengan empat kursi yang melingkarinya. Konon penggunaan meja bulat membuat nuansa akrab jadi semakin terasa. Sehingga orang jadi betah berlama-lama duduk di meja ini.


Sementara itu di bagian kanan, ada meja panjang yang menarik perhatian saya. Sepertinya ini diperuntukkan untuk gathering atau reserve untuk orang berjumlah banyak. Area dinding pun masih menarik perhatian saya. Di sana ada pajangan bebek-bebekan juga ada beberapa bingkai artikel di media massa yang memuat resto Bebek Bentu.

Wah, diam-diam resto yang terkenal dengan kelezatan cita rasa bebek andalannya ini sudah masuk media ya. Ckckckck pantesan masuk media. Dari mulut ke mulut kenikmatan ragam kuliner di Resto Bebek Bentu memang juara. Kali kedua rasa yang sama nikmati olahan bebek di resto bebek bentu membuat saya jatuh hati pada orang resto yang sama.







Duuhh, jadi ingat aroma Bebek goreng di Bebek Bentu. Gimana ini?

Jika wangimu saja bisa 

memindahkan duniaku

maka cintamu pasti bisa

mengubah jalan hidupkuuu 























Komentar

  1. Aiiiiihhh... Sedaaap gilaaa menu dan tulisannya. Makiiiin moncer nih nulisnya. Gw ngebayangin itu daging bebek dan jus sirsak bersemayam di gastronomi gw. The last but not least. Thank you so much Mba Di udah ngulas Resto Bebek Bentu untuk kedua kali di tempat berbeda. Cakep ulasannya #yangnhomongtukangicip2resto# percayalah. Hahahha. So much thank you Mbaaa dii

    BalasHapus
  2. wah aku penasaran bebek ma parutan kecombrang itu gimana sensasi rasanya hihihi...

    BalasHapus

Posting Komentar