Sabtu, 17 November 2018

Peran Keluarga Dalam Mempersiapkan Anak Menghadapi Revolusi Industri 4.0





Adakah teman-teman yang sempat galau mengetahui anaknya merokok di bangku SMP, sementara kalian dulu anak baik-baik saja? Adakah teman-teman yang pernah kebingungan didatangi ibu yang meminta mengadopsi anak dari perut gadis remaja yang lagi hamil?

Nah, kejadian yang terakhir itu pengalaman saya. Waktu itu, rumah saya didatangi tetangga yang membawa kenalan jauhnya. Mereka berdua juga mengajak gadis yang kalau saya takar masih berusia 15 tahunan. Terlihat jelas dari perutnya yang membusung kalau ia lagi hamil. Ibu itu meminta saya mengadopsi cucu yang dikandung putrinya itu. Dia malu atas aib yang menimpa keluarganya. Awalnya sih saya sedih dan kasihan. Pengen banget rasanya menolong. Tapi saya juga menyadari masalahnya tidak sesederhana itu.

Saya prihatin. Semakin hari berbagai permasalahan di kalangan remaja semakin kompleks saja. Perilaku pacaran dan pengalaman seksual mereka semakin tak terkendali. Penyalahgunaan narkoba pun dekat dengan dunia remaja yang sedang dalam krisis identitas ini. Bahkan yang menyedihkan, dari data Kemenkes RI, Oktober 2014 disebutkan kasus AIDS tahun 1987 sampai September 2014 kumulatif sebesar 55.799 kasus. Dari angka tersebut ditemukan bahwa 2,9% diantaranya terjadi pada kelompok usia 20 - 29 tahun dan 3,1% diantaranya ditemukan pada kelompok usia 15 - 19 tahun

Jujur, membayangkan bagaimana remaja-remaja ini tertular saya jadi ingat penyimpangan seksual yang akhir-akhir ini mencuat. Sudah banyak orang yang tak malu mempublikasikan dirinya kalau orientasi sexnya berbeda dan masuk kelompok LGBT. Sumpah saya jadi merinding, lho! Saya ga bisa bayangkan perasaan ibunya seperti apa, karena saya sendiri nyatanya adalah ibu dari tiga remaja juga :'(


Melalui Fase Remaja itu Tidaklah Mudah...
Remaja adalah masa peralihan antara dunia anak-anak dan dewasa. Di masa ini remaja mengalami berbagai perubahan yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisiknya.

Penting diketahui, bagi remaja melalui fase ini tidaklah mudah. Tugas perkembangan seperti motorik halus dan kasar, bahasa, reasoning dan kemampuan berpikir abstrak sebagai anak-anak sudah dikuasai dengan baik. Namun di masa ini remaja menghadapi tantangan dan perubahan yang kompleks terkait dengan pubertas. Sehingga perubahan emosi dan psikologis sebagai persiapannya menuju masa dewasa dapat dikatakan sebagai masa yang rentan. Terlebih jika sudah terpapar neurotoxin seperti rokok, alkohol dan narkoba.

Kita mungkin sudah banyak mendengar mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. Karena bekerja pada otak, narkotika mampu mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Pada remaja yang mengunakan narkoba, daya nilainya terhadap kehidupan akan terganggu. Pun dapat mengganggu proses pendidikannya karena putus sekolah.

Sementara, bukan rahasia umum lagi kalau penggunaan narkoba juga bisa meningkatkan dorongan seksual. Akibatnya, perilaku seksual tidak aman membuat mereka terjerumus pada perilaku seks bebas. Inilah yang dapat meningkatkan potensi pada resiko penyakit kelamin dan AIDS (HIV).



Bersahabat Dengan Teknologi 
Tidak bisa ditolak derasnya teknologi internet jadi pemicu maraknya permasalahan yang dihadapi remaja. Informasi beredar begitu bebas. Ini bermula dari kesibukan orang tua juga, sih. Karena terkendala waktu akibat kesibukan bekerja, orang tua memberi gadget untuk memudahkan komunikasi dengan anaknya. Namun satu hal yang tak dapat terelakkan adalah efek samping penggunaannya.

ki - ka : Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Roslina Verauli, M.Psi psikolog anak dan remaja, Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera Dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN

Dalam pertemuan Blogger bertema 'Pembangunan Keluarga di Era Industri 4.0' diakui Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK, selaku Deputi Bidang Keluarga Sejahteran dan Pemberdayaan Keluarga bahwa perkembangan teknologi yang pesat di jaman sekarang mampu mempengaruhi segala aspek kehidupan.

Menurutnya, generasi Z dan Y kini memiliki style berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi milenial memiliki konsep berbeda tentang arti keluarga. Orientasi mereka lebih condong ke karir dan masa depan. Sehingga pilihan untuk melajang, menganut pola LGBT atau menikah tanpa anak jadi bagian dari gaya hidupnya. Dan di saat bersamaan, kelahiran anak di luar nikah pada remaja pun semakin marak.

Akibat pesatnya kemajuan teknologi pun ikut berdampak pada kesetaraaan gender. Tidak bisa dimungkiri peran pencari nafkah dalam keluarga semakin cair. Ada ayah yang menjadi bapak rumah tangga sementara sang ibu sebagai pencari nafkah. Dengan begitu, pola asuh, interaksi dan pengambilan keputusan dalam keluarga mengalami pergeseran. Tak jarang kesenjangan wawasan antar anggota keluarga malah memicu gap dan masalah baru.


Beliau menyayangkan, perilaku tersebut justru disikapi permisif masyarakat. Kesannya, seperti membolehkan. Di era revolusi industri 4.0 ini pembangunan keluarga sejatinya harus memiliki format baru agar sejalan dengan perkembangan teknologi.

"Remaja adalah aset pembangunan bangsa. Masa depan bangsa Indonesia ada di tangan mereka. Keluarga merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia di era Revolusi Industri 4.0. " ~ M. Yani 
Semua Bermula Dari Keluarga 
Adalah mustahil bila karakter remaja dibangun dengan simsalabim. Orang tua, sekolah dan lingkungan punya peran penting di dalamnya. Please, catettt, remaja tidak hanya harus memiliki hard skill dan soft skill aja, tapi mereka juga harus memiliki karakter yang positif.

Untuk itu yuk coba kita tengok dulu, kita ini berada di keluarga macam apa, sih? Apakah keluarga kita seperti gambaran dalam film keluarga Simpsons, keluarga Incredible, keluarga Cemara ataukah keluarga si Doel? Gambaran apa yang teman-teman dapat dari cerminan keluarga tersebut?

Dalam acara yang berlangsung di BKKN, 14 November 2018 lalu Roslina Verauli, M.Psi seorang psikolog anak dan remaja yang juga hadir memulai dengan pertanyaan tersebut. Pada dasarnya ada nilai-nilai keluarga yang harus diselaraskan agar tujuannya tidak bertabrakan dan menyebabkan keluarga jadi porak poranda. Ia menuturkan, banyak kasus yang terjadi sekarang ini karena kondisi nilai keluarga yang bertabrakan. Dan, biasanya pola asuh yang sama similar dengan garis keturunannya. Jadi pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita sejatinya menurun dari pola asuh yang kita dapat dari orang tua kita. Nah!!!



Ia menandaskan, kunci pembangunan keluarga yang sehat dan bahagia dikuatkan pada tiga hal yaitu :

  • Family Cohesion yaitu kedekatan antara sesama anggota keluarga
  • Family Flexibility yaitu orang tua dan anak sama-sama beradaptasi terhadap perubahan jaman yang serba digital tapi tidak terbawa arus negatif yang menyertainya. 
  • Family Communication biasanya melalui makan bersama menjadi sebuah cara untuk merekatkan bonding antar keluaga. 

Kehangatan Keluarga Bermula di Meja Makan 
Mba Vera mengatakan, meja makan adalah tempat terhangat dimana keluarga berkumpul. Meskipun sebentar, makan bersama di meja makan menjadi sebuah cara untuk memberi kesempatan terjadinya komunikasi. Percakapan selama makan memberi kesempatan bagi keluarga untuk menjalin ikatan dan terhubung satu sama lain.

Makan bersama keluarga merupakan kesempatan ideal untuk memperkuat ikatan keluarga. Anak-anak dapat menggunakan waktu ini untuk membicarakan hal-hal penting yang dialaminya. Masalah-masalah sulit yang kerap terjadi di usia remaja juga dapat dicarikan solusinya untuk membangun hubungan bermanfaat bagi pertumbuhannya.



So, jaman memang sudah berubah. Aturan jaman dulu yang melarang ngobrol sambil makan sudah ga berlaku, ya. Justru makan malam sambil ngobrol bareng erat kaitannya dengan pernikahan yang bahagia dan hubungan keluarga yang lebih kuat.

Yuk, mulai sekarang hangatkan lagi meja makan dengan obrolan bareng keluarga. Jangan ada lagi ya yang makan di depan tv atau di kamar. Jangan ada lagi ya yang makan sambil matanya tetap menunduk di ponsel. Ingat ya buk, makan bersama bukan sekedar menunaikan hak tubuh mendapatkan nutrisi saja tapi di sinilah nyatanya pembangunan kualitas keluarga terbentuk.



39 komentar:

  1. Makan di meja makan kan yang penting bukan mengunyah sambil makan ya, Mbak. Telen dulu baru ngobrol.
    Aku juga sering ngobrol sama mama dan adikku ya di meja makan kesempatannya. Ngikutin aja waktu luang mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dengan makan bersama keluarga aku jadi malah tau bahasa gaul anak anak terbaru lho hahaha

      Hapus
  2. Teknologi diakrabi tapi dampak negatifnya tetap harus diminimalisir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan tugas itu ada pada siapa? pada kita sebagai orang tua

      Hapus
  3. Bukan hanya anak yang siapkan ya tapi kita sebagai ortu dan juga lingkungan yang membentuk anak harus siap ya dengan industri 4.0 ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru kita yang harus mau update mba biar ga kudeet secara anak jaman now pasti lebih banyak tau dari lingkungannya ya hehe

      Hapus
  4. Tetap harus dipantau orang tua ya mba agar dampak negatif dari gadget gak mengenai anak kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul put, biar gimanapun arus informasi internet apapun hadir begitu aja, mau baik ataupun buruk. kita ga bs tutup mata dan emnganggap tabu tapi kita harus dampingi anak dan kasih pemahaman. itu yg suka masih jadi kegalauan org tua

      Hapus
  5. If you research these online, you may probably pay between $100 and $350 to get a good unit sufficient to produce 75% of your home electricity.
    The project weighed heavily around the investors
    of many of the wealthiest men in America and Europe: The investors
    included J. Recently, there's a new supply of energy
    that's gathering popularity, the free magnet energy generated
    from magnets.

    BalasHapus
  6. Semua memang berawal dari keluarga. Kehangatan dan komunikasi keluarga sebenarnya merupakan benteng pertama agar setiap anggota keluarga bisa menangkal semua hal yang negatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, semua berawal dari keluarga jadi mau dibawa kemana ada di tangan kita sebagai orang tua

      Hapus
  7. Family time banget ya kalau kumpul di meja makan. Maupun jalan-jalan bareng tanpa gadget.
    Peran kelurga sangat penting di era revolusi industri 4.0 ini ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba, seneng aja bisa ledek ledekan dan bercanda sama anak anak ya mba. lain lho rasanya ketawa ketiwi sama teman2

      Hapus
  8. bulan puasa biasanya waktu terbanyak saya bs kumpul makan bersama keluarga, semoga bisa konsisten menerapkan kebersamaan makan bersama di hari biasa nih..yukk kita kembali ke meja makan mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayu ri, iya biasanya bulan ramadhan ya tapi bisa juga sih diakalin di hari biasa juga, kalo ga bisa tiap hari ya bbrp hari kalo ga bisa di rumah ya kan bisa makan di luaran krn yg penting esensinya ya hehe

      Hapus
  9. Aku belum tahu ini dampak pada anak remaja, karena anakku masih balita. Masih mikir ketika mereka tumbuh remaja dan dewasa. Aduh langkah apa ya yg akan saya dan suami lakukan. Apalagi saat ini teknologi semakin canggih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terus dampingi anak kita sifora, kita perlu berteman dgn teman teman anak kita supaya kliatan gimana sih dia di luar rumah

      Hapus
  10. Sebagai orangtua masa kini memang harus bersahabat dgn yang namanya teknologi karena klo engga melek teknologi ketinggalan lah kita dgn anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul ndri, jangan kalah kudet sama anak ya hehehe

      Hapus
  11. Kita memang harus aktif ya mbak apalagi punya anak yang udah remaja makin galau aja deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba tapi insha Allah anak anak kita dan kita sendiri mampu menghadapi tantangan jaman digital ini ya

      Hapus
  12. keluarga punya peranan penting, agar bisa mencegah hal yang negatif diluar sana. perlu juga sikap saling mendukung

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya han, anak itu kan tinggal nerima apa yg didapat dr lingkungannya. similar kata mba vera, jadi kalo kita mau memutuskan efek buruk yg kita dapat dr asah asuh yg salah dr org tua dan nenek kakek ya bisa aja. yuk kita ubah asah asuh asih anak

      Hapus
  13. Setuju bgt, budaya makan bersama di meja makan akan mendekatkan keluarga, semoga semakin banyak masyarakat yang menyadarinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah dipikir2 kalao makan bersama juga bisa nambah banyak lho makannya. ga terasa ya ci

      Hapus
  14. Makan bersama di meja makan , langka tuuu secara semuany sibuk .yuuk kita mulai lg

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo ga bisa setiap hari ya bbrp hari atau kalau ga bisa juga makan bersama di rumah kan bisa makan di luar yg penting esensinya ya mba hehe

      Hapus
  15. aduh aku seram banget bacanya. dari kelahiran di luar nikah, merokok, lgbt, sampai lain sebagainya. ini dampak negatif dari kemajuan teknologi spt gadget. jadinya kita sebagai ortu harus waspada yaa

    BalasHapus
  16. Seneng ya kalau bisa makan dan kumpul bareng sama keluarga. Kadang karena terbatas waktu suka minim kumpul-kumpul. Mudah-mudaha bisa diterapkan di keluarga kita ya mbak untuk komunikasi yang intens dan positif dengan keluarga

    BalasHapus
  17. Mendidik anak dan membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera perlu komunikasi yang baik agar tujuan bersama bisa tercapai ya mbak :)

    BalasHapus
  18. Sekarang saya juga menerapkan ini loh. Makan bersama setiap hari dan no gadget. Dengan mengasuh pengertian anak, Alhamdulillah mereka mau mengerti

    BalasHapus
  19. Dengan selalu makan bersama akan mendekatkan hubungan antar sesama anggota keluarga ya mbak :)

    BalasHapus
  20. Memahami dunia anak jadi PR tersendiri ya bagi orang tua. Siap-siap jadi orang tua yang tak boleh lelah belajar

    BalasHapus
  21. Yuk mari, mulai siapkan menu yang terbaik untuk di sajikan di meja makan, siapkan topik pembicaraan yang berbobot dan mulai melakukan komunikasi yang baik bersama semua anggota keluarga.

    BalasHapus
  22. kita harus siap berkomunikasi terhadap anak.. penting bat dah ini mba

    BalasHapus
  23. Haduh mbak... pusinglah diminta adopsi bayi dari hubungan di luar nikah. Trus gimana mbak? Nyata memang fenomena seperti ini. Semoga keluarga makin siap menghadapi revolusi industri 4.0 ya

    BalasHapus
  24. Haduuhh...saya ko miris ya baca prolog pengalamannya Mba Diah.
    Perkembangan era digital seperti sekarang ini bagai 2 mata sisi ada negatif dan positifnya. Oleh karenanya perlu lha menanam kebijakan di tengah keluarga

    BalasHapus
  25. selalu ada waktu untuk kita semua berkumpul dengan keluarga ya mba diah. asalkan mau! pasti ada momennya. sekadar makan pagi, siang atau malam mungkin dalam seminggu sekali. pasti ada waktu. gak mungkin sibuk terus. yuk ahh kembali lagi kumpul keluarga di meja makan. dan ngobrol asik di dalamnya,

    BalasHapus
  26. Anak jaman now ngga bisa lagi pakai kekerasan untuk mengaturnya.Kudu pake ilmu layangan, tarik ulur hahahaha.Penting bgt ini mah quality time keluarga biar bonding kuat dan komunikasi lancar

    BalasHapus