Rabu, 17 Oktober 2018

Indonesia Investment Forum 2018, Paradigma Baru Bangun Infrastruktur Bersama BUMN dan Swasta




Beberapa hari lalu event internasional annual meeting IMF - World Bank usai sudah terselenggara. Sebagai tuan rumah, negara kita telah mempersiapkan segala sesuatunya terkait perhelatan ini dengan maksimal. Belum lagi acara Asian Games dan Asian Para Games yang menyedot perhatian dalam dan luar negri. Disebut-sebut pelaksanaan event-event internasional ini terlalu mewah. Itu katanya dapat berdampak negatif akibat menumpuknya hutang negara. Lalu, kalau begitu apa kabarnya dengan Indonesia Investment Forum yang baru selesai juga berlangsung. Biayanya gede juga, kan? Eiit, tunggu dulu hehehe...



Sebagai tuan rumah, negara kita tentu sudah bersiap sejak lama untuk menyambut kehadiran sekitar 34 ribu peserta yang berasal dari 189 negara anggota IMF. Pasalnya di event ini negara kita bisa membuka mata pemodal asing terhadap potensi investasi di Indonesia. Nah, melalui berbagai agenda pertemuan dan diskusi panel yang diselenggarakan tentu bisa menjadi daya tarik bagi peserta asing yang memiliki perhatian terhadap kondisi dan prospek ekonomi sekarang ini di Indonesia. Salah satunya adalah Indonesia Investment forum.



Paradigma Baru Dalam Pembiayaan Infrastruktur 
Oh iya, teman-teman tau ga sih apa itu Indonesia Investment Forum? Event ini merupakan pertemuan yang membahas berbagai peluang investasi di Indonesia. Sebagai bagian dari rangkaian annual meeting IMF - World Bank maka IIF juga menjadi jembatan dialog antara pemerintah dan perusahaan-perusahaan Indonesia dengan investor global.

Berlokasi di Nusa Dua Bali, pada 9 Oktober 2018 lalu Bank Indonesia. BUMN, Kementrian Keuangan dan OJK secara resmi membuka event Indonesia Investment Forum. Event yang menyoroti paradigma baru dalam pembiayaan insfrastruktur ini dipilih mengingat Indonesia sebagai negara berkembang masih membutuhkan pembangunan infrastruktur yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.



Terkait dengan pembiayaan tentu kita tidak bisa menggantungkan begitu saja pada peran pemerintah. Untuk itu dalam IIF ini pemerintah bergandengan dengan swasta untuk sama-sama melakukan percepatan pembangunan infrastruktur. Diantaranya pembangunan jalan tol, bandar udara, pelabuhan, dan penambahan kapasitas pembangkit listrik.



Sebagaimana diketahui untuk menggarap proyek pembangunan memang tidak mudah karena target pembiayaan yang cukup tinggi. Terlebih pemerintah telah menetapkan Proyek Strategis Nasional berupa 223 proyek dan 3 program itu membutuhkan $307 Milyar. Nah, estimasi dananya didapatkan dari pihak swasta sebesar 60% dan 31% berasal dari pendanaan BUMN.

Dalam rangkaian agenda kegiatan Indonesia Investment Forum 2018 antusias dunia terhadap hajatan ini sangat luar biasa. Hitung sendiri deh ya pemasukan yang didapat dari sini mulai dari hotel, akomodasi dan pariwisata di Bali yang jadi magnet tersendiri bagi tamu negara IMF kali ini.


Tapi yang mau saya garis bawahi adalah kepercayaan investor dengan dilakukannya penandatanganan kerjasama financing dan investasi oleh 14 BUMN dengan 19 transaksi senilai $13,5 Milyar. Ini artinya kalau dirupiahkan jadi 202 Trilyun rupiah ya? Dengan penandatanganan tersebut mencerminkan tingginya minat investor domestik dan luar negeri untuk berinvestasi pada sektor infrastruktur di Indonesia. Woow, keren kan!

Tercapainya Kesepakatan Investasi 
Dalam penandatanganan kerjasama investasi yang berlangsung pada 11 Oktober 2018 kemarin hadir Mentri Koordinator Perekonomian, Mentri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Kepala OJK Wimboh Santoso.



Jenis investasi yang disepakati dalam kerjasama ini terdiri atas strategic partnership, project financing, dan pembiayaan alternatif melalui pasar modal. FYI aja, keberhasilan kesepakatan kerjasama investasi ini berkat peran serta Bank Mandiri dalam mengkoordinasikan 21 proyek BUMN dengan nilai total investasi senilai 200 Trilyun. Dan ini merupakan investasi langsung dimana 95 persen diantaranya berasal dari luar negeri.



Berikut rinciannya :
1. Strategic partnership senilai $400 juta antara PT GMF AeroAsia dan Airfrance Industries serta KLM Engineering & Maintenance
2. Partnership senilai $500 juta antara PT GMF AeroAsia dan China Communication Construction Indonesia
3. Peluncuran penawaran kerjasama strategis Bandara Kualanamu oleh PT Angkasa Pura II (Persero) kepada investor senilai hingga $500 juta
4. Strategic partnership senilai $100 juta antara PT Pindad (Persero) dan Waterburry Farrel
5. Strategic partnership senilai $320 juta antara PT Aneka Tambang Tbk dengan Ocean Energy Nickel International Pty.Ltd
6. Strategic partnership senilai $850 juta antara PT KAI (Persero), Antam dan Aluminium Corporation of China Limited
7. Kerjasama senilai $500 juta antara PT KAI (Persero), PT INKA (Persero) dan Progress Rail (Caterpillar Group)
8. Kerjasama senilai $185 juta antara PT Boma Bisma Indra (Persero) dan Doosan Infracore serta Equitek
9. KIK - DINFRA senilai $112 juta oleh PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta pernyataan efektif OJK
10. RDPT PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta AIA, Taspen, Wana Artha, Allianz dan Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) senilai $224 juta
11. Kerjasama investasi senilai $6,5 Milyar antara PT Pertamina (Persero) dan CPC Corporation
12. Kerjasama investasi senilai EUR 150 juta antara PLN dan KFW
13. Kredit investasi senilai $523 juta dari Bank Mega kepada PT Hutama Karya (Persero) untuk pembangunan ruas tol Pekanbaru - Dumay
14. Asset monetization senilai $336 juta oleh PT Hutama Karya (Persero) dengan ICBC, MUFG, Permata Bank, SMI
15. Kredit sindikasi $684 juta kepada PT Hutama Karya dari Bank Mandiri, BRI, BNI, CIMB Niaga dan SMI
16. Investasi senilai $310 juta antara Menjangan Group, ITDC dan Amorsk Group
17. Investasi senilai $198 juta antara PT Wijaya Karya (Persero), ITDC dan Menjangan Group
18. Kerjasama pembiayaan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Mandalika antar ITDC dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) senilai $248 juta
19. Kerjasama Hedging nilai tukar berbasis syariah senilai $128 juta antara PT SMI dan Maybank

KIK - DINFRA 
Seperti yang tadi sudah saya sebutkan perjanjian kerjasama investasi dalam IIF 2018 ini ada beberapa jenis. Salah satunya adalah pembiayaan inovatif di pasar modal. Namanya KIK - DINFRA atau Kontak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur. Ini merupakan reksadana yang dipergunakan untuk menghimpun dana investor yang nantinya akan diinvestasikan pada asset infrastruktur. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Produk investasi ini baru pertama kali diluncurkan bertepatan dengan agenda IIF 2018 silam sekaligus mendapatkan pernyataan efekstif dari OJK. Rencananya bentuk investasi pasar modal ini akan menyasar ke sektor lokal dan global dengan pengumpulan dana mencapai Rp 1,5 Trilyun.

Sebagai penerbit KIK - DINFRA Bank Mandiri bersama perusahaan anak Mandiri Sekuritas dan Mandiri Manajemen Investasi bekerjasama dengan PT Jasa Marga dengan nilai investasi senilai $ 112 juta. Kerjasama ini bukan baru sekali, sih, karena sebelumnya Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas telah membantu Jasa Marga menerbitkan obligasi rupiah di pasar modal internasional, Komodo Bonds senilai Rp 4 trilyun pada akhir tahun lalu, serta Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT) untuk membiayai pengembangan jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo


Menurut Kartika Wirjoatmodjo, Dirut Bank Mandiri, alternatif pembiayaan insfrastruktur melalui pasar modal ini dapat dimanfaatkan perusahaan di bidang infrastruktur untuk mendapatkan sumber dana yang efektif dengan biaya terukur.

Inisiatif ini juga akan membantu pendalaman pasar keuangan domestik melalui penambahan produk investasi berbasis proyek infrastruktur ~ Kartika Wirjoatmodjo.


Kesimpulannya, pembangunan infrastruktur memang bukanlah proyek asal kecap saja. Kalau kita masih ingat dengan program 9 nawacita Presiden Jokowi di awal masa kepemimpinannya diantaranya adalah tentang upaya membangun Indonesia dari pinggiran dan pedesaan. Nah, dengan bersinerginya pemerintah dan swasta maka program nawacita yang digulirkan sebagai bagian dari pemerataaan pembangunan dapat terlaksana dengan baik. Harapannya agar masyarakatnya jadi mandiri secara ekonomi.

Jadi kalau mau hitung-hitungan soal biaya, memang iya besar sekali biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur di seluruh penjuru Indonesia. Ini tidak lain untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi RPJM 2015 - 2019 sebesar 5 - 7%. Nah untuk menggarap proyek pembangunannya juga tidaklah mudah. Tapi dengan adanya Indonesia Investment Forum satu demi satu pencapaian kemajuan bangsa kita akan terealisasi. Setuju?



8 komentar:

  1. Semoga makin banyak pekerjaan rumah pemerintah yang cpt terealisasi untuk kesejahteraan kita ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamin, perlu dukungan semua pihak memang ya ri agar kemajuan bangsa kita dapat tercaoai

      Hapus
  2. Jadi memang perusahan swasta seperti bank mandiri memiliki andil besar ya dalam membangun infrastruktur negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bank Mandiri justru menjadi pioner dalam membantu percepatan ekonomi bangsa kita di bidang keuangan dengan menjual jenis investasi uang seperti KIK - Dinfra

      Hapus
  3. Intinya semua butuh modal ya. Kalau yang mau dibangun volumenya besar, maka modalnya juga besar kan. IIF bisa jadi forum terbuka soal investasi dari pihak luar dan dalam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, perlu kerjasama semua lini makanya investor asing yg datang ke IIF bisa melihat sendiri potensi keuntungannya gimana kalo berinvest di indonesia

      Hapus
  4. Alhamdulillah Indonesia bisa meraih dobel sukses. Sukses sebagai penyelenggara IMF-World Bank Annual Meeting dan juga sukses mendulang Investasi yang tidak sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeayyy, ga nyangka bener-bener ya sampe sukses merealisasikan penandatanganan 19 proyek di ajang IIF ini

      Hapus