Senin, 03 September 2018

Sayangi Jiwamu, Jangan Pendam Masalahmu




Ada yang masih ingat dengan sosok pemeran Mrs. Doubtfire dan Jumanji? Namanya Robin Williams. Kalau lagi akting dia paling pandai mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap. Pasti rasanya pengen ketawa terus deh. Dalam hati mungkin kita pernah berandai-andai, jadi pesohor yang bergelimang uang pasti enak sekali. Tapiiii, tunggu dulu! Jika dia hidupnya bahagia kenapa justru memilih mati bunuh diri?

Saya prihatin. Orang yang memilih mati bunuh diri banyak sekali. Bukan saja pesohor ternama seperti Marlyn Monroe atau Robin Williams tapi juga ada dari kalangan bukan siapa-siapa. Bahkan teman Facebook saya pernah hampir mati bunuh diri juga. Saat itu tanpa sengaja ketika membuka beranda Facebook muncul siaran live. Terdengar isak tangis yang membuat saya merinding hebat. Tidak bisa saya bayangkan suasana mencekam kala itu. Saya ketakutan luar biasa. Teman saya ini sedang menggenggam pisau untuk mengiris nadinya. Astagfirullah al adzim.

Alhamdulillah teman saya selamat entah gimana caranya waktu itu. Saya sendiri takjub bahwa dari circle pertemanan di media sosial itu teman dari temannya teman dia ada yang datang ke rumahnya. Menggagalkan pikiran pendeknya mengakhiri hidup dengan cara itu. Dari komen-komen yang saya baca, teman saya ini sedang stress berat akibat kesulitan ekonomi.

media dan blogger gathering kenali kesehatan mental sejak awal, menekan laju depresi bersama Halodoc


Sehatkah jiwa kita?
Sebelum saya ulas mengenai serba serbi depresi dan penyakit gangguan mental lainnya dalam talkshow Halodoc 29 Agustus 2018 silam, Dr. Eva Suryani, Sp, KJ yang merupakan Kepala Divisi Edukasi dan Training Asosiasi Psikiatri Indonesia wilayah DKI Jakarta menanyakan terlebih dulu, "sehatkah jiwa kita, apa definisinya kalau jiwa kita sehat?"

Memiliki ambisi dalam suatu pekerjaan adalah wajar, tapi bila target tidak tercapai kerapkali bikin orang jadi stress. Nah apakah kita semua menyadari kemampuan sepenuhnya diri sendiri? Itulah definisi sehat.

Stress itu dibagi menjadi tiga level ; ringan, sedang berat. Meskipun sama-sama terjebak macet di jalan tapi kemampuan untuk mengatasi stress tidak sama. Nah, orang yang mampu menghadapi stress dengan wajar itulah definisi sehat jiwanya.

lokasi Ocha Bella Resto, Morrisey hotel 

Selain itu, tipe orang yang jiwanya sehat adalah orang yang mampu secara produktif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat beradaptasi dalam lingkungan hidup, dan mampu menerima dengan baik apa kelebihan dan kekurangan dirinya, merasa nyaman dengan orang lain di sekelilingnya. 

"Orang bisa dikatakan sehat apabila secara fisik maupun jiwanya sehat. Yang menjadi masalah, kesehatan mental masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia. Angkanya terus bertambah."


Bahkan WHO pun menyoroti dengan dikeluarkannya data di tahun 2016. Disebutkan bahwa 35 juta orang di dunia terkena depresi, 21 juta orang terkena skizofrenia dan 47,5 juta orang terkena demensia (pikun). Diprediksikan tahun 2020 mendatang depresi akan menjadi beban kesehatan nomor dua setelah penyakit kardiovaskuler.

Penyebab 
Menurut Dr. Eva ketika bicara soal hati seorang dokter akan mudah menemukan pembengkakan pada organ hati dengan pemeriksaan fisik. Akan tetapi dalam pemeriksaan hati (aka. gangguan jiwa) yang terdiri dari pikiran, perasaan dan perilaku apakah seorang dokter bisa melihatnya? Jadi seorang dokter jiwa atau psikiater akan melakukan pemeriksaan melalui observasi dan wawancara pada pasiennya untuk penatalaksanaan kesembuhannya. 

Penyebabnya ada tiga yakni faktor biologi, psikososial dan lingkungan :

Faktor biologi dikaitkan dengan genetik dan diresregulasi neurotransmiter aminergik. Jadi kalau memiliki orang tua atau saudara kandung pengidap depresi besar kemungkinan ada resiko kita terkena depresi pula.

FYI, satu dari tujuh orang pernah mengalami depresi dalam kehidupannya. Paling banyak gangguan depresi mayor dialami wanita 10 - 25% sedangkan pria 5 - 12% karena ada hubungannya dengan perubahan hormon wanita seperti menstruasi, kehamilan, perimenopouse. 

Faktor psikososial dikaitkan dengan lost of object love (kehilangan kasih sayang dari orang terdekat), pola asuh orang tua yang otoriter misalnya, kekerasan dalam rumah tangga, dan juga konflik kehidupan yang umumnya berhubungan dengan kesulitan ekonomi.

Faktor lingkungan dikaitkan dengan tekanan dalam pekerjaan, dikhianati orang yang dicintai, pengaruh penyalahgunaan obat dan alkohol.

Gejala Depresi
Umumnya kita bisa melihat seseorang terkena gejala depresi dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Tadinya ceria sekarang murung. Tadinya aktif sekarang menarik diri. 

Seseorang dapat dikatakan mengalami depresi bila sekurangnya mengalami dua dari tiga gejala utama yaitu :


  • mood depresif (selalu murung dan menangis)
  • kehilangan minat
  • kehilangan energi (lelah, energi menurun, tidak bersemangat dalam beraktivitas)


dan juga mengalami dua dari gejala tambahan yaitu :


  • sulit konsentrasi
  • harga diri rendah
  • rasa bersalah
  • pesimis
  • gagasan bunuh diri
  • gangguan tidur
  • gangguan nafsu makan 


Untuk menyimpulkan dari gejala depresi tersebut seorang psikiater akan menentukannya dari berapa lama gejala tersebut dialami. Minimal dua minggu.

Seperti tadi sudah saya sebutkan stress atau depresi terbagi menjadi tiga yakni :

depresi ringan yaitu apabila mengalami minimal dua dari tiga gejala utama dan minimal dua gejala tambahan. Umumnya orang yang terkena depresi ringan mengalami gangguan dalam pekerjaan dan kegiatan sosialnya.

depresi sedang yaitu bila mengalami minimal dua dari tiga gejala utama dan minimal tiga (sebaiknya empat) gejala tambahan. Umumnya orang yang terkena depresi sedang mengalami gangguan nyata dalam beberapa aspek kehidupannya.

depresi berat yaitu bila mengalami semua tiga gejala utama harus ada dan minimal empat gejala tambahan. Biasanya ada gejala psikotik berupa halusinasi atau bisikan yang mengajak bunuh diri.

Tatalaksana Gangguan Depresi 
Untuk meredakan stress dalam hidupnya Psikiater akan meemberi terapi berupa obat atau non obat. Bisa juga kombinasi keduanya.

Adapun terapi psikologi (non obat) dilakukan dengan cara meningkatkan coping. Ini adalah upaya memperkuat mekanisme pertahanan diri untuk meredakan stress yang dipicu dari konflik keluarga, konflik interpersonal, peristiwa kehilangan dan kekecewaan.

fase pengobatan depresi

Yang jadi masalah bila orang yang mengalami gangguan depresi justru merasa baik-baik saja. Itu namanya coping denial jadi sulit penyembuhannya. Misalnya saya ambil contoh dari tayangan televisi ya. Ada seorang suami yang masih menyiapkan piring di meja makan untuk istrinya dan seperti tidak ada apa-apa. Padahal istriya sudah tidak ada. Meninggal.

Intinya untuk meredakan depresi solusinya tidak selalu dengan obat bisa juga dengan edukasi. Pelan-pelan ubah mindset dan melakukan terapi. Tapi kalau kategorinya dari depresi sedang ke berat harus dikombinasikan antara obat dan non obat. Masanya dari enam bulan sampai setahun bisa juga lebih. 

aplikasi halodoc



Halodoc
Terkait dengan depresi yang dialami seseorang, jujur ya, ada berapa banyak orang yang menemui pakar kesehatan untuk mengkonsultasikan masalahnya? Jarang sekali, kan. Ini karena ada hubungannya dengan stigma di masyakat. Kesannya orang yang datang ke ruang praktek psikiater adalah orang gila, betul apa betul?

Di lain sisi banyak penderita yang tidak menyadari kalau dirinya terkena gejala awal stress. Padahal kalau diabaikan dapat berpotensi memicu depresi yang berkelanjutan. Selain itu faktor tenaga dan fasilitas kesehatan mental profesional di negara kita jumlahnya masih minim dan paling banyak ada di pulau Jawa. Kalau berdasarkan standar yang ditetapkan WHO idealnya perbandingan antara tenaga kesehatan dan pasien yakni 1 : 30 ribu orang.

Ada data dari Riskedas bahwa gejala depresi dan kecemasan mulai dialami di atas usia 15 tahun. Sebanyak 14 juta orang atau setara dengan 6 persen jumlah penduduk Indonesia dimana prevelansenya terbanyak ada di provinsi Sulawesi Tengah (11,6%) dan paling rendah ada di provinsi Lampung (1,2%) mengalami gangguan mental emosional.

Atas dasar tersebut melalui salah satu fitur 'kontak dokter' selain dokter umum dan spesialis terpercaya lainnya kini Halodoc telah menghadirkan dokter kesehatan mental. Sama seperti dokter lainnya kita bisa menghubungi setiap saat untuk mengkonsultasikan masalah yang dihadapi.

Felicia Kawilarang VP Marketing Halodoc memaparkan,"kami menyadari salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi permasalahan kesehatan mental di Indonesia adalah stigma negatif. Sehingga membuat penderita enggan untuk berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater."


Halodoc berharap melalui kehadiran psikolog dan psikiater pengguna aplikasi Halodoc tidak perlu sungkan karena percakapan terjadi antara dokter dan pasien dalam aplikasi yang terjamin kerahasiaannya dan tidak disebarluaskan.

Halodoc adalah aplikasi kesehatan terpadu berbasis online yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya dalam memenuhi kebutuhan kesehatan.

Ada tiga fitur kesehatan dalam aplikasi Halodoc yaitu :

Apotek Antar, layanan yang membantu pengguna membeli suplemen, vitamin dan obat dengan resep dokter dengan cepat, aman dan nyaman.

Hubungi Dokter, layanan yang memfasilitasi para pengguna untuk berinteraksi dengan dokter secara langsung melalui video call, voice call ataupun chatt.

Lab Service, layanan dimana Halodoc bekerjasama dengan Prodia dalam memberi kemudahan bagi pengguna aplikasi untuk melakukan pengecekan kesehatan di rumah maupun kantor.

Nah, tidak ada masalah yang tidak terselesaikan kan? Pertama donload aplikasi Halodoc saja dulu, nikmati fasilitas free konsultasi untuk satu jam pertama. Dokter Eva juga ada di Halodoc, koq. Yeayyy...








2 komentar:

  1. Syukurlah makin banyak orang yang peduli dengan gangguan kesehatan yang satu ini. Kapan-kapan perlu mampir di halodoc 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya mbak, curhat itu perlu lho supaya hormon stress bisa dilepaskan

      Hapus