Jumat, 07 September 2018

Kiat Mendidik Anak Di Era Digital Bersama SIS Bonavista



Pagi-pagi hal pertama yang saya cari adalah gadget. Saya harus ngecek pesan dan notif yang masuk dari email, whatsapp dan sosial media saya. Setelah beres urusan rumah tangga kembali saya lanjut memegang gadget. Kali ini untuk ngecek tarif ojol menuju kawasan Lebak Bulus. Dalam perjalanan naik Transjakarta menuju Singapore School kembali tangan saya merogoh tas. Saya mencari gadget untuk blogwalking dan chit chat dengan teman-teman. Kesimpulannya, rutinitas sehari-hari saya selalu berhubungan dengan gadget.

Terlepas dari urusan kita yang selalu terkait dengan gadget mana mungkin kita bisa jauhkan anak-anak dari derasnya arus teknologi digital ini. Bagaimanapun kita semua hidup di era digital. Anak-anak kita pun lahir dan tumbuh berkembang di dunia digital. Realistis saja bila anak-anak hobi bermain gadget.

Akan tetapi, yang perlu diwaspadai bahwa dalam penggunaannya gadget bisa jadi manfaat bisa pula jadi mudarat.

"Salah siapa coba bila anak jadi males gerak akibat gadget? Salah siapa coba bila anak jadi kecanduan games? Siapa memang yang kasih gadget ke anak?" tanya Elizabeth T Santosa, seorang praktisi psikolog anak dan remaja dalam sesi sharing bareng Blogger Perempuan di SIS Bona Vista Lebak Bulus, 31 Agustus 2018 silam.



Jlebb... Salah kita. Nah, jadi jangan pernah menyalahkan kehadiran gadget. Salahkan penggunaannya. Catettt...

Teknologi tidak selalu buruk, koq
Dalam pemaparannya yang bergaya interaksi langsung Lizzy panggilan akrab ibu dari tiga putri yang aktif membantu Komnas Perlindungan Anak Indonesia menanyakan, "umur berapa sih idealnya anak boleh pegang gadget?"

Jawabannya sedini mungkin. Dari bayi pun tak mengapa sudah dikenalkan dengan gadget. Ingat buk, gadget itu bukan monsters. Kita hidup di era digital, lho. Ada banyak hal yang bisa dipelajari anak dari gadget asalkan ditemani kita. Ajak mereka berdiskusi selalu.

Kalau kita menganggap gadget itu buruk artinya kita tidak mengoptimalkan fungsi gadget. Padahal anak bisa bermain sekaligus belajar melalui games cooking mama misalnya. Itu bagus, lho. Yang jadi salah, gara-gara main games jadi lupa waktu, lupa makan, lupa sholat dan lupa belajar.

Sisi positif lain dari kehadiran gadget dapat membuat passion anak jadi makin tergali. Yuk coba kita ingat gimana awal ketenaran Justin Bieber? Ibunyalah yang pertama-tama mengupload polah lucu Bieber kecil hingga menjadi setenar sekarang.

See, kita tidak perlu anti gadget lagi tapi dampingi dan arahkan anak-anak kita, yes.

Nah, nah, nah, makin seru kan... . Oke lanjuttt!



Konsisten
Yang harus kita garis bawahi teknologi itu tidak buruk sama sekali. Justru kehadiran teknologi berguna untuk mempermudah urusan kita. Apapun pertanyaan kita, tinggal tanya Mbah Google saja. Mau cari resep masakan yang mudah dibuat bersama anak, bisa. Mau cari bahan prakarya untuk pekerjaan sekolah anak, bisa. Mau cari sekolah yang berkualitas seperti Singapore International School juga bisa, hehehee....

Kuncinya adalah keseimbangan dan konsistensi dari orang tua untuk membatasi gadget pada anak. Anak-anak tidak akan kecanduan main gadget asalkan ada kontrol waktu. Buat kesepakatan kapan mereka boleh main gadget.

Lizzie sendiri mengizinkan anak-anaknya bermain gadget setiap hari libur. Itupun hanya dua jam. Selain hari itu ia mengajak anak-anaknya bermain congklak atau main monopoli untuk mengisi waktu luangnya. Dia juga tidak ragu menge-print banyak gambar untuk diwarnai si kembar putrinya. Intinya, kenalkan selain asiknya main gadget di luar sana juga banyak kegiatan menarik yang bisa dilakukan.

Lizzie mengingatkan, meskipun hari libur anak anak tetap diperbolehkan main gadget. Tetapi harus ada syaratnya. Misalnya jika kamar masih berantakan atau pr belum diselesaikan tidak boleh. Nah, kalau dilanggar gimana? Beri punishment yang mendidik, misalkan ngosek kamar mandi. Jadi bersih, kan hehehe...

Seperti tadi sudah saya singgung, bermain games seperti cooking mama itu baik, koq. Selain melatih ketelitian dan kecepatan melalui game yang menyenangkan ini anak dapat belajar banyak hal. Tapi kembali lagi, beri izin main sesuai kategori usia anak kita. Seperti halnya film, games kan ada kode rating untuk anak, remaja atau semua umur. Tapi ingat, sekali lagi, saat anak bermain games dampingi ya, buk!



Kita kemudian diingatkan pada tiga pilar kebutuhan dasar anak yaitu kasih sayang, stimulasi, nutrisi agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiga pilar tersebut harus diberikan dengan porsi yang sama. Nah masalahnya anak zaman now bisa dikatakan selfish. Senangnya yang serba cepat dan praktis. Di era digital ini karakter anak-anak kita memiliki kebutuhan akan pengakuan, sehingga ambisi besarnya adalah sukses. Cinta kebebasan percaya diri yang diaktualisasikannya di media sosial. 

Menurut Lizzy wajar saja, sih, karena kemudahan di lingkunganlah yang membentuk mereka begini. Zaman dulu itu sulit. Sehingga kita harus bekerja keras untuk mencapai segala sesuatunya. Kalau zaman dulu  sudah ada ojek online mungkin kita  juga ga mau jalan kaki panas-panasan dari sekolah ke rumah, kan? hehehe... 

Terkait dengan kasih sayang buat anak, Lizzie menanyakan, "Di momen apa kita kasih uang buat anak?" Lebaran kasih, naik kelas kasih, ulang tahun kasih. Dengan mudahnya kita membelikan apapun yang diminta anak, kapan saja. 

Memberikan terlalu banyak fasilitas dan kemudahan pada anak tidak hanya memanjakan anak tapi justru menjerumuskan. Kreatifitas anak dan daya juangnya justru akan muncul dari pola pengasuhan kita sebagai orang tua. Ingat, Allah memang mengajarkan kita untuk mengasihi anak, tapi tidak berlebihan - Elizabeth T Santosa.

Dalam mendidik anak di era digital ini anak harus dikenalkan dengan konsekwensi. Kalau dia berprestasi kasih apresiasi, kalau salah ya harus mendapat konsekwensi (baca : hukuman). Sesuaikan hukuman dengan kesalahannya. Misalnya seperti tadi, ngosek kamar mandi. Hal ini kita lakukan sebagai upaya membina karakternya menjadi pribadi yang baik di usia dewasa kelak. Dalam memberi konsekwensi, jangan pernah memukul sekalipun, pesannya. 

Menurut Lizzie, bila anak sampai kecanduan gadget itu karena orang tuanya yang malas. Anak yang hobinya baper itu karena orang tuanya yang manja. Lizzie berharap setelah sesi sharing ini kami semua yang hadir akan jadi mama Baper alias BAWA PERUBAHAN!! 



Caranya gimana? Melek teknologi dong! Dengan begitu kita bisa sampaikan pada anak bahayanya online itu seperti apa. Kita pun harus menjadi teladan buat anak dalam menggunakan sosial media. Maka janganlah kita membuatkan akun sosial media untuk anak di bawah usia 13 tahun. Jangan lupa, ajak anak untuk THINK before post : 

T - is it True? 
H - is it Hurt?
I - is it Ilegal?
N - is it Necesarry?
K - is it Kind? 

Alhamdulillah, seneng banget bisa tambah ilmu parenting lagi dari Lizzie. Rasanya separuh kekuatiran saya lenyap seketika. Satu pesan yang saya tangkap bahwa orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Kalau satunya tegas yang satunya jangan labil. Kompaklah selalu dalam membuat peraturan belajar, bermain dan sosialisasi. Kompaklah demi pertumbuhan anak agar menjadi pribadi yang baik dengan menciptakan lingkungan yang baik seperti memilihkan sekolah di Singapore International Cultural. 

Menelisik SIS Bona Vista



Singapore Intercultural School merupakan tempat dimana pendidikan lebih dari sekedar tempat untuk mengajar. Dalam sambutannya Mr. John P. Birch, Head Teacher of SIS Bona Vista menjelaskan, bahwa keingintahuan anak adalah sebuah mesin untuk meraih prestasi. Itulah sebabnya kami tidak hanya mengajar - tapi apa yang kami ajarkan, bagaimana caranya dan pengalaman apa yang siswa siswi kami dapatkan. 

Singapore Intercultural School tadinya bernama Singapore International School. Berdiri sejak tahun 1996 jaringannya ada tujuh di Indonesia yakni SIS Kelapa Gading, PIK, Cilegon, Semarang, Palembang dan Medan. Sedangkan pusatnya di Bonavista Lebak Bulus Jakarta Selatan yakni SIS Bona Vista. 

Kurikulum belajar di SIS telah dirancang untuk menyiapkan individu yang mengerti pentingnya ketrampilan dan keahlian. Hal ini diimplementasikan melalui inisiatif PACE yaitu Perseverance (ketekunan), analytical thinking (berpikir kritis), collaboration / communication (kolaborasi / komunikasi) dan enterpreneurism (kewirausahaan). 

"Nah, untuk membina jiwa kewirausahaan kami kerap mengadakan school events misalnya bazaar. Ini dikelola siswa siswi kami sendiri," papar mba Monik, staf SIS Bona Vista. 

Belajar di SIS Bona Vista tidak seperti belajar di sekolah lainnya. Sekolah ini menerapkan tiga kurikulum berjenjang dalam metode pengajarannya : 

Singapore Curriculum, 

Cambridge International Examinations / Cambridge International School yang diterapkan pada jenjang sekolah menengah 

International Baccalaureate (IB) yang diterapkan pada jenjang sekolah menengah atas. 

Mengapa begitu? Menurut Mba Monik, tidak lain karena di SIS Bona Vista komposisinya 80 persennya adalah expatriate. Maka kami ingin siswa siswinya dapat terpacu untuk fasih berbahasa regional seperti bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. 

Lingkungan Singapore Intercultural School Bona Vista menurut saya begitu memproteksi siswa-siswinya. Ini penting sekali, lho bila mengingat kejadian anaknya penyanyi dangdut yang sempat diculik di depan sekolahnya beberapa waktu lalu. 

Dari mulai kedatangan, sebagai visitor saya harus mengisi buku tamu dulu kemudian menitipkan kartu identitas. Setelah itu saya melewati alat sensor security di pintu masuk. Oh iya, sampai di sini tindak tanduk kita masih terpantau di CCTV yang ada di setiap sudut. 

Adapun untuk penjemput siswa siswi diwajibkan memiliki ID Card. Jadi tidak bisa serta merta main jemput saja. Kalau lupa membawa ID Card yang sudah diberikan maka si penjemput harus menunggu izin dulu dari pihak sekolah. 

Saat diajak touring keliling SIS Bona Vista ada beberapa hal yang saya catat yakni : 



Ruang kelas yang nyaman, fun dan enjoy membuat suasana belajar jadi semakin asik. Ditambah lagi rasio antara teacher and student juga dibatasi. Dengan begitu interaksi antara guru dan siswa jadi lebih intim bak keluarga. 


Sepanjang mata saya memandang, ada banyak hasil karya siswa siswi TK yang dipajang di berbagai sudut kelas. Ada di pintu, di jendela, hingga setiap sisi dinding kelas. Meskipun bukan anak saya, tapi hati saya meleleh melihat crafts siswa-siswa ini. Ah, so sweet sekali!







Pun soal budaya literasi. Di SIS Bona Vista setiap hari setelah bel berbunyi siswa siswi diajak ke library untuk membaca. Wah saya setuju sekali, bukankah buku adalah jendela dunia? Dari kebiasaan yang diajarkan tersebut bahkan di jam istirahat pun library nyatanya menjadi spot yang menarik buat siswa siswi selain kantin. Melted lagi saya hehee.. 

Untuk sarana dan prasarana SIS Bona Vista menyediakan beragam fasilitas untuk mengoptimalkan belajar mengajar. Ada science lab, phisic lab dan computer labs. 



Untuk mengasah passion siswa siswinya SIS Bona Vista pun menyediakan music room, art room, library, little theater, gym, playground, soccer field, futsal court dan swimming pool. Nah, untuk mengasah daya juangnya, ada event olahraga yang dapat diikuti setiap siswa siswi SIS, nih. Jadi tidak ada yang sia-sia. 

Dengan begitu banyaknya kelebihan yang ditawarkan SIS Bona Vista ada kata-kata dari SIS Bona Vista berikut yang hampir sama dengan kalimat yang dituturkan Lizzie.  

Education is and will always be more than teaching fot us at SIS. It is about inspired learning, which is why we not only show our children the path, we also walk alongside them. 

Orang tua adalah suri tauladan anak. Kita harus pandai menempatkan diri. Ketika anak masih kecil kita harus ada di depannya, karena di masa ini disebut dengan children see, children do. Apa yang ia lihat akan ia lakukan. Ketika anak berada di usia remaja kita harus ada di sampingnya. Berdirilah sebagai teman yang mendampinginya melewati masa-masa labilnya di usia ini. Ketika anak beranjak dewasa, kita ada di belakangnya. Peran kita memotivasi dan mendukung cita-citanya. 

1 komentar: