Rabu, 28 Februari 2018

Tergoda Sambal Bawang Di HokBen

Februari 28, 2018 30



Aroma bawang, tomat, cabe dan terasi yang mengepulkan uap pedas dan harum mampu membuat saya bersemangat. Tidak sabar rasanya menanti ibu mengangkat bahan tersebut dari penggorengan lalu menguleknya jadi satu dan meletakkannya di dalam mangkuk. Kemudian, sisa sambal di cobek tidak disia-siakan begitu saja. Ibu segera melumuri bekas ulegan sambalnya dengan secentong nasi panas, mengulegnya sebentar agar merata lalu menyuapi saya dengan sepotong tempe goreng. Sungguh, sebuah moment masa kecil yang mewah jika saya ingat sekarang.

Sedari kecil terbiasa dengan makanan pedas, sebagaimana orang Indonesia pada umumnya,  maka rasanya tidak sah ya jika makan tanpa sambal. Seperti ada yang kurang. Untuk sehari-hari, sebisa mungkin saya pasti membuat sambal. Meskipun hanya membuat sambal goang atau sambal kecap saja yang paling gampang. Jadi, jangan heran, saat bepergian pun, dari warung ke warung, yang pertama saya tanyakan adalah sambal. Ada atau tidak.

Apa Sambal Kesukaanmu?
Jujur, saya tidak bisa mengatakan dengan tepat apa sambal kesukaan saya. Karena, setiap menu makanan menurut saya berbeda-beda juga padanan sambalnya. Misalnya saja nasi uduk. Bagi saya, sambal kacang tetap juara rasanya disandingkan dengan nasi uduk daripada sambal terasi. Begitupun dengan soto, sambal kecap rasanya tidak tepat jika dipadukan. Saya tidak bisa mengatakan pilihan saya benar ya. Semua kembali ke favoritnya masing-masing. Saya hanya bisa bilang betapa nikmatnya sambal saat keringat saya mengucur, telinga saya terbakar dan mulut saya tidak berhenti ‘ah, uh, ah, uh’ karena kepedasan hehehe...

Bertahun-tahun nyatanya selera saya tidak berubah juga. Mungkin karena sejak kecil yang pertama saya kenal adalah sambal bawang buatan ibu maka ketika saya menikmati tiga varian sambal di HokBen, tetap sambal bawanglah juaranya. Bukti nyata, bahwa rasa dan kenangan memang tidak pernah bohong. Saling terkait satu sama lain. *Ciieee, uhuukk

Galau Memilih ; dia, dia atau dia?


Tidak terasa ini adalah kali ke dua saya diundang HokBEn untuk mencicipi menu barunya. Sesaat ketika langkah kaki saya menghampiri Store HokBen Kartika Chandra, saya tertegun menatap banner “Makan HokBen Pake Sambal Indonesia? Sensasinya Dahsyat! Pokoknya Wajib Coba”. Apa-apaan ini, biasanya kan makan di HokBen pakainya saus sambal, tapi ini, koq, sambal? Serius? 

Tanda tanya saya kemudian terjawab ketika Pak Zaki mendampingi saya mencicipi paket menu Hokasuka 2 pilihan saya dengan sambal pilihan yaitu sambal bawang. Pak Zaki yang terlihat helpful, karena sambil ngobrol dia pun masih sempat melayani customer lain mengatakan, bahwa berdasarkan riset yang dilakukan tim HokBEn, orang Indonesia menyukai sambal. Oleh sebab itu, sebagai pelopor makanan Jepang HokBen pun berinovasi dengan mengawinkan makanan Jepang dengan makanan Indonesia melalui menu terbarunya yaitu sambal. 

Ada tiga sambal yang dapat kita pilih yaitu sambal bawang khas Jawa, Sambal Hijau khas Minang dan Sambal Matah khas Bali ; semuanya mewakili cita rasa sambal asli Indonesia. Dan yang menakjubkan saya, ketiga sambal HokBen teksturnya seperti diuleg dengan cobek biasa. Bukan halus seperti diblender atau digiling jadi mirip seperti saus. Biji-biji cabe dan cacahan bawang masih terlihat dan terasa di lidah. 

Rasanya?  Kalau sambal hijau seperti ada rasa ikan terinya, jadi terasa gurih enak, kalau sambal matah terasa sekali aroma rempah dapurnya yaitu serai. Jika dibandingkan ketiganya,  saya akan mengurutkan dari nomor satu favorit saya yaitu sambal bawang diikuti sambal hijau dan yang terakhir sambal matah. 

Salah satu dari ketiga sambal tersebut dapat kita nikmati dengan membeli paket Hoka Suka yang bercirikan menu khas Indonesia yaitu acar kuning dan kering kentang dengan paduan makanan Jepang, yaitu :  



Hoka Suka 1 : berisi Yakitori Grilled, nasi, kering kentang dan acar kuning (Rp. 49.000,-)



Hoka Suka 2 : berisi Ebi Furai, nasi, kering kentang dan acar kuning (Rp. 58.000,-)



Hoka Suka 3 : berisi Chicken Katsu, nasi, kering kentang dan acar kuning (Rp. 49.000,-)

Dan, kitapun bisa mengkombinasikan dahsyatnya sambal dengan segala menu yang ada di HokBen di seluruh gerai HokBen Jawa dan Bali. FYI, setiap sambal yang dikemas dalam plastik kedap udara dengan sealed yang kuat ini bisa kita beli satuan dengan harga Rp. 5000,-.


Untuk membuktikan bagaimana sensasi dahsyatnya sambal HokBen, atas saran pak Zaki saya mencicipi Chicken Tofu Soup dicampur sambal bawang. Enak sekali. Persis seperti makan bakso gerobakan yang sambal pedasnya diguyur langsung di kuah panasnya. Aah, luar biasa rasanya. Pasti lebih enak lagi dimakan saat cuaca dingin. Jaminnn. The next, saya ingin mencoba sensasi dahsyatnya Beef Teriyaki dengan paduan sambal hijau. Sabar ya, sayang :P *lirik perut


lihat deh, tekstur cabenya masih terlihat ya 


HokBen Blogger Gathering
Dalam peluncurannya di acara HokBen Blogger Gathering yang berlangsung tanggal 22 Februari 2018 lalu, saya dan teman-teman diberi kesempatan memilih salah satu dari 3 paket Hoka Suka yang tersedia, dimana dalam menu paket ini ada kuliner khas Indonesia yaitu kering kentang yang rasa manis pedasnya tidak mendominasi dan acar kuning yang rasanya crunchy sekali.



Sebagai pelopor makanan gaya Jepang, gerai HokBen-dulu lebih populer dengan nama Hoka Hoka Bento-pertama kali berdiri di Kebon Kacang, Jakarta. Lokasi yang prestige didukung dengan sajian makanan cepat saji bergaya Jepang yang variatif, higinis dan harga terjangkau membuat resto Japannese Fast Food ini semakin disukai. Terbukti sampai sekarang HokBen memiliki 350 gerai yang menyebar di Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan.

ki - ka : Ibu kartina, peserta games memasang Udeng Bali, Pak Sajata, Pak Zaki

Ibu Kartina Mangisi Mangisi selaku Communications Division Head HokBen memaparkan, meski namanya identik dengan Jepang namun rupanya HokBen aseli 100% dimiliki oleh orang Indonesia. Saat itu, di tahun 80-an bapak Hendra Arifin tertarik mengembangkan konsep gaya makan ala Jepang karena belum ada yang melirik usaha ini. Berkat keseriusannya, beliau tidak tanggung-tanggung sampai terbang ke Jepang untuk studi banding menyesuaikan menu Jepang dengan lidah orang Indonesia. Dan hasilnya, see...? 😊😊

Saya setuju, menu makanan di HokBen citarasanya pas sekali dengan lidah orang Indonesia. Ada pedasnya, ada manisnya, ada asinnya dan ada gurihnya karena sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia yang menyukai citarasa tajam. Terlebih lagi, kekuatan HokBen sehingga disukai masyarakat Indonesia yaitu nasi. Ga sah makan kalau belum makan nasi, kan? Nah itu dia 😊



Agar selalu mendapat tempat di hati masyarakat berbagai inovasi pun diluncurkan agar konsumen semakin mendapat kemudahan dan kenyamanan. Di tahun 2007 diluncurkan Call Center dan Delivery Service supaya konsumen yang waktunya terbatas dapat menikmati kelezatan menu HokBen tanpa harus datang ke gerai Hokben. Masih belum cukup, di tahun 2008 diluncurkan website HokBen sehingga konsumen dapat dengan mudah memesan online tanpa harus menelpon lagi. Dan di tahun yang sama, agar kepastian status kehalalan sajian makanannya, mengingat orang Indonesia mayoritas beragama Islam, HokBen pun mengeluarkan sertifikat halal dari MUI dengan kategori Excellent atau sangat baik sekali. Dengan adanya sertifikat halal, dapat menentramkan hati para konsumen.


Senada dengan ibu Kartina, Bapak Jasata selaku Brand Activation Division Head HokBen mengatakan, berbagai inovasi yang dilakukan HokBen tidak lain bertujuan agar masyarakat tidak bosan. Dengan hadirnya sambal asli Indonesia diharapkan sensasi dahsyat paduan makanan Jepang dan makanan khas Indonesia dapat diterima dengan baik bagi para konsumen setia HokBen.

Nah, buat yang tertarik hang out di HokBen, Pak Zaki, Store Manager HokBen Kartika Chandra menjelaskan, resto HokBen Kartika Chandra memiliki fasilitas yang cukup memadai mengingat lokasinya yang mudah dicari yaitu di samping Hotel Kartika Chandra Gatot Subroto Jakarta. Dengan kapasitas 128 kursi, area smoking di dalam dan non smoking di luar, dipisahkan, sehingga resto HokBen terbilang friendly untuk anak-anak.

Mumpung masih sepi, area parkir HokBen KC langsung diserbu untuk futu-futu :)

Area parkirnya pun luas karena ada di pelataran HokBen, sehingga tempat ini rekomend deh untuk family gathering,  ulang tahun anak,  hang out bareng teman atau meeting dengan relasi.  Tidak usah cari-cari titik kumpul lagi. Oiya, menurut pak Zaki, bagi yang membutuhkan area privat room, di HokBen KC ada di bagian outdoor jadi tidak bakal terganggu dengan pengunjung lain. Yang terpenting, di HokBen KC juga ada fasilitas wifi untuk menunjang aktivitas kita. Penting dicatat nih 😊

Mengingat begitu komplitnya fasilitas HokBen KC, saya pun teringat saat kemarin-marin  hunting resto di BSD yang pas untuk meeting santai komunitas EO yang kakak saya handle (baca postingan saya sebelumnya mengenai  tempat meeting santai yang asik). Area smoking resto yang saya kunjungi rata-rata space-nya kecil. Hanya ada tiga meja saja, artinya hanya cukup untuk 3 pasang kursi. Bisa dimengerti koq, itu karena keterbatasan lahan dan konsumen perokok memang semakin berkurang saat ini. Akan tetapi bagaimana jika yang dibutuhkan space-nya besar karena mayoritas perokok? Bisa apa saya kecuali menuruti permintaan klien agar dicarikan space yang luas untuk area smoking. Nah, HokBen KC jodohnya lah. 😊

Untuk info lebih lanjut :
Instagram : HokBen_ID
Facebook : Hoka Hoka Bento
Twitter : @hokben
Website : www.hokben.co.id


Minggu, 25 Februari 2018

Peran Ibu Dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Februari 25, 2018 2




Sesaat setelah bayi lahir, pertanyaan yang menyeruak dalam benak saya hanya dua ; sehatkah dia, sempurnakah dia?

Menjadi seorang ibu merupakan sebuah kebahagiaan sejati. Pertama kali memandang lalu menyentuhnya tak akan dapat saya lupakan. Rasa tidak nyaman selama kehamilan seperti mual hebat, kecemasan saat bleeding terus menerus hingga harus bedrest dan puncaknya ketika rasa sakitnya pembukaan jalan lahir langsung hilang seketika. Inginnya bayi dicium-cium terus. Inginnya dipeluk-peluk terus. Gemas rasanya ya.





Syukurlah anak-anak saya lahir sehat dan sempurna semua. Walaupun, selama ini rupanya saya keliru mengambil langkah untuk menjaga kesehatan anak-anak saya. Saya salah sangka, saya kira menjaga kesehatan anak barulah dimulai setelah anak lahir. Padahal tidak. “Kesehatan anak justru harus dijaga sejak awal  kehamilan,” tutur Ibu Endang L. Ashadi, Prof, Dr, MPH, DrPH dalam diskusi kesehatan mengenai gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tanggal 20 Februari 2018 di Hotel Santika Taman Mini, Jakarta.

Jumat, 16 Februari 2018

Menjadi Broadcaster di RTV TV Station Of Kidzania, Kenapa Tidak?

Februari 16, 2018 2



Melihat tingkah anak-anak seleb yang pinter-pinter sekali nyanyi lagunya Via Valen di sosmed sontak membuat saya jadi ngikik sendiri. Ampuuunn, lucu-lucu banget, siih. Sayangnya, kata-kata cinta dan sayang yang dikeluarkan dari mulut mungil mereka bikin hati saya mendadak jadi jengah. Koq sepertinya ada yang janggal.  Sepertinya kurang pantas ya meski mereka cuma sekedar menirukan saja, tanpa ada maksud apa-apa.


Polah anak-anak yang hobi menyanyikan lagu dewasa memang sudah menjadi hal kekinian. Bukan saja anak selebriti, bahkan di acara ajang pencarian bakat yang diikuti anak-anak pun sama saja. Pesertanya bukannya menyanyikan lagu anak-anak malah justru memilih lagu-lagu dewasa. Entah apa pertimbangannya.


Tidak bisa dihindari, kurang familiarnya anak-anak dengan lagu seusianya disebabkan oleh kurangnya pengenalan lagu anak dari orang tuanya sendiri. Saya pun sempat kecolongan sewaktu Umi, ART saya duet nyanyi lagu-lagunya Rossa dengan putri saya. Berawal dari Nala yang waktu itu baru kelas 2 SD terbiasa mendengar lagu-lagu favoritnya Umi lama-lama dia jadi hapal dan akhirnya bisa nyanyi juga. *sigh


Adakah Dampak Negatif Nyanyi Lagu Dewasa?
Jika dibandingkan dengan jaman saya kecil, meskipun ibu saya tidak pernah mengajak saya bernyanyi karena sibuk cari uang, tapi ada hal penting yang membuat masa kecil saya baik-baik saja yaitu TVRI. Setiap sore habis mandi, saya duduk manis di depan TV menonton tayangan anak-anak yang mendidik dan menghibur. Pengetahuan saya jadi bertambah melalui acara cerdas cermat (sebuah kuis ilmu pengetahuan yang pesertanya adalah perwakilan dari sekolah-sekolah). Melalui acara anak-anak,  saya jadi bisa menyanyikan lagu daerah dan lagu anak juga mampu menirukan tarian Minang Din Din Badidin. 



Jujur, melihat perkembangan anak-anak jaman sekarang, yang terlintas di benak saya cuma satu. Wah ini mah bakal tua sebelum waktunya deh kalau anak-anak senangnya nyanyi lagu dewasa. Semestinya, mental anak-anak berkembang dengan sewajarnya. Apa yang dipikirkan dan dilakukannya sesuai dengan pola pikir anak-anak yaitu bermain, bermain dan bermain. 

Tapi ini sebaliknya, anak-anak sejak kecil sudah dikotori pikirannya dengan kata-kata ‘sayang’, ‘cinta’, ‘selingkuh’, ‘selimut tetangga’, ‘buaya darat’, dan lain lain yang dapat memancing keingintahuannya lebih jauh. Ke depannya nanti, kita juga yang bakal bingung gimana menjelaskannya. Hemmm... 


Sebagai orang tua tentu saja kita tidak bisa begitu saja melarang keinginan anak-anak sementara teman-temannya bebas-bebas saja tidak ada larangan dari orang tuanya. Nah, salah satu cara yang saya terapkan untuk meminimalisasi panca indera anak terhadap lagu dewasa adalah dengan mendengarkan lagu anak-anak. Saya juga rajin bersenandung dan mengajak anak-anak menyanyikan lagu anak sepanjang masa seperti Ambilkan Bulan, Amri Membolos, Becak dan lain sebagainya yang mengandung unsur pendidikan, budi pekerti dan keasikan dunia anak. Kalau lagu-lagu anak yang sempat booming seperti Abang Tukang Bakso atau Semut-semut kecil NO WAY. Tidak ada unsur edukatifnya sama sekali, bukan? Hiihihihih...

Anak Hobi Meniru, Salahkah?
Sudah kodratnya memang bila anak suka meniru. Apa saja ditirunya melalui role model terdekatnya yaitu orang tua. Saat mamanya berdandan, memasak atau mengenakan sepatu hak tinggi serta merta ditirunya. Saat papanya membaca koran, mengetik di laptop atau mencuci mobil juga tidak luput bakal ditirunya.


Seiring berkembangnya usia anak, peniruan pun berkembang. Jika selama ini yang ditirunya hanya orang terdekatnya kini semakin meluas. Profesi orang dewasa di sekitarnya pun ditirunya habis-habisan dengan bermain pura-pura bersama teman sebayanya.  Biasanya anak-anak mencontoh profesi yang pernah dilihatnya misalnya jadi dokter gigi, pilot, polisi, supir taxi, karyawan hotel, penyanyi, penari, karyawan Bank dan lain-lain.


Nah, untuk mewujudkan mewujudkan cita-citanya tanpa harus menunggu dewasa, ada sebuah kota yang diciptakan khusus untuk anak-anak bernama Kidzania. Di kota berskala kecil ini anak-anak bebas bermain peran menjadi apa yang diinginkan (ada lebih dari 100 profesi lho) dan berhak mendapat gaji juga seperti karyawan umumnya.


Namanya juga kotanya anak-anak, tentu saja jalan raya, bangunan hotel, bangunan rumah sakit, pabrik-pabrik, supermarket dan lain-lain diciptakan dengan skala kecil khusus untuk anak-anak. Di ‘kota’ ini setiap pengunjung anak dipanggil dengan sapaan ‘bapak’ dan ‘ibu’ untuk mengentalkan kesan bahwa mereka sudah menjadi orang dewasa. Asyik ya hehehe...


Menjadi Broadcaster, Kenapa Tidak?
Dari begitu banyaknya profesi yang ada si Kidzania,  untuk mengakomodir cita-cita anak-anak yang belum terwujudkan yaitu menjadi seorang broadcaster di stasiun televisi, sekarang ini di Kidzania sudah hadir wadahnya. Di establishment stasiun televisi RTV setiap ‘karyawannya’ dapat memilih profesi yang diinginkannya. Bisa menjadi Pembawa Acara (Host), Pengarah Acara (Floor Director), Pengisi Acara (Performer), Juru Kamera (Cameraman), Operator Video (Switcher), Operator suara (Soundman) sampai menjadi Penonton (Audience) juga boleh.



Tentu saja namanya karyawan, setiap anak yang bermain di sini juga mendapat gaji seperti di establishment lainnya. Akan tetapi, gajinya berbeda-beda sesuai dengan job desknya ; menjadi crew gajinya 20 Kidzos, pengisi acara 30 Kidzos dan 10 Kidzos jika menjadi audience atau penonton saja. Dengan durasi permainan selama 35 menit anak-anak yang bisa menjadi seorang broadcaster di sini ada minimal usianya yaitu 4 tahun sampai usia 16 tahun.


Peresmian Establishment RTV TV Station Of Kidzania
Dalam peresmian establishment ini tanggal 13 Februari 2018 lalu hadir Presiden Kidzania Bapak Kerry Riza dan Chief Executive Officer RTV Ibu Artine Savitri Utomo. Hadirnya establishment RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta ini merupakan bukti dukungan dan komitmen dari RTV untuk berpartisipasi mengembangkan pendidikan anak Indonesia dengan menghadirkan tayangan-tayangan yang educated dan fun. Sama halnya dengan visi Kidzania yang mengedepankan unsur pendidikan dan hiburan (edutainment), Kidzania dan RTV percaya aktivitas ini bermanfaat sekali dan bisa diaplikasikan untuk menambah wawasan anak.



Bapak Kerry Riza mengatakan, “kehadiran establishment RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta ini dapat memfasilitasi ketertarikan dan keingintahuan anak-anak terhadap dunia entertainment melalui aktivitas yang menarik dan didukung dengan peralatan digital yang modern.”



Keseriusan RTV dan Kidzania dibuktikan dengan hadirnya peralatan digital yang modern saya buktikan saat mengunjungi establishment setelah resmi dibuka. Di studio mini ini ada tiga background yang bakal dijadikan lokasi shooting pembuatan acara Dubi Dubi Dam, Fun Times dan Pesta Sahabat dan dilengkapi dengan alat standar broadcaster milik RTV. Setiap ‘karyawan’ akan belajar sambil bermain menggunakan kamera, switcher dan teleprompter sungguhan. Nah, bagi pengunjung yang karakternya ceria dan aktif bisa nih menjadi pembaca acara yang dilengkapi dengan uniform dan aksesories pendukung untuk pentas. Asik banget kan.



Konsep Fun And Experimental Learning
Duduk sebagai audience saya pikir tadinya hanya duduk menyimak jalannya shooting acara Dubi Dubi Dam saja. Tidak taunya saya dan seluruh yang duduk di bangku audience termasuk Bapak Kerry dan Ibu Artine malah dikerjain pengarah acaranya. Hadeeuuh...




Kami diminta berdendang lagu anak-anak sekaligus menari dengan gerakan yang kami tiru tim kreatif RTV untuk acara Dubi Dubi Dam. Bolak balik kami diminta mengulangi gerakannya karena kata pembawa acaranya, penampilan audience-nya kurang seru. Aaah, bisa saja hahahaha...


Dijelaskan oleh ibu  Artine, tayangan RTV yang diduplikasikan di Kidzania ada dua yaitu Dubi Dubi Dam dan Fun Times yang ditayangkan di channel RTV setiap harinya di jam 14.00 WIB. “Di program Dubi Dubi Dam anak-anak akan lebih banyak bernyanyi dan menari membawakan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Sedangkan, di program Fun Time anak-anak dapat bercerita dan menuangkan kreativitas melalui kegiatan hasta karya.”


Ditandaskan pula oleh Bapak Kerry Riza, “dengan adanya RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta diharapkan orang tua dapat lebih terinspirasi dalam mengedukasi dan menghibur anak-anaknya, karena konsep yang kami sediakan adalah bentuk nyata aktivitas orang dewasa yang nantinya akan mereka aplikasikan di masa depan.”


Yup saya setuju. Musik merupakan materi hiburan yang universal. Bukan saja anak-anak yang terpikat, orang dewasa pun sama. Banyak penelitian yang memaparkan adanya hubungan musik dengan kecerdasan hingga tumbuh kembang anak. Tapi, meskipun musik menunjukkan korelasi yang positif tetap saja kita sebagai orang tua harus pandai memilah milah musik dan nyanyian apa yang tepat untuk anak-anak. Kita pun harus cerdik memberikan aktivitas yang menghibur tapi mendidik untuk anak-anak seperti di Kidzania Jakarta. Nah, yuk ah agendakan family time dengan anak-anak di Kidzania untuk memperat bonding. Jangan lupa nyanyi bareng anak-anak yaa...



Kamis, 15 Februari 2018

Gubuk Makan Mang Engking Bikin Meeting Serius Tapi Santai Makin Asik

Februari 15, 2018 1




Sehari sebelum Imlek Jakarta diguyur hujan deras seharian bikin macet di mana-mana. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, hujan adalah pertanda kebaikan. Hujan dianggap sebagai pemberi rezeki mahluk hidup. Katanya, keberkahan akan selalu menghampiri di tahun yang akan datang. Semoga yaa....

Dan saya jadi bagian dari semua itu. Perjalananan saya menuju stasiun Palmerah terhambat macet diikuti hujan yang menderas tiba-tiba. Di stasiun kakak saya sudah menunggu. Dia minta ditemani ngaprak keliling resto-resto di seputaran BSD untuk hunting lokasi meeting. Baiklah.



Singkat cerita, sampailah kami di kawasan The Breeze BSD dan langsung menuju Resto Mang Engking dengan taxi online. Syukurlah hujan sudah berhenti.  Suasana resto yang cozy dengan pemandangan hijau ala desa menyegarkan mata saya. Dari dua pilihan area, area kursi meja atau saung ; sudah tau dong area mana yang saya pilih? *tring





Yup, saung bambu dengan atap rumbia yang dikelilingi kolam ikan looks good to take pict there buat pepotoan, yes. Sepanjang mata saya memandang ke arah kolam, ikan-ikan yang berenang membuat perasaan damai sekali. Saung bambu yang sama sekali tidak tampias terkena air hujan juga adem sekali.



Soal menu, saya kompak dengan kakak saya memilih nasi bakar. Kenapa? Karena kita cuma berdua. Mau pilih menu lain koq porsinya besar-besar sekali kira-kira untuk 4 orang gitu. Ga bakal sanggup deh menghabiskannya.

Saya pilih nasi bakar udang sementara kakak saya pilih nasi bakar ayam. Untuk mendampinginya, set tahu tempe goreng isi enam potong, sepiring kecil sambel dadak dan teh tawar panas jadi pilihan kompak kami.


Sambil menunggu pesanan kami datang, pepotoan dulu ah sebentar. Kebetulan saungnya ada bolongan di bawah meja. Jadi kita ngga perlu duduk sila tapi bisa menjulurkan kaki ke arah kolam. Efeknya, kaki terasa jadi lebih rileks deh. Adem banget. Cobain deh.

Tidak lama pesanan kami datang juga. Nasi bakar hangat dengan wangi daun pisangnya membuat saya tidak sabar menikmatinya. Tapi, “sebentar ya, nek, foto dulu,” celetuk saya sambil menyambar nasi bakar kakak saya. Ngok, kakak saya ngurut dada. Hahaha...


Sambil ngobrol, tidak sampai 20 menit tandas juga piring makan kami. Nasi bakar ludes, tahu tempe tak bersisa, sambel dadak licin piringnya. Tinggal menyesap teh panas yang sudah berkurang panasnya dan sepiring otak-otak yang disajikan karyawan Mang Engking masih menunggu untuk dicicipi. “Mau, nek?” tawar kakak saya. Saya menggeleng, sambil mengusap perut. “Happy tummy, nih!” hahahaha...



Sambil menunggu makanan dicerna dengan baik, kami kembali ngobrol ngalor ngidul menikmati ‘me time’ yang jarang-jarang seperti ini. Bersama kakak rasa temen ini memang boleh dibilang hubungan kami dekat. Seperti teman aja. Ga ada rahasia (iyakah? Tau deh hehehe...).

Dari beberapa lokasi resto yang kami kunjungi, memang hanya Mang Engking yang paling ideal untuk acara meeting komunitas kakak saya. Persyaratannya itu lho, maunya tempat yang smoking area tapi privat, ngga di teras atau lobbi luar seperti resto atau cafe lainnya yang memisahkan no smoking area di bagian dalem dan smoking area di bagian luar. 

Di Mang Engking memang ideal. Lokasi saung yang privat, alias tidak campur baur dengan pengujung lain dan berada di area terbuka membuat meeting dengan bapak-bapak yang sebagian besar perokok tapi pingin ngobrol asik sambil leha-leha dengan pemandangan khas desa pas banget kan.

Lokasi Resto Mang Engking ada di kawasan The Breeze BSD di jalan Grand Boulevard BSD City, The Breeze Unit L67 – A-C, BSD City. Ada berbagai kuliner yang bisa kita nikmati dari mulai menu Seafood seperti aneka hidangan dari udang, aneka hidangan dari cumi dan aneka hidangan dari Kepiting Soka. Selain hidangan laut ada juga pilihan dari ikan air tawar seperti aneka hidangan dari Gurame, aneka hidangan dari Bawal dan aneka hidangan dari Bandeng. 

Nah, buat yang tidak suka anyirnya ikan-ikanan ada pilihan menu juga dari aneka hidangan ayam, Burung Puyuh dan Bebek dan iga sapi yang diolah jadi beraneka menu juga.  Untuk sayuran ada aneka tumisan, aneka sop dan sayur asem. 

Untuk nasi, selain nasi putih, ada nasi bakar, nasi liwet, nasi goreng dan nasi merah sedangkan untuk pendampingnya mau tahu tempe bisa atau jengkol dan pete juga ada. Karedok, balado terong, ikan peda, dan aneka sambal dengan lalap yang segar bikin napsu deh. Pesan saya, tentukan duluan mau makan apa biar ga kelamaan bolak balik buku menu ya hihihi...

Di Mang Engking menariknya selain menu utama yang mengenyangkan, ada juga snack dan aneka minuman jus dan aneka minuman dingin dan panas seperti kopi, Ronde, Secang dan Teh. Jadi kesimpulannya memang pas sih kalau mau ngadain meeting yang serius tapi santai di sini. 



Sabtu, 10 Februari 2018

Main Sambil Belajar Dan Berkreasi Dengan Coklat Di Kidzania

Februari 10, 2018 4


Sekarang bulan Februari, bulan penuh cinta katanya. Entah benar atau tidak. Tapi jika mengingat bulan Februari saya jadi ingat dengan seorang secret admirer saya jaman SMA dulu. Dia diam-diam seringkali meletakkan sebatang coklat di laci meja saya. Romantis ya? *iyeuuhhhh :P

Meskipun tidak terlalu suka makanan manis-manis seperti coklat, tapi manisnya moment-moment tersebut masih saya ingat sampai sekarang. Bagaimana bisa lupa, bahkan, di saat moment ulang tahun saya pun, suami dan anak-anak juga masih memberikan kado berbatang-batang coklat untuk mereka ganyang bareng-bareng. Hmmm, cerdik ya, ngasih kadonya koq coklat? hahahaha...

Mitos Dan Fakta Mengenai Coklat
Berbeda dengan saya yang kurang suka makan coklat karena takut jerawatan, anak-anak dan suami saya justru suka sekali ngemil coklat. Sampai-sampai saya perlu memberi batasan. Ngga boleh banyak-banyak ngunyah coklat karena mahal supaya terhindar dari radang tenggorokan.

Eh, eh, eh tapi benar ga sih kalau coklat bisa menyebabkan jerawat dan radang tenggorokan?




Dalam talkshow mengenai gizi yang terkandung dalam coklat 9 Februari 2018 kemarin, seorang ahli gizi yang sering tampil di televisi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes membantahnya. Radang tenggorokan terjadi karena adanya infeksi virus dan bakteri yang menyerang saluran pernapasan atas. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya antara makan coklat dan sakit radang tenggorokan.

Begitupun dengan jerawat. Tonjolan-tonjolan kecil yang kalau kondisinya parah ada nanahnya ini disebabkan oleh adanya perubahan hormon di masa pubertas, kehamilan atau jelang menstruasi dan tidak membersihkan wajah dengan baik sehingga menyebabkan sumbatan akibat penumpukan sebum di kulit. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali antara makan coklat dengan jerawat.

Menurut Dr. Rita, sakit radang tenggorokan dan jerawat bisa jadi disebabkan oleh konsumsi coklat abal-abalan yang tinggi kadar gulanya dan mengandung lemak jenuh. Tingginya kadar gula dan minim kandungan kakao dalam coklat abal-aballah yang berbahaya untuk kesehatan karena dapat  menyebabkan anak jadi obesitas, kerusakan pada gigi dan membuat anak beresiko terkena diabetes melitus.




Ditandaskan oleh Dr. Rita, coklat sama sekali tidak menyebabkan anak jadi hiperaktif. Yang membuat anak khususnya anak berkebutuhan khusus misalnya autis jadi hiperaktif adalah kandungan gluten yang ada di roti coklat. Nah, ini yang perlu diluruskan ya; coklat ya coklat, roti ya roti. Jadi bukan coklatnyalah yang membuat anak jadi hiperaktif tapi roti yang isinya coklat. Nah, makanan yang mengandung gluten seperti roti sebaiknya memang dihindari untuk dikonsumsi untuk anak penderita autis. Jelas ya J



Untuk itu, sarannya, konsumsilah coklat yang kandungan biji kakaonya sebanyak 70% atau setidaknya yang kandungan kakaonya 33%. Kandungan kakao yang rendah yaitu hanya sekitar 20% atau bahkan yang 7% seperti coklat abal-abal sebaiknya jangan dikonsumsi. Karena kita cuma mengkonsumsi gula saja tapi tidak mendapat kebaikan coklat.

Manfaat coklat
Padahal, coklat sangatlah baik untuk kesehatan karena coklat mengandung lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D dan vitamin E. Dalam sebatang coklat juga ada kandungan mineral berupa zat besi, kalium, kalsium, dan magnesium. Flavonoid dalam coklat juga memiliki efek sebagai anti trombotik (anti penggumpalan darah) sehingga stroke karena penyumbatan dan kematian akibat gangguan pembekuan darah dapat dicegah. Hebatnya lagi, rupanya di dalam coklat juga terkandung senyawa fenolik dan flavonoid dimana zat ini berkolaborasi dengan epikatekin yang dikenal para ahli sebagai zat yang dapat membunuh sel penyebab kanker.



Nah, ternyata dengan mengunyah coklat saja dapat mengurangi resiko terkena kanker ya? menurut Dr. Rita, kandungan flavonoid di dalam coklat yang berperan sebagai zat antioksidan rupanya memiliki efek tiga kali lebih besar dibandingkan teh hijau. Tentunya sebagai antioksidan dan penangkal radikal bebas, zat flavonoid yang tinggi di dalam coklat juga mampu mencegah penuaan dini sel-sel. Yang terpenting, pesannya, meskipun coklat sangat baik untuk kesehatan tapi ya dikira-kira juga makannya. Jangan berlebih-lebihan J


Berkreasi Melalui Dunia Masak
Dalam talkshow yang berlangsung di Main Square Kidzania sebuah theme park atau ‘kota’-nya anak-anak yang mengedepankan unsur edutainment (pendidikan dan hiburan) ini turut hadir juga seorang chef cilik asal Bandung yang baru berumur 5 tahun, Chiellyn Ashley.  Melalui akun Instagram @chiellyn-ashley, little cheff ini aktif berbagi informasi seputar DIY food creation dan ga nyangka juga saya, saat ngepoin akunnya, rupanya followernya sudah mencapai lebih dari 15 ribu follower. Woow J



Menurut Mamanya, memiliki anak yang memiliki ketertarikan pada dunia memasak sangat bermanfaat sekali untuk tumbuh kembangnya. Lewat masak, Elin jadi punya pengalaman bermacam-macam yang membantunya belajar dengan cara yang fun. Mamanya mencontohkan, saat membuat kue, Elin jadi belajar menakar ukuran, menimbang adonan, membaca step by step resep dengan seksama. Melalui masak ia pun belajar melatih kepercayaan dirinya, mengembangkan kemampuan motoriknya dan mengasah kepekaan inderanya saat bersentuhan dengan alat dapur yang berbahaya seperti pisau dan kompor.



Untuk membuktikan kepiawaiannya,  Elin pun melakukan aksi cooking demo membuat Pop Cake dan menghiasnya kemudian dilanjutkan dengan lomba membuat kreasi coklat dan menghias karakter tokoh-tokoh Kidzania yang diikuti oleh anak-anak TK. Tentunya, dengan kegiatan ini diharapkan anak-anak dapat mengasah imajinasinya dengan berkreasi di dunia masak sepertinya.


Kidzania Fun Chocolate Creation With Siver Queen
Ibu Fani Moe selaku Marketing Communication Manager juga menyampaikan hal senada. Dengan adanya event Kidzania Fun Chocolate Creation With Silver Queen seperti ini diharapkan bonding antara orang tua dan anak akan semakin erat dengan quality time membuat coklat bersama-sama. Keinginan tersebut sesuai sekali dengan visi misi Kidzania selama ini yang ingin mencerdaskan anak Indonesia dengan kegiatan yang menghibur dan mengedukasi dengan terus mengadakan berbagai event menarik untuk mengakomodir rasa keingintahuan dan ketertarikan anak.


Di event Kidzania Fun Chocolate Creation With Silver Queen yang berlangsung selama minggu ke dua bulan Februari ini, Kidzania memberikan diskon tiket masuk sebesar 40% untuk pengunjung Kidzania. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, anak bisa belajar langsung dari ahli gizi mengenai manfaat konsumsi coklat, menyimak cooking demo yang mudah dipraktekkan di rumah hingga berkreasi membuat coklat yang hasilnya boleh dibawa pulang.



Nah, agendakan yuk akhir minggu ini ke Kidzania bareng anak-anak, karena program ini hanya ada setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu saja. Program ini hanya berlangsung selama minggu kedua Februari ini saja dan  berlangsung sebanyak dua sesi saja yaitu siang dan sore dengan peserta sekitar 40 orang di tiap sesinya. Sampai jumpa ya di Kidzania, siapa tau kita ketemuan nih hihhihiii...