Jumat, 30 Oktober 2015

Ceker Ayam dan Cinta Tak Berbatas

Oktober 30, 2015 6
Cerita mengenai Ibu memang ngga ada habisnya :)

Kemarin pagi sesuai janji, jam 11 siang saya baru sampai di rumah Ibu untuk gantian dengan kakak menemani Ibu. Yaah, namanya juga rumah di pelosok, sebelum jam 8 pagi berangkat dari Cileungsi, rupanya tetap aja lama juga perjalanannya, sampai Rawa Belong tetap aja 3 jam. Hadeeuh, memang musti benar-benar panjang usus deh, sabar dibanyakin hehehe.. 

Kebetulan dari halte busway Sasak Kelapa Dua, Indah, keponakan yang tinggal di rumah Mbahnya ini belum berangkat sekolah, jadilah saya dijemputnya. Di perjalanan menuju rumah, katanya, "Mbah putri belum makan, Tan. Tadi ga mau sarapan, bosen kali beli masakan mateng terus.

Astaga, ini sudah jam berapa? Bentar lagi jam makan siang, lho! Mendadak saya panik. Membayangkan Ibu harus minum obat. Membayangkan pasti beliau sudah lapar sekali jam segini. 

Daaaan, benar aja, baru sampai di teras rumah, Ibu terlihat sedang duduk cantik menatap pintu depan ke arah teras. Dia menunggu kedatangan saya dengan sabar. Senyumnya mengembang lebar saat melihat saya turun dari motor. 

"Bu, kata Indah Ibu belum makan, ya? Tanya saya buru-buru ; mengejar waktu. 

"Beluum. Ngga pengen. Bosen." Jawabnya dengan cedal. Suara Ibu memang belum pulih sempurna, sejak Stroke menghampirinya Mei lalu. 

"Terus mau dibeliin apa?" Ibu menggeleng, ngga mau. 

"Terua mau dimasakin apa? Mba Titin masih dagang apa ngga nih, udah siang begini?" 

"Ayam rica-rica. Ayam dikecapin." Jawab Ibu lagi penuh harap. 

Saya bengong. "Dua-duanya? Ngga salah?" 

Ibu mengangguk. 

"Astaga, ngidam nihh yee...," ledek saya gemas. Ibu terkekeh-kekeh geli melihat saya yang seperti orang kebakaran jenggot. Panik. 

Buru-buru saya bongkar stok kulkas dan wadah bumbu dapur kira-kira apa aja yang harus dibeli. Setelah itu saya pontang panting ke lapaknya mba Titin, tukang sayur yang rupanya masih leha-leha di lapaknya. Untung, semua bahan yang diperlukan masih ada. Alhamdulillah :)

Dengan jurus seribu bayangan*haiisssh* segeralah saya mengolah pesanan spesial kanjeng Ratu ini. Dua kompor saya nyalakan sekaligus. Kemudian, satu setengah jam berikutnya... tarrraaa... Dapur berubah seperti Kapal terbang jatuh. Eh apa iya seperti itu kalo kapal jatuh ya? dono aah.. hahaha.. 

Dua mangkuk besar saya hidangkan didepan Ibu; Ayam rica-rica dan Ayam masak kecap. Kemudian tambahannya lalap rebusan labu siam muda plus satu menu lagi Sambal goreng Kentang Ati Ayam. Saya sengaja masak agak banyak rencananya untuk stok lauk Ibu jika saya pulang nanti. 

Segera setelah mendulang (menyuapi) Ibu dan meminumkan obat, Ibu menyuruh saya untuk makan siang. Dia ngga mau saya antar ke kamar untuk tidur siang sebelum saya makan. 

Oke deh, menyenangkan hati Ibu, saya makan siang di hadapannya. Melihat porsi nasi saya yang cuma semunil, dia protes. "Koq dikit makannya?" 

"Lagi diet. Wetengku udah gede tau, sesek bajunya." 

Belum puas, kali ini Ceker Ayam yang jadi peneman lauk makan siang saya ikut diprotes juga. "Itu, makannya pake itu!" Tangannya menunjuk mangkuk besar berisi ayam rica-rica. 

Saya tau apa yang dia maksud. Ada daging ayam tapi kenapa cekernya yang diambil?

Spontan saya menggodanya. "Buat Ibu aja ayamnya, aku mah makan cekernya aja." 

Ibu tergelak lagi, ketahuan jika saya cuma menggodanya. 

Dia terus memperhatikan saya makan sampai habis. Tertunduk saya cuma bisa mbrebes mili.

Duuh Ibu, aku ini memang putri bungsu kecilmu yang tetap aja kecil di matamu. Sampai kapanpun dan berapapun usiaku aku akan tetap menjadi seorang anak. Naluri keibuanmu tetap ngga membiarkan anakmu ini lapar. 

Padahal, aku ini sama sepertimu sekarang, telah menjadi Ibu dari tiga cahayanya. Yang sama ngga teganya membiarkan anaknya lapar. Yang mengalah makan bagian yang ga terenak dari suatu hidangan dan memberi bagian yang enak-enak pada anaknya. Aku sama sepertimu, Ibu. 




 







Senin, 26 Oktober 2015

Sayur Cemplang Cemplung

Oktober 26, 2015 13

Kemarin saya lihat di kulkas cuma ada sawi putih, santan instant dan teri asin. Di lemari stock saya lihat masih ada kacang tanah teronggok manis di pojokan. Alhamdulillah. Terakhir saya buka wadah bumbu-bumbu;cabe, bawang, bumbu dapur semua komplit. Ahaa, masak apa ya jadinya?

Dengan bahan seadanya akhirnya saya masak sayur santan sawi putih dan bikin balado teri kacang aja. Tadinya sih sawinya mau ditumis aja tapi kan udah beberapa hari masak tumisan. Kayanya sayuran berkuah lebih pas deh, maksudnya biar ga gampang kena sakit tenggorokan lagi aja sih hehehe...

Setelah matang, seperti biasa kami sekeluarga harus makan sama-sama. Mas Tsaka yang biasanya susah makan-sampe badannya juga paling ceking-tumben-tumbenan komentar, "Ini nama masakannya apa, Bu? Enak deh."

Belum lagi saya menjawab, si bungsu Dega nyeletuk, "namanya sayur cemplang cemplung, Mas. Ibu kan gitu kalo masak, dicemplang cemplungin aja tau-tau mateng."

Hahahhaaa... semua sontak tertawa geli, termasuk saya. Kemudian tanpa dikomando semuanya mendadak teringat berbagai cerita soal cemplang cemplung dan saling berkomentar timpal menimpali sambil tertawa lepas.

Saya manyun juga diserang sana sini, tapi mengiyakan juga sih apa kata Dega, kakak-kakaknya dan suami saya. Boleh dibilang sayur cemplang cemplung ala saya itu adalah masakan kepepet aja. Apa yang ada di kulkas, itu yang saya optimalkan dengan baik. Kreatif kan? Ehemm :D *sesak bajunya

Pernah bumbu gulai instant yang saya punya (umumnya dimasak dengan bahan utama ayam atau daging) karena pas kebetulan ngga ada bahannya, maka bakso, buncis dan tahu pun saya maksimalkan.

Pernah juga toge, tahu dan daun bawang yang biasanya saya tumis, saya olah menjadi Soto. Iya, biasanya soto kan pake ayam atau daging, tapi ini ngga, bumbu bahan soto saya uleg dan tumis kemudian beri kuah banyak. Setelah mendidih, tahu yang telah saya potong kotak dan goreng setengah matang saya campurkan dengan toge dan daun bawang irisnya. Hahaaa, ini juga sayur cemplang cemplung lho.

Sayur bening pun bisa dari apa aja. Pernah, ketimun saya potong-potong dan saya jadikan sayur bening. Kulit semangka bagian putihnya juga pernah saya sayur bening. Apa lagi ya, oiya, sayur bening dari bayam dan ubi merah (wortelnya ga ada sih!) juga pernah. Enak juga lho hehhee...

Pernah juga soun saya jadikan balado. Ceritanya pas sehari sebelumnya saya udah terlanjur bikin bumbu merah agak banyak untuk sambal goreng. Biasa deh, namanya juga emak emak pelit, sayang dibuang maka saya berdayakan soun yang tadinya mau dijadikan Soun goreng ganti cashing jadi Soun Balado. Tapi ngga ada yang protes tuh sama masakan saya.. hihihi..

Kreatif saat kepepet itu rasanya juara banget menurut saya. Ketar ketir penasaran seperti apa rasanya, enak atau ngga, pas matang dan cocok rasanya di lidah keluarga itulah juaranya. Seneng banget. Tapi bila hasil masakannya ga cukup enak *halagh*, saya terpaksa egois bilang ke semuanya dengan judes, "udah ah, telen aja napa sih!" :D

Minggu, 25 Oktober 2015

Simponi Kehidupan di K2 Park Gading Serpong

Oktober 25, 2015 15


Hunian dalam bentuk apartment memang sudah ngga asing lagi bagi warga kota besar yang mempunyai kesibukan cukup tinggi dan menginginkan kenyamanan privately. Berbagai model dan fasilitas ditawarkan dengan harga yang bervariasi. Istilah Jawanya adalah “ono rupo, ono rego”. Ada rupa ada harga.

Sebagai contoh aja, Apartment di tengah kota itu tentu harganya lebih fantastis, berbeda dengan di pinggiran kota. Namun lokasi apartement di tengah kota mempunyai nilai lebih;hemat waktu, hemat uang dan hemat biaya dibanding apartement di pinggir kota. Kemudian apartment di tengah kota yang fasilitasnya cuma seadanya konon hampir sama harganya lho dengan apartement di pinggir kota tapi mempunyai fasilitas serba ada. Hayoo, bingung kan mau pilih yang mana? Sama, saya juga jadi bingung milihnya hahaha…

Yowes, ngga usah bingung-bingung lagi aah. Yang penting sebelum memutuskan membeli apartment itu kita harus tau dong ya beberapa tips agar  ngga kecewa siap lahir bathin. Apa aja yang harus diperhatikan? Cekidot yaa J

v Perhatikan lokasi dan akses jalannya.
v Perhatikan fasilitas dan Benefit lainnya
v Perhatikan kredibiltas pengembang propertinya
v Perhatikan Harga dan biaya Rutinitas lainnya

Nah, hari Kamis 22 Oktober 2015 kemarin saya dan teman-teman dari KEB (Komunitas Emak blogger) diundang gathering oleh perusahaan pengembang Prioritas Land. Ditemani pak Dihar Dakir Public and Investor Manager Relation Prioritas Land kami banyak bertanya  mengenai K2 Park.

Apa itu K2 Park?


K2 Park (berasal dari kata K2 = Kelapa Dua) adalah sebuah hunian berkonsep Superblock pertama di kawasan Gading Serpong. Beneran ini lho, pertama boo J

Apa itu ya Superblock? Jadi Superblock merupakan sebuah kawasan hunian yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas, seperti Hotel, tempat belanja, tempat pendidikan, kuliner dan berbagai fasilitas hiburan lainnya dalam satu area. Konsep Fun, Style and Fashion as the symphony of living menjadikan K2 Park diharapkan menjadi symbol gaya hidup berkelas masa kini. Yes, cocok buat keluarga muda dan mahasiswa nih J

Jadi kalau mau belanja tinggal turun, mau belajar juga tinggal jalan kaki aja ke tower sebelah. Jika mau ada tamu nginep, gampiil, tinggal antarin aja ke Harris hotel di tower sebelah. Ngga usah keluar lingkungan lagi deh  J

Di mana lokasi K2 Park?




¨     K2 Park berada di jalan raya Kelapa Dua Gading Serpong Tangerang seluas 3,2 Hektar.

¨     K2 park pun berada di lokasi emas yaitu perumahan Lippo Karawaci, Gading Serpong, BSD, Alam Sutera dan Modernland dimana akses jalannya juga cukup mudah. Hanya 5 menit ke tol Jakarta-Merak dan 15 menit ke tol Jakarta-Serpong. Wiiyyhh…

¨     K2 Park diapit beberapa universitas/sekolah ternama seperti UPH (Universitas Pelita Harapan), Swiss German University, Jakarta Nanyang School, Bina Nusantara, Prasetya Mulya, Stella Marris International school dan Sekolah Tarakanita. Mantaapp…

¨     K2 Park berada dekat dengan Mal Lippo Supermal Karawaci, Sumarrecon Mal Serpong, Mall of Alam Sutera, BSD Square, BSD Plaza, Terras kota dan Living world. Aiih, mau hang out ke mana yaa?  

¨     K2 Park juga berada dekat dengan Rumah sakit Siloam Hospital karawaci, RS St. Carolus, RS Awal Bross, Eka hospital BSD, RS Mayapada. Nah, silakan depeleh depeleh.. hehehe

Strategis banget  lokasinya, kan? Akses jalan dan beragam fasilitas umum itu merupakan syarat mutlak sebelum memutuskan membeli hunian. Yess, catett…

Apa aja Fasilitas K2 Park?



K2 Park rencananya akan dibangun sebanyak enam tower. Tower pertama adalah Harris Hotel, kemudian empat Tower untuk hunian (Arkose, Moraine, Mineet dan Scoria), dan satu Tower untuk Education Centre and Office.

·        Tower pertama adalah Harris Hotel, hotel berbintang empat yang terdiri dari 200 kamar.
·        Tower ke dua sampai lima, adalah hunian apartment type studio dengan luas masing-masing sebagai berikut :

Forte luasnya 24,5M2
Largo luasnya 25,2 M2
Solaire luasnya 26,8 M2
Maestro luasnya 29,1 M2
Allegra luasnya 29,1 M2

Tower hunian ini terdiri dari 32 lantai untuk masing-masing tower, dimana 1 lantai berisi
20 unit. Jadi total ada 640 unit dalam 1 towernya. Guedee bingitt :D

·        Tower terakhir yaitu Education Centre and Office dimana nantinya akan dibangun sekolah sekretaris, sekolah music, dan sekolah public Relation. Dengar-dengar Universitas Tarumanegara di bilangan Grogol Jakarta Barat juga akan melebarkan kelasnya di sini lho.. woowww :D


Selain itu fasilitas di K2 Park semakin lengkap dengan adanya Sunken Mal sebuah area komersil seperti pusat perbelanjaan, cafe dan restaurant di area bawah tanah. Untuk pecinta olah raga disediakan juga lapangan basket, jogging track, fitness centre, kolam renang dan lain-lain. Komplit sekali.



Menurut pak Dihar, pembangunan tower hunian K2 Park berjalan secara parallel sampai serah terima sekitar akhir 2018. Dari dua tower yang diluncurkan belum lama ini, tinggal 10 persen aja sisanya yang belum terjual. Hal tersebut diamini oleh Marcellius Chandra Presdir Prioritas Land yang saking sibuknya sampai meluangkan waktunya sejenak menemui kami. Beliau berkata, “Meski ekonomi sempat melambat tapi kami tetap optimis. Kebutuhan pasar property selalu ada sementara itu harga property selalu naik. Kami yakin.”

Bagaimana dengan Kredibilitasnya?
Bicara soal kredibilitas, nama perusahaan pengembang property Prioritas Land Indonesia boleh dibilang ngga bisa dianggap sepele. Berkat kepiawaian lelaki kelahiran 1979 ini proyek pertama dengan rekan-rekannya Majectic Point Villas di Bali diikuti dengan kesuksesan Majectic Point Apartment di Serpong. Tiga proyek besar berikutnya adalah Apartment Indigo di Bekasi, K2 Park Superblock di Gading Serpong dan perumahan bernuansa air di Tiga Raksa, Airia membuktikan kredibilitas Prioritas Land Indonesia meski baru lima tahun berdiri.

Dalam sambutannya, beliau bercerita mengenai latar belakang dan impiannya. Siapa sangka jika bakat lelaki asal Surabaya ini dalam bisnis property justru didapatnya secara otodidak. Berkat passionnya yang kuat dalam bidang property-dukungan penuh untuk kegigihannya datang dari orang tuanya yang berprofesi sebagai Kontraktor-sehingga beliau pantaslah didapuk menerima aneka Award atas prestasinya, seperti :

v Property and Bank Magazine Award, 2013 - 2014
Marcellius Chandra Top Admired CEO 2014
PT Prioritas Land Indonesia (Pertumbuhan bisnis Tercepat 2013-2014)

v Property Indonesia Award, 2014
K2 Park – The Progressive Mixed Use Development

v Anugerah Bussines Review, 2014
Marcellius Chandra The Best CEO of the year

v Residence Indonesia Award, 2014
K2 Park – Superblok dengan konsep Green Development terbaik di Tangerang Selatan

v Action Coach Award, 2014
Marcellius Chandra, CEO of the year

Nah, soal kredibilitas PT Prioritas Land Indonesia sudah ngga diragukan lagi ya? Track recordnya jelas banget. No abal-abal hahaha... 

Benefitnya apa saja di K2 Park?
Penting banget ini mengetahui keuntungan dan manfaat membeli K2 Park baik sebagai penghuni atau untuk dijual kembali.

v Terinspirasi dari alam, K2 Park mendukung penuh konsep pelestarian lingkungan. Seluruh area didominasi taman terbuka hijau yang rindang lengkap dengan fasilitas mewah dan berkualitas. Selain itu Water Pods yang berfungsi sebagai artificial tree (pohon buatan) akan menampung air hujan sekaligus sebagai peneduh dari terik matahari.

v Kawasan K2 Park memiliki infrastruktur yang baik dibanding kawasan lainnya, sehingga prospek keuntungan bagi investor dipastikan akan tumbuh cepat.

v Ke depannya akan disediakan shuttle bis ke area hunian sekitar.

v Fasilitas parkir 3:1 cukup melegakan bila dibandingkan dengan Jakarta yang 5:1.

v Cara bayarnya sangat unik. Uang muka (DP) bisa diangsur sampai 3 tahun, lalu ada konsep libur bayar juga. Hal tersebut ditegaskan oleh pak  Marcellius Chandra, “intinya sih kami ingin memberi kesempatan ‘bernafas’ dalam membayar bagi konsumen.”

Harganya gimana?
Nah ini dia, soal harga jangan deg-degan duluan ya. Kisaran harga apartment K2 Park dimulai dari Rp 500 jutaan sampai Rp 700 jutaan dengan cicilan perbulannya sebesar 5 jutaan aja. Menurut saya sangat worth it-lah ya dengan konsep hunian all in seperti ini gitu lho. Bayangin aja, apabila ngontrak atau sewa pun kisarannya juga di angka Rp 3 - 4 jutaan, tapi TETEP aja ngga bakalan jadi milik sendiri, ya kan? 

Sekarang masih bingung dengan pembayarannya? Jangan deg-degan lagi aah, K2 Park menawarkan berbagai alternative dalam pembayaranya.

DP 30% maka cicilannya diangsur 36 kali. Pelunasan di bulan ke 37
DP 10 % maka cicilannya diangsur 47 kali. Pelunasan di bulan ke 48.
DP 30% kemudian libur 1 tahun, sisa cicilan diangsur 12 kali

Jika Cash Keras alias Tunai bertahap, dengan 8 kali cicilan ada hadiah yang bisa dibawa pulang, logam mulia 45 gram atau mobil Honda Brio. Ihiiyyy, asiiik banget.

Eeiit, bentar dulu, ada promonya juga lho yaitu mengangsur tanpa lewat Bank atau cicil 99 kali tanpa DP.Bener kata pepatah ya, banyak jalan menuju Roma. Eh salah, banyak jalan untuk bisa memiliki K2 Park ya? Hahaha…

Saya salut, jika saya umpamakan K2 Park itu merupakan Superblok yang sangat komplit, berarsitektur keren dan mendukung pelestarian lingkungan dengan cara bayarnya yang sangat bervariasi dan memudahkan konsumen. Bagai harmonisasi yang saling bertautan.

Nah, jika masih penasaran, silakan berkunjung ke :
FB : Official Prioritas Land Indonesia
Twitter : @Prioritas_Land
Youtube : Prioritas Land
Website : www.prioritaslandindonesia.com
















Senin, 19 Oktober 2015

TRIP Di Jalur Tengkorak, Waduk Cirata

Oktober 19, 2015 4
Seperti biasa agenda jalan-jalan di keluarga kami selalu spontan aja. Yang penting duitnya ada, waktunya ada, stamina juga ada maka sopir cantik penuh talenta ini *cieee* mah hayu aja. Target ke Waduk Cirata yang semalam digadang-gadang sambil lalu aja, ngga sangka esok paginya jadi juga dijabanin. Yeaaayyy...

Jangan kaget ya, begitulah jika jalan-jalan sama keluarga, ada aja riweuhnya. Rencananya selepas Subuh sudah berangkat, jadi molor jam 9 pagi. Hadeuuhh, lagu lama banget yah? hahahaa.. Tapi ini bukan masalah koq, toh cuma jalan-jalan iseng aja. Pengen nguji nyali mumpung ada ayahnya anak-anak. Ehem ehemm...

Okelah sekarang kita mulai dari RUTE ya. Dimulai dari Cileungsi kami mengikuti jalan ke arah Jonggol - Cariu - Cikalong - Cirata. Di perbatasan Jonggol-sampai di pertigaan-kami belok ke kanan ke arah Bandung, sementara kalau ke kiri kan ke arah Karawang.

Mulai dari sini, jalanan mulai berkelok-kelok tajam. Tanjakan dan turunannya lumayan bikin deg-degan juga. Untungnya sih jalanannya bagus aspalnya. Kecepatan saya ada di range 30 - 40 km/jam dengan main di gigi 2 dan 3 aja. Main asyik aja pokoknya hehee.. 
Memasuki PLTA Cirata

Jalanan berkelok tajam

Sampai ujung jalan kami kembali ketemu pertigaan. Saya baca rambunya, ke arah kanan ke Cianjur dan Bandung sementara ke kiri ke Cikalong dan Purwakarta maka saya ambil ke kiri.
Mulai di sini jalanan sudah lebih datar ngga seperti tadi. Hambatan hanya jalanannya aja yang sedikit rusak hampir 1 km setelah kami melewati pasar Cikalong, selebihnya lancar jaya.
Perjalanan santai selama kurang dari 3 jam berakhir di gerbang PLTA Cirata. Kami diberi kartu pass untuk memasuki area PLTA. Ini gratis lho.

Free Pass tanda masuk PLTA Cirata

Sumpah, di sini tuh indah banget pemandangannya. Bayangin aja, di sebelah kanan ada bongkahan batuan gunung, sebelah kirinya hamparan luas danau Cirata dan di depan saya jalan sempit berkelok-kelok. Hiekz, suami saya sampai beberapa kali mengingatkan saya, dia tau saya kelamaan 'belanja' mata terpesona kanan kiri pemandangan.

Suka banget foto di sini, jalur tengkorak euuy :)

Mengikuti barisan mobil yang parkir di tepi jalan, saya mengajak anak-anak turun dari mobil untuk foto-foto. Puas di sini, kami melajukan mobil lagi sampai di ujung gerbang PLTA dan menyerahkan kembali kartu pass tadi tanda kami sudah keluar dari area PLTA. Sempat saya menanyakan pada petugas gerbang pengawasnya, dimana lokasi pemancingan dan kulinernya berada.

Berdasarkan panduan, katanya lokasi kuliner di Cirata namanya BUANGAN. Sempat saya salah duga, setelah beberapa meter keluar dari gerbang pengawas di sebelah kiri jalan ada lokasi kuliner. Tadinya saya hampir membelokkan mobil ke situ tapi suami saya ngga sreg. "Buangan kayanya bukan ini deh, Bu."

ow oww... okelah jalan lagi. Pelan-pelan kami menyusuri jalan ini, beberapa meter berikutnya di sebelah kanan ada papan penunjuk jalan, tulisannya : BUANGAN.
Saya berhenti sebentar, menebak-nebak kira-kira ini bukan ya yang disebut Kuliner Buangan? Kembali feeling suami saya main. "Ngga, ngga, bukan ini. Ini mah papan penunjuk nama Jalan buangan, Bu."

Okelah, jalan lagi. Beberapa meter lagi kami melaju, di sebelah kanan ada Batu penanda bertuliskan WISATA CIRATA. "Yawda kita ke sini dulu deh, sambil nanya-nanya lagi. Kalo ngga ketemu, ya udah. Pasrah kita. Toh kita udah sampe tempat wisatanya kan, masih bisa naik perahu keliling danau kan?" Putus saya.

Di loket, kami membayar tiket masuk. Untuk motor dikenai tarif Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000 tanpa dihitung jumlah orangnya. Penasaran, saya bertanya pada pak penjaga loket di mana lokasi kuliner Buangan. Ahaay, pucuk dicinta ulam pun tiba. Lokasi kuliner Buangan di sinilah rupanya berada. Yess.

Beres urusan tiket, perlahan kami masuk ke area wisata. Astaga banyak sekali warung makan lesehannya. Sempat bingung cari parkir maka saya bablasin nyetir sampai ujung dan pas kebetulan ada satu lahan parkir buat saya. Alhamdulillah.

Turun parkiran, menurut abang parkirnya, kalau mau parkir di situ ya harus makan di warung situ juga. Tampaknya dia sebel liat mata saya jelalatan ngincer point view favorit saya yang dekat air. Katanya, "di sini semua warung sama aja makanannya, Bu."



Iya deh, kami nurut hehehe... Nama warung makan tempat kami berlabuh adalah warung lesehan Abah. Lokasinya mentok, dari pintu loket posisinya ada di paling ujung kiri dekat ke bibir Waduk. Nah, sampai sini saya skip info dulu ya soal warung lesehan ini.
Makan di sini unik lho. Biasanya jika makan di suatu tempat hitungannya adalah porsi, di sini beda lagi. Sistemnya yaitu nasi dihitung literan dan ikan dihitung kiloan. Cara menghitungnya katanya sih dari jumlah orang yang makan mau berapa, misal ada lima orang maka nasinya dihitung seliter. Unik yah hehee..

Keunikan lain, nasi liwet disajikan di atas wadah nampan besar. Jadi kami makan itu ngga pake piring tapi ngobok rame rame di nampan besar. What?? Iya bener... hahaha
Nah, pilihan lauknya tinggal pilih sih, ada ayam, tahu, tempe dan ikan nila. Ikan nila suka suka aja mau digoreng atau dibakar, sok mangga aja. Ikan hitungannya bukan perbuah tapi perkilo, satu kilo sebanyak 5 ekor. Jadi keluarga kami cukuplah pesan sekilo ikan, pas 5 buah kebagian satu-satu. Ukuran ikannya juga sekitar telapak tangan saya gedean dikit. Lumayan gede kan?

Nasi liwetnya enak. Ikannya juga enak, masih segar dari danau sih. Sayang lalapnya dikasihnya pelit banget. Masa cuma beberapa iris ketimun dan beberapa tangkai daun tespong? Ngga ada lalapan lain lagi, ya? Tau gitu tadi bawa pete :'(

Oiya, daun tespong itu baru sekali ini saya makan lho. Rasanya gimana ya? Bingung deh. Rasa daunnya mirip-mirip seperti selada gitu deh, agak crunchy. Ngga sepet seperti daun poh-pohan, ngga kesat seperti daun jambu mede, ngga wangi kaya kemangi. Nah lho hihihiih..
Untungnya lagi sambalnya enak, pedesnya pas. Jangan ditanya deh, enaknya ini apa karena laper atau menang suasana atau memang bener enak, ga tau deh, hahaa...

Oiya, soal harga kami cuma menghabiskan Rp 140.000 aja. Rinciannya sebagai berikut ya :
1 liter nasi liwet Rp 35.000
1 kilo ikan goreng/bakar Rp 40.000
5 bh kelapa muda Rp 50.000
3 Es Teh manis Rp 15.000

Bener-bener miring kejengkang harganya kan? hahaha.. Eh tapi saya pesen dikit ya, kalo di sini jangan malu malu ngoreksi harga si tetehnya ya. Bukan Suudzon, kayanya modelnya di sini tuh main getok eh main bulatkan harga aja.

Ceritanya gini. Pas saya panggil si Teteh untuk bayar, Tetehnya langsung bilang total harga kami makan Rp 150.000. Tadinya saya sudah anteng aja, lha wong 150 ribu udah murah masa iya masih main harga? Tapi dasar penasaran, saya minta rincian harga kelapa mudanya berapa, harga nasinya berapa, harga ikannya berapa.

Teng Tong...

Malunya si Teteh pas ketahuan selisih 10 ribu harganya. Alasannya dia lupa kalo kita makan ga pake tahu tempe. Ya elaah.. hahhaa..
Pokoknya kalo makan di sini jangan malu nanya. Oiya, ongkos parkir mobil di depan warung tarifnya Rp 5.000 (sebelum bayar saya nanya dulu sama warung kopi tetangga warung lesehan sambil beli permen). 

Tips lain dari saya, kalao ikhlas siapin uang recehan banyak deh. Soalnya banyak tamu yg datengin lesehan kita;pengamen dan pengemis hihihihi...
Mau nyoba halan-halan irit ala keluarga saya? silakan dicobakeun ya.. :)

Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar dari Layang-layang

Oktober 13, 2015 6

Dua tahun lalu setiap musimnya mas Tsaka suka sekali main layang-layang. Pencetus awalnya adalah Firman seorang pemuda tetangga yang tiap libur kerja sering main ke rumah untuk 'jagongan' dengan ayahnya anak-anak. Lantaran malu udah 'bangkotan' masih main layang-layang dia sering iseng mengajak mas Tsaka main layang-layang. Ceritanya mungkin buat jadi tameng kali ya :)

Sekali dua kali mas Tsaka nebeng belajar memainkan layang-layang dan benang milik Bang Firman. Yaah, namanya pemain pemula, ngga terhitung layang-layang dan benang milik bang Firman jadi rusak. Nah, daripada ngga enak hati akhirnya saya ajak mas Tsaka dan Dega ke agen layang-layang di sebelah perumahan Griya Kenari Mas Cileungsi.

Sampai di agen layang-layang saya jadi galau. Gimana ngga galau, dikarenakan sistemnya grosiran maka pembelian satu jenis layang-layang minimal harus 50 buah dan satu jenis benang minimal harus satu pak isi 10 benang. Sementara mas Tsaka sendiri ingin membeli layang-layang jenis kertas dan jenis plastik. Kemudian benangnya dia ingin yang jenis nylon dan gelasan. Yang gelasan ingin yang merk ini dan itu. Hhmm...

Sebelum mereka kecewa-saya ngga berani memutuskan jadi atau tidaknya membeli-saya kembalikan keputusan kepada Mas Tsaka. Dia menjawab simple, katanya, "mendingan sisanya dijual aja, Bu."

"Terus yang jualan siapa?" Pancing saya penasaran.

"Ya Mas-lah yang jualan sama Dega. Ya kan De?" Saya lihat ke spion, Dega mengangguk setuju. Cepat dia melanjutkan, "nanti hasilnya dibagi rata."

Oke, deal. Hitung-hitung mereka sambil belajar enterpreneurship nih. Saya tersenyum, "Oke, tapi targetnya ga usah muluk-muluk ya. Andai laku ya syukur alhamdulillah, andai ngga laku setidaknya kita sudah irit, bisa beli dengan harga grosiran, oke."

"Siiiipppp!!!"

Sampai rumah, berbekal kardus bekas air mineral mereka menumpukkan 100 buah layang-layang dan menata benangnya di atas bangku panjang yang disulap jadi etalasenya. Kemudian mereka geser bangku panjang itu ke balik pagar agar terlihat orang. Keterlibatan saya hanya mendiskusi kan harga jualnya yang pantas berapa. Semangat sekali mereka ini ya... hihihi...

Mengetahui mas Tsaka dan Dega jualan layang-layang, teman-teman tetangga sekitar pun jadi latah ikut main layang-layang. Lucunya, karena mas Tsaka sekolah pagi dan Dega sekolah siang maka shift jualan otomatis sudah mereka atur sendiri. Mas Tsaka jualan siang sepulang sekolah aplusan dengan Dega yang sekolah pagi jualannya siang. Mereka njalaninya happy banget, ga kaya saya yang sering ogah-ogahan sewaktu kecil dulu harus piket jaga toko kelontong di rumah 😊

Oiya, ada cerita-cerita menarik selama mereka berjualan lho. Haikal yang bisa sehari 4 kali bolak balik berbelanja sempat dianggap aneh oleh Dega. Katanya, "Haikal itu uang jajannya berapa ya, Bu? Aku hitung dia sudah habis hampir sepuluh ribu lho buat beli layangan aja."

Wah, kritis juga nih bocah. Mungkin Dega membandingkan dengan dirinya yang setiap hari hanya menerima uang saku Rp 3.000 aja kali ya. Itupun masih harus dia sebar lagi untuk uang ini dan uang anu.

Baiklah, mumpung sikonnya pas, saya 'racuni' aja deh sekalian. Saya jelaskan banyak hal mengenai Haikal yang belum paham hitung-hitungan Matematika jadi dia pikir uang orang tuanya selalu ada. Saya juga gambarkan, mengenai kemungkinan orang tuanya yang memang tidak mengajarkannya untuk berhemat. Atau jangan-jangan Haikal disuruh-suruh teman-temannya membelikan layang-layang. Siapa tau kan?

Kemudian saya balikkan keadaan. Gimana jika Dega jadi Haikal? Mau ngga dikasih uang terus sama Mamanya tapi ga diajarin apa yang bisa dibeli, mana yang sebaiknya dibeli.

Tampaknya ia mengerti, Dega menggelengkan kepalanya. "Kasian sebenernya ya bu berarti jadi Haikal."  
Bakat Enterpreneur Dega juga kelihatan sekali. Ketika Aca ragu-ragu memilih mana yang akan dibeli, layang-layang kertas atau plastik. Saya ngikik aja dari dalam rumah mendengar saran dan pendapat Dega. "Kalau layang-layang kertas cocoknya buat main di musim panas, kalau layang-layang plastik itu cocoknya buat musim hujan, ngga bakal basah. Awet deh."

Astaga Dega, siapa juga yang mau main layang layang saat hujan sih? Etapi ini kata saya lho, karena kelihatannya Aca menuruti saran dan pendapat Dega. Dia membeli dua-duanya lho. Hahaha...

Lain waktu mas Tsaka dan Dega gundah gulana. Pasalnya, dari rumor di mobil jemputan Dega ada kabar jika Akbar tetangga sederetan rumah ikut jual layang.

"Enak banget dia niru-niru jualan. Temen temen kan semua jadi pindah belinya ke dia. Udah ah, aku ga mau jualan lagi." Mas Tsaka ngambek.

Saya tertawa. "Ya begitulah hidup. Ngga enak kan kalo apa apa ditiru? Ibu tau banget, apa yang kamu rasa. Tapi kan dari awal kita ngga berniat benar-benar dagang kan?"

Mas Tsaka menatap saya, mencari keyakinan baru. "Iya sih, tapi kan dagangan aku jadi ngga laku."

Hihihihi.. saya bilang, main layang-layang itu musiman. Jadi jangan takut ngga laku. Semua ini kan awet, ngga basi. Jika belum laku, simpan yang baik. Nanti kita main lagi jika musim layang-layang ada lagi."

Waah, saya ngga sangka banyak hal-hal yang luput dari pemikiran saya lho mengenai jual beli yang mereka harus pahami. Saya ngga tega harus mengatakan pada mereka, bahwa kenyataan hidup itu sesungguhnya seperti ini; ada persaingan, ada masa baik dan masa buruk, ada masa kapan harus undur diri sejenak. Duuhh...

Nak, bukan kalian aja yg belajar, ibu pun juga terus belajar. Mari kita sama sama belajar dari kehidupan ini yugh.

Senin, 12 Oktober 2015

Iming-iming Duit Pada Anak, Perlu Atau Tidak?

Oktober 12, 2015 5

Setiap hari anak-anak menerima uang saku sekedarnya. Dari uang saku itu mereka belajar mengelola uang untuk kebutuhan sehari-harinya. Mas Tsaka uang sakunya perhari 5 ribu dimana 2 ribunya dialokasikan untuk ongkos naik angkot sepulang sekolah. Sementara Dega uang sakunya 3 ribu, tanpa dikasih ongkos lagi karena naik jemputan.

Dari uang itu mereka harus membagi mana yang menjadi prioritas seperti nabung, bayar kas kelas, iuran sesuatu, infaq dan jajan. Biasanya sih, mereka ngga suka jajan, jadi uang mereka sering bersisa bahkan utuh sampai di rumah. Nah, karena uang itu adalah hak milik mereka, saya anjurkan mereka untuk menyimpannya sendiri.

Dari uang saku itu tanpa disadari mereka jadi rajin menabung dan mulai penasaran gimana caranya mendapat uang lebih. Tentunya, sebelumnya mereka sudah mempunyai target apabila uangnya sudah cukup, nantinya akan membeli apa.

Berbagai cara dilakoni mas Tsaka dan Dega untuk cari uang yang halal.  Dari mengumpulkan barang plastik bekas pakai di rumah lalu dijual ke tukang rongsokan, sampai jualan layang-layang pun dilakoni. Hasil ulangan di sekolah dengan nilai 100 (betul semua) bisa mereka tebus dengan uang Rp 10.000,- dari saya. Cara ini menurut saya efektif untuk merangsang anak-anak belajar dengan rajin sekaligus berprestasi.

Saya tanamkan kepada anak-anak bahwa semua ngga ada yang gratis. Mau pintar ya harus belajar. Mau duit ya harus kerja. Duit dipakai buat memenuhi kebutuhan, contohnya mau beli sepeda, ya nabung. Dari mana duitnya? Ya dari kerja. Nah, pekerjaan yang cocok buat anak-anak ya belajar. Jadi jika dengan belajar bisa dapet duit, kenapa ngga? Yang dapat pintar siapa? Yang dapat duitnya siapa? Yang disayang Guru Teman dan Keluarga siapa?

Yess, racun masuk dengan sempurna tampaknya nih. *devilslaugh

Sampai sini, saya gambarkan kepada anak-anak mengenai beasiswa. Beasiswa yang sejatinya diperuntukkan untuk kalangan tidak mampu tapi berprestasi akan dibiayai sebagian atau penuh biaya pendidikannya. Pemegang beasiswa itu seperti emas yang akan dilirik berbagai perusahaan untuk bekerja dikarenakan prestasinya itu. Sempat Dega bertanya, "aku bisa ngga bu dapat beasiswa?

Saya katakan, Insha Allah akan ada jalan. Yang penting sekarang duit dulu.

Melihat tatapannya yang bingung, saya jelaskan DUIT yang saya maksud adalah Doa Usaha Ikhtiar Tawakal. Mereka menganggup mantap, "oke bos, siap."

Lucunya, Mas Tsaka mencoba nawar. Katanya, "kalau nilai 100 dapet 10 ribu, jadi kalau nilai aku 7 boleh dapet 7 ribu dong, Bu?"

Yeeee... ngga bisa gitu keleeeuuss... hahahaa...

Sehubungan dengan iming-iming duit pada anak, saya juga pernah berdebat dengan seorang teman. Menurutnya, dengan 'iming-iming duit' anak akan dilatih jadi pemalas. Mereka baru mau kerja jika dikasih upah. Andai ngga dikasih upah, mereka ngga akan mau bekerja.  

Benarkah begitu? Apa jangan-jangan pendekatannya yang salah? Apa jangan-jangan orang tuanya main perintah tanpa ngasih penjelasan panjang lebar? Adakah diskusi dua arah dengan anak-anaknya?

Menurut saya, justru dengan mengetahui manfaat uang digunakan untuk apa, anak-anak belajar mengendalikan diri dalam memanfaatkan uangnya;memilih antara keinginan atau kebutuhan mana yang lebih penting. Mereka juga belajar kebaikan dan kejelekan saat berhubungan dengan uang. Mereka jadi tau seperti apa susahnya cari uang (saya ajak berhitung modal dan laba saat jualan layang-layang). Tentunya masih banyak lagi sehubungan dengan uang. Jadi kenapa takut mengiming-imingkan uang pada anak?



                             

Minggu, 11 Oktober 2015

Bikin Es Mambo Yang Tertunda

Oktober 11, 2015 33
 KLIK-TARIK-TUANG Inovasi terbaru kemasan susu kental manis Frisian Flag

Saya menatap Mba Nala putri sulung saya dengan beragam perasaan campur aduk; kesal, marah, kasihan sekaligus lucu. Sedu sedannya masih terdengar dan mukanya yang belepotan air mata campur ingus mengurungkan niat saya untuk memarahinya.

Saya menghela nafas. Sabaaarrrrr. “Makanya, lain kali minta tolong sama Ibu dulu ya.”

Saya ngilu. Goresan miring memanjang dengan luka sayatan yang agak lebar masih mengeluarkan darah. Segera saya balut telapak tangan kirinya dengan perban untuk menghentikan pendarahan dan mengobatinya. Ceceran darah di lantai bercampur dengan tumpahan cairan susu kental manis yang lengket saya abaikan dulu untuk sementara. Lutut saya lemas.

Drama itu bermula ketika Mba Nala sudah  tidak sabar menanti agenda “Me Time” yang saya janjikan. Rencananya hari itu kami akan membuat Es Mambo Susu Coklat kesukaan dia dan adik-adiknya mumpung saya sedang ngga banyak kerjaan rumah. Saat saya lagi tanggung mengerjakan sesuatu dia berinisiatif untuk membolongi kemasan susu kental manis dengan pisau dan batu ulegan.
Dipikirnya gampang kali ya, membolongi kaleng susu? Saya aja mesti menggunakan tenaga ekstra dan konsentrasi lebih, apalagi anak kecil? Lagipula, untuk mendapatkan aliran susu yang lancar, kita harus membolonginya dua kali di kanan kiri kaleng, kan? Ribet sekali.
Duuh, untung saja dia ngga kenapa-napa (Heloo, koq masih kepikiran kalau ngga kenapa-napa, sih?). Saya bergidik membayangkan saat tangan mungil Mba Nala sebelah kiri memegang kaleng dan tangan kanannya memegang pisau. Tenaganya yang masih kecil tampaknya membuat kaleng susu jadi terguling saat dia mencoba membolongi kaleng dan pisaunya malah meleset menyambar tangannya.

Hmmm, ngga bisa menyalahkan juga sih. Anak-anak memang peniru ulung. Sejalan dengan kematangan usianya proses peniruan itu akan hilang dengan sendirinya. Mba Nala diusianya yang ke-6 tampaknya masih berada di masa imitation alias meniru. Sayangnya, saya baru menyadarinya setelah ada tragedy berdarah seperti itu. Maafkan Ibu ya, Mba :'(

Kejadian tersebut tak urung membuat saya dan mba Nala merasa horror selama beberapa waktu. Bila di suatu kesempatan saya dikondisikan harus mengolah makanan menggunakan susu kental manis maka saya memilih bersabar menunggu suami saya untuk membolongi kalengnya. Mba Nala pun cari aman, dia ngga lagi suka meneteskan susu kental manis di telapak tangannya untuk dijilatinya diam-diam (seperti dulu saat saya kecil, habis enak sih :P). Saya rasa, dia ngeri membayangkan tajamnya kaleng melukai tangannya lagi.

Bisa kebayang kan, saat lagi nafsu-nafsunya pingin mengolah makanan tetiba berubah jadi kehilangan mood. Padahal itu cuma gara-gara soal buka kaleng susu aja, plis deh ah! :D
 
Dari masa ke masa. Meski dulu belum bisa baca, tapi saya tau sekali yang mana merk susu Bendera pilihan Ibu. Saya ingat sekali, kalengnya dilapisi kertas putih dengan logo bendera :)

Dulu waktu saya kecil, susu Frisian Flag yang saya kenal dengan merk Susu Bendera merupakan susu pilihan keluarga saya. Dalam berbagai olahan, saya meniru Ibu saya (ketahuan kan bahwa dulu saya adalah peniru juga) menggunakan susu kental manis Frisian Flag. Seperti Ibu, sebisa mungkin saya akan mengganti bahan inti dalam resep dengan susu. Sebagai contoh aja, saat membuat bubur kacang hijau saya akan ganti penggunaan santan dalam resep dengan susu kental manis Frisian Flag. Mungkin bagi Ibu saya dulu, teknik ini merupakan cara ampuh agar anak-anaknya tumbuh sehat dan mau minum susu kali ya? Huebaattt… :)

Oiya, susu kental Manis coklat Frisian Flag pun sering saya jadikan Es Mambo. Awalnya sih lantaran pelit bin irit (baca : dibuang sayang). Susu sisa anak-anak yang seringkali ngga dihabiskan saya pindahkan ke plastik panjang khusus untuk es Mambo, lalu saya simpan di Kulkas. Setelah mengeras, biasanya saya memberi “kode” sepulang anak-anak sekolah. Saya katakan, “Ibu jualan Es Mambo, lho.”

Ngga usah dikomando lagi, biasanya langsung ludes deh ngga inget dengan yang lain. Hadeuuh, namanya juga anak-anak, terkadang salah satunya pingin serakah. Jika sudah begitu, jika ada yang ngga kebagian es mambo maka raut muka sedih deh yang ditampakkan, bikin saya jadi ikut merasa bersalah. Hieks, es mambonya cuma ada sedikit sih ya?

Menghindari black mail seperti itu, daripada juga jajan ngga jelas, jika ada waktu luang saya pastikan untuk membuatkan anak-anak Es Mambo Coklat Frisian Flag. Sekali bikin bisa 30 sampai 40 bungkus, jadi silakan puas-puasin ngenyot es Mambo susu coklat deh. Murah, irit dan sehat pastinya :)

Penasaran dengan resep saya?

Bahannya sederhana aja, yaitu :
4 sdm tepung maizena
3 sdm coklat bubuk merk apa aja biar lebih nyoklat
10 sdm susu kental manis coklat Frisian Flag (lebih kurang 1/2 kaleng)
200 gram gula pasir
1 liter air


Bahan dan cara membuat Es Mambo Susu Coklat. Selama ini es mambo susu coklat merupakan trik agar anak-anak tetap mengkonsumsi susu tanpa mereka sadari :)

Caranya :

1.       Campur coklat bubuk dan maizena, lalu tambahkan air sedikit-sedikit sambil diaduk-aduk agar rata
2.       Jika sudah rata, tambahkan gula dan susu lalu aduk lagi sampai rata. Pastikan tidak ada gumpalan di dasar panci.
3.       Masak dengan api kecil hingga matang dan mendidih. Dinginkan.
4.       Tuangkan ke dalam plastik panjang lalu ikat ujungnya.
5.       Simpan dalam kulkas sampai mengeras.
6.       Siap dimakan.

note : resep di atas cukup untuk 15 - 20 es mambo.  

Meski sudah lama berlalu, tragedi berdarah itu masih terkenang aja sampai sekarang. Padahal kami sudah bisa melewati tahun-tahun penuh ketakutan *halagh* itu lho. Perkara membuka kaleng susu kental manis sekarang bukan lagi hal yang menakutkan. Ngga harus orang dewasa, anak kecil pun bisa membuka dengan mudah kalengnya. Ngga harus nunggu suami ada, si bungsu Dega pun bisa membukanya. Berkat siapa dulu dong? Hayooo, siapaa? :)




Nah, beruntung sekali saya berkesempatan hadir dalam peluncuran aplikasi kemasan terbaru kaleng Susu Kental Manis Frisian Flag tanggal 7 Oktober 2015 lalu. Dengan cara yang begitu mudah, tiga tahap dalam membuka kaleng susu yaitu KLIK-TARIK-TUANG menjadikan proses membuka kaleng  ngga pakai kata ribet lagi. Kenyamanan dan kepraktisan untuk menikmati manfaat dari susu kental manis menjadi kian mudah dengan inovasi terbaru yang diciptakan seiring dengan misinya yaitu membangun generasi keluarga kuat. Jadi, mulai sekarang ngga ada alasan ‘ribet’ lagi kan? Thank You Frisian Flag :*
Wall of Buzz tempat menuangkan testimoni sekaligus merasakan sensasi membuka kaleng dengan cara KLIK TARIK TUANG yang begitu mudah. Pengalaman saya dulu dengan mba Nala sangat membekas, lihat deh testimoni saya :)

 
suasana depan FF Cafe Plaza FX Senayan, Jakarta
Bertempat di FF Café, Plaza FX Senayan Jakarta saya dan teman-teman dari Kumpulan Emak Blogger berkesempatan menikmati kebersamaan dengan pengunjung lain untuk menikmati sajian minuman dan makanan berbasis susu secara GRATIS. 
Beberapa kegiatan yang sempat terekam kamera. 1. Foto bersama dengan Wulan Guritno. 2. Atraksi Barista membuat minuman dengan yel-yel yang menggelitik "KLIK TARIK TUANG". 3. Tantangan membuat minuman. 4. Kesan Pesan Kumpulan Emak Blogger dan MC. Mba Tyas. 

Acara yang berlangsung selama satu minggu aja yaitu hanya sampai tanggal 11 Oktober 2015 dibuka sejak pukul 07.00 sampai pukul 19.00. Setiap harinya akan hadir juga Selebriti-selebriti ternama yang akan ikut berbagi cerita dan hangatnya kebersamaan dengan seluruh pengunjung. Tidak cukup hanya di FF Café, Frisian Flag pun menjangkau 27 titik di wilayah Jabodetabek dengan Mobile Café agar semakin banyak konsumen yang bisa ikut merasakannya. Berikut ini lokasi titiknya :

sumber : Facebook Frisian Flag



SStt, ini minuman pilihan saya di FF Cafe Frisian chocomint Mojito. Ada rasa agar-agar dan dinginnya mint memang cocok banget deh di cuaca panas. Oiya, beverages-nya juga gratis lho :)


Tapi kalau sama sekali ngga sempat datang ke FF Cafe atau Mobile Cafe, silakan mampir di rumah saya. Masih ada es mambo susu coklatnya lho :)

Jumat, 09 Oktober 2015

Pak, Botolnya Jatuh!

Oktober 09, 2015 0

Rencananya hari ini saya akan menjenguk ibu di Rawa Belong mumpung si bungsu Dega libur sekolah (ada rapat katanya). Sebelumnya, dari beberapa option transportasi yang saya tawarkan, Dega memilih naik Tije dari UKI dengan pertimbangan biayanya lebih murah.

Memang, sejak lama saya sudah mengajak krucils untuk terlibat dalam segala hal. Misalnya ya seperti hal begini. Dega akan menanyakan dulu pada saya, mana yang lebih murah jika naik A atau naik B? Enaknya apa, ngga enaknya apa saya jabarkan supaya dia tau kelebihan dan kekurangannya. Selain itu juga supaya dia belajar memilih apa yang terbaik dan ternyaman buat kondisi sekarang belum tentu bisa nyaman dan baik di kondisi lain.

Di halte busway UKI, Dega dan saya ikut antri dengan penumpang lain. Dari dua jalur yang terpisahkan oleh pagar aluminium, Dega mengajak saya pindah ke sisi kanan yang kosong. Menurutnya, kenapa semua orang antri di sisi kiri padahal kan ada sisi kanan yang kosong? Kenapa semua tumplek di situ?

Saya jelaskan, bahwa sisi kanan itu untuk jalur penumpang yang akan keluar dari Bis sedangkan jalur kiri tempat kita berdiri ini merupakan jalur untuk penumpang yang akan naik. Jadi semua ada peruntukannya dan ngga bisa dilanggar seenaknya supaya semua berjalan tertib. Dega pun mengangguk-angguk, mahfum.

Setelah menunggu beberapa menit, Bis kami pun datang. Saya gandeng tangan Dega agar tertib mengikuti langkah penumpang di depannya untuk memasuki bis. Dalam hitungan detik, Dega melepaskan gandengan saya dan memungut botol air mineral yang baru saja dibuang (tanpa) sengaja oleh seorang Bapak-bapak di pinggir pintu masuk Halte busway.

Tadinya saya pikir Dega memungut botol bekas itu untuk dibawa pulang lalu dikumpulkan untuk dijual kembali ke tukang rongsokan seperti kebiasaannya selama ini (Nanti saya tulis ah). Tapi saya salah.

Dengan sigap dia mencolek lengan sang Bapak di depannya. Seraya mengulurkan botol dia berkata, "Pak, ini botolnya barusan jatuh."

Jleebbb. Mau pingsan saya.

Sepintas saya lihat Bapak itu tersenyum cengar cengir apalah-apalah gitu. Sempat terdengar bapak itu berkata, " Makasih ya, De." Tangannya kelihatan serba salah memegang botol air mineral yang airnya sudah hampir habis itu.

Teng tong.

Buru-buru saya seret Dega kuatir bahaya mengintai. Bayangkan, di mulut halte yang berjarak hanya sejengkal dengan pintu bis, salah melangkah bisa-bisa terperosok kan? Seram aah.

Di dalam bis saya pandangi anak ini terus. Terus terang mengingat peristiwa tadi saya jadi ingat suatu iklan dimana seorang anak kecil perempuan berkata kepada seorang bapak-bapak yang ngga mau antri. Anak itu berkata sambil tersenyum, "Excuse me, please."

Bapak yang diajak bicara menjawab dengan galak. "Kenapa?"

Si gadis kecil itu menjawab dengan polos, "Oh, Bapak bisa bahasa Indonesia.Tuuuh..." tangannya menunjuk tulisan di dinding SILAKAN ANTRI. Bapak itu kena deh sama anak kecil hiihihihi...

Nah, sampai sini saya ngga mau menanyakan lebih lanjut ke Dega apakah dia bermaksud 'nyindir' seperti iklan atau benar-benar begitu naif menyangka botol si Bapak itu terjatuh. Yang saya acungkan jempol ngga lain adalah human insterest Dega. Thanks God.

Rabu, 07 Oktober 2015

Kata Siapa Pepaya itu makanan Beo?

Oktober 07, 2015 0
Kalo kata tetangga saya, pepaya itu makanan burung Beo. Bau, ga enak katanya kalo dimakan. Enegh.
Masa sih? Jadi keluarga saya sebangsa Beo dong? Hehehe..  Pasalnya pepaya justru menjadi buah favorit keluarga kami di rumah. Harganya paling murah dibanding harga buah lain jadi ga ketar ketir melahap banyak-banyak. Kedua, khaziatnya itu lho emang ga ada yang nandingi.
Untuk yang pencernaannya sering bermasalah, sering sembelit dan ada keturunan penderita wasir ambeyen, pepaya merupakan pilihan yang pas untuk dikonsumsi. Untuk yang sering panas dalam, mimisan dan gampang sariawan, makan pepaya itu obat alaminya. Nah, kalau ngga suka baunya, gimana?
Tenang, dulu juga krucils di rumah ngga suka makan pepaya. Mba Nala sukanya Jeruk, mas Tsaka suka Apel dan si bungsu Dega suka Salak. Tapi kalo diturutin keinginan semuanya ya ngga kuku dompetnyalah. Nah, pemersatunya hanya pepaya, only. Beneran.
Tips-nya, pepaya dalam keadaan dingin (sebelumnya simpan di kulkas) dipotong-potong. Letakkan dalam wadah cekung, taburi gula pasir dan perasan air jeruk nipis. Aduk rata dan siap disantap. Rasanya asem, manis, segar deh. Penasaran? Yugh, cobain 

Sabtu, 03 Oktober 2015

Tante, Rambutnya Kelihatan Tuh!

Oktober 03, 2015 0
Perjalanan dengan bis Patas jurusan Cileungsi Kalideres kali ini benar-benar memancing emosi saya. Bikin saya sakit kepala. Kesal bukan main. 

Pertama, pengamen yang manggung di samping saya asyik sendiri dengan nyanyiannya. Entah mabok atau ngga, tapi dia kliatan menikmati sekali alunan sumbang suaranya itu. Beberapa lagu sudah usai dinyanyikan tapi dia tidak menyudahi juga performance-nya. Saya sakit kepala. Suaranya seperti orang kecekik, saya ikut kecekik juga rasanya. Bete deh.

Sepertinya dia ngga terganggu sama sekali dengan suara-suara tawa canda dua bocah yang duduk di bangku depan saya. Berulangkali ibunya meminta kedua anaknya untuk duduk tenang. Tapi mana mungkin bisa? Baru diam sebentar, ngga lama mereka mulai bercanda lagi. Tampaknya kedua bocah itu bosan selama perjalanan jadi mereka memilih bercanda untuk menikmatinya. Sementara, kepala saya makin nyut-nyutan.

Jalanan yang macet parah membuat bis merayap tersendat-sendat. Sopir Bisnya mungkin juga cape, dia asal aja menginjak kopling dan rem. Body bis sengaja dipepetnya ke kendaraan lain supaya ngga ada yang nyalip. Otomatis badan saya jadi maju mundur mengikuti  injakan rem, bikin saya jadi mual. Hufft...

Mau nyalahkan siapa coba. Pengamen yang suaranya berisik? Anak-anak bercanda? Atau jalanan macet? Hufftt... Saya coba pejamkan mata aja. Mencoba berdamai dengan keadaan.

Tetiba dua anak yang duduk di depan saya berdiri, menghadap ke belakang, ke arah saya. Mereka menontoni saya sambil mengunyah biskuit. Remah-remah biskuitnya berjatuhan di pangkuan saya. Sambil bercanda, sebagian remahnya pun muncrat di muka saya. Arrggghhh... saya pelototi salah satunya, yang berkuncir dua. Benci banget. Kesal. Geram. Mau ngamuk.

Melihat warna muka saya yang 'senep', agaknya mereka tau diri. Buru-buru mereka balik arah, dan duduk manis. Ngga berani menghadap ke arah saya lagi.

Lama saya baru tersadar saat abang kondekturnya mengisyaratkan penumpang yang akan turun di Slipi agar bersiap-siap. Rupanya bis sudah keluar tol MPR DPR. Astaga, jadi tadi saya sempat ketiduran juga ya? Hiekz, saya memang cape sekali.
Tetiba, kepala berkuncir dua itu nongol lagi. Matanya sedikit sayu. Sepertinya dia terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara pak Kondektur barusan. Setelah bersitatap, saya buang muka ke jendela. Idiihh, mau ngapain sih tuh bocah?

"Tante, rambutnya kelihatan." Tangannya menunjuk ke arah kening saya.

"Masa sih?" Berdesir hati saya ingat apa yang saya lakukan padanya tadi. "Masih kelihatan ngga?" Sambil membenahi jilbab, saya tersenyum. Gengsi minta maaf padanya.

Dia menggeleng. "Ngga, udah ngga keliatan." Kali ini dia ikut tersenyum, membalas senyuman saya.
Saya segera bergegas mengikuti penumpang yang akan turun. Saya rasakan, matanya mengikuti saya sampai saya hilang dari pandangannya.

Duuh, maafkan tante ya... Ngga semestinya Tante pelototi kamu tadi. Ngga semestinya, amarah tante dilampiaskan ke kamu. Hiekz.

Saya hari ini belajar dari si kuncir dua itu gimana mengendalikan diri di kondisi apa pun. Pada saat ngga menyenangkan pun, kita tetap harus berlapang dada, menjalani dan tetap semangat.