Kamis, 17 September 2015

Kulit Pisang Jangan Dibuang

September 17, 2015 0
Siapa sangka ya kalo pisang itu punya banyak manfaat. Tadi pagi di siaran televisi mana ya tadi, (hhmmphh, kebiasaan, gampang lupa!) selain mengandung berbagai kandungan gizi bila dikonsumsi buahnya, kulit pisang juga mengandung berbagai manfaat. Contohnya :
1. Melembutkan kulit wajah dan menyembuhkan jerawat. Caranya, kulit pisang bagian dalan dioles-oleskan ke kulit wajah sampai merata. Diamkan selama 15 menit. Seka dengan handuk yang dibasahi air hangat. Lakukan secara rutin.
2. Memutihkan gigi. Caranya, kulit pisang bagian dalam digosok-gosokkan ke permukaan gigi. Lakukan secara rutin. Agar efektif, sebaiknya hindari minuman yang menyebabkan noda pada gigi seperti teh dan kopi. Ini mah tambahan dari saya aja, sih. Masuk akal kan? :)
3. Menyembuhkan luka iris kena pisau. Caranya, potong kulit pisang kira-kira seukuran lebar luka. Tempelkan di atas luka menggunakan plester luka atau isolasi biasa. Dijamin getah pada kulit pisang akan segera menyembuhkan luka.
4. Menghilangkan kantung mata. Caranya, kulit pisang dipotong berbentuk setengah lingkaran lalu tempelkan di bawah mata. Mata sembab atau mata panda segera go go go :)
Selain alternatif khasiat kulit pisang dari televisi tadi, saya juga mempunyai tips lain seputar pemanfaatan kulit pisang. Apa ajakah itu? Yuggh..
1. Kubur kulit pisang di halaman atau pot bunga. Cara ini bisa memicu pertumbuhan tanaman. Asiik kan, bisa berhemat dana pupuk dan perawatan tanaman :)
2. Gosokkan kulit pisang bagian dalam di kulit yang gatal. Permukaannya yang lembut dan bergelombang itu bisa menghilangkan gatal-gatal lho. Alami, ngga perlu lotion anti nyamuk kan :)
3. Nah, jika punya tanaman imitasi dari plastik, cara membersihkannya dengan kulit pisang bagian dalam. Tanaman plastik kembali kinclong seperti baru deh.
Jadi, sekarang jangan buang lagi kulit pisangnya ya habis di makan. Apalagi jangan dibuang sembarangan juga, kasihan kan jika ada yang terpeleset.. ;)

<span data-iblogmarket-verification="SFhEV1roa~by" style="display: none;"></span>

Sabtu, 12 September 2015

Percaya Diri Dengan Wangi yang Tepat

September 12, 2015 4
Siapa yang suka kepoin wangi parfum orang lain, hayo? Hhmm, baiklah saya ngaku. Pas tetiba senggolan sama orang, dan mencium wangi parfumnya rasanya kaya 'terbius' deh. Enak. Adem. Lembut. Kadang wanginya itu mengingatkan saya akan sesuatu, tapi apa ya. Lupa.

Anehnya meski senang wangi tapi saya ngga suka (lagi) pake parfum. Lah?? Hihihii.. iya bener. Kalo ngga ada acara undangan komunitas, sehari-hari saya hanya pake deodorant aja. Wangi-wangian baru saya pake jika ada hari spesial atau jika mood saya kebeneran lagi baik aja.

Zaman kerja baheula, indera penciuman saya hampir mati rasa gegara wewangian. Dengan merk dan wangi favorit, awalnya hanya dua kali semprot saya sudah merasa wangi. Lambat laun saya merasa ngga cukup jika hanya dua kali semprot aja. Berkali-kali semprot saya baru merasa pede, baru berasa wanginya. Padahal, kata orang-orang di sekeliling saya, wangi saya tajam sekali. Parah banget. Sudah kebal benar rupanya hidung saya. :(

Solusinya agar penciuman saya normal kembali mau ngga mau saya harus menyetop penggunaan parfum yang sama untuk beberapa waktu. Itulah kenapa saya sekarang jarang pake parfum lagi sehari-hari. Biar irit Boook... lha wong kerjanya cuma masak sama nyuci aja koq masa pake parfum segala? Yaelah, serius ameutt... Hahahaa..

Sesuai dengan Mood
Tapi saya tetap pake wewangian juga koq di saat-saat tertentu. Di saat mood saya lagi ngga enak, aroma wewangian tertentu ampuh sekali menjadi moodbuster saya. 
Kebayang kan, jika berhadapan dengan orang yang aromanya ngga bersahabat. Betah? Ngga bakalan. Saya juga ngga betah. Bahaya memang kalau sudah ngga betah. Yang bereaksi negatif bukan cuma gestur tubuh kita aja, tapi komunikasi kedua belah pihak juga jadi ngga nggereget. Rasanya kepengen nyemprotin parfum yang dibawa di tas deh ke arah orang itu. 

Ada lagi contoh lain, saat ini kita sering menjumpai aroma yang suka menyemprot otomatis di Bank, Salon dan pusat-pusat keramaian. Katanya sih, fungsinya untuk menenangkan pengunjung agar betah ngantri dengan menghirup aroma refreshing tersebut.

Penjelasan ilmiahnya, reseptor penciuman kita terhubung langsung dengan sistim limbik, yaitu bagian otak paling primitif yang mengontrol mood. Sensasi bau-bauan selanjutnya dikirim ke lapisan otak luar dimana terjadi pengenalan kognitif bau. Jadi begitulah prosesnya mengapa aroma sangat mempengaruhi suasana hati. 

Sesuai dengan karakter kepribadian
Sudah tau kan jika wangi-wangian itu diformulasi dengan mencampurkan beberapa jenis aroma untuk menghasilkan aroma spesial yang sesuai dengan karakter seseorang. Pernah dengar rumor, Lady Gaga tertarik membuat parfum yang wanginya berasal dari aroma darah dan hormon seperti keringat? Iiihhh... etapi, tenang dulu ya, saya ngga tau juga sih jadi atau ngga sang Lady mewujudkan idenya itu. 

Nah, sekarang karakter kita seperti apa sih agar bisa menentukan aroma wewangian yang pas? Biar apa? Biar makin pede dong. Oke...

~ Segar. Jika kita tipe orang yang berjiwa muda, penuh semangat, suka beraktifitas di luar ruangan maka pilih wewangian yang bernuansa jeruk-jerukan, anggur, cytrus dan marine.

~ Kayu. Jika kita orang dewasa yang ingin tampil segar, tapi memiliki keunikan maka pilih wewangian yang bernuansa kayu, tanah dan lumut.

~ Bunga. Jika kita tipe feminin, romantis dan penuh gairah maka pilihan wewangian yang pas adalah mawar, melati, lavender dan lili.

~ Oriental. Jika kita tipe yang suka selalu jadi pusat perhatian maka pilihan bernuansa keras dan tajam seperti rempah-rempah, vanilla, cendana dan musk yang paling pas. 

Seiring dengan perkembangan jaman, wewangian pun juga menyesuaikan dengan kekinian. Jika dulu trendnya berat dan menyengat, kini cenderung segar dan ringan. Kombinasi dari buah-buahan dan bunga-bungaan diciptakan untuk karakter pribadi yang unik menarik. 
Vitalis Eau De Cologne mengeluarkan varian aroma terbaru yang terinspirasi dari aura glamour dan kemewahan ala Hollywood dan Canes.

~ Celebrite. Jika kita orang yang ekspresif, kreatif, inspiratif, penuh semangat dan stimulasi maka pilihan pasnya adalah Celebrite Eau De Cologne. Gabungan tiga aroma Cytrus bergamout yang segar, Mawar yang elegan dan Goutmand Note yang mewah membuat pemakainya jadi pusat perhatian seperti selebriti dunia.
~Glam Star. Jika kita orang yang glamour, anggun, artistik dan berselera tinggi maka pilihan pasnya adalag Glam Star Eau de Cologne. Gabungan tiga aroma Cytrus Mandarin yang memberi energi, menenangkan dan memulihkan, White Floral yang mewah dan extravagant dan Woody dan Musk yang caring dan elegant membuat makin lebih percaya diri seperti kepercayaan diri yang dimiliki selebriti dunia.

Jadi, udah ngga labil kepribadian lagi kan setelah baca ini? Yugh semprot-semprot, biar wangi. Kalau wangi kan jadi makin pede. Kalau pede, aura atraktif akan timbul dengan sendirinya dan meninggalkan kesan yang ngga akan terlupakan saat berinteraksi dengan orang lain. Kalau sudah begitu, hhmmm... tunggu aja satu peluang kesuksesan bekerja untuk kita. Yakiiiinnn... :D

Saat Tragedi Di (Depan) Mata

September 12, 2015 0

Kemarin tepat empat belas tahun yang lalu pada 11 september 2001 seluruh dunia terhenyak pada tragedi di New York, Amerika Serikat. Saat itu, menara kembar Word Trade Center dan benteng pertahanan Petagon konon ditabrak oleh kelompok Alqaeda. Beberapa ribu orang telah menjadi korban tragedi tersebut. Ada yang meninggal dan ada pula yang cacat permanen.

Kemarin pun kita dikejutkan peristiwa tumbangnya crane di depan Masjidil Harram Mekah, Arab Saudi akibat badai pasir. Menurut berita, korban meninggal mencapai 107 orang dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Innalillahi wa innailahi rojiun.

Okelah, skip aja ya mengenai tragedi tersebut. Saya malah tetiba ingat peristiwa beberapa waktu lalu di jalan raya Narogong Bekasi. Saat itu sebuah truk Tronton menggilas tanpa sengaja dua orang karyawan pabrik yang berboncengan motor. Menurut informasi yang saya dapat beberapa hari kemudian, konon si pengendara motor ada di sebelah kiri tronton, di bahu jalan yang berbatu-batu. Malangnya, mereka mungkin terjungkal saat ada gundukan tanah yang membuat tubuh mereka terlempar ke arah kanan dan terlindas truk tronton tersebut. 

Saya yang saat itu melewati lokasi sempat bingung, kenapa tumben-tumbennya koq jalan ini sampai macet sekali. Setelahnya saya baru mengerti ketika melihat kerumunan orang dan beberapa pemuda yang membantu arus lalu lintas di sekitar lokasi kejadian sampai pihak yang berwenang datang.

Saat itu, bak ada hajatan pesta banyak pemotor yang ikut berhenti di sekitar lokasi. Saya lihat beberapa diantaranya justru sibuk memotret. Sebagian lagi bak 'jubir istana' sedang ngobrol menceritakan kronologis kecelakaan pada lawan bicaranya yang sedang lewat seperti saya.

Saya sama sekali ngga habis pikir. Ini kecelakaan lho, bukan panggung dangdutan. Itu jenazah yang mengenaskan lho kondisinya, bukan artis penyanyi dangdut dengan baju sexy-nya. Koq malah difoto-foto dengan berbagai angle? Koq malah dikerubungi jadi bikin nambah macet?

Mereka ngerti ngga ya, akibat tindakan seperti itu, pihak berwenang yang meski pasti sudah dilengkapi sirine pun pasti tetap terhambat sampai tiba di lokasi. Mereka mikir ngga ya, andai jenazah korban kecelakaan adalah salah satu dari keluarga mereka sendiri gimana rasanya?

Huuhh, sekali lagi saya cuma bisa mengelus dada aja. Padahal, membantu itu menurut saya sederhana aja. Cukup dengan ngga nambah kemacetan aja dengan ngga ikut-ikutan berkerumun itu sudah cukup koq. Biarkan yang berwenang mengambil alih tugasnya. Jalanan yang space-nya bisa untuk dua arah jangan diboikot semena-mena dengan memberhentikan kendaraannya untuk cari info. Astaga. Mereka ini ngga tahu, ngga ngerti, atau... ngga peduli?


Jumat, 11 September 2015

Menyadarkan si Pemalas

September 11, 2015 0

Sepulang dari sebuah event Blogger beberapa waktu lalu, dikarenakan macet parah saya memutuskan naik ojek dari perapatan Cileungsi menuju rumah. Biasanya saya memang lebih memilih naik angkot atau berjalan kaki saja jika ngga membawa mobil.

Melihat saya sang abang ojek tersenyum lebar, tampaknya dia masih mengenali saya. Dulu, semasa masih ngantor saya selalu mengandalkan ojek prapatan. Saat itu setiap pulang kerja dari Kedoya sampai Cileungsi pasti sudah di atas jam 9 malam. Itulah sebabnya, saya di mata para abang ojek sudah familiar sekali.

Abang ojek yang namanya entah siapa, menyangka saya baru pulang kerja. Katanya, "Ibu mah enak, ngga kaya saya dari dulu mah begini-begini aja, ngojek doang."

Mengingat keluhannya yang omzetnya hanya pas-pasan saja, saya mengusulkan padanya untuk beralih ke Gojek. Saya berfikir, toh sama-sama berstatus ngojek tapi dengan Gojek pendapatannya katanya bisa mencapai Rp 12 juta kan. Bukannya menyambut, dia beralasan cape harus menempuh jarak jauh.

Lantas, maunya gimana dong? Terus terang saya geregetan dengan jawabannya itu. Katanya, dalam sehari dia santai aja mangkal di prapatan. Jika sudah 5 orang yang rata-rata tarifnya Rp 10 ribu dia akan pulang. Saya katakan, saya kerja apa saja dijabanin. Saya ngga boleh malas karena kebutuhan hidup sangat banyak.

Di kampung yang berdempetan dengan perumahan saya, bukanlah hal aneh jika berjumpa dengan penduduk asli setipe abang ojek ini. Jika pada umumnya para bapak-bapak adalah sosok yang bertanggung jawab dalam urusan kelangsungan dapur rumah tangga, sebaliknya mereka cenderung malas.

Begitu pun dengan yang perempuan. Sebagai contoh namanya Bi Samih. Saya tau dia sudah ajeg kerja jadi buruh cuci gosok, lain waktu saya lihat dagang nasi uduk. Cape jualan nasi uduk, ganti lagi jadi pelayan rumah makan padang. Terakhir dia keliling dagang gorengan risol dan susu kedelai setiap pagi. Pernah dia ke rumah hanya untuk meminjam uang untuk bayar listrik yang nunggak. Astaga, sebegitu sulitnyakah? 

Saya ngga terlalu mengerti gimana cara mereka berpikir dan menanggapi masalah sehari-hari itu sangat santai sekali. Kesannya, bodo amat. Pernah saya berniat mendayagunakan kemampuan perempuan-perempuan di kampung sebelah dengan mengajarkan ilmu kerajinan tangan yang saya punya. Mereka melihat saya panen orderan kaos aplikasi nama untuk perpisahan TK dan dilanjutkan dengan orderan toples flanel jelang hari raya yang mencapai hampir 8 lusin.

Dasar memang otak rata-rata isinya 'duit' aja, belum apa-apa sudah ada yang keceplosan, "berani bayar berapa, Bu?"

Jlebb. Mencelos hati saya. Saya ngga bisa kasih gaji memang, tapi setidaknya dia ga usah bayar sama sekali dengan diberi kursus gratis dari saya. Sementara, untuk bisa menjadi trampil pun saya harus beli aneka buku kerajinan tangan di Gramedia. Untuk ilmu gratisan via berbagai tutorial di google saya tetap membeli kuota juga kan. Semua ga ada yang gratis.

Harapan saya itu sebenarnya sederhana, jika mereka bisa ajeg mandiri, punya usaha kerajinan tangan yang bisa disambi dengan pekerjaan rumah tangga alangkah asik sekali, kan? Ngga usah jadi babu lagi, ngga usah pontang panting cari modal dagang nasi uduk lagi, ngga usah getok-getok pintu tetangga lagi demi cari utangan.

Tapi saya sadar, yang bisa mengubah nasib seseorang hanya dirinya sendiri. Toh saya hanya jadi jembatan jika aja mereka mau mengubah nasib. Andai saja mereka mau mengubah pola pikirnya ya??

Kamis, 10 September 2015

Di Mana Mobil Pelayanan SIM Keliling?

September 10, 2015 0
mobil pelayanan SIM keliling 

Minggu ketiga Agustus lalu SIM A saya sudah akan habis masa berlakunya. Kebetulan saya lihat time line FB pak Nug, security kantor lama saya yang sedang memperpanjang SIM juga di layanan mobil keliling maka timbullah penasaran di hati. Pingin ah kali ini nyobain juga.
Setelah meng-inbox pak Nug, lokasi layanan SIM keliling Jakarta Barat rupanya hanya beberapa ratus meter saja dari rumah Ibu saya yaitu di depan SMA 65 Kelapa Dua Kebon Jeruk. Tapi, sayangnya meski dekat saya ngga kunjung sempat juga mengurus perpanjangan SIM-nya. Saat itu saya masih harus fokus stand by jadi suster untuk Ibu saya yang sedang sakit (baca ini deh).

Akhirnya di minggu keempat saya baru sempat, tapi sayangnya mobil layanan keliling tidak ada di lokasi. Sempat saya googling dan diinformasikan bila ingin mengetahui lokasi layanan SIM keliling bisa meng-sms ke 1717.

Berdasarkan panduan dari 1717, esoknya saya datang ke Citraland, mal Ciputra di kawasan Grogol. Tapi ternyata sampai di lokasi, juga tidak ada. Kata satpam Mal, layanan mobil SIM dan STNK di Ciputra Mal hanya ada di minggu pertama dan minggu ke dua saja. Bapak tersebut menyarankan saya untuk ke Harco Mangga dua Glodok, karena di minggu ke empat layanan tersebut ada di sana.
Penasaran lagi saya googling, dikatakan ada gerai SIM dan STNK di  lantai 7 PGC. Okelah, daripada manyun salah lagi saya tanyakan pada sahabat FB juga yang bekerja di kawasan tersebut. Katanya, sudah tutup. Astaga, kecele melulu sih.

Melihat saya yang gagal maning gagal maning, ayahnya anak-anak menyarankan untuk memperpanjang SIM di kantor Samsat Cengkareng saja yang sudah pasti. Masuk akal sih, menurutnya jika telat perpanjang nanti malah ga berlaku lagi, alias harus bikin baru lagi.

Dasar saya memang penasaran, saya gambling aja di minggu pertama September kemarin dengan datang pagi-pagi ke Citraland Grogol. Jika masih ngga ada juga, saya berencana naik Gojek langsung ke kantor Samsat. Eladalah, dari kejauhan sudah terlihat kerumunan orang. Yeaaayy... akhirnya.
Suasana meja pengisian formulir 

Tampak ada dua mobil besar berwarna putih, satu untuk layanan SIM dan satunya lagi untuk layanan STNK. Bapak yang menerima pendaftaran mengulurkan formulir untuk saya isi di meja yang telah disediakan. Di meja pun ada contoh pengisian formulir untuk menghindari kesalahan.
Setelah itu saya mengisi formulir dan menyerahkan fotokopi KTP, fotokopi SIM lama dan kartu SIM asli lama saya. Menunggu lebih kurang 15 menit, saya dipanggil memasuki mobil untuk foto, tanda tangan dan akurasi sidik jari.

Voilaaa... hanya 5 menit saja SIM baru saya sudah jadi. Kemudian saya melakukan pembayaran biaya perpanjang SIM A Rp 135.000 di tempat. Sempat saya meminta ijin pak Polisinya untuk memotret interior dalam mobil. Saya mengerti jika beliau ngga mengijinkan, tugasnya masih menumpuk apalagi di belakang saya pun masih banyak antrian. Alhamdulillah, pak Polisi mengijinkan saya untuk memotret satu kali saja. Okelah kalau begitu, makasih ya Pak :)

interior dalam mobil pelayanan SIM keliling. Di posisi saya memotret adalah tirai untuk back ground foto diri
Nah, beginilah suasana interior dalamnya. Sempit tapi multifungsi lho. Dari pintu masuk di sebelah kanan ada tirai yang bisa digulung naik turun untuk back ground foto diri. Di depannya ada meja dan PC untuk input data. Sewaktu saya mau memotret, pak Polisinya ngga mau ngetop difoto, jd saya dan pak Polisi harus berpindah tempat. Adegan kami saling berpindah tempat itu lucu sekali deh. Ribet tapi kocak. Kaki saya sempat nyangkut sama kabel, pak Polisinya juga sampe merunduk dalam-dalam biar ga kejedot.

Surprising deh.. hahaha






Senin, 07 September 2015

Spice Journey di Kempinski Hotel, Rantai Sejarah Kuliner Indonesia

September 07, 2015 0
Saya dan teman-teman Blogger tidak sengaja bertemu di lokasi. Yang menyenangkan kami disambut oleh Nathalia Atmaja perwakilan dari Kempinski Hotel. Thanks ya :)
Gebrakan Kempinsky Hotel dalam membudayakan kembali kuliner lokal Indonesia patut diacungi jempol. Ditengah derasnya gempuran aneka kuliner dari mancanegara yang berakulturasi dengan kuliner lokal Indonesia, kerinduan masyarakat pada kuliner lokal tertebus dengan adanya event "Spice Journey" ini. Disamping itu, untuk lebih mengenalkan kuliner lokal pada warga asing yang menetap di Indonesia-ditengarai-ternyata menyukai keistimewaan cita rasa kuliner Indonesia, maka even tersebut disambut dengan baik.

Acara yang diselenggarakan selama lima minggu ini merupakan apresiasi atas peringatan HUT RI ke-70 dan HUT Kempinski Hotel ke-53. Seperti membuka peta, minggu pertama periode 5-11 Agustus 2015 kuliner dari Sumatera menjadi gong pembukanya, diikuti oleh kuliner Jawa pada12-18 Agustus 2015 dan kuliner Bali dan Lombok pada 19-25 Agustus 2015. Di minggu keempat periode 26-1 September 2015 beralih ke kuliner dari Kalimantan dan diakhiri oleh kuliner dari Sulawesi Maluku di minggu kelima yaitu 2-8 September 2015. 

Ini dia kursi tempat kami duduk. It's so gorgeous! :)

Sudut Buffet Dessert

Rantai Sejarah Kuliner Sulawesi-Maluku
Selasa 2 September 2015 lalu saya men-schedule-kan jadwal untuk singgah mencicipi aneka kuliner Sulawesi dan Maluku. Bukan tanpa sebab saya memilih kuliner ini. Sejak dahulu pelaut Bugis terkenal dengan jiwa baharinya yang sangat kuat. Mereka mampu membuat kapal kayu layar yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu kapal Pinisi. Bahkan yang membuat saya kagum, ketenaran dan ketangguhan kapal Pinisi tidak pupus dimakan jaman. Sampai saat ini tangan-tangan ahli orang Sulawesi Selatan masih membuatnya. Sungguh, melestarikan tradisi agar tidak punah memang butuh kerja keras dan kemauan kuat. Dan, saya melihat kekuatan tekad masyarakat Sulawesi tergambar dari sini.

Kualleangi tallang na towaliya, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai _ Semboyan suku Bugis

Begitupun dengan Maluku. Kawasan kepulauan yang kaya akan rempah-rempah ini sudah dikenal dunia Internasional sejak dulu kala. Silih berganti bangsa asing menjejakkan kaki di tanah penghasil rempah-rempah ini, dan mengubah niat semula dari berdagang menjadi ingin memonopolinya.

Dalam sebuah lukisan karya W.P Groeneveldt berjudul "Gunung Dupa", Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dipenuhi pohon cengkeh-sebuah oase di tengah laut sebelah tenggara. 

Nah, seperti apa daya tarik rempah-rempah hasil Maluku sehingga ingin dikuasai bangsa-bangsa lain membangkitkan keingin tahuan saya. Begitu kuatkah keistimewaaan cita rasa masakan wilayah tersebut?

Rantai Penyebaran Kuliner Sulawesi-Maluku

Sebagaimana kita tahu kuliner Sulawesi dan Maluku didominasi oleh hasil laut di wilayah yang dikelilingi perairan, misalnya Manado di Sul-Ut, suku Bugis di Ujung Pandang Sul-Sel dan suku Ambon di Maluku. Sementara itu, di wilayah pegunungan dan berbukit-bukit kulinernya didominasi oleh hasil bumi dan ternak seperti unggas-unggasan dan Sapi. Hal itu membuktikan bahwa meski di sebagian wilayah, orang Sulawesi terkenal suka makanan hasil laut, ternyata makanan dari hewan darat pun juga disukai. Ciri khas lainnya, konon orang Sulawesi menyukai makanan yang sarat rempah dan berbumbu tajam, pedas menggigit, asin, asam dan gurih.

Tanaman Sagu yang tumbuh subur di pesisir Maluku menjadikan bahan pangan ini dipilih sebagai makanan pokok masyarakatnya. Berbagai olahan dibuat berbahan dasar sagu seperti Papeda yaitu bubur sagu tawar dengan padanan ikan Cakalang untuk lauknya. Menariknya, makanan khas Maluku justru ngga ada. Di kawasan yang berbatasan dengan Papua, sebagian besar kulinernya terpengaruh dari Papua. Sementara yang berbatasan dengan Sulawesi, kulinernya pun dipengaruhi dari Sulawesi.

Pengaruh lain datang dari bangsa asing yang dulu menduduki bumi Sulawesi ikut memperkaya cita rasa kudapan santainya. Pernah mencoba Poffertjes? Kudapan ini merupakan adaptasi dari Belanda dengan bahan sederhana, seperti gula, telur, tepung dan mentega yang sangat banyak peminatnya. Panada juga konon berasal dari Portugis. Berbentuk seperti pastel dengan isian suwiran ikan Cakalang yang populasinya banyak di perairan Sulawesi dan Maluku, kudapan ini sangat populer. Kemudian, Klapertart yang juga berasal dari Belanda, memanfaatkan almond dan kenari yang banyak tumbuh di daerah Sulawesi dengan keju dan susu sesuai kebiasaan orang 'sana'.

Pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia dan memadukan dua budaya yang amat bertolang belakang malah menciptakan jenis kuliner baru dan memperkaya khazanah kuliner Indonesia. Siapa sangka, dari makanan saja kita bisa menguak sejarah dibalik peristiwa saat itu, kan? J


Rantai Kuliner Sulawesi-Maluku di Kempinski Hotel

"The Man Behind The Gun"
- Quote

Tidak salah jika saya sematkan quote tersebut pada Cheff Petty Elliott yang menjadi 'nakhoda' kitchen Signature Restaurant Kempinski Hotel Jakarta. Sejak awal saya sudah menduga, mustahil masakan khas Sulawesi Maluku diolah oleh tangan Chef asing. Rasa makanan yang saya nikmati di sini begitu otentik, Kedepannya, dari hasil wawancara singkat-dikarenakan sibuk shooting dari Metro TV-dengan Cheff Petty Elliott saya mengerti asal muasal mengapa masakannya terasa sangat orisinil

Cheff Petty Elliott

Cheff Pettty Elliott bercerita, "saya lahir di Menado, dan saya belajar memasak dari Oma saya." Dengan nada ramah ia mengenang kembali masa-masa selama tinggal di Inggris. Saat itu dia seringkali memasak masakan Menado untuk jamuan teman-temannya. Berkat kepiawaiannya menyesuaikan dengan lidah orang 'sana' tidak disangka, masakannya sangat disukai. 

Rantai Kuliner Sulawesi-Maluku dan Saya


Cotto Makassar
Sempat saya menanyakan apa rahasia Cheff Petty Elliott saat memasak Coto Makassar? Dengan gamblang ia menceritakan proses perebusan daging yang lama dan menggunakan api kecillah yang jadi kuncinya, sehingga daging jadi empuk tapi tidak hancur. Saya merasakan saat mencicipi Coto Makassar komposisi aroma rempahnya seimbang dengan gurihnya kaldu hangat daging. Tidak ada rasa pekat lemak di langit-langit tenggorokan yang saya rasakan, jadi tidak membuat enegh sama sekali. Enak sekali.



Bubur Menado dan sambal roa
Bubur Menado saya cicipi dalam porsi kecil. Bubur yang kaya gizi ini dimasak dengan aneka sayuran dan ubi merah yang terasa melted di lidah. Sayang saya merasa buburnya kurang asin (saya suka asin) sehingga saya perlu menambahkan sambal roa di dalamnya. Baru deh terasa pas di lidah saya.

Sambal roa merupakan sambal yang dibuat dari cabe dan ikan roa yang dimasak dengan cara sederhana. Ikan roa sendiri yaitu sejenis ikan yang hanya ada di perairan Sulawesi yang diasapkan. Proses pengasapan yang awalnya untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan menjadikan keunikan cita rasa sambal ini. Saya bandingkan rasa gurih ikan roa sangat berbeda dengan terasi yang umum digunakan. Terasi berbau sangat tajam sementara ikan roa tidak. Gurihnya ikan roa tidak mendominasi rasa sambal, berbeda dengan terasi.

Untuk menu utama saya padankan Nasi Gurih, Urapan Jagung, Udang Tuturaga, Oseng Bunga Pepaya Daun Singkong, Mie Goreng Roa, dan Daging Panggang Sambal Kenari. Lidah Jawa saya yang terbiasa dengan masakan yang dibubuhi sedikit gula untuk memperkuat rasa tidak merasa kesulitan sama sekali menerima masakan dalam tiap kunyahan saya. Semua rasa bersatu padu dalam tiap kunyahan. Nasi yang terasa gurih bertemu oseng daun pepaya yang agak pahit (kata orang) dengan asinnya sambal kenari dan pedasnya udang tuturaga, so yummy. 


Udang tuturaga, Ayam rica-rica, Oseng bunga pepaya daun singkong, Kakap woku blanga

sudut Buffet kuliner Sulawesi Maluku 
Yang menarik dalam Oseng Bunga Pepaya dan Daun Singkong adalah rasa pahit yang masih bisa ditoleransi lidah saya. Jika dibandingkan, pahitnya tumis pare dengan oseng bunga pepaya ini rasanya hampir sama. Tidak sepahit rasa jamu yang rasanya melekat di pangkal lidah, oseng bunga pepaya daun singkong ini tidak meninggalkan rasa melekat di setiap gigitannya. Setau saya, ada trik khusus lho saat mengolahnya untuk menghilangkan rasa pahitnya itu. Dan tidak semua orang tau, kecuali orang 'asli' sana.

Hmmm, keunikan Urapan Jagung alias Perkedel Jagung adalah adanya rasa kencur dan aroma daun jeruk di dalamnya. Entah benar atau tidak, tapi memang unik sekali rasanya. Saya suka sekali. 

Mie goreng roa menurut saya juga sangat enak. Biasanya mie goreng rasanya standard saja, dengan adanya suwiran roa yang dicampur rata dalam mie goreng, terasa enak sekali. Rasa gurih saya duga datang dari rasa Roa-nya. Penampilan mie goreng roa tidak secoklat atau sehitam mie goreng pada umumnya. Entah, saya bingung apakah ada penambahan kecap manis atau tidak, karena semua terasa pas.


salah satu sudut buffet 
Kemudian udang tuturaga yang pedasnya sedang dengan tingkat kematangan yang pas, membuat udangnya tidak alot. Bumbunya diuleg atau ditumbuk secara manual sepertinya, alias tidak menggunakan blender. Saya perhatikan, serpihan cabe dan bawang merah dalam bumbu tuturaga masih terlihat. Saya jadi membayangkan masakan ibu saya, masakan rumahan. Homey sekali.

Untuk daging kacang kenari dan cocolan sambal roa yang saya ingat adalah rasa asin dan gurihnya kenari yang dominan. Karena saya suka pedas, rasa pedas yang 'nampol' tidak saya temukan secara keseluruhan. Bisa dimengerti memang, karena masakannya disesuaikan dengan cita rasa internasional. Tapi dagingnya lembut sekali, enak deh.



ki-ka : puding sagu mangga, puding tofu pinacolada 

Untuk penutup, saya mencoba Puding Sagu Mangga dan Tofu Pinacolada yang sama enaknya. Puding Sagu mangga rasa manisnya di tingkat sedang dan menyegarkan. Sensasi mbrindil-mbrindil dari butiran sagu dan wangi yang berasal dari vla mangga itu terasa manis dan enak sekali. Di perut rasanya adem, sama seperti saat saya mengkonsumsi agar-agar. Rasa Adem dari pudding sagu dan manis segar dari vla mangga, paduan yang sempurna sekali saat lumat dalam mulut. Bener!!

Berbeda lagi sensasinya dengan Tofu Pinacolada yang memiliki rasa asam, manis, gurih menyegarkan. Butiran bubble-nya membuat sensasi tersendiri saat pecah ketika digigit. Dan yang membuat saya semakin norak adalah fungsi pipet berisi saus stroberi yang bisa dikucurkan ke dalam Dessert sesuka hati. Terus terang saya baru lihat dessert yang pakai suntik-suntikan begini. Gimana bikin bubble-nya ya? Apa seperti tayangan lomba masak ala Chef di stasiun televisi belum lama itukah? Pesertanya membuat bubble dengan cara menyuntik cairannya di spuit dengan tekanan tertentu ke dalam air es agar cepat menggumpal menjadi bulatan-bulatan bubble yang ukurannya sama. Jika iya, salut deh dengan Chef-nya yang taste of feel-nya pasti sudah kawakan. Jempoooll :)

Sayang, Klapertart urung saya coba. Katanya, ada penambahan rhum dalam Klapertart yang tidak diperbolehkan agama Islam. Terimakasih infonya untuk mas Pelayan yang sigap menawarkan dan memberitahukan serba serbi kuliner di hadapannya.


Buffet jajanan tradisional, tampak ada Es Palu Butung, Klapertart, Puding roti kayu manis kismis dan Combro. Ehh, Oncom brooo :)

Rantai Kuliner Sulawesi-Maluku dan Kesamaan Rasa

Barongko dari Makassar Versus Carang Gesing dari Yogyakarta

Nah, satu lagi kudapan yang saya coba yaitu Barongko. Barongko merupakan adonan pisang yang dihancurkan dengan santan, telur dan vanila kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai matang. Jika saya bandingkan dengan Carang Gesing kudapan tradisional dari Jawa, rasanya tidak ada bedanya. Beda nama, sama rasa. :)

 Gohu dari Makassar versus Asinan dari Bogor


Untuk pelengkap makan siang, saya mencicipi Gohu. Gohu merupakan sejenis asinan yang dibuat dari irisan pepaya setengah matang dengan kuah terbuat dari cuka masak, cabe merah dan garam gula. Saya penasaran sekali dengan adanya udang ukuran sedang yang masih utuh dalam campurannya. Rasanya sekali lagi begitu pas dengan selera saya. Rasa asam, manis, asin, gurih, pedasnya nampol persis seperti kuah asinan. Semuanya terasa dominan untuk menutupi langu pepaya irisnya. Rekomend buat yang lagi ngidam deh.


Hmmm, apa lagi ya? Oh iya, Urapan Jagung lebih kita kenal dengan Perkedel Jagung kan? Kemudian sejenis pastel yang biasanya diisi potongan wortel kentang berganti nama menjadi Panada dengan isian berbeda, yaitu suwiran ikan Cakalang. Kuliner Maluku lain adalah Nasi Jaha yang di Sumatra dikenal dengan Lemang. Kue Balapis kita kenal dengan nama kue Pepe di Jakarta, Lalampa akrab kita sebut dengan Lemper. Waah, menarik juga jika saya ulik kesamaan ini lain waktu, ya? Cateett.. J

Sayang sekali saya tidak menemukan Buras, Konro, Kaledo dan Jalangkote. Terus terang saya rindu kuliner Buras yang dulu kerap dibuat oleh Besan keluarga saya saat Idul Fitri sebagai pengganti ketupat. Saya penasaran juga terhadap rasa Kaledo yang beberapa kali saya lihat tayangannya di televisi. Seperti apa rasanya ya menyedot sumsum Sapi dengan sedotan? hehehe... Tapi, overall apa yang saya nikmati sudah oke, koq. *elus-elus perut.


Ayoo, mau yang mana? Ada Dimsum, Salad, Tom yam, Sushi roll, Bahkan tempe tepung juga ada :) 

sudut buffet bubur ayam komplit. 
Kekayaan Indonesia terbukti lagi dari keaneka ragaman kulinernya. Ada makanan yang persis sama tapi berbeda nama, ada juga yang sudah mengalami sentuhan modifikasi hasil pengaruh dari berbagai hal. Kreatifitas memodifikasi sumber daya alam yang ada dengan resep asli menjadikan kuliner lokal Indonesia makin beraneka ragam. 

Kurang lebih dua jam sudah saya dan teman-teman Blogger yang tanpa sengaja bertemu di Signature Restaurant harus pulang. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan selain lingkar perut yang sudah diatas ambang normal. Khazanah kuliner saya jadi makin kaya dan kecintaan akan Indonesia semakin bertambah.

"Makanan bukan hanya sekedar rasa, melainkan ada sejarah di dalamnya."
- Quote

Saya percaya, mengenal lebih jauh kuliner khas suatu daerah berarti ikut membantu nilai-nilai luhur warisan nenek moyang agar tetap lestari. Semoga kuliner lokal Indonesia makin berjaya sebagaimana kapal Pinisi yang masih dan akan terus ada. Mari Jo dicoba ne' di Signature Restaurant. Inga... Inga.. sampai 8 September saja :)

Note :
Signature Restaurant Kempinski Jakarta
Jalan M.H. Thamrin no.1 Jakarta Pusat
Jakarta 10310, Indonesia
Phone : +62 21 23583898

Rate :
Weekday Lunch Rp 265.000,-/pax
Weekend Brunch Rp 360.000,-/pax
All Week Dinner Rp 285.000,-/pax





Kamis, 03 September 2015

Bila Suami Tidak Menafkahi

September 03, 2015 0
Seorang teman pernah berkomentar pada postingan blog saya (baca : Suami saya romantis juga). Dengan nada getir, dia mengatakan jika suaminya sama sekali ngga masuk kriteria yang saya sebutkan itu.
Saat ini dia bekerja di perusahaan kontraktor, berusia 40 tahunan, mempunyai satu orang putri yang masih duduk di kelas empat SD, dan bersuamikan seorang pengangguran. Saya tau sekali apa yang dia rasakan sekarang ini. Di usia yang boleh dibilang sudah ngga produktif seperti ini, dia sudah ngga merasakan lagi kegairahan dalam pekerjaannya.
Seringkali saya baca postingan status time line FB-nya berbau-bau kepesimisan. Suatu hari dia posting status jika kepalanya sering cenat cenut akhir-akhir ini, kali lain postingannya mengatakan ketiadaan selera makannya. Kegagalannya memberikan yang 'terbaik' buat putrinya tergambar saat dia memposting cara mengisi liburan bersama putri dan suaminya hanya dengan menghabiskan waktu dengan numpang baca aja di sudut gramedia.
Jelas sekali dia iri pada kehidupan saya. Dalam mindset-nya,  perkawinan ideal berisi suami sebagai kepala keluarga yang menafkahi, istri yang pintar mengelola urusan domestik dan kalau bekerja, bisa bebas memakai uangnya untuk kebutuhan pribadinya. Ditambah, anak yang mempunyai lingkungan tumbuh kembang ideal dan sekolah di tempat yang bagus.
Sudah berkali-kali saya bilang, apa yang ada di pikirannya itu salah. "Rumput tetangga tuh memang lebih hijau," kata saya. Kalau mau dibalik, saya juga iri padanya yang masih sanggup menyekolahkan putrinya di sekolah elit, sementara tiga anak saya hanya di Sekolah Negeri yang pas-pasan fasilitasnya. Suami yang berstatus sebagai karyawan pabrik, yang gajinya hanya setengah kali gajinya harus pandai disulap agar cukup sampai gajian berikut.
Hidup memang ga selalu mendapat apa yang kita inginkan, kan? Saya sendiri terus terang geregetan dengan suaminya itu. Jahat sih memang saya yang menstempel suaminya itu tipe pemalas. Mental tempe banget, ngga punya motivasi diri sama sekali.
Tapi segala hal tetap ga boleh kita nilai dari satu sisi aja kan. Merunut ke masa kecilnya, bisa aja suaminya memang anak emas orang tuanya which is mertua teman saya itu. Secara emosional dan mental, bisa aja suaminya belum mencapai tingkat kedewasaan sesuai usianya. Nah, jika benar, sudah sejauh mana teman saya itu mau ikut berperan agar suaminya mau mengubah perilaku malasnya itu?
Saran saya buat teman saya hanya simple. Saya minta dia membantu suaminya untuk mencari jati dirinya, bantu dia keluar dari zona nyamannya. Mungkin di usia 40an dimana orang orang sudah seattle dengan kepribadian dan karirnya, suaminya masih belum menemukan. Bercerai bukanlah jalan keluar, mindsetnya aja yang harus diubah. Suaminya mengelola rumah tangga sementara teman saya yang bekerja menafkahi rumah tangga. Tentunya dengan segala konsekwensinya.
Kembali ke komitmen semula ya dear terhadap perkawinan. Sungguh, perceraian bukan jalan keluar terbaik, lho. 