Selasa, 28 Juli 2015

Barang Lungsuran, Siapa Takut?!

Juli 28, 2015 3
Bu, aku punya Tas anyaman merah. Aku ngga pernah pake nih, mau ngga? Sejak Felicia lahir, riweuh aku kalo gonta ganti tas melulu. Lagian tas aku sekarang mah isinya popok bukan parfum lagi, bu. Ga pantes pake tas kantoran sekarang mah hehehe…

Saya tersenyum geli membaca BBM dari Maya, teman saya yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sejak kelahiran putri kedua-nya. Profesinya dulu sebagai penyanyi Café yang dipenuhi berbagai aksesori bling-bling ala Selebriti sangat berbeda sekali dengan sekarang. Dia saat ini sering memakai sack dress casual berbahan katun  daster dengan bukaan depan, agar mudah menyusui bayinya. Penampilannya pun tanpa make up sama sekali dengan rambut dijepit seadanya. Beda 180 derajat.

Sorenya, dia mampir ke rumah membawa tas merah yang katanya ngga dipakai itu. Terus terang saya girang melihat kondisi tasnya yang masih apik dimana tali panjang tasnya masih utuh disegel. Kata Maya, “aku baru pake sekali, Bu. Masih bagus kan?”

“Nanti nyesel ga lo, kalo tasnya pindah tangan ke gue?” Saya menggodanya. Dengan tertawa geli Maya menjawab, “Ya nggalah, Bu. Gue punya tas bagus ada 7 lagi noh, ga sombong gue mah. Lagian kalo gue pengen pake tas begini, ya mesti nunggu Felicia udah gedean atuh, keburu modelnya juga udah ga trend. Mending ntar kalo gue perlu, ya gue beli lagi aja.”

“Tanggung amat ngasih satu, yang tujuh di rumah ga dibawa sekalian, Neng?” Kami pun tertawa lepas.

Bukan baru sekali ini saja kami saling melungsurkan barang. Ada beberapa kali kami saling melungsurkan barang. Terakhir kali saya lungsurkan celana Jeans Dega yang sudah kekecilan ke anak sulungnya, Faizal yang sekolahnya masih di TK. Di keluarga besar saya, anak lelaki terkecil adalah Dega. Sepupu-sepupunya yang sepantaran perempuan semua. Sepupu-sepupu lelaki sudah besar semua, mereka sering melungsurkan pakaian yang masih bagus untuk mas Tsaka dan Dega.

Begitu juga mba Nala, pakaian semasa kerja saya jaman dulu sewaktu masih kinyis-kinyis sudah banyak yang dipakai dia untuk hang out. Belum lagi dari sepupu-sepupu perempuan dan budenya yang juga chic jika berpakaian, pasti lungsur ke Nala. Yang dilungsurkan bukan pakaian saja, jam tangan yang sudah kekecilan lingkar tangannya pun lungsur , gelang emas bayi semasa mba Nala masih bayi pun dilungsurkan dari kakak sepupunya.

Saya ngga malu terima barang lungsuran. Ambil manfaatnya aja dari fungsi sebuah benda. Toh ini merupakan cara berhemat yang efektif menurut saya lho. Dari sisi pemberi, dia bisa berhemat karena tidak harus mengeluarkan biaya pemeliharaan akibat menumpuk barang tersebut. Dari sisi penerima, otomatis bisa menghemat biaya keperluan keluarga. Dengan begitu, keberadaan benda jadi ngga mubazir. Yang terutama, adanya tali silaturahim yang makin erat. Dengan menggunakan barang yang memiliki sejarah yang sama, ikatan emosional antara pemberi dan penerima semakin kuat dan dekat. Yang terpenting lagi, adalah adanya niat tulus dari pemberi dan tidak ada rasa gengsi bagi yang menerimanya, insha Allah ngga ada masalah yang akan timbul deh. Buktikan aja J





Cara Mereka Mengelola Uang Saku

Juli 28, 2015 0
Tahun ajaran baru ini si bungsu Dega mulai full jam belajar di sekolahnya. Namanya juga SD Negeri, dulu saat kelas 1 dan kelas 2 SD, jam sekolahnya bergiliran seminggu-seminggu dari jam 7.00-9.00 dan 9.30-12.00. Sedangkan naik ke kelas 3 SD ini jam belajarnya siang dari jam 12.30.00-17.00, nanti semester genap akan di-rolling lagi ke pagi jam 7.00-12.00. Waduh, kasihan juga ya sekolah siang-siang, mana sudah full time pula jam belajar sekolahnya  L

Sejak jam Sembilan pagi tadi, saya terus mewanti-wanti Dega untuk menghabiskan bekal makan yang sudah disiapkan. Botol minumnya yang bermuatan air sebanyak 1 liter saya isi penuh-penuh. Saya takut Dega kelaparan, mengingat Dega itu adalah anak yang doyan makan dan amandelnya mudah bengkak kalau makan yang aneh-aneh. Syukur Alhamdulillah, sejak pernah kena Thypus dia sudah alergi makan jajanan sembarangan, takut diopname dan ditusuk-tusuk jarum lagi untuk dipasangi infus, katanya.

Pikir-pikir sebenarnya peristiwa ini bukan sekali saya alami. Hal yang sama saya rasakan juga saat mas Tsaka dan mbak Nala di hari-hari awal sekolah siangnya. Saya blingsatan menyiapkan kebutuhan logistic selama di sekolah, seperti bekal makan, botol minum dan uang jajan. Ibu siapa yang tega membayangkan anaknya di sekolah kelaparan, sedangkan di saat yang sama ibunya sedang leyeh-leyeh dengan segelas sirup dingin di rumah. Oh, it’s not me :D

Saat duduk di kelas tiga SD dulu sampai kelas enam SD sekarang ini, mas Tsaka sudah menerima uang saku sebesar lima ribu rupiah perharinya. Saat itu mas Tsaka yang karakternya sangat easy going (ga mau repot) sama sekali ngga mau membawa bekal makannya. Pernah diam-diam saya sembunyikan bekal makannya, supaya nanti di sekolah bisa dimakan. Ternyata bekal makannya bukan dimakan sendiri malah dishare ke teman-temannya. Sudah dimarahi ya percuma juga. Dengan segala pertimbangan, akhirnya dia dibekali uang untuk jajan makanan yang mengenyangkan di kantin sekolahnya.

Sama seperti Dega, sejak kena Thypus berbarengan dengan Dega, mas Tsaka pun ogah jajan makanan sembarangan. Dia memilih tetap jajan dari uang sakunya itu untuk membeli nasi uduk, nasi goreng atau gado-gado yang ukurannya cuma semunil, daripada jajan sosis-sosis yang dkucuri saus tomat ngga jelas, atau snack bungkusan yang vetsinnya sangat mendominasi. Tabungannya ada sih, tapi paling sedikit dibandingkan dua saudarnya. Tapi seperti biasa, dia cuek aja ;)

Lain lagi dengan mbak Nala, sampai kelas enam SD dia sama sekali ngga pernah punya uang saku selama sekolah. Saat itu mba Nala diantar jemput oleh saya sendiri, jadi bekal makan dan botol minumnya sudah saya cukupi, jika ada keperluan iuran ini itu saya langsung bayarkan saat menjemputnya pulang. Setelah memasuki usia remaja, di SMP, mba Nala yang sudah berani naik angkot sendiri pun harus memegang uang saku. Setelah meng-kros cek ke teman-temannya, maka saya menyamakan uang sakunya dengan teman-temannya  10 ribu rupiah perhari. Selanjutnya, perlahan-lahan saya bulatkan dari memberi ke mingguan ke bulanan. Dari uang sakunya ini dia berencana menabung untuk beli sepeda balap untuk sekolah. Katanya, kalau dia bisa punya sepeda, dia bisa mengirit pengeluaran angkotnya. Setelah dihitung-hitung, bujet naik angkot selama 6 bulan cukup untuk beli android baru. Oh ya,hape mba Nala Samsung Galaxy Young yang dia beli sendiri sejak naik kelas 6 SD, 3 tahun yang lalu memang sudah sering eror. Sudah pantas sih jika dia beli yang baru. Semangat nabung ya mbak J

Tapi gimana dengan Dega? Berapa ya uang saku ideal buatnya? Sejak kelas 1 SD Dega mendapat uang lima ribu rupiah hanya di hari Jumat saja. Itu hanya untuk jaga-jaga saja jika dimintai iuran kas kelas (yang entah untuk biaya apa?), foto kopi ulangan dan untuk infak yang kotaknya diedarkan ke kelas-kelas. Biasanya uang itu pun juga ngga dijajankan sesuatu oleh Dega, dia gunakan untuk keperluan membayar iuran ini itu seperti di atas. Selebihnya dia tabung. Pernah saya penasaran menanyakan rencananya seputar tabungannya nanti akan digunakan untuk apa. Dia menjawab dengan lugas, “aku mau beli mobil baru untuk Ibu, boleh kan?” 

Masya Allah, Dega :’)







Udah Tua Koq Ngajinya Masih Iqro?

Juli 28, 2015 0
Di hari pertama sekolah, saya dihampiri mamanya Tania (sebut saja begitu), teman Dega sekolah. Setelah ngobrol ngalor ngidul ngga penting, dia bertanya,”Nilai akumulasi rata-ratanya Dega berapa, Bu?

Saya jawab bahwa saya ngga memperhatikan sekali nilai raport kenaikan kelas kemarin berapa total nilai, rata-rata nilai dan nilai akumulasinya. Saat itu memang konsentrasi saya terfokus untuk kesehatan ibu (baca : cepat sembuh ya, bu ) , boro-boro kepikir untuk menelaah isi raport anak-anak deh.

Ketika saya tanya balik, berapa nilai akumulasi raport Tania, ibu itu ngga mau menjawab. Dia bilang, “sama, Bu. Saya juga ngga ngitung.” Masa sih? Koq terpikir untuk menanyakan nilai raport Dega, kalau bukan untuk membandingkan?

Entah mengapa dari nada suaranya saya menangkap kesan yang tidak mengenakkan. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. Sepertinya dia ‘ngga terima’ rangking satu yang biasa dipegang Tania putrinya direbut Dega.

Kemudian ‘penyelidikan’ berlanjut. Dia menginterogasi menanyakan apakah Dega les? Les di mana? Ingin sekali saya bilang padanya bahwa keluarga kami harus hidup hemat agar pendapatan suami bisa cukup. Berapa yang harus saya keluarkan untuk biaya les tiga anak saya jika lesnya seperti di tempat putrinya yang mahal itu. Tapi saya tahan, yang saya lakukan adalah menekan ikon senyum. Saya bilang “Dega ngga les di mana-mana. Belum ada duit, Bu. Saya cuma pesan ke Dega, jika di kelas dengarkan bu Guru aja. Kalau ngga ngerti, buru-buru tanya. Jangan malu. Jangan ngobrol. Peran aktif aja di kelas. ”

Seperti kurang puas, dia menyecar seputar ngajinya Dega. Terlihat nada gembira ketika saya bilang Dega ngajinya belum ke juz brapa-brapa, baru Iqro 5. “Udah tua koq masih Iqro?” cetusnya.

Sempat saya termangu mendengarnya. Aibkah jika Dega yang baru naik ke kelas tiga SD ini baru Iqro 5? Kelihatannya priyayi dan intelek tapi koq dia menjatuhkan Dega seperti itu, sih? Astagfirullah. Saya lihat ke arah Dega yang dari tadi berdiri di sisi saya, namun tidak terlihat ekspresi apa-apa dari wajahnya. Seperti mendapat kekuatan, ikon senyum lebar saya tekan kembali. Saya bilang, “Ngga papa Bu, belajar itu kan ga kenal umur, ya De?” Saya genggam tangan Dega. Cepat saya melanjutkan, “tua atau masih muda, ga usah minder. Yang penting, mau belajar, oke?!”

Saya eratkan genggaman tangan saya. Dega tersenyum kemudian tertawa lebar. Katanya,”kalo ngga ada kemauan ya ngga pinter ya, Bu.” 

Saya merenung lama. Siapa yang ngga pingin anaknya pintar sih? Siapa yang ngga pingin anaknya berprestasi sih? Tapi kita ngga bisa paksakan jika anaknya belum mau dan belum mampu, kan? Target tiap orang tentu berbeda-beda, dan belum tentu cocok dengan target kesuksesan kita, kan? Yang paling tahu apa kemampuan, kebutuhan, keinginan dan tujuan adalah kita sendiri. Dan Dega telah membuktikan, apa kemampuannya, apa kebutuhan dan keinginannya, maka dia berusaha meraih kesuksesannya dengan rambu-rambu berupa ‘pesan sponsor’ dari saya dan ayahnya.

Saya dan suami berprinsip untuk tidak menilai prestasi akademik ditentukan dari rangking kelas. Kami lebih mengutamakan pemahaman materi pelajaran daripada hasil akhir berupa nilai sempurna untuk ulangan-ulangan. Saya akui, nilai akademik si sulung mba Nala dan si bungsu Dega sangat membanggakan tapi tidak begitu dengan mas Tsaka, si tengah. Nilai akademik mas Tsaka saya kategorikan di average to weak. Dari 40 siswa, mas Tsaka ada di rangking 37. Namun, sekali lagi kami ngga melihat dari nilai akademik. Mas Tsaka di usianya yang ke 8 sudah  terlihat kemauannya di dunia otomotif. Dengan cekatan dia membantu ayahnya jika mobil kami sedang ngadat. Mas Tsaka tau sekali apa yang harus dia lakukan, mengecek kira-kira apa yang rusak. Bagi kami itu merupakan prestasi tersendiri mas Tsaka dibandingkan anak-anak seusianya.

Kembali ke sifat membanding-bandingkan seperti ibu itu tadi memang sering sekali saya temukan di berbagai tempat. Sudah ngga heran, jika di tempat umum ada yang suka membanggakan dirinya sendiri atau orang terdekatnya. Sejurus kemudian mencari kelemahan orang lain lalu membandingkan dengan kondisinya. Yang dibanggakan juga ngga jauh dari seputaran kerajinan, kesolehan, kekayaan, kecakapan fisik, prestasi akademik, kondisi rumah tangga, dan karier.

Sebagai ‘korban’ dalam praktik perbandingan, terus terang saya sempat kesal. Tapi saya ngga bisa berbuat apa-apa. Serba salah jadinya. “Positif thinking aja, Bu. Anggap aja dia punya cara ‘unik’ untuk menjadi penyemangat belajarnya Dega,” ujar suami saya dengan santai.

Hehehehe… iya juga ya. Buat apa juga saya terlalu memikirkan orang lain, lebih baik focus kembali kepada diri sendiri dan keluarga aja. Salam J









Rabu, 15 Juli 2015

Tahu Schotel Request Ibu

Juli 15, 2015 0
Sejak ibu sakit, nafsu makannya sering up and down. Saya sering kebingungan memilihkan makanan apa yang ibu suka dan diperbolehkan oleh dokter. Hipertensi dan diabet yang ibu derita merupakan kegagapan tersendiri bagi saya untuk menyuapkan sesuatu makanan. Kebanyakan garam maka hipertensinya akan kumat, sebaliknya jika kebanyakan gula maka gula darahnya akan naik. Serba salah.

Sudah tiga hari ini ibu menggelengkan kepala setiap saya tawarkan sesuatu. Kemarin-kemarin saya suapkan Lemper Mon Ami ibu suka, tapi kali kedua ibu emoh. Kemudian, ia minta bakso kuah, segera saya siapkan tapi selanjutnya emoh lagi. Saya buatkan nasi goreng, ibu mengacungkan jempolnya, tanda suka. Tapi berikutnya ia menggelengkan kepala lagi. Aah ibu, makan yang banyak dong, biar cepat sembuh... 

Setelah beberapa waktu, dengan bahasa tarzannya, saya bisa menerjemahkan makanan yang ibu mau. Alhamdulillah, rupanya ibu meminta tahu schotel buatan saya. Tahu schotel ala saya sebenarnya masakan yang saya buat jika saya lagi malas atau memang lagi ngga ada waktu banyak. Cukup bikin tahu schotel lalu simpan di kulkas, jika mau dimakan tinggal digoreng sebentar, jadi deh cemilan bergizi ini.

Oya, resep standarnya sebagai berikut :
3 tahu putih besar diremas sampai hancur
3 batang sedang wortel, parut kasar atau dicincang
1 kaleng kornet (biasanya saya pakai daging cincang atau bakso cincang atau sosis cincang)
2 batang daun bawang diiris sedang
Segenggan makaroni direbus matang
5 butir telur ayam dikocok lepas
Bumbu uleg : garam, merica dan 5 butir bawang putih dan kaldu ayam.
Semua bahan diaduk rata lalu dimasukkan ke loyang yang sudah diolesi minyak dan dilapisi plastik atau daun pisang. Tata rapi lalu kukus selama 45 menit. Kalau sudah matang, dinginkan, potong-potong. Goreng sampai matang, lalu sajikan.
Loyang yang saya gunakan di rumah ibu adalah loyang plastik untuk agar-agar yang berlubang tengah. Biasanya di rumah saya memakai cetakan kue mangkuk yang kecil-kecil, hasilnya lucu deh.
Nah, sambal yang cocok dengan tahu schotel ini adalah sambal kecap yang dikucuri air jeruk nipis. Endeesss deeh :) :) :) 
Silakan mencoba 

Minggu, 12 Juli 2015

Lebaran Kali Ini Tidak Akan Sama

Juli 12, 2015 0
Sejak jaman Catering belum marak, setiap ada hajatan keluarga besar, ibu saya sering diminta bantuannya untuk memasak dalam jumlah besar. Begitupun sebaliknya, jika ibu saya mengadakan hajatan besar-besaran, maka gantian pasukan dari ‘trah’ keluarga besar pasti membantunya. Biasanya jika ada hajatan, seperti reuni akbar, ibu dan sanak keluarganya bisa saling bertukar kabar dan cerita sambil goyang centong. Asyik ya J

Saya masih ingat ketika kecil dulu, saat ada hajatan pernikahan seorang famili, saya ikut ibu berbelanja dalam partai besar di pasar yang lokasinya cukup jauh. Saat pulang dari pasar, aneka sayur mayur, buah-buahan dan daging-daging sampai memenuhi mobil. Kata ibu,”Lumayan harganya, Nduk. Semangka beli di pasar Kebayoran Lama harga sekilonya lebih murah dibanding beli di pasar Kopro. Belum lagi harga dagingnya.”

Saya mangut-mangut ngga ngerti sama sekali, blas. Untuk selanjutnya, ke-ngga ngertian saya kembali terusik saat aneka rupa bahan makanan yang ibu belanjakan, lalu diolah dengan sanak keluarganya untuk disajikan di meja prasmanan untuk tamu pesta, dipastikan nyaris tidak bersisa. Masakan ibu emang ngga ada duanya deh. Huebat ya ibu. Ckckckck...

Sekarang, berhubung  kondisi kesehatan ibu belum pulih, berarti bendera putih berkibar nih. Artinya, lauk pauk lebaran yang biasanya ibu olah, kali ini ngga akan sama. Bukan rasa masakannya yang saya pikirkan, toh aneka resep tinggal googling saja. Tapi gimana cara ibu menghitung jumlah tamu dan bahan makanan yang diolah supaya pas ya? Tentunya saya ngga mau porsi lauk pauk lebaran nanti bakal ‘lebar’ (baca: mubazir) jika ngga diperhitungkan seksama.

Saya berasal dari keluarga yang besar sekali. Ibu adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ibu sendiri memiliki 8 anak, 19 cucu dan 4 buyut. Adik-adik ibu dan anak cucunya dipastikan juga akan sowan di rumah ibu pas hari lebaran nanti sebagai penghormatan untuk ibu yang paling sepuh. Almarhum bapak pun idem dito. Keluarga besarnya yang ada di Jakarta dipastikan akan silih berganti menyambangi rumah ibu. Suasana rumah ibu benar-benar seperti markas besar. Seorang om pernah bilang,”daripada safari lebaran kemana-mana malah ngga ketemu yang dicari, mending mangkal di rumah bude Situk (ibu saya) aja, pasti ketemu semua deh.” Hehehe... aman terkendali ya om.


Entah, berapa puluh ketupat yang akan dimasak saya dan kakak-kakak nanti? Berapa ekor ayam kampung yang akan diolah menjadi opor nanti? Berapa banyak kelapa yang digunakan untuk opor dan sambal godoknya nanti? Sudahlah, nanti saja rembukan lagi sama kakak-kakak. Yang penting sekarang, stok beras, bawang merah dan sirup sudah ada. Yang penting lagi, lihat ibu sehat dan bisa sholat Ied bareng lagi adalah harapan kami semua. Semoga cepat sembuh ya, bu. 

Sabtu, 11 Juli 2015

Investasi Tidak Kasat Mata

Siapa yang ngga kenal dengan kata yang satu ini. INVESTASI. Sebagai mentri keuangan rumah tangga, urusan investasi pasti sudah menjadi lalapan sehari-hari kan ya, ebu-ebu? Pasti familiar dong ya dengan investasi yang sederhana seperti tabungan, asuransi, emas sampai yang levelnya masih di awang-awang seperti investasi properti, saham atau reksadana.

Menyisihkan sedikit pendapatan keluarga untuk investasi memang sudah wajib hukumnya. Kita ngga akan pernah tau gimana kehidupan kita nanti, kan?

Tapi gimana dengan investasi yang ngga kasat mata, misalnya aja invest kesehatan. Seberapa banyak orang yang aware pada kesehatannya sih?

Huufft, saya dulu kalo makan bakso di jalan suka bablas menggunakan saus sambal 'abal-abal' dan sambalnya yang ngga kira-kira. Suami saya sampai marah melihat merahnya kuah bakso saya. Bukannya nurut sama suami, saya sengaja makan bakso ngga ditemani belio. Mana asyiknya sih makan bakso kalo ngga pedas? Menurut saya, enaknya kuah bakso berasal dari saus sambalnya itu. Kelak saya tau dari tayangan televisi, saus sambal yang dibuat dari cabe busuk, tomat busuk dan pepaya busuk itu pun mengandung aneka bahan kimia yang merusak tubuh. Hiiiiii... seram.

Astaga, bodohnya saya. Gimana saya nanti mengantar anak cucu 'menjadi orang' dalam kondisi sehat jiwa dan raga? Saya ngga bisa bayangkan, apa pun yang saya konsumsi mempunyai andil untuk kesehatan saya kelak.

Memang dengan adanya BPJS, diakui sangat menopang kesehatan masyarakat. Tapi, ngga ada salahnya kan kalo saya berinvestasi ngga kasat mata ini dengan menjaga apa yang saya konsumsi sekarang? :)

Share yugh, apa aja investasi ngga kasat mata lainnya. Ditunggu ya :)

Jumat, 10 Juli 2015

Antara Saya dan Lingkaran Network

source from Google


Kurang lebih setahun terakhir ini keberadaan saya di dunia blogger semakin nyata. Setiap event undangan saya usahakan untuk hadir untuk kemudian menuliskan reportasenya berdasarkan sudut pandang saya pribadi. 

Di setiap event tersebut saya bertemu dengan banyak rekan-rekan Blogger dari berbagai profesi. Entah kenapa, satu hal yang tampak jelas muncul dari sosok-sosok teman baru saya ini adalah semangat mereka yang sangat tinggi dalam menulis. Dipastikan setiap selesai event, tidak lama mereka telah mempublish reportasenya. 

Sebagian besar mereka pun tidak keberatan untuk mau berbagi informasi  kepada saya. Mereka mau membantu saya yang masih 'hijau' seputar attitude selaku blogger agar tidak dipandang sebelah mata, seputar lomba blog, bahkan seputar trik mengutak atik blog.Terngiang terus ucapan seorang teman yang akrab disapa Teh Ani Berta. Dalam suatu kesempatan ia bilang,”anggaplah menulis itu menjadi ibadah. Jangan sekalipun menghitung bayaran yang kita akan terima besar atau kecil. Kepantasan kita nantinya akan datang dengan sendirinya. Fokuskan saja dengan menulis dan menjalin networking.”

Networking. Yup, jaringan pekerjaan memang sangat berarti. Hal sama saya rasakan juga dari komunitas Flannel yang saya geluti. Beberapa tahun lalu, saat mata masih 'awas' hobi saya menekuni dunia jait dengan flanel pun membawa berkah. Hal itu tidak saya dapat dengan mudah. Berbekal sedikit ilmu tusuk jarum dan benang dan tentunya bertemu orang-orang baik, karya-karya flanel saya telah menjelajah kota-kota dari Sumatera sampai Kalimantan. Belum lagi, pesanan kecil-kecil dari jaringan offline yang tidak boleh saya abaikan begitu saja.

Berkat networking, teman-teman Crafter yang saya kenal hanya di dunia maya sangat berperan dalam malang melintang saya di bisnis home made tersebut. Pernah, suatu kali saya kebingungan mengerjakan pesanan beberapa lusin gantungan kunci. Saat itu, tangan saya terluka akibat terkena pisau. Tidak butuh waktu lama, setelah saya meng-upload gambar yang saya inginkan, mengalirlah bantuan dari teman-teman crafter di berbagai pelosok kota yang bersedia meng-handle.

Saat saya kebingungan menerima pesanan souvenir pernikahan, teman crafter saya di Solo Fitry Gaity pun rela mengirimkan tanpa biaya apa-apa sample souvenir miliknya untuk saya gunakan. Katanya, “rejeki ngga salah pintu koq, Mbaku sayang.”

Berkaca dengan berbagai peristiwa itu, saya bilang, mereka adalah orang baik. Teman-teman di lingkaran saya sama sekali tidak takut tersaingi, atau takut dicuri ilmunya, atau bakal pupus rezekinya diboikot saya.

Memang benar jika dikatakan, salah satu modal kita untuk sukses adalah memiliki network yang baik. Dalam bidang apapun. Salah satu cara untuk menciptakannya adalah melalui semangat berbagi. Semakin kita takut berbagi atau membantu teman lain yang sedang memerlukan, semakin jauh kita dari kesuksesan. 

Bukber BRid ; Tak Kenal maka Tak Kenyang

Juli 10, 2015 1
foto nyulik dokumentasi BRid

Kurang lebih sebulan terakhir ini saya lumayan sering absent wira wiri di wall sosmed. Konsentrasi pada kesehatan ibu selama ia dirawat di RS dan takut ‘ngiler’ liat event-event yang ngga bisa dihadiri memantapkan hati untuk mengklik off sementara akun sosmed saya. Tapi, sepertinya saya terlalu ‘gatal’ untuk berlama-lama semedi. Bukber BRid menjadi oase dahaga saya rupanya.

Kebetulan, karena berangkat dari rumah ibu saya di bilangan Kebun Jeruk Jakarta Barat yang strategis ini, *eeaa*  berangkatlah saya naik mikrolet ke arah Tanah Abang, lalu dilanjutkan naik Kopaja 502 ke jurusan Kampung Melayu. Perkiraaan saya meleset. Estimasi perjalanan yang bakal lama terimbas macet di Tanah Abang rupanya ngga terjadi. Sebelum jam 4 saya sudah tiba di depan Warung Daun Resto Jalan Cikini Raya no. 26 Jakarta Pusat.

Resto Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat

 Di teras Resto saya berpapasan dengan seorang lelaki ganteng berkaos hitam yang rasa-rasanya wajahnya cukup familier. Dengan ramah beliau menyambut saya dan seketika itu juga otak saya mendadak blank. Saya ngga inget sama sekali. Siapa ya??

Alamaaak, dia mas Hazmi Srondol sang Founder BRid rupanya. Maaf ya Mas, baru sekali ketemu di dunia nyata sih. Ngga berhenti sampai disitu, ‘Kuis Siapa dia’ berlanjut lagi. Sempat towel kanan kiri depan saya untuk menanyakan  siapa si anu yang berkaca mata, siapa si anu yang duduk di ujung dan sebagainya. Sempat juga saya mengamati orang yang saya kira mas Ahmed, ngga taunya bukan. “Itu mas Syaifudin Sayuti,” bisik seorang teman. Oemji, salah lagi. Euleuh-euleh, where are you mas Ahmed? Hahahaha…

Acara mengalir dengan santai, mas Ulish Anwar sang MC memang piawai banget memandu acara. Saya yang bolak balik gagal focus berkat satu demi satu makanan yang diantar pramusaji ke meja depan saya jadi teralihkan. Testimony yang diutarakan teman-teman saya umpamakan seperti crackers; renyah, gurih, manis, padat dan bikin kenyang. *eeh

masih ada lagi dan lagi... :)

 Dalam sambutannya, Mas Hazmi menggaris bawahi, “ Kami bukan hendak mengatur apalagi membatas para Blogger. Tapi tujuannya mengajak anda semua untuk disiplin dan bertanggung jawab.”


Yups, setuju Mas. Jika diambil sudut pandang positif, ketatnya aturan di BRid merupakan cermin kesungguhan BRid untuk mencitrakan Blogger sejati. Bagaimana bisa menjadi Blogger sejati, jika menulis postingan saja harus diingatkan terus?

Suasana sedikit mengharukan saat wanita cantik yang berprofesi sebagai desainer itu angkat bicara. Sebagaimana diketahui, suami bu Ami, Bapak Indar Atmanto mantan Dirut Indosat saat ini tengah memperjuangkan PK atas kasus yang menimpanya. Dengan tersendat-sendat ibu Ami Atmanto berharap, “Saya memohon doa dan dukungan untuk Bapak. Saya pun tetap berfikir positif untuk terus mencari keadilan.”

ki-ka : Bu Yeni Wahid, Bu Ami Atmanto, Bpk Fuad dari Indosat

 Yugh, tanda tangani petisinya. Satu suara pasti berarti. Kunjungi www.bebaskanIA.tk

Menjelang detik-detik berbuka puasa, dalam kuliah tujuh puluh menitnya ini *woooooo_heboh seketika pemirsah* kang Arul kembali mencairkan suasana. Dosen lulusan UIN yang dikenal jadi tukang doa di komplek rumahnya bilang,”BRID singkatan dari B (Berani), R (Respect) menghargai orang lain, I (Inspiratif) , D (Development) tidak berhenti membangun dan mengembangkan diri.”

 Sungguh, Bukber BRid ini bikin kenyang. Kenyang karena saratnya ilmu dari kang Hazmi dan tauziah bernas dari kang Arul. Kenyang karena bertambahnya social network dengan rekan-rekan Blogger semua. Kenyang dengan tentengan gudi beg yang bikin senyum tambah lebar. Kenyang pula dengan aneka paket ketupat Ramadhan dari Indosat.

Nah, ngomong-ngomong soal Indosat, perlu tau juga nih aneka pilihan yang bikin kenyang yaitu :

Paket SANTAN : SMS terus-terusan
Paket TELOR : telponan Ramadhan
Paket OPOR : Online Pol Ramadhan
Paket KOMPLIT : internetan, Nelpon dan SMS

Terimakasih saya haturkan untuk BRid dan segenap jajaran adminnya, Indosat, Bu Ami Atmanto, Bu Yeni Wahid dan rekan-rekan Blogger semua. Sampai jumpa di Halal Bihalal nanti ya

Tuan rumah yang ngga segan-segan menyambangi setiap meja :)

don no wot tu du :) (Liswanti, Dewi Sulistiawaty, Melly Feyadin Caroline Adenan dan saya)

Ssttt... ini sebagian penampakan luar gudi begnya. Keren ya? Isinya apalagi hehehe... 














Rabu, 08 Juli 2015

Cepat sembuh ya, Bu


menjelang bersiap pulang 

Ibu saya bulan Desember nanti genap berusia 80 tahun. Sebulan lalu, tepatnya akhir Mei 2015 ibu terkena serangan stroke, akibatnya badan ibu lumpuh sebelah. Diduga, salah satu penyebab munculnya penyakit itu berasal dari penyakit darah tinggi yang memang sudah lama diidapnya.

Penyakit stroke ibu membuat kami kedelapan anaknya sangat sedih. Semua anak, meskipun tinggal di kota berbeda,  satu persatu dihubungi untuk melihat kondisi ibu. Namun, syukurlah setelah 3 minggu dirawat di rumah sakit, ibu boleh pulang dan harus rajin control sesuai jadwal yang ditetapkan dokter.

Menyaksikan sendiri masa-masa up and down ibu, saya yang setelah menikah-sudah lama tidak serumah dengan ibu- jadi makin mengerti apa kebiasaan dan kesukaan atau ketidaksukaan ibu. Wajah ibu bisa terlihat begitu murung, saat saya bilang akan pulang dulu sementara untuk mengurus beberapa hal. Dengan bahasa planetnya, ibu akan tertawa melihat wajah melongo saya yang kebingungan menafsirkan kata-katanya. Bahkan, saya sempat bertepuk tangan gembira ketika ibu menganggukkan kepalanya saat mengusulkan akan memasakkan makanan yang saya ingat samar-samar, pasti ibu suka.

Setelah tiga kali mengantar fisioterapi ibu ke rumah sakit, kondisi ibu semakin berkembang. Langkah ibu walaupun masih dititah seperti bayi, semakin menapak dengan stabil, namun tangan kanannya masih lemas dan cara bicaranya masih kelu. Dokter dan fisioterapisnya bilang, kemajuan ibu termasuk cukup pesat dibandingkan pasien lain yang seumur ibu. Masya Allah, senangnya mendengar diagnose tersebut.

Saya yakin, ibu bisa bangkit kembali dari stroke-nya mengingat ia merupakan sosok kokoh yang tidak gampang putus asa. Jika waktunya minum obat, ibu tidak segan-segan menelan langsung beberapa butir pil yang saya sodorkan. Ketidak stabilan syaraf ibu yang membuatnya sembelit (susah BAB) tidak membuatnya kesal, potongan papaya yang saya ulurkan segera ia lahap sampai habis.

Saya yakin, ibu bisa bangkit kembali dari stoke-nya mengingat rumah ibu yang selama ini sepi, pas kebetulan dengan moment liburan ini semua anak dan cucunya kumpul. Rumah ibu kembali hangat dengan gelak tawa. Ibu kembali melihat meja makan yang sepi kini ramai dengan tumpukan gelas dan piring sisa sahur tadi. Semoga cepat sembuh ya, Bu.

Selasa, 07 Juli 2015

Anakku sudah besar

Juli 07, 2015 7

Waktu memang cepat berlalu. Tahu-tahu anak-anak sudah bertambah besar. Dulu, saya yang mengatur dan menyiapkan kebutuhan mereka. Dulu, saya yang memilih apa yang harus mereka kenakan dan tidak boleh dikenakan.  Dulu, saya yang mengelola mereka. Sekarang?

Kemarin sore, 7 Juli 2015 saya mendapat undangan bukber dari komunitas blogger BRid di restaurant Warung Daun depan TIM, Cikini, Jakarta. Sebelum berangkat, dari jam 14.00 saya sudah heboh memilih pakaian yang akan saya kenakan nanti. Kenapa saya heboh? Hehehe

Begini ceritanya. Selama ibu saya terkena stroke dan dirawat di rumah sakit lalu kembali pulang ke rumah, saya terhitung mondok di rumah ibu. Kondisi ibu yang begitu trust mempercayakan semuanya kepada saya, membuat saya trenyuh dan tidak bisa menolak permintaaannya.

Selama di rumah ibu, pakaian yang saya kenakan tidak neko-neko, cukup baju-baju sederhana yang tidak ribet penggunaannya untuk dikenakan saat kontrol ke rumah sakit. Mengenai baju rumah, jangan kuatir, persediaan daster ibu saya banyak koq. Dan, daster memang pakaian yang paling nyaman dikenakan, kan

Nah, berhubung persediaan pakaian yang saya bawa tidak banyak dan rasanya tidak pas untuk dikenakan buat bukber Brid, hebohlah saya. Saya bongkar lemari ibu mencari baju-baju yang bisa saya pinjam. Tentunya kriteria baju incaran saya di lemari ibu yang tidak keliatan nenek-nenek banget. Hihihih...

Saya mencoba mix and match dengan baju-baju yang saya bawa dari rumah dengan koleksi ibu dan koleksi kakak perempuan saya. Begitu saya selesai berpakaian, meledaklah tawa mba Nala si sulung saya. Katanya begini, “ya ampun Bu, ibu itu kaya rainbow cake aja sih. Jilbabnya hijau, bajunya pink, cardigannya merah, celananya hijau lagi.”

Mba Nala sewaktu masih ompong, judesnya mungkin dari pongah (ompong tengahnya) itu ya. Aah, long time ago :)


judesnya masih ga hilang juga meski sudah ga ompong lagi :D


Ya elah mbak,kejam banget sih. Saya memberengut. Sempat saya saltum beberapa kali, sampai akhirnya saya memilih jilbab abu-abu gradasi hitam dan kulot abu-abu muda dengan baju dan cardigan yang sama. Melihat penampilan saya, komentar mbak Nala sedikit halus, “nah, gini dong. Ingat sama umur, Bu.”

Saya sering lupa, bahwa anak-anak sudah semakin besar. Mereka tidak bisa diperlakukan seperti boneka. Mereka tidak bisa diperlakukan seperti orang kantoran yang perlu dikontrol dan diawasi seperangkat peraturan. Dengan menyetujui arahannya dalam berbusana seperti tadi, saya yakin telah membantunya menemukan jati dirinya. Dan saya bahagia, saya mengetahui siapa anak saya sebenarnya.


Senin, 06 Juli 2015

Hobi Menulis? Salurkan saja di Serempak.or.id

30 orang Blogger, tim Pokja Serempak dan perwakilan KPPA bersinergi memajukan perempuan dan anak Indonesia
Bertepatan dengan bulan yang sarat makna ini, pada 29 Juni 2015 lalu KPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak) dan Kelompok Kerjanya yang diketuai Martha Simanjuntak menggelar rangkaian acara bertajuk MAJU BERSAMA SEREMPAK. Bertempat di ruang Nyai Ahmad Dahlan Gedung KPPA Jalan Medan Merdeka Barat No. 15 Jakarta, Maju Bersama Serempak menjadi wadah untuk mengajak sekaligus memaksimalkan potensi menulis yang bisa dieksplor penuh oleh para Blogger undangan dan juga masyarakat pada umumnya. Dalam acara ini juga pengenalan lebih jauh visi dan misi portal online Serempak.or.id adalah untuk memajukan perempuan Indonesia.

Ibu Martha Simanjuntak Ketua Tim Kelompok Kerja portal Serempak 

Portal online Serempak.or.id merupakan wadah milik masyarakat yang difasilitasi oleh KPPA. Wadah ini merupakan forum yang berisi berita-berita/issue/info yang terkait dengan perempuan dan anak. Di situs ini berbagai kriteria bacaan disuguhkan untuk menarik minat baca dan mencari alternatif solusi bagi semua masyarakat. Ada berbagai kanal menarik yang telah dikelompok-kelompokkan seperti hukum dan kebijakan, IPTEK, wisata budaya & kuliner, ibu & anak, dan yang terakhir adalah karir & pengembangan usaha.

Portal online ini bisa diakses di www.serempak.co.id dengan mudah. Setiap orang berhak untuk mengisi artikel di sini baik lelaki maupun perempuan, namun artikel yang ditulis hanya mengenai perempuan dan anak saja. Sebagai contoh, permasalahan seputar parenting, KDRT, penelantaran anak, ide ataupun artikel, sharing masakan, opini, dan perempuan inspiratif sangat menarik untuk diangkat menjadi bahan tulisan.

Setelah mengisi registrasi, artikel bisa ditulis dalam fitur kirim artikel. Di fitur ini, tulisan yang akan dipublish tidak dibatasi jumlahnya. Fitur ini merupakan fitur tidak berbayar, murni ajang berbagi dari dan untuk masyarakat. Sementara itu, ada juga peluang menulis berbayar yaitu menjadi kontributor. Tertarik? Silakan mengajukan lamaran dan porto folionya ke email di atas. Menarik bukan?

Mengambil tema “Be a Content Writer”, Ani Berta aktivis perempuan berdarah Sunda Batak yang memantapkan diri menjadi Blogger ini mengatakan,”kebutuhan jumlah penulis di Indonesia terus meningkat. Ada berbagai peluang yang bisa dijadikan mata pencaharian seperti menjadi freelancer media cetak maupun online. Menjadi kontributor Web Perusahaan, organisasi, atau institusi pemerintahan. Atau bisa juga menjadi Ghost Writer.”
Ani Berta Koordinator  portal Serempak

Dilatar belakangi dengan pertumbuhan era digital yang semakin pesat, kebutuhan informasi yang meningkat, dan publikasi kegiatan bagi perusahaan-perusahaan, dimana kondisinya sangat berbanding terbalik dengan fakta, bahwa tidak semua orang punya kemampuan menulis. Untuk itulah maka peluang pekerjaan menjadi penulis sangat menggiurkan.

Jangan ditanya keuntungan yang bisa didapat dengan menggeluti bidang ini. Perempuan yang dikenal dengan sapaan Teh Ani ini menjelaskan berbagai keuntungan yang didapat dari menulis. Perempuan yang sangat rendah hati ini memaparkan, selain branding yang tersemat jika orang mengingat nama kita, porto folio/pengalaman kita juga semakin bertambah, kepekaan kita pun akan terasah pada permasalahan sosial yang terjadi dan jangan lupa, menulis menjadi hobi yang menghasilkan uang pula. Selain itu, dengan menulis relationship yang luas pun akan kita dapatkan, bertambahnya ilmu setiap saat dan juga meningkatnya wawasan dan skill kita.

Sebelum menutup pembicaraan, ia pun  membagikan tips dan langkah-langkah seputar menjadi Content Writter.

Do :

-          Isi artikel minimal 500 kata, maksimal 1000 kata.
-          Sesuaikan gaya tulisan dengan ciri khas website/portal.
-          Tulisan reportase harus merujuk 4W+1H (What, Who, Where, When, How) dengan kaidah jurnalisme lainnya. Misalnya tidak memasukkan unsur opini dan perasaan, kecuali jika tulisannya adalah untuk feature story.
-          Atur jadwal update sesuai kesepakatan kerja sama.
-          Isi kanal-kanal website sesuai kategori yang dikuasai.
-          Masukkan key word yang tepat.
-          Baca kembali draft tulisan sebelum dipublish.
-          Gunakan foto high resolution.

Don’t :

-          Plagiat.
-          Menggunakan bahasa alay atau menggunakan banyak singkatan.
-          Memasukkan opini terlalu personal.
-          Memasukkan unsur kepentingan pribadi.
-          Menyebut brand secara hard selling tanpa persetujuan pemilik Web.
-          Men-diskreditkan orang lain.
-          Keluar dari idealisme.
-          Menuliskan berita/opini tidak sesuai fakta atau tidak terverifikasi keabsahannya.

semangat Blogger tertuang dalam tulisan-tulisan untuk Serempak dan kemajuan perempuan dan anak Indonesia 


courtessy by Ruffie Lucretia