Kamis, 26 Maret 2015

Etika saat menjenguk orang sakit

Maret 26, 2015 26
Suatu sore di depan ruang ICCU Rumah Sakit terlihat beberapa orang bergerombol, tampaknya mereka asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Sumpah, pingin banget deh negur mereka. Bayangkan aja, mereka ngobrol di depan ruang ICCU lho, bukan di Food Court.

Bisa jadi mereka lupa atau lepas kontrol sehingga kebablasan ngobrolnya. Bisa jadi juga etika saat menengok orang sakit mereka sama sekali ngga tau. Memprihatinkan.

Sebagai penjenguk, sudah semestinya kita memposisikan diri seperti pasien atau keluarga pasien. Berempatilah. Misalkan kita sakit atau keluarga kita sakit, alangkah menyebalkan bila orang-orang berlaku seperti itu, kan?

Nah, sekarang gimana bersikap saat mengunjungi orang sakit?

1. Sebaiknya jika menjenguk di Rumah Sakit, kita harus memperhatikan jam berkunjung. Ada beberapa Rumah Sakit yang menerapkan jam kunjungan agar pasien bisa total beristirahat diluar jam kunjungan. Adapun biasanya jam kunjungan dibuat menjadi dua jadwal, pagi jam 10.00-13.00 dan sore jam 16.00-19.00. Nah, agar ngga kecele, informasi tersebut sangat membantu lho.

2. Orang sakit dan keluarganya pasti akan senang jika kita membawakan sedikit buah tangan seperti buah-buahan atau Snack yang bisa dikonsumsi. Misalkan orang sakit yang kita kunjungi tidak bisa makan apa-apa, setidaknya keluarga yang menunggu si sakit bisa ikut menikmatinya. Tidak ada yang mubazir deh, dijamin.

3. Orang sakit dan keluarganya sebaiknya kita hibur. Jangan berfokus pada cerita mengenai diri kita, ini bukan moment yang tepat untuk menceritakan hal-hal seputar diri kita. Sebaiknya kita juga mengucapkan kata-kata positif agar yang sakit segera pulih. Doa dan zikir untuk kesembuhan orang sakit yang dipanjatkan dengan tulus dan ikhlas akan menjadi hal yang membahagiakan mereka.

4. Jika menjenguk dengan berkelompok, ada baiknya jika tidak membuat keributan dengan celoteh canda tawa. Beri kesempatan jika ada penjenguk lain datang, kita bisa menyingkir sejenak. Sebaiknya kita juga jangan berlama-lama saat menjenguk, kecuali bila diminta. Kita harus memahami kondisi orang sakit yang membutuhkan banyak istirahat.

5. Jika bisa, sering-seringlah menjenguk sampai sakitnya sembuh. Dukungan moril di tengah keterpurukan menjadi hal yang tidak bisa ditukar dengan uang. Setuju kan? :-)


Kamis, 19 Maret 2015

Me Time dengan Garnier Duo Clean

Maret 19, 2015 13
Kata suami, aku itu kaya bola bekel. loncat sini loncat sana ga bisa diam. Sebenarnya sih ya kepengen juga diam, tapi gimana lagi? nanti yang antar sekolah si bungsu siapa? yang jemput les si sulung siapa? belum lagi, kalau udah terjebak macet di jalan.. duuh.. alamat agenda harian ikut ikutan mampet pula. Me time sangat jarang sekali deh bisa nemukan.

Nah, kebetulan kemarin siang pas sekali ada me time. setelah UTS, jam sekolah anak anak minggu ini lebih longgar jadi bisalah mampir sebentar di supermarket. senangnya, me time kali ini aku leluasa memilih produk khusus untuk aku pribadi.


Melihat jajaran sabun muka, tertarik pada warna biru memikat produk Garnier ini, lalu aku membaca indikasi di kemasan garnier duo clean. Waah, sepertinya cocok deh buat aku yang ga punya waktu banyak tapi pengen cantik juga hehehe...

sepulang di rumah, aku bersiap shalat ashar. namun sebelumnya aku penasaran mau mencoba garnier duo clean. pake dikit aja wah busanya banyak, wangi pula. Ga salah pilih memang, ekonomis buat emak emak irit kaya aku nih :)

eladalah, selesai dari wudhu, si bungsu nyeletuk “lho, koq ibu wajahnya jadi cerah? cie cie pasti habis pake garnier duo clean".

aaiiihhh.. jadi kembang kempis hidung aku deh :)

Senin, 16 Maret 2015

Pengalaman pertama menggunakan BPJS

Maret 16, 2015 15
Beberapa bulan terakhir ini aku sering mengalami sakit kepala dan rasa tertekan di bola mata. Jika sudah begitu, minum parasetamol dilanjutkan dengan memejamkan mata, menjadi pilihanku. Mengingat usiaku yang sudah menginjak kepala 4 dan kacamata yang aku gunakan sudah berumur lama, mungkin bisa jadi minus mataku menurun atau justru menambah jadi plus, kan?

Awal Maret 2015, kartu BPJS yang dibuat oleh kantor suamiku sudah jadi, maka biasanya aku ke dokter langganan (mamanya teman sekolah Tsaka di SD Hangtuah) kini ga bisa lagi. Aku harus ke Klinik Rujukan sebagaimana yang tertera di Kartu BPJS yaitu Klinik Al Qomar Cileungsi.

Setelah mengutarakan keluhanku ke dokter umum Klinik, aku mendapat rujukan ke Spesialis mata dengan diagnosa Myopia. Selanjutnya aku ditanya, mau ke RS mana untuk rujukannya. Karena jarak rumahku dan RS Hermina Mekarsari cileungsi cuma berjarak lebih kurang 500 meter dari rumah, maka aku memilih RS tersebut.

Surat rujukan tersebut sebelumnya harus di fotocopy dan dilegalisir dengan stempel Klinik tersebut sebanyak 2 lembar. Kemudian aku juga harus melampirkan persyaratan lain berupa :
2 lembar FC KK
2 lembar FC KTP
2 lembar FC Kartu BPJS

Setelah selesai semua persyaratannya, aku pergi ke RS dan menjalankan alur pasien di RS Hermina sebagai berikut :



Kembali aku mengeluhkan kepada Dokter spesialis mata, bahwa bola mataku sering terasa seperti tertekan dan pusing kepala hebat yang sering menyerang. Oleh Dokter, mataku dicek dengan membaca obyek alfabet yang dari ukuran besar hingga kecil tetap menggunakan kacamataku. Aku tidak menjalani pemeriksaan mata dengan sistem komputer atau alat bantu kacamata yang biasa digunakan untuk memeriksa mata. Kesalahanku membaca obyek kecil kata Dokter masih bisa dimaklumi, dengan kata lain kesimpulannya, mataku tidak apa-apa.

Aku diberikan dua macam obat Cendo yang harus aku teteskan selama tiga kali sehari sebanyak satu tetes per masing-masing mata. Sampai rumah, aku googling mengenai indikasi kedua jenis obat tetes Cendo itu. cendo Lyteers berguna untuk melumasi mata atau berfungsi sebagai pengganti air mata sedangkan Cendo Asthenof berfungsi untuk meringankan gejala mata kemerahan serta mengurangi rasa tidak nyaman karena iritasi ringan.

Nah, diagnosa Dokter dalam Medical record tadi apa ya? Sayang, aku ga membacanya lagi sebelum menyerahkan MR ke Kassir. Tapi gapapalah, namanya juga pengalaman pertama, pasti ada yang ga sempurna, ya kan? :-)







Jumat, 13 Maret 2015

The Secret of imagination

Maret 13, 2015 5
Sekitar lima tahun yang lalu, aku pernah bertanya pada teman yang saat itu telah menelurkan buku dengan beberapa temannya, gimana caranya menerbitkan buku? Gimana prosesnya untuk bisa membuat buku?

Alih-alih menjawab, dia malah mengomeliku, "mimpi apa kamu?" Fyuuh, jika ingat itu aku masih merasa sedih luar biasa. Malu aku saat itu. Mungkin benar apa katanya, mimpi apa aku, berani-beraninya... 

Hasratku membuat buku aneka kreasi dari flanel pun meredup. Sama sekali tak ada 'link' dan acuanku bagaimana memulainya. 

Hingga, bulan September 2014 lalu, saat aku diminta menjadi penulis tamu dalam buku antologi puisi "Menebar Asa di Enam Musim", rasa tak percaya masih menggelayuti diriku sampai sekarang. Nyatakah ini? 



Kembali teringat buku "THE SECRET" yang pernah kubaca, tuliskan impianmu, maka alam semesta akan mewujudkannya. Sepertinya, entah bagaimana kaitannya; harapanku bersinergi dengan alam semesta. Buku ini merupakan cikal bakalku di dunia literasi. 

Terimakasih mas M. Yassir Nurdin, sahabat dari Grup menulis Dunia Dekik atas kelihaiannya merayuku untuk terjun di dunia literasi. Kata-katanya akan aku ingat selalu "jika tidak sekaranh kapan lagi? Sedang setengah dunia ada di bacaan. Dari itu, mulai dan tuliskan. Seberapa hasilnya? Jodohlah pasti ada dari kuasa-Nya."

Ya, nothing is impossible, rite :-)