Sabtu, 28 Februari 2015

KETERKAITAN KELUARGA DAN JARING NARKOBA

Februari 28, 2015 8

 Jumlah penyalahguna Narkoba di Indonesia semakin meningkat. Data BNN menyebutkan bahwa tahun 2008  dijumpai 1,99% pengguna, kemudian tahun 2013 menjadi 2,56%; bisa diartikan 4 juta lebih penduduk Indonesia merupakan pengguna Narkoba.  Menurut laporan UNODC (United Nation Office on Drug dan Crime), Indonesia juga menduduki rangking pertama dalam jumlah tersangka Narkoba di Asean.

Demikian terungkap dalam sosialiasi "PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI LINGKUNGAN MASYARAKAT" yang diutarakan oleh prof. Paulina G Padmohoedojo, MA. MPH Konsultan BNN dengan Komunitas Blogger di Wisma Tanah Air gedung Kemensos, Jakarta Timur, Selasa 24 Februari 2015 lalu.

Beliau menuturkan, usia anak dan remaja merupakan usia rawan dalam menyalah gunakan Narkoba. Kalangan yang paling banyak terlibat dalam masalah Narkoba adalah remaja. 90% kelompok coba pakai Narkoba adalah kelompok pelajar dan 88% dari kelompok pecandu adalah bukan pelajar.

Wanita berkacamata ini menegaskan, diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya mencegah penyalahgunaan Narkoba. Diharapkan semua komponen masyarakat dimulai dari keluarga, kelompok remaja, Sekolah/Kampus, tempat kerja, tokoh masyarakat/Agama, LSM/ORSOS/ORMAS, Polres/Polsek, Puskesmas/Posyandu, Media dan BNNK bisa saling bekerja sama dan bersinergi untuk berupaya menanggulanginya.

Bagai permainan domino, jaring Narkoba saling terkait satu sama lain. Akar dari mata rantai ini, berasal dari keluarga. Diketahui bahwa masalah kepribadian, menunjukkan pentingnya pengasuhan anak sejak masa masa perkembangan hidupnya, yaitu pada usia di bawah 6 tahun.

Dengan meningkatkan ketrampilan dan penguatan akhlak, benteng keluarga yang kuat akan terbentuk. Melalui pola asuh anak yang baik, seperti  bagaimana cara mendisplinkan anak, cara meningkatkan harga diri anak dan cara beropini yang baik, diharapkan kepribadian anak akan kuat dan percaya diri.

Pencegahan penyalahgunaan Narkoba berbasis masyarakat bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti pengawasan terhadap lingkungan, penyuluhan dengan bekerja sama dengan pihak kompeten seperti tokoh masyarakat/ Majelis Taklim/ Gereja,  melaporkan kecurigaan kepada Polres atau Polsek.


Selama ini penanggulangan masalah Narkoba masih merupakan PR Pemerintah yang teramat sulit ditanggulangi. Tidak heran jika beberapa waktu lalu pemerintah menyatakan “Indonesia Darurat Narkoba”.  Diketahui bahwa teknik Kampanye anti Narkoba dengan cara negatif  tidak berdampak apa-apa, misalnya saja, gambar-gambar dengan tengkorak dan jarum suntik, menakut-nakuti atau mengancam dengan menunjukkan gambar yang menyeramkan. Untuk itu kini kerap digunakan pesan positif seperti “BE SMART, DON’T START” atau “Pilih narkoba, berarti kamu kalah. Menolak narkoba, berarti kamu pemenang".

Senada dengan itu, DR Antar Merau tugus Sianturi, AK. MBA Deputi Pencegahan BNN menjelaskan Arah Kebijakan Nasional  dalam P4GN 2015.



Beliau menuturkan, selama ini telah diterapkan 3 tipe pencegahan penyalahgunaan Narkoba, yaitu :

- Primer : melakukan berbagai upaya pencegahan sejak dini agar orang tidak menyalahgunakan narkoba.

- Sekunder : bagi yang telah memulai, menginisiasi penyalahgunaan narkoba, disadarkan agar tidak berkembang menjadi adiksi, menjalani terapi dan rehabilitasi, serta diarahkan agar yang bersangkutan melaksanakan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

- Tertier : bagi mereka yang telah menjadi pecandu, direhabilitasi agar dapat pulih dari ketergantungan sehingga bisa kembali bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat.

Jika di lingkungan ditemukan ada pengguna Narkoba yang sudah ‘sehat’ maka perlakukanlah dengan wajar, jangan diasingkan agar mereka tidak terjerumus kembali. Begitupun jika menemukan pengguna Narkoba, jangan main hakim sendiri, segera laporkan kepada pihak Kepolisian. Saat ini Pemerintah telah membuat kebijakan baru yaitu merehabilitasi pengguna Narkoba dan tidak memenjarakannya. Karena penjara bukanlah solusi tepat untuk membuat efek jera, sejatinya jaringan Narkoba justru bermuara dari penjara.

Sementara di lingkungan terkecil yaitu keluarga, penanaman rasa percaya diri, pengendalian emosi dan akhlak yang kuat pada anak diharapkan menjadi benteng pertahanan diri mereka untuk berkata tidak pada Narkoba. Tidak mencoba, tidak memakai dan tidak mengedarkannya. Sejatinya semua berawal dari keluarga.

Sebagai informasi, BNN mengajak masyarakat umum untuk terlibat menjadi Relawan anti Narkoba di lingkungannya masing-masing. Relawan akan diberikan informasi/advokasi, pendidikan, pelatihan, pengorganisasian dan  pembinaaan networking (membentuk jaringan dengan kelompok masyarakat) untuk memerangi dan memutus mata rantai Narkoba di lingkungannya.








Rekam Jejak-Antologi Kelima

Februari 28, 2015 7



Hmmm, lucu banget  liat flyer pengumuman lomba menulis dari Ellunar Publisher ini. Apalagi temanya itu mengenai Cinta Pertama, siapa coba yang ngga punya kisah mengenai Cinta Pertama? Ikutan lagi ah, Hihihihi…

Dengan latar belakang kehidupan anak remaja SMP (ngintip kehidupan sehari-hari si sulung) dipadu dengan pengalaman ‘ser-seran’ jaman dulu waktu ngalamin jatuh cinta, jadilah cerpen berjudul Pelet Cinta lolos seleksi lagi. Alhamdulillah, buku Antologi Cerpen saya yang ke-5 bakal diterbitkan lagi.



Lebih dari 1600 naskah yang masuk dilanjutkan dengan pengendapan selama sebulan, maka terpilih 30% naskah yang akan diterbitkan. Meskipun ngga menang, tapi saya udah bahagia banget koq. Dari 7 kategori buku antologi, naskah saya masuk ke kategori “My Last” bersanding dengan 39 penulis lainnya di kategori ke-6.

Selasa, 24 Februari 2015

Menang Lomba Nulis Berkat Iwan Fals

Februari 24, 2015 0
buku terbit :)



Saat hujan turun, panggil namaku dan tataplah langit senja dari balik jendela, ka akan menemukan siluit cinta dalam dekapan rindu



Menanti tanpa batas, dan menunggumu suatu keharusan. Karena hatiku milikmu.


***
Demikian kutipan dari Dwilogi Event Senja dan Cinta yang diselenggarakan oleh grup menulis Galeri Lavira Az-Zahra bulan Desember 2014 ini. Seperti biasa lomba menulis cerpen dan puisi yang diadakan secara berkala ini nantinya akan memilih 21 Cerpen dan 91 Puisi terbaik yang akan dibukukan dan diterbitkan secara indie.

Lebih dari 70 naskah Cerpen dan 130 lebih puisi yang diterima, bisa terpilih menjadi salah satu contributor yang turut dibukukan sudah menjadi suatu prestasi tersendiri bagi saya. Apalagi saat pengumuman tiba, dan saya diberitahukan bahwa naskah cerpen saya menjadi juara ke-dua. Alhamdulillah ya Allah.

 
sertifikat :)



Sesuai dengan temanya, judul Cerpen saya Remah-Remah Janji mengusik hati para Juri. Dengan latar belakang Wisata Tangkuban Parahu yang belum lama saya kunjungi dan lagu terkenal Iwan Fals berjudul Yang Terlupakan, nama saya akhirnya bertengger di cover depan buku yang diterbitkan ini.

Yang Terlupakan

Denting piano
Kala jemari mengalir
Nada merambat pelan
Di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan
Bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan

Hati kecil berbisik
Untuk kembali padanya
Seribu tanya menggoda
Seribu sesal di depan mata
Waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Oh maafkanlah…

Rasa sesal di dasar hati
Diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah kumencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti




Kamis, 19 Februari 2015

Bincang hangat "Ngobrol Pajak Bareng Blogger"

Februari 19, 2015 6



Pajak bagi sebagian orang dikonotasikan dengan hal negatif. Siapa yang tidak mengenal Gayus Tambunan, sosok konsultan pajak yang beberapa waktu lalu itu ramai dibicarakan. Kemudian ada juga yang menyimpulkan bahwa pajak artinya upeti buat negara. Menyeramkan bukan? Kenapa hal negatif begitu mudah menempel di benak kita, padahal peranan pajak yang dibayarkan setiap wajib pajak itu telah dinikmati tanpa kita sadari, bukan?

Dalam bincang hangat "NGOBROL PAJAK BARENG BLOGGER" di ruang auditorium Kanwil DJP Wajib Pajak Besar di Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta Pusat, Selasa 17 Februari 2015 kemarin, Ibu Sanityas Jukti P, Kepala subdirektorat Penyuluhan Pajak menjelaskan, "sekitar 77% keperluan negara dibiayai dari Pajak, bukan dari BUMN dan lain-lain.”



Beliau melanjutkan,”APBN dari tahun ke tahun pun semakin meningkat. Dalam gambar dijelaskan, tahun 1993, tahun 2003 hingga tahun 2013 grafiknya  terus meningkat. Di tahun 1993, saat itu sumber daya alam yang tersedia masih banyak, maka pajak yang dibebankan pun kecil. Tapi sekarang, dimana sumber daya alam makin menipis, mau tidak mau pajak yang dibebankan disesuaikan pula.” Ia menanyakan kembali, “Dari mana Negara bisa mensubsidi BBM misalnya untuk rakyat, jika bukan dari pajak yang dibayarkan?”



Menurut Ibu Tyas, penggunaan APBN 2015 digunakan untuk :
1. Pembangunan infrastruktur, seperti :
ü  Infrastuktur Perhubungan, misalnya transportasi, jembatan.
ü  Infrastruktur Energi dan lain-lain.
ü  Infrastruktur Pemukiman, misalnya Rusun, Rusunawa.
ü  Infrastruktur Irigasi, misalnya waduk, sodetan kali dan lain-lain.

2. Meringankan beban dan menyejahterakan rakyat, seperti :
ü  Layanan pendidikan, misalnya Dana BOS.
ü  Penganggulangan kemiskinan.
ü  Layanan kesehatan, misalnya BPJS.
ü  Ketahanan pangan, misalnya pupuk dan benih ikan.
ü  Subsidi energy, misalnya BBM dan Listrik dan Subsidi Non energy, seperti pelayanan public, pangan, pupuk.

“Jangan lupa, batas waktu pelaporan SPT Tahunan pph. Tanggal 31 Maret 2015 untuk wajib pajak orang pribadi. Prosedur pendaftarannya bagi yang belum mendaftar  tidak sulit, cukup datang ke KPP (kantor pelayanan pajak) saja. Atau bisa juga mendaftar via online di website www.djponline.pajak.go.id. Untuk pertanyaan lebih lanjut bisa menghubungi call agent Centre di nomor telepon 1500200.” Pungkasnya.

Pemerintah mempunyai  tugas berat untuk memenuhi target pendapatan Negara, mengingat selama bertahun tahun target tetap menjadi target, realisasi selalu meleset. Perlu upaya khusus dan dukungan optimal dari masyarakat untuk mau membayar pajak dengan penuh kesadaran. Karena bagaimanapun, jalan yang bagus, akses kesehatan mudah dan murah, keamanan terjaga dan pendidikan berkualitas merupakan cita-cita kita bersama.

Yugh, mari kita awasi pajak yang kita bayarkan dan kita tumbuhkan kesadaran untuk mau membayar pajak dengan rutin.













Senin, 02 Februari 2015

Kartu Keluarga;dokumen keluarga yang keberadaannya seolah tiada tapi ada

Februari 02, 2015 6
"Bu, sekarang sudah ngga ada program Health Claim lagi di kantor, lho. Jadi kita harus urus BPJS secepatnya." Kata suamiku sepulang kerja beberapa hari lalu.

Okelah, no problem. Nurut aja kita mah, toh program pemerintah memang mewajibkan pengusaha untuk menyertakan karyawannya masuk BPJS. Baik system Health Claim (reumbers) atau BPJS sama aja. Kesehatan karyawan dan keluarganya sama-sama mendapat jaminan, artinya win-win solution aja lah. 

Segera aku mengisi formulir yang dibawa suamiku dan melengkapinya sesuai data kartu keluarga kami. Esoknya, sepulang kerja, suamiku membawa kembali pulang formulir yang telah aku isi, katanya nomor KK yang kami punya berbeda. 

Hihihii... Aku ketawa geli. Terang aja beda, lha wong KK yang kami punya masih model lama, semasa KTP lama masih berjaya itu, lho.. Pantas aja nomor KK-nya beda, nomor NIK KTP lama dan baru aja beda juga.. Hihihi...

(Ini penampakan KK yang lama)

"Jadi sebelum ngurus BPJS harus memperbarui KK dulu nih ya, Yah." Ucapku. Deal. 

Langkah pertama, aku sowan ke RT dan RW, minta surat Pengantar. Setelah itu aku dirujuk ke Kelurahan dan selanjutnya katanya aku harus ke Catatan Sipil. 

Saat mengurus ke Kelurahan, rupanya data KK yang aku punya sudah invalid. Alias sudah dimusnahkan. Seketika aku deg-degan. Nah lho.. 

Pihak Kelurahan bilang, seharusnya waktu proses E-KTP lalu, KK juga harus diubah. Dasar memang aku merasa ngga ada kepentingannya, maka ditunda-tunda terus deh pengubahannya. Sekarang baru terasa, fungsi KK baru terasa kalo udah ngurus dokumen seperti ini. Hiekz...

Bad News and Good News. Bad news-nya, Pihak Kelurahan bilang, surat pengantar dari Kelurahan tidak diperlukan lagi karena datanya sudah tidak ada. Good News-nya, NIK KTP aku dan suami sudah aktif otomatis pada saat proses E-KTP lalu. Hanya keaktifan NIK ketiga anakku yang harus diaktifkan dan diverifikasi pihak Catatan Sipil. Jadi aku disarankan langsung ke Catatan Sipil dengan membawa foto kopi akte lahir anak. 

Aku sempat nanya, anak anak kan masih di bawah umur, apa perlu diverifikasi juga? Bukannya sudah yang mempunyai KTP saja? Ternyata, NIK anak pun tetap memang harus diverifikasi segera untuk memudahkan system online kependudukan nantinya. 

Pihak Kelurahan kemudian memberi tahu, bahwa setelah data diverifikasi pihak Catatan Sipil, aku harus kembali ke kantor kelurahan untuk menge-print KK yang baru. Prosesnya ngga lama, katanya. Kami siap bantu koq, Bu.

Alhamdulillah, pelayanan pihak Kelurahan dan fasilitas di tempat tersebut sangat menyenangkan. Cukup menghibur hatiku yang lara *eeaaa* karena perjuanganku *halagh* masih belum selesai. 

Nah, buat yang masih pegang KK lama dan belum diubah, jadi prosedurnya ya seperti itu ya. Saran, jangan ditiru ya kebiasaan nunda-nunda pengurusan dokumen keluarga semacam Kartu Keluarga ini. 

Di postingan berikut, aku mau cerita apa aja yang kulihat di kantor Kelurahan dan Catatan Sipil. Jangan kapok mampir ya :-)