Selasa, 18 September 2018

Rencanakan Keuangan dari Secangkir Kopi

September 18, 2018 3

Saya mulai merasa lebih pusing selama setahunan terakhir ini. Pendapatan utama suami saya sebetulnya lumayanlah untuk standar hidup di Cileungsi. Tapi ternyata biaya hidup terus meningkat nilainya meskipun barang yang dibeli tetap sama. Kebutuhan anak-anak pun semakin tinggi. Alhamdulillah tidak ada cicilan rumah atau mobil yang harus dibayarkan, sih. Kalau bayar SPP, listrik dan belanja dapur wajarlah ya, namanya juga kebutuhan primer.

Namun keuangan kami goncang juga. Ada dua faktor penyebabnya yang saling berkaitan. Suami berhenti kerja. Pun, di saat yang berdekatan ada tumor jinak di kedua payudara saya. Tidak ada cara lain selain bertahan, bukan? Saya lantas mengambil peran sementara untuk menopang kebutuhan hidup dari hasil ngeblog.

Yang saya pikirkan bagaimana mencari penghasilan tambahan agar bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan anak-anak? Kalau hanya mengandalkan dana pensiun ya sama saja dengan ‘membocorkan’ isi karung padi kami. Diambilin terus, diisi mah ngga. Sedangkan sekarang ini saja kebutuhan sehari-hari sebagian besar masih disokong dari situ. Kami hampir tidak ada saving apa-apa selain rumah, sebidang tanah, mobil, emas berapa gram dan perlindungan asuransi. Itupun asal punya, aja, sih.

Saya menyadari, saya termasuk orang-orang yang belum punya pengetahuan untuk mendukung perencanaan keuangan saya. Namun satu hal yang saya ingat, ada peribahasa bilang ‘don’t put your egg in one basket’. Kalau-kalau jatuh, setidaknya ada telur yang masih bisa diselamatkan. Tapi diselamatkannya seperti apa? Bagaimana bekerjanya uang yang katanya dapat memberi manfaat, jujur, logika saya belum sampe. Hiekz.

Syukurlah, dalam workhop Blogger di Prudential Centre Mal Kokas, Jakarta Selatan 14 September 2018 lalu saya mendapat pencerahan mengenai perencanaan keuangan. Karena kalau diibaratkan kehidupan kita itu adalah kapal. Namanya kapal Titanic aja ya. Kapal ini nantinya akan berlabuh di tujuan, yakni pulau impian kita. Untuk mencapai pulau impian diperlukan rangka kapal yang kuat (dana). Kapal juga butuh layar yang kuat dan fleksible dalam menghadapi angin badai supaya tidak menabrak gunung es. Nah, itulah asuransi.

Oke sekarang saya ulas satu-satu ya supaya banyak orang yang memiliki kesadaran bahwa asuransi itu penting. Supaya banyak yang memahami hal-hal yang terkait dengan resiko yang memang sifatnya ‘intangible’ alias tidak berwujud.


Definisi Asuransi



Dari KBBI, pengertian asuransi adalah perjanjian antara dua pihak. Pihak pertama berkewajiban membayar iuran. Pihak satunya lagi berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran. Kewajiban tersebut dilaksanakan apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya.

Konsepnya begini. Sebagai pengelola atau penanggung perusahaan asuransi akan menerima iuran premi yang dibayarkan nasabah. Bila nasabah mengalami kondisi sesuai dengan perjanjian maka perusahaan akan memberikan sejumlah manfaat kepada nasabah.

Nah, lantas apa bedanya asuransi konvensional dengan asuransi syariah? Pak Himawan selaku Head of Product Prudential memaparkan. Ada 6 perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah : 

kalau ada keuntungan ataupun kerugian di asuransi konvensional akan ditanggung perusahaan, kalau di asuransi syariah sistemnya bagi hasil 

Jenis-jenis asuransi

Yuk coba kita ingat-ingat, apa aja yang terlintas di kepala kita kalau mendengar kata asuransi. Ada dua jenis asuransi yakni asuransi umum yang meliputi asuransi property, asuransi kendaraan, asuransi perjalanan, asuransi engineering, asuransi rangka kapal, asuransi cargo, asuransi kecelakaan, asuransi kemalingan dan lain sebagainya.

Jenis asuransi yang kedua adalah asuransi jiwa. Asuransi jiwa ini masih dibedakan lagi menjadi dua yakni asuransi tradisional dan unit link.

Asuransi jiwa tradisional :

Berjangka : memberikan manfaat meninggal dengan periode jangka pendek

Seumur hidup : memberikan manfaat meninggal dengan periode jangka panjang (seumur hidup)

Dwiguna : memberikan manfaat meninggal dan tabungan.


Bicara soal asuransi dwiguna, ini artinya kita sebagai nasabah dipaksa menabung hingga kesepakatan waktu berakhir, misalnya 10 atau 20 tahun. Baru deh kita bisa mendapat berupa asuransi jiwa. Sampai di sini sepertinya saya sudah punya gambaran deh. Nah asuransi yang saya punya kayanya berjenis asuransi dwiguna, nih. Karena saya ingat setiap bulannya, dari yang saya setorkan ; kata agennya, ada yang dimasukkan ke investasi dan ada yang dimasukkan ke proteksi. 



Unit Link

Nah, jadi asuransi dwiguna ini apakah sama dengan unit link? Jawabannya beda. Meskipun bisa dibilang mirip tapi ada perbedaan mencolok diantara keduanya. Kalau asuransi dwiguna lebih fokus pada tabungan, proporsinya lebih besar daripada asuransi jiwa yang jadi pelengkapnya saja. Sedangkan asuransi unit link lebih berfokus pada asuransi jiwanya, namun tidak mengesampingkan investasinya.

Konsep Unit Link begini. Kita sebagai nasabah diwajibkan membayar premi kepada perusahaan asuransi yang bertugas sebagai penanggung/pengelola. Dari uang premi yang kita bayarkan oleh perusahaan akan dikonversi menjadi unit. Unit ini mempunyai harga yang nilainya mengikuti kinerja dari investasi yang dipilih. Unit ini digunakan sebagai pembayaran biaya asuransi dan akumulai nilai tunai. Bila andaikan nasabah mengalami kondisi sesuai dengan perjanjian maka perusahaan akan memberikan sejumlah manfaat kepada nasabah.

Dari pemaparan pak Himawan, saya menyimpulkan yang menikmati manfaat asuransi dwiguna adalah ahli waris kita. Sedangkan kalau unit link kita sendiri ikut juga menikmati hasil dari kinerja investasi sesuai dengan yang kita pilih. Jadi pilih yang mana? Pengennya sih yang mana yang bisa pasti dikasih lebih untuk nasabahnya, hehehe...

Memang sih, asuransi untuk sebagian masyarakat belum diakui sebagai kebutuhan mendesak. Padahal jika melihat kenyataan sehari-hari di sekitar kita, tingkat resiko yang harus kita hadapi semakin meningkat terus. Masih banyak dari kita yang cenderung mendahulukan kepentingan konsumtifnya. Misalnya ngopi di gerai kopi. Berapa satu cup-nya? 35 ribu. Kalau setiap hari kita menginvestasikan 35 ribu rupiah beli kopi di gerainya maka dalam 10 tahun apa yang dapat dilakukannya? Nothing!



Kalau kita bisa sisihkan 35 ribu setiap hari selama 10 tahun kita akan mendapat nominal 128 juta rupiah lho! Ini belum dihitung dengan angka pertumbuhan investasi 10% pertahun maka total angkanya bikin neguk ludah yaitu 220 juta rupiah. We-Ow-We yaa..

Menurut Pak Himawan, kuncinya hanya satu. DISIPLIN. “Semakin lama uang bekerja artinya semakin pintar,” tegasnya.

Itu tadi hitungannya selama 10 tahun saja bisa mendapat 200 jutaan (Baca : 0,2 milyar rupiah). Kalau 20 tahun dapat 800 juta (baca : 0,8 milyar rupiah). Kalau 30 tahun dapat 2,4 Milyar rupiah, dan kalau 35 tahun dapatnya 6,8 milyar rupiah.

Wah siapa yang ga kepingin ya bisa pensiun bahagia seharga pengorbanan satu cup kopi saja setiap hari? Ga berat. Ga berbelit-belit. Ga sulit. #PastiDikasihLebih






Kamis, 13 September 2018

IIBF 2018 Filterasi Informasi Dengan Cintai Literasi

September 13, 2018 5


Waktu masih SD pameran buku IKAPI selalu saya nanti-nantikan kehadirannya. Saya rela lho memecahkan celengan untuk bisa membeli buku-buku favorit saya. Diantaranya Lima Sekawan karya Enid Blyton dan serial Noni karya Bung Smas. Sampai-sampai saking terbawanya masuk ke dalam alur cerita, saya bertanya-tanya. Benarkah kampung Krapyak tempat Noni tinggal itu nyata adanya? Benarkah Godek sahabat Noni yang juga seorang buronan polisi itu orangnya baik hati?

Ah, saya terinspirasi sekali dengan tokoh Noni yang tomboi dan berani. Sudah banyak petualangannya memberantas kejahatan dibantu Godek yang pandai menyamar. Saya berandai-andai, kalau-kalau saya adalah teman Noni, mungkin akan lebih banyak petualangan berani yang kami hadapi hahahaa...



Kenangan tentang pameran buku IKAPI memang tidak mudah  dilupakan. Buku-buku yang saya beli tanpa disadari telah membentuk jati diri saya sekarang. Saya pernah ketemu Bung Smas dan Hilman Hariwidjaja penulis LUPUS. Pernah juga dapet kaos dan buku yang ditanda tangani langsung kedua penulis tersebut. Saya pun masih ingat ketika belanja stationery merk Sanrio dan kertas kado untuk sampul buku. Buat zaman saya, kalau punya printilan berdesain Hello Kitty atau My Melody bener-bener keren pokoknya, deh!

Siap-siap kalap di Zona Kalap 
Kemarin di pembukaan IIBF 2018 kenangan saya terhadap pameran buku IKAPI kembali menyeruak. Dalam antrian di zona kalap, ibu-ibu di depan saya memegang keranjang yang terlihat berat. Satu demi satu mba kasirnya sibuk sekali menginput belasan pensil, setumpuk penghapus, mainan edukasi dan buku-buku.




Ibu itu tidak sendiri. Sepanjang mata saya memandang rata-rata orang membawa keranjang untuk meletakkan belanjaannya. Tidak mungkin kalau beli satu buku, nih! Sayapun tadinya juga hanya lihat-lihat saja. Tapi keinginan saya tidak terbendung ketika melihat bandrol harganya ada yang hanya 5.500 rupiah aja. Sayang sekali kalau sampai ga beli ini. Lalu tanpa sadar saya ambil buku pertama, kedua, ketiga dan, masya Allah, kalap juga saya rupanya hahaha....



Bagaimana tidak kalap coba, Zona kalap merupakan salah satu pogram andalan di penyelenggaraan IIBF 2018 ini. Ada satu juta buku dari berbagai penerbit yang dijual dengan potongan harga hingga 80%. Mau buku apa saja ada misalnya buku fiksi, novel, non fiksi, buku anak dan buku religi yang memuaskan dahaga pecinta buku seperti saya.

IIBF (Indonesia International Book Fair) merupakan transformasi dari pameran buku IKAPI sejak tahun 2014 lalu. Kini, di tahun ke-37 diselenggarakannya pesta buku dari Ikatan Penerbit Indonesia selain penerbit dalam negeri, peserta dari negara asing juga ikut bergabung.



Info yang saya dapat, ada lebih dari 62 peserta Indonesia yang menghadirkan 110 stand. Tidak hanya itu, dalam pesta buku yang diselenggarakan sampai tanggal 16 September ini juga diikuti 34 peserta dari 17 negara. Diantaranya adalah Inggris, Jerman, Turki, Mesir, Maroko, China, Jepang, India, Uni Emirat Arab, Singapur, Korsel, Malaysia, Thailand, Tunisia, Australia dan Arab Saudi.

Umroh dan Naik Haji 
Salah satu stand yang menarik untuk dikunjungi adalah stand Arab Saudi. Di sini ada banyak buku-buku islam yang menarik untuk dibaca. Akan tetapi di area ini kita juga bisa menikmati spot-nya yang megah dan luas; seolah-olah berada di jazirah Arab. Banyak sekali orang Arab berpakaian gamis putih dengan sorban di kepalanya. Percakapan berbahasa Arab antar mereka sontak membuat saya tersenyum. Begini mungkin ya rasanya kalau lagi Umroh.





Oh iya, terkait dengan Umroh dan Haji, jangan sampe lupa ya mampir mengisi data pengunjung di stand ini dan memasukkannya ke kotak tersedia. Setiap harinya, setiap pukul 7 malam akan ada pengundian pemenang yang beruntung akan berkesempatan Umroh dan naik Haji gratis. Syaratnya hanya satu, harus hadir saat nama-nama pemenang diumumkan. Asiikkkk...

Bursa Naskah dan Indonesia Right Fair
Pesta buku IIBF rupanya bukan hanya ajang pameran dan penjualan buku saja. Karena ini adalah ekosistem bermanfaat dimana seluruh penggiat buku berkumpul. Baik itu penulis, penerbit maupun pembaca buku.

Kalau tidak ada ekosistem ini, bagaimana penulis bisa produktif menulis bukunya? ~ Triawan Munaf - Ketua BEKRAF

Melalui ajang bursa naskah misalnya. Ini menjadi ajang bertemunya penulis wannabe dan penerbit untuk berkonsultasi dan negosiasi. Ini pun dapat menjadi market perbukuan internasional bagi penerbit dan penulis yang menyasar pasar global. Namanya Indonesia Right Fair. Melalui IRF semua pelaku usaha perbukuan dapat mempromosikan buku unggulannya untuk ditawarkan hak cipta terjemahannya ke penerbit lain. Kalau begini artinya penulis jadi semakin produktif melahirkan karya-karya terbaiknya, kan.



Setiap tahunnya event IIBF memiliki tema berbeda-beda. Kali ini tema Creative Work Towards the Culture Literacy dipilih dengan mengadakan berbagai acara bertema literasi, pendidikan dan kebudayaan. Ada school competition, wisata literasi untuk pelajar, seminar, talkshow, launching buku dan jumpa penulis.






Selama lima hari, dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam ada banyak kegiatan seru di ajang IIBF 2018. Mau ketemu penulis terkemuka seperti Maudy Ayunda, Eka Kurniawan, Feni Rose, Kang Maman Suherman dan Faza Meonk? Bisa.  Yuk jangan lewatkan ya talkshownya.







Oiya, selain penulis populer tanah air, penulis luar negeri juga tak mau ketinggalan meramaikan event buku tahunan ini. Ada Rilla Melati dari Singapura dan Alfredo Santos dari Filipina bakal berbagi inspirasi untuk kita semua.

Masih belum tuntas dahaganya juga? Tenang. Ada tiga pelatihan workhosp menulis juga nih untuk pembuat kontent dan penulis buku yang wajib dihadiri. Yeayyyy...  

Paham Literasi Mampu Filterasi   



Dalam peresmian IIBF 2018 yang dihadiri Ketua IKAPI pusat Rosidayati Rozalina, Ketua BEKRAF Triawan Munaf, Ketua panitia IIBF 2018 Amalia Safitri dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Suhendar semua sepakat mengatakan bahwa IIBF 2018 adalah panggungnya penghargaan pelaku perbukuan. Mulai dari penulis, penerbit, penjualan buku semua berkumpul di sini untuk sama-sama mengupayakan kemajuan budaya literasi di Indonesia. Tujuannya agar kualitas sumber daya bangsa dapat meningkat.



Indonesia selama ini diketahui adalah negara yang paling rendah minat bacanya. Sebagaimana disampaikan Rhenald Kasali dalam sambutannya setelah didapuk menjadi Writer Of The Year IKAPI AWARD 2018, "Manusia lebih percaya pada cerita (fiksi). Tidak pada data dan fakta. Dan ini menjadi rumit karena mesin pintar membuat manusia tenggelam dalam realitas subyektifitasnya masing-masing. Oleh karena itu peran akademisi sebagai penjaga pintu gerbang ilmu dituntut untuk mengartikulasikan kebenaran dalam bentuk cerita sesuai validasi data."

Dengan adanya kebenaran, hoax tak akan mampu mengisi ruang-ruang kosong manusia. Maka, di negeri ini critical thinking dan big picture thinking menjadi suatu kemewahan," lanjutnya.

Senada dengan sekelumit pesan Dadang Suhendar yang terekam di kepala saya. Kalau kita punya tingkat literasi yang tinggi, maka kita akan mampu memfilterasi informasi apapun yang diterima.

Maka tidak ada cara lain untuk memfilterasi informasi  selain menggiatkan membaca dan meningkatkan budaya literasi. Dengan begitu kita tidak mudah terhasut hoax. Mari membaca, hidupkan semangat baca. Bukankah buku adalah jendela ilmu?












Rabu, 12 September 2018

Memulai Hari Besar dengan Sarapan Besar Nestum

September 12, 2018 1


Sarapan. Bila membayangkan kata ini seketika yang muncul di kepala, koq, kulineran yang umum dijajakan saat pagi hari. Wuih apa aja ya? Ketupat sayur dengan semur telur dan tahunya pasti enak, nih! Atau gimana kalau nasi uduk yang disandingkan dengan telur balado, perkedel kentang dan bihun goreng? Tapi tunggu, itu ga salah, nasi-perkedel kentang-bihun goreng semuanya kan karbohidrat? Apa iya sehat? :(

Sarapan sehat nyatanya masih jarang dilakukan orang Indonesia. Umumnya kita terbiasa 'makan berat' atau tidak biasa sarapan sama sekali. Padahal sarapan sehat itu penting untuk memulai hari. Tujuannya supaya ada energi setelah tidur malam yang panjang dan menyebabkan perut kosong. Dengan adanya energi yang dipasok ke otak di pagi hari membuat kita lebih aktif dan fokus seharian.

Sarapan itu ga asal kenyang ~ Ahli Gizi Prof. Dr. Ir. Hardinsyah 


Dalam konperensi pers bersama media dan blogger  5 September 2019 lalu jujur saya tersentak dengan kalimat beliau. Prof. Dr. Ir. Hardinsyah mengatakan, "dibandingkan lima tahun yang lalu, masyarakat terutama siswa sekolah, remaja dan wanita dewasa sudah semakin paham akan pentingnya sarapan dan semakin banyak yang menjadikan sarapan sebagai bagian kegiatan di pagi hari. Namun, menu sarapan pada umumnya cenderung masih belum memenuhi kebutuhan gizi yang lengkap dan seimbang. Ini dikarenakan pola kebiasaan sarapan yang masih 'sebutuhnya' aja."

Padahal sarapan bukan hanya sekedar pencegah rasa lapar tapi juga membekali tubuh dengan sumber gizi yang bisa memberikan energi lebih lama dan rasa kenyang lebih lama agar tubuh lebih siap beraktivitas, jelasnya.


Waini. karena sering terburu-buru seringnya saya memilih membeli saja sarapan untuk saya dan keluarga. Diantaranya bubur ayam, nasi kuning, nasi uduk atau ketupat sayur. Kalau sempat paling bikin mie instant goreng dengan telur. Ini gimana ada gizinya, ya? hiekz.

Kalau dilihat dari Survey Diet Total (SDT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) terhadap lebih dari 25 ribu anak usia 6 - 12 tahu di 34 provinsi terungkap bahwa hampir separuhnya (47,7%) belum memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan. Bahkan 66,8% anak mengkonsumsi sarapan dengan mutu gizi yang rendah, terutama rendah asupan vitamin dan mineral. 

Tidak hanya anak usia sekolah, sebanyak 30% wanita dewasa juga tidak terbiasa sarapan, sementara 37% wanita dewasa juga belum menerapkan pilihan sarapan yang memenuhi kebutuhan energinya.

Ditambahkan Jansen Ongko seorang praktisi gizi kebugaran, terkait dengan pola sarapan ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi mengapa sarapan 'sebutuhnya' jadi kebiasaan umum :

1.  Gaya hidup modern yang sibuk

2. Kekuatiran meninggalkan anak dengan rasa lapar di sekolah

3. Mitos tidak perlu sarapan kalau tidak lapar

4. Ketakutan berlebih terhadap sumber gizi tertentu seperti karbo dan gula

Padahal, katanya, peran sarapan bagi fisik dan mental seseorang justru penting sekali. Pertama, sarapan memenuhi sekitar 15-30% kebutuhan gizi seharian. Kedua, kebiasaan sarapan yang cerdas juga turut membantu memupuk kebiasaan pola makan yang cerdas di saat makan siang, ketika jajan dan makan malam. Nah, sarapan bergizi yang dimaksuda adalah mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, serat dan air.

Saya paham. Kebiasaan takut gemuk membuat saya menghindari makan. Tapi tanpa sadar saya jadi ngemil terus. Sekalinya makan malah langsung banyak. Ini yang dimaksud bukan pola makan cerdas! Jangan ditiru ya teman-teman.

Lantas solusinya apa mengingat pagi adalah waktu yang hectic. Sarapan apa yang praktis, mengenyangkan lebih lama, enak dan kandungan gizinya lengkap seimbang?

Ada.



Namanya NESTUM
Nestum adalah inovasi baru dari Nestle, sebuah industri makanan yang kita kenal dengan produk lainnya seperti Dancow, Milo, Kokokrunch atau Kitkat. Bubur sereal sarapan Nestum mengandung kombinasi unik multigrain yaitu grainsmarta. Nah di dalam grainsmarta ada gandum utuh, jagung, beras, serat pangan, vitamin dan mineral serta kandungan gula yang rendah. Kombinasi tersebut bermanfaat bagi kesehatan dan membuat kita kenyang selama berjam-jam.



Untuk memulai hari yang besar Nestum hadir dalam dua pilihan kesukaan keluarga Indonesia yakni Nestum Porridge (rasa manis dan original) serta Nestum 3-in-1 (pilihan rasa susu, susu dan pisang, susu dan coklat). Hayo kamu suka yang mana, manis atau asin atau paduan keduanya?

Dari kelima rasa varian Nestum tersebut rupanya kita masih bisa berkreasi membuat aneka menu sarapan lagi yang menggugah selera. Tinggal tambahkan aja dengan topping yang kita suka dengan rasa Nestum yang manis ataupun asin.



Bahkan kalau kita mau bikin cream soup juga bisa. Dibantu dengan Jennifer Bachdim dan anak-anaknya saya mencicipi beberapa varian olahan menu yang dibuat chef siapa tadi namanya. Lupa deh saya saking terpesonanya melihat kegantengan dan kepiawaiannya mengolah menu sarapan yang enak, praktis dan bergizi.

Cara membuatnya praktis sekali. Cukup dengan menambahkan sekitar 100 ml susu hangat untuk Nestum porridge atau air hangat saja untuk Nestum 3-in-1. Aduk rata. Lalu tinggal tambahkan topping misalnya irisan mangga atau irisan pisang. Wuihh enak, deh!


Dalam sambutannya Windy Cahyaning Wulan selaku Business Executive Officer Dairy Nestle Indonesia memaparkan, "sejak tahun 2013 Nestle senantiasa mendorong dan mengajak masyarakat Indonesia untuk menerapkan kebiasaan sarapan sehat. Kehadiran Nestum melengkapi varian produk Nestle dan merupakan salah satu bentuk nyata komitmen tersebut dimana kami percaya akan pentingnya memulai hari dengna pilihan sarapan yang lebih cerdas agar keluarga Indonesia dapat menjalani hari yang besar setiap harinya."

Hadirnya Nestum untuk menemani momen sarapan kami harapkan dapat membantu mendorong penerapan kebiasaan sarapan sehat keluarga Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan tujuan perusahaan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pilihan produk yang lebih lezat dan lebih sehat, pungkasnya.

Akhirnya keputusan ada di tangan kita. Masih mau melewatkan pagi tanpa mengkonsumsi makanan bergizi atau tidak? Percaya deh, hari kita akan lebih baik jika membiasakan diri sarapan pagi. Kalau sering bingung menentukan menu sarapan yang sehat, yuk ah stok Nestum di rumah.






Minggu, 09 September 2018

Darurat Keuangan, Pengennya Dikasih Lebih, deh!

September 09, 2018 15



Sekarang ini usia saya sudah kepala empat. Konon katanya, life begins at forty. Tapi faktanya, hidup saya masih begini-begini saja, koq! Dibilang baik tidak, dibilang buruk tidak, dibilang flat pun tidak.

Selama ini saya memang tidak pernah berani punya mimpi. Setelah menikah, bekerja, punya anak, tidak ada lagi hal yang saya pikirkan selain kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak. Itulah sebabnya, atas izin suami, untuk mengisi waktu senggang saya ikut mencari uang untuk tambah-tambah pemasukan.

Boleh dibilang otak saya memang tidak pernah bisa diam. Ketika beli soto di warung depan misalnya. Saya melihat ada peluang jualan rempeyek maka langsung saya eksekusi. Sambil bercanda saya bertanya ke si penjual, wah makan soto enaknya kalau ada rempeyek, nih! Saya taroh rempeyek di sini, gimana?

Ketika anak-anak saya mulai sekolah juga sama. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 14 kilometer setiap harinya membuat otak saya tidak bisa diam. Niatnya sih hanya gimana caranya mengurangi biaya beli bensin dan perawatan mobil seperti ganti oli. Saya kemudian menawarkan ke mamanya teman-teman anak, mau tidak ikut antar jemput dengan mobil saya?

Mau kiamat rasanya
Mencari nafkah merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk menopang roda kehidupan rumah tangga. Kita perlu biaya pangan, sandang dan papan dari untuk makan, biaya sekolah anak-anak, biaya kesehatan bahkan biaya piknik. Itulah sebabnya ketika setahun yang lalu suami berhenti kerja saya merasa hidup seketika berhenti. Mau kiamat rasanya, hiekz.

Kami harus hidup lebih hemat lagi. Untuk biaya sehari-hari terpaksa mengandalkan dari uang pesangon saja. Dan di saat terpuruk seperti itu saya harus menerima kenyataan pahit lagi. Ada tumor jinak di kedua payudara saya. Membuat hidup saya baik diintai malaikat pencabut nyawa terus. Saya takut sekali.

Biaya kesehatan menjadi sumber keresahan utama saya. Soalnya status BPJS dari kantor suami telah vakum sejak dia berhenti. Padahal biaya kontrol ke rumah sakit tidak sedikit. Untuk pemeriksaan USG Payudara saja biayanya sejuta kurang sedikit. Alhamdulillah, dari event-event Blogger yang saya hadiri saya mendapat kesempatan untuk pemeriksaan mamografi secara gratis. Kemudian saya juga berkempatan melakukan pemeriksaan test IVA dengan teknologi terkini secara gratis.



Saya resah kalau umur saya tidak lama lagi bagaimana anak-anak nanti. Nala sekarang kelas XII SMA, Tsaka kelas IX SMP dan Dega kelas VI SD. Semuanya sedang bersiap ujian sekolah untuk kelulusan. Kami harus berburu sekolah lagi. Itu artinya biaya besar bakal menghimpit dada kami lagi.

Darurat keuangan begini pengennya dikasih lebih, deh! 
Saya menyadari kalau rumah tangga kami sedang darurat keuangan. Tidak cukupnya persiapan finansial membuat emosi gampang naik. Kami jadi saling menuding. Akan tetapi masalah tidak selesai, bukan? Kami harus duduk bersama mencari jalan keluar.

Sempat suami mencetuskan ide, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang lebih kecil saja. Ini untuk meminimalisasi beban biaya di cluster yang terasa amat mahal untuk kondisi keuangan kami sekarang. Saya setuju meskipun tahu menjual rumah tidak semudah yang kita kira. Apalagi, katanya harga tanah di Cileungsi bakal makin mahal, terkait dengan pembangunan LRT di sini. Pengennya sih ga usah menjual yang ada baik kendaraan, rumah, sebidang tanah ataupun logam mulia tabungan kami. Andai saya punya investasi atau tabungan yang aman pasti dikasih lebih, deh.Saya yakin tidak sesulit ini rasanya.

Ya, mau tidak mau, suka tidak suka saya harus berdamai dulu dengan keadaan. Karena saya disarankan dokter tidak boleh stress. Menurutnya, ketika stress ada pelepasan hormon dari otak yang justru jadi memicu berkembangnya sel kanker. Wuiihh, no no no. Saya mau sehat ya Allah.

Alhamdulillah, pelan-pelan saya bisa realistis. Saya mulai bangkit dan mengambil alih posisi. Sedikit banyak dari penghasilan ngeblog yang tidak seberapa keluarga kami mampu bertahan. Setidaknya sampai suami saya bangkit lagi. Aamiin.

Keinginan saya sekarang hanya ingin sehat-sehat terus. Ingin sekolah anak-anak lancar terus. Ya siapa tau, harapan saya bisa berdiri mendampingi anak-anak melepas mereka di hari pernikahannya tercapai. Saya yakin dengan usaha, kesabaran dan doa badai di rumah tangga saya segera berlalu.
#pastidikasihlebih

Jumat, 07 September 2018

Kiat Mendidik Anak Di Era Digital Bersama SIS Bonavista

September 07, 2018 1


Pagi-pagi hal pertama yang saya cari adalah gadget. Saya harus ngecek pesan dan notif yang masuk dari email, whatsapp dan sosial media saya. Setelah beres urusan rumah tangga kembali saya lanjut memegang gadget. Kali ini untuk ngecek tarif ojol menuju kawasan Lebak Bulus. Dalam perjalanan naik Transjakarta menuju Singapore School kembali tangan saya merogoh tas. Saya mencari gadget untuk blogwalking dan chit chat dengan teman-teman. Kesimpulannya, rutinitas sehari-hari saya selalu berhubungan dengan gadget.

Terlepas dari urusan kita yang selalu terkait dengan gadget mana mungkin kita bisa jauhkan anak-anak dari derasnya arus teknologi digital ini. Bagaimanapun kita semua hidup di era digital. Anak-anak kita pun lahir dan tumbuh berkembang di dunia digital. Realistis saja bila anak-anak hobi bermain gadget.

Akan tetapi, yang perlu diwaspadai bahwa dalam penggunaannya gadget bisa jadi manfaat bisa pula jadi mudarat.

"Salah siapa coba bila anak jadi males gerak akibat gadget? Salah siapa coba bila anak jadi kecanduan games? Siapa memang yang kasih gadget ke anak?" tanya Elizabeth T Santosa, seorang praktisi psikolog anak dan remaja dalam sesi sharing bareng Blogger Perempuan di SIS Bona Vista Lebak Bulus, 31 Agustus 2018 silam.



Jlebb... Salah kita. Nah, jadi jangan pernah menyalahkan kehadiran gadget. Salahkan penggunaannya. Catettt...

Teknologi tidak selalu buruk, koq
Dalam pemaparannya yang bergaya interaksi langsung Lizzy panggilan akrab ibu dari tiga putri yang aktif membantu Komnas Perlindungan Anak Indonesia menanyakan, "umur berapa sih idealnya anak boleh pegang gadget?"

Jawabannya sedini mungkin. Dari bayi pun tak mengapa sudah dikenalkan dengan gadget. Ingat buk, gadget itu bukan monsters. Kita hidup di era digital, lho. Ada banyak hal yang bisa dipelajari anak dari gadget asalkan ditemani kita. Ajak mereka berdiskusi selalu.

Kalau kita menganggap gadget itu buruk artinya kita tidak mengoptimalkan fungsi gadget. Padahal anak bisa bermain sekaligus belajar melalui games cooking mama misalnya. Itu bagus, lho. Yang jadi salah, gara-gara main games jadi lupa waktu, lupa makan, lupa sholat dan lupa belajar.

Sisi positif lain dari kehadiran gadget dapat membuat passion anak jadi makin tergali. Yuk coba kita ingat gimana awal ketenaran Justin Bieber? Ibunyalah yang pertama-tama mengupload polah lucu Bieber kecil hingga menjadi setenar sekarang.

See, kita tidak perlu anti gadget lagi tapi dampingi dan arahkan anak-anak kita, yes.

Nah, nah, nah, makin seru kan... . Oke lanjuttt!



Konsisten
Yang harus kita garis bawahi teknologi itu tidak buruk sama sekali. Justru kehadiran teknologi berguna untuk mempermudah urusan kita. Apapun pertanyaan kita, tinggal tanya Mbah Google saja. Mau cari resep masakan yang mudah dibuat bersama anak, bisa. Mau cari bahan prakarya untuk pekerjaan sekolah anak, bisa. Mau cari sekolah yang berkualitas seperti Singapore International School juga bisa, hehehee....

Kuncinya adalah keseimbangan dan konsistensi dari orang tua untuk membatasi gadget pada anak. Anak-anak tidak akan kecanduan main gadget asalkan ada kontrol waktu. Buat kesepakatan kapan mereka boleh main gadget.

Lizzie sendiri mengizinkan anak-anaknya bermain gadget setiap hari libur. Itupun hanya dua jam. Selain hari itu ia mengajak anak-anaknya bermain congklak atau main monopoli untuk mengisi waktu luangnya. Dia juga tidak ragu menge-print banyak gambar untuk diwarnai si kembar putrinya. Intinya, kenalkan selain asiknya main gadget di luar sana juga banyak kegiatan menarik yang bisa dilakukan.

Lizzie mengingatkan, meskipun hari libur anak anak tetap diperbolehkan main gadget. Tetapi harus ada syaratnya. Misalnya jika kamar masih berantakan atau pr belum diselesaikan tidak boleh. Nah, kalau dilanggar gimana? Beri punishment yang mendidik, misalkan ngosek kamar mandi. Jadi bersih, kan hehehe...

Seperti tadi sudah saya singgung, bermain games seperti cooking mama itu baik, koq. Selain melatih ketelitian dan kecepatan melalui game yang menyenangkan ini anak dapat belajar banyak hal. Tapi kembali lagi, beri izin main sesuai kategori usia anak kita. Seperti halnya film, games kan ada kode rating untuk anak, remaja atau semua umur. Tapi ingat, sekali lagi, saat anak bermain games dampingi ya, buk!



Kita kemudian diingatkan pada tiga pilar kebutuhan dasar anak yaitu kasih sayang, stimulasi, nutrisi agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiga pilar tersebut harus diberikan dengan porsi yang sama. Nah masalahnya anak zaman now bisa dikatakan selfish. Senangnya yang serba cepat dan praktis. Di era digital ini karakter anak-anak kita memiliki kebutuhan akan pengakuan, sehingga ambisi besarnya adalah sukses. Cinta kebebasan percaya diri yang diaktualisasikannya di media sosial. 

Menurut Lizzy wajar saja, sih, karena kemudahan di lingkunganlah yang membentuk mereka begini. Zaman dulu itu sulit. Sehingga kita harus bekerja keras untuk mencapai segala sesuatunya. Kalau zaman dulu  sudah ada ojek online mungkin kita  juga ga mau jalan kaki panas-panasan dari sekolah ke rumah, kan? hehehe... 

Terkait dengan kasih sayang buat anak, Lizzie menanyakan, "Di momen apa kita kasih uang buat anak?" Lebaran kasih, naik kelas kasih, ulang tahun kasih. Dengan mudahnya kita membelikan apapun yang diminta anak, kapan saja. 

Memberikan terlalu banyak fasilitas dan kemudahan pada anak tidak hanya memanjakan anak tapi justru menjerumuskan. Kreatifitas anak dan daya juangnya justru akan muncul dari pola pengasuhan kita sebagai orang tua. Ingat, Allah memang mengajarkan kita untuk mengasihi anak, tapi tidak berlebihan - Elizabeth T Santosa.

Dalam mendidik anak di era digital ini anak harus dikenalkan dengan konsekwensi. Kalau dia berprestasi kasih apresiasi, kalau salah ya harus mendapat konsekwensi (baca : hukuman). Sesuaikan hukuman dengan kesalahannya. Misalnya seperti tadi, ngosek kamar mandi. Hal ini kita lakukan sebagai upaya membina karakternya menjadi pribadi yang baik di usia dewasa kelak. Dalam memberi konsekwensi, jangan pernah memukul sekalipun, pesannya. 

Menurut Lizzie, bila anak sampai kecanduan gadget itu karena orang tuanya yang malas. Anak yang hobinya baper itu karena orang tuanya yang manja. Lizzie berharap setelah sesi sharing ini kami semua yang hadir akan jadi mama Baper alias BAWA PERUBAHAN!! 



Caranya gimana? Melek teknologi dong! Dengan begitu kita bisa sampaikan pada anak bahayanya online itu seperti apa. Kita pun harus menjadi teladan buat anak dalam menggunakan sosial media. Maka janganlah kita membuatkan akun sosial media untuk anak di bawah usia 13 tahun. Jangan lupa, ajak anak untuk THINK before post : 

T - is it True? 
H - is it Hurt?
I - is it Ilegal?
N - is it Necesarry?
K - is it Kind? 

Alhamdulillah, seneng banget bisa tambah ilmu parenting lagi dari Lizzie. Rasanya separuh kekuatiran saya lenyap seketika. Satu pesan yang saya tangkap bahwa orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Kalau satunya tegas yang satunya jangan labil. Kompaklah selalu dalam membuat peraturan belajar, bermain dan sosialisasi. Kompaklah demi pertumbuhan anak agar menjadi pribadi yang baik dengan menciptakan lingkungan yang baik seperti memilihkan sekolah di Singapore International Cultural. 

Menelisik SIS Bona Vista



Singapore Intercultural School merupakan tempat dimana pendidikan lebih dari sekedar tempat untuk mengajar. Dalam sambutannya Mr. John P. Birch, Head Teacher of SIS Bona Vista menjelaskan, bahwa keingintahuan anak adalah sebuah mesin untuk meraih prestasi. Itulah sebabnya kami tidak hanya mengajar - tapi apa yang kami ajarkan, bagaimana caranya dan pengalaman apa yang siswa siswi kami dapatkan. 

Singapore Intercultural School tadinya bernama Singapore International School. Berdiri sejak tahun 1996 jaringannya ada tujuh di Indonesia yakni SIS Kelapa Gading, PIK, Cilegon, Semarang, Palembang dan Medan. Sedangkan pusatnya di Bonavista Lebak Bulus Jakarta Selatan yakni SIS Bona Vista. 

Kurikulum belajar di SIS telah dirancang untuk menyiapkan individu yang mengerti pentingnya ketrampilan dan keahlian. Hal ini diimplementasikan melalui inisiatif PACE yaitu Perseverance (ketekunan), analytical thinking (berpikir kritis), collaboration / communication (kolaborasi / komunikasi) dan enterpreneurism (kewirausahaan). 

"Nah, untuk membina jiwa kewirausahaan kami kerap mengadakan school events misalnya bazaar. Ini dikelola siswa siswi kami sendiri," papar mba Monik, staf SIS Bona Vista. 

Belajar di SIS Bona Vista tidak seperti belajar di sekolah lainnya. Sekolah ini menerapkan tiga kurikulum berjenjang dalam metode pengajarannya : 

Singapore Curriculum, 

Cambridge International Examinations / Cambridge International School yang diterapkan pada jenjang sekolah menengah 

International Baccalaureate (IB) yang diterapkan pada jenjang sekolah menengah atas. 

Mengapa begitu? Menurut Mba Monik, tidak lain karena di SIS Bona Vista komposisinya 80 persennya adalah expatriate. Maka kami ingin siswa siswinya dapat terpacu untuk fasih berbahasa regional seperti bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. 

Lingkungan Singapore Intercultural School Bona Vista menurut saya begitu memproteksi siswa-siswinya. Ini penting sekali, lho bila mengingat kejadian anaknya penyanyi dangdut yang sempat diculik di depan sekolahnya beberapa waktu lalu. 

Dari mulai kedatangan, sebagai visitor saya harus mengisi buku tamu dulu kemudian menitipkan kartu identitas. Setelah itu saya melewati alat sensor security di pintu masuk. Oh iya, sampai di sini tindak tanduk kita masih terpantau di CCTV yang ada di setiap sudut. 

Adapun untuk penjemput siswa siswi diwajibkan memiliki ID Card. Jadi tidak bisa serta merta main jemput saja. Kalau lupa membawa ID Card yang sudah diberikan maka si penjemput harus menunggu izin dulu dari pihak sekolah. 

Saat diajak touring keliling SIS Bona Vista ada beberapa hal yang saya catat yakni : 



Ruang kelas yang nyaman, fun dan enjoy membuat suasana belajar jadi semakin asik. Ditambah lagi rasio antara teacher and student juga dibatasi. Dengan begitu interaksi antara guru dan siswa jadi lebih intim bak keluarga. 


Sepanjang mata saya memandang, ada banyak hasil karya siswa siswi TK yang dipajang di berbagai sudut kelas. Ada di pintu, di jendela, hingga setiap sisi dinding kelas. Meskipun bukan anak saya, tapi hati saya meleleh melihat crafts siswa-siswa ini. Ah, so sweet sekali!







Pun soal budaya literasi. Di SIS Bona Vista setiap hari setelah bel berbunyi siswa siswi diajak ke library untuk membaca. Wah saya setuju sekali, bukankah buku adalah jendela dunia? Dari kebiasaan yang diajarkan tersebut bahkan di jam istirahat pun library nyatanya menjadi spot yang menarik buat siswa siswi selain kantin. Melted lagi saya hehee.. 

Untuk sarana dan prasarana SIS Bona Vista menyediakan beragam fasilitas untuk mengoptimalkan belajar mengajar. Ada science lab, phisic lab dan computer labs. 



Untuk mengasah passion siswa siswinya SIS Bona Vista pun menyediakan music room, art room, library, little theater, gym, playground, soccer field, futsal court dan swimming pool. Nah, untuk mengasah daya juangnya, ada event olahraga yang dapat diikuti setiap siswa siswi SIS, nih. Jadi tidak ada yang sia-sia. 

Dengan begitu banyaknya kelebihan yang ditawarkan SIS Bona Vista ada kata-kata dari SIS Bona Vista berikut yang hampir sama dengan kalimat yang dituturkan Lizzie.  

Education is and will always be more than teaching fot us at SIS. It is about inspired learning, which is why we not only show our children the path, we also walk alongside them. 

Orang tua adalah suri tauladan anak. Kita harus pandai menempatkan diri. Ketika anak masih kecil kita harus ada di depannya, karena di masa ini disebut dengan children see, children do. Apa yang ia lihat akan ia lakukan. Ketika anak berada di usia remaja kita harus ada di sampingnya. Berdirilah sebagai teman yang mendampinginya melewati masa-masa labilnya di usia ini. Ketika anak beranjak dewasa, kita ada di belakangnya. Peran kita memotivasi dan mendukung cita-citanya. 

Kamis, 06 September 2018

Lima Alasan Kenapa Harus Kaos Afrakids yang Saya Pilih

September 06, 2018 4



Dimana-mana yang namanya seorang ibu itu pasti ingat anak. Makanya kalau dari mana-mana ibu pasti rela bawa buah tangan buat anaknya. Meskipun harganya murah tidak mengapa. Yang penting bawa oleh-oleh.

Anak-anak di rumah juga begitu soalnya. Meskipun sudah gede-gede setiap  goodie bag yang saya bawa dari acara Blogger pasti langsung diserbu. Acapkali mba Nala dan Mas Tsaka balapan memilih benda yang dimau. Tinggallah si bungsu Dega yang kalah cepat. Mukanya ditegar-tegarkan, padahal kekecewaaan terlihat jelas dari raut mukanya. Kalau sudah begini kedua kakaknya langsung mengalah. "Yaelah Dega jangan baper dong, kan kita cuma pengen becandain kamu!"

Terkait dengan oleh-oleh, kalau lagi ada duit berlebih saya tidak ragu membelikan pakaian untuk anak-anak. Saya menyadari, mereka ini cepat sekali tumbuh besar. Baju-bajunya terasa sesak dilihat. Saya rasa, hadiah untuk anak seperti ini tidak perlu menunggu dibeli kalau ada moment spesial, kan?

Oiya, flashback sebentar. Dulu saya prefer memilih pakaian dari warna favorit anak-anak. Kalau mas Tsaka sukanya warna gelap-gelap sedangkan Dega sukanya warna terang. Sedangkan mba Nala, anak perempuan pilihannya selalu pink, putih dan ungu.

Buat saya faktor kenyamanan itu nomor sekian. Tapi seiring berjalannya waktu, konsep saya mulai berubah. Faktor kenyamanan jadi pertimbangan yang utama setiap membeli pakaian anak-anak.

Salah satu jenis pakaian anak-anak yang sering saya beli adalah kaos. Karena menurut saya, kaos adalah pakaian yang sifatnya mudah menyerap keringat. Tau sendiri kan bagaimana aktifnya anak-anak kalau lagi beraktivitas. Pakaian yang tidak menyerap keringat pasti tidak nyaman dikenakan.

Berikut tips saya memilih kaos anak :
1. Pilih ukuran yang tepat.
Hampir 80% ibu pernah salah memilih ukuran yang tepat. Kalau ukuran kaos kebesaran tidak terlalu jadi masalah, karena ada beberapa jenis kaos yang justru enak dipakai kalau yang modelnya longgar. Secara tidak langsung, memilih kaos longgar juga jadi bagian dari upaya penghematan. Karena tidak perlu berulangkali membeli. Nah, sementara kalau kaos terlalu sempit, punggung jadi tertekan. Ini sakit, lho!

2. Pakai kaos sesuai kebutuhan aktivitas
Aktivitas anak-anak itu kan bermacam-macam. Hindari memakai kaos yang sama untuk setiap aktivitasnya. Misal, jangan pakai kaos yang sama setelah berolahraga karena kaos yang sudah basah penuh keringat tidak akan nyaman dikenakan lagi. Selain itu kaos yang basah penuh bakteri ; dapat menyebabkan penyakit kulit misalnya panu.



3. Jangan masukkan kaos di dalam mesin cuci
Selain harus pandai memilih jenis kaos kita juga perlu memperhatikan cara merawat kaos. Karena sifatnya yang mudah melar, menurut saya, kaos sebaiknya tidak usah dicuci di dalam mesin cuci. Cukup rendam dalam detergen, kucek-kucek, bilas. Tidak perlu diperas kuat-kuat. Tidak perlu disikat kuat-kuat.

Baru-baru ini saya mengenal brand Afrakids dari teman saya yang juga agent penjualan kaos anak muslim ini. Saya tertarik karena varian produknya cukup lengkap ada koko, tunik, gamis, celana, jilbab dan kaos dengan aneka karakter menarik. Selain produk fashion di Afrakids juga ada lunch box dan tas ransel anak yang berbeda dari produk sejenis. Cocok ini untuk dijadikan kado.

Nah, selain dapat dibeli di agent penjualan atau reseller kita bisa memilih-milih dulu produknya di website bazarafra.com sebelum dipesan. Nanti pihak Afrakids akan menghubungkan kita ke alamat pembelian agen dan reseller yang lokasinya terdekat dengan alamat kita. Jadi bisa silaturahim, kan dengan kenalan baru hehehe...

Ada beberapa point Kenapa Harus Kaos Afrakids yang saya pilih?

1. Menyerap keringat
Seperti yang tadi saya katakan, kenyamanan bahan adalah yang utama. Dengan mengenakan kaos yang mudah menyerap keringat, kesehatan anak-anak secara tidak langsung dapat kita minimalisir dari terserangnya penyakit kulit. Kaos Afrakids terbuat dari bahan kaos combed 24S. Bahan ini paling halus, adem dan berkualitas tinggi.

2. Warnanya ceria
Dunia anak-anak adalah dunia ceria. Warna-warna kaos Afrakids yang cerah dan menarik membuat rasa percaya dirinya semakin meningkat. Dan seperti Nala yang suka warna pink, putih dan ungu maka warna-warna kaos Afrakids warnanya pun girly sekali. Ada pink, putih, ungu, hijau toska dan lainnya.



3. Desainnya edukatif
Sesuai dengan karakter anak-anak yang lucu, desain kaos Afrakids sangat menggambarkan dunia anak-anak. Gambar kartunnya lucu-lucu memuat konten-konten edukasi yang tersirat dalam setiap desainnya. Secara tidak langsung, tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai islam sejak dini pada anak jadi lebih mudah.

Ada seri ilmuwan muslim, all about sholat, enthusiast learner, follow rasulullah, happy daughter, how to eat, muslim attitude, rob creation yang bisa kita pilih. Dengan cara ini kita bisa mengajarkan sekaligus mengingatkan anak-anak akan hal sederhana tapi wajib misalnya sholat dan berperilaku.

4. Kaos Afrakids Aman
Bahan kaos Afrakids terbuat dari katun 100% dan tanpa bahan sintesis maupun poliester. Sehingga saat dikenakan rasanya adem di kulit. Dengan begitu kekuatiran kita terhadap kesehatan kulit anak-anak dapat teratasi.

Dan lagi, pewarna yang digunakan untuk memproses warna kaos Afrakids juga sudah lolos sertifikasi internasional keamanan pakaian. Serta teknik sablon yang digunakan kaos Afrakids sifatnya non-toxic yang aman untuk lingkungan. Jadi apabila kaos Afrakids tidak sengaja hilang dan terbuang, lingkungan akan tetap aman.



5. Belanja Sekaligus Membangun Desa Quran
Tidak banyak toko online yang transparan mengalokasikan labanya untuk bersedekah. Melalui Afrakids secara tidak langsung kita telah berperan serta dalam membangun peradaban di desa Quran. Setiap Rp 1000,- dari keuntungan akan didonasikan untuk membantu program pemberdayaan di desa Quran ini. Nah, saat ini, pilot project desa Quran yang pertama ada di Rawa Kalong, Bogor. So, dengan membeli di Afrakids artinya kita telah bersumbangsih pula.

Mimpi indah saya sebagai orang tua adalah bisa berkumpul bahagia dengan anak-anak, suami dan keluarga dalam jannah dengan ridho Allah SWT kelak. Saya menyadari, untuk meraih mimpi indah itu tidaklah mudah. Salah satunya adalah mendekatkan anak-anak dengan kehidupan islami sejak dini pada anak-anak. Berikut lima  alasan kenapa harus kaos Afrakids yang saya pilih.