Minggu, 17 Maret 2019

Rakornas Perpustakaan 2019 ; Upaya Wujudkan Ekosistem SDM Indonesia Melalui Penguatan Literasi

Maret 17, 2019 0


Kala membaca sesuatu sejatinya kita tidak hanya memahami arti dari hurup perhurup menjadi kata, kata perkata menjadi kalimat dan kalimat perkalimat menjadi paragraf. Akan tetapi kemampuan kita untuk memahami secara keseluruhan informasi yang dibaca merupakan pengertian literasi itu sesungguhnya. 

Memahami literasi tidak mudah teman-teman. Perlu waktu lama dari pembiasaan-pembiasaan membaca sejak dini. Di era 80-an, kala saya masih kecil, ketika sumber hiburan hampir tak ada, selain pesawat televisi yang mulai siaran di sore hari kegiatan membaca menjadi pengisi hari-hari saya. Ibu saya tanpa sengaja membuat saya jadi hobi membaca. Waktu itu ia sering membeli koran dan majalah bekas untuk dijadikan kantung beras (modelnya kaya kantung kertas gorengan di abang-abang gerobak). Tapi sebelum dijadikan kantung kertas saya pilih-pilih dulu yang menarik untuk saya baca-baca. Kebetulan di dekat rumah juga ada perpustakaan dan taman bacaan buku alias kios persewaan buku. Maka minat baca sayapun semakin tumbuh subur. 

Akan tetapi sejalan dengan pergeseran zaman, sebagian besar masyarakat kini semakin rendah intensitasnya dalam membaca. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya : 

1. Sistem akademik di sekolah dan kampus yang sangat padat membuat orang sudah jenuh untuk membaca dan mencari informasi lebih dari yang didapatnya. 

2. Ada alternatif lain yang lebih menghibur daripada membaca yakni chatting, nonton atau main games. Andaikan pun mencari informasi orang tetap lebih memilih mencari dari internet daripada membaca buku. 

3. Fasilitas umum seperti Mal, Karaoke, Bioskop dan taman hiburan lain yang asyik untuk hang out daripada membaca. 

4. Kesibukan ibu yang ikut berperan mencari nafkah menjadikan peran pentingnya dalam membiasakan anak membaca jadi semakin minim. 

5. Harga buku yang mahal menyebabkan orang enggan untuk membaca. Sementara itu perpustakaan yang sejatinya merupakan tempat untuk membaca buku seringkali fasilitas dan koleksi bukunya tidak memadai. Itupun kadang-kadang letaknya jauh sehingga membuat orang enggan membaca.




Dalam kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 saya kembali hadir tanggal 14 Maret 2019 silam di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta. Setelah sebelumnya hadir dalam Press Con yang berlangsung tanggal 11 Maret 2019 di Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, terus terang saya penasaran dengan kehadiran narasumber-narasumber yang silih berganti bakal mengisi materi dalam kegiatan yang berlangsung dari 13 - 16 Maret 2019 ini. Dan kabarnya, Rakornas kali ini sangat happening karena dihadiri sekitar dua ribu orang dari seluruh Indonesia. 😍



Setelah gong tanda diresmikannya pembukaan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan, setelah menggenjot pembangunan infrastruktur hingga tahun 2018 tujuan pemerintah selanjutnya adalah upaya untuk meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Caranya adalah dengan berfokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Ekonomi di tahun 2019.



Untuk mewujudkan upaya tersebut, perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem masyarakat yang berpengetahuan. Sebab itu sebagai contoh saja, Perpustakaan Nasional kini tampil dengan wajah baru. Tak lagi sebagai tempat membaca buku saja tapi perpustakaan kini juga berfungsi sebagai ruang co working space. Berbagai fasilitas dan layanan diperbaiki agar pengunjung betah berlama-lama menghabiskan harinya di perpustakaan. Tak lupa, layanan pustakawan yang ramah dan handal menjadi kunci utama kehadiran pengunjung perpustakaan. 

"Karena secara inklusif, masyarakat berhak mendapatkan layanan perpustakaan dimanapun mereka berada dan pada kondisi apapun. Hal ini dijamin oleh negara melalui Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, " jelas Tjahjo. 

Beliau memaparkan, dari total 82.505 desa/kelurahan di Indonesia baru 33.929 desa/kelurahan memiliki perpustakaan atau setara dengan 41.12%. Karenanya Kemendagri mendorong pemerintah daerah untuk memberi penekanan pada kepala daerah untuk : 

  • Untuk membentuk Dinas Perpustakaan bagi pemerintah daerah yang belum punya. 
  • Memperkuat struktur kelembagaan dan tata laksana perpustakaan. 
  • Mendorong penyelenggaraan perpustakaan umum berjalan dengan baik. 
  • Pentingnya pembangunan perpustakaan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar dan perbatasan (3TP). 
  • Optimalisasi pemanfaat NIK pada e-KTP sebagai Kartu Anggota Perpustakaan di seluruh wilayah Republik Indonesia. 
  • Mempercepat implementasi MOU Kerjasama, 
  • Dana DAK transfer ke daerah sebagian untuk pengembangan perpustakaan, literasi dan kegemaran membaca. Terutama penyediaan buku-buku life skill, home industri dan teknologi terapan. 



Untuk melihat langsung bagaimana peran perpustakaan bagi masyarakat, saya sempat berkunjung ke beberapa stand pameran yang digelar selama kegiatan Rakornas berlangsung. Saya takjub dengan hasil karya ibu-ibu di stand milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bandung Barat. Berbagai kerajinan tangan tertata cantik dari kreasi ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas perpustakaan. Ah, andai semua perpustakaan dapat menjadi ruang publik terbuka yang dapat memberikan manfaat untuk pengembangan skill semua masyarakat tentu kesejahteraan ekonomi sebagaimana yang dicita-citakan pemerintah akan tercapai dengan mudah. 


Jumat, 15 Maret 2019

Asyiknya Jalanin Bareng Prudential Ke Surganya Wakaf Produktif Di Subang

Maret 15, 2019 0


"Jadi, dari totalnya ada sepuluh hektar dimana dua hektarnya ditanami buah naga dan nanas Subang dengan sistem tumpang sari. Sebagian lahan lainnya ditanami buah jambu kristal, pepaya kalina dan pisang, sedangkan sisanya, sih, belum diolah," jelas kang Ade saat menemani saya dan teman-teman memetik buah naga.



Memetik buah naga adalah salah satu tawaran memikat bagi pengunjung yang datang ke kebun buah naga Indonesia Berdaya di desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang. Tanah yang tadinya ditelantarkan begitu saja kini menjadi harapan bagi petani warga sekitar.

Sebagai pembina, lembaga amil zakat Dompet Dhuafa mengelola dana wakaf umat menjadi wakaf produktif dengan menyulap lahan ini menjadi alternatif wisata keluarga yang mengasyikkan. Programnya itu bernama Indonesia Berdaya. Di sini, siapapun bisa datang dan merasakan langsung memetik buah naga yang matang pohon ; bisa dimakan di tempat atau di bawa pulang. Kata Kang Ade, buah pohon di sini rasanya memang beda. Lebih manis dari yang ada di pasaran. Rahasianya adalah penggunaan pupuk organik, jadi tanpa pupuk buatan. Pantas, rasanya enak.





Tak hanya itu, rupanya di sini juga ada homestay yang disewakan untuk pengunjung yang ingin merasakan lebih lama hawa sejuk alam segar di Subang. Jujur, membayangkan perjalanan lima jam dari Jakarta rasanya memang kurang sih waktunya. Mamah masih butuh piknik, nih, hahaha... 

Bagaimana tidak, saat turun dari kendaraan, mata saya langsung kepincut pada bangunan berdinding kayu yang unik dan minimalis. Sepanjang mata memandang, hawa sejuk dataran tinggi dan hijau royo-royo kebun buah naga dari kejauhan seolah memanggil-manggil saya untuk segera menghampiri. Namun saya harus bersabar dulu, karena panitia sudah memanggil saya dan teman-teman yang sibuk berfoto ria untuk makan siang dulu.






Dari kejauhan alunan degung Sunda terdengar merdu dari saung besar. Kamipun segera duduk lesehan. Meja panjang sudah ditata dengan daun pisang sebagai alasnya. Ada nasi liwet yang dibungkus ala timbel, tahu tempe goreng, ikan goreng dan bakar, ayam goreng, juga tumisan kangkung, ulukutek leunca, aneka lalapan dan beberapa jenis sambal yang eimmm bikin lidah saya goyang-goyang. Tanpa terasa, sambal terasi, sambal dadak dan sambal kecap jahe yang terhidang ludes seketika. Penutupnya apalagi kalau bukan jus Nanas dan jus buah naga, dan sate kedua buah tersebut. Hmmm, yummy.



Setelah makan siang saya dan Amel memutuskan untuk segera ke mushola untuk sholat Dzuhur. Mumpung belum ramai. Air dingin pegunungan yang membasuh muka sontak membangkitkan rasa bersyukur pada sang Maha Pencipta. Membayangkan desa ini mampu bangkit menjadi desa mandiri saya pun jadi membayangkan ada doa dan harapan di dalam biji-biji hitam renyah sate buah naga yang tadi saya telan.




Dari penjelasan kang Ade tadi, luas lahan tanam buah naga seluas dua hektar mampu menghasilkan dua ton buah naga. Satu pohonnya aja mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram. Pohon-pohon yang ditanam tunasnya akan terus tumbuh dan menghasilkan bibit-bibit pohon baru. Begitu seterusnya seperti halnya manfaat wakaf yang pahalanya mengalir terus. Wakaf akan selalu menjadi doa yang berlipat-lipat dan kebaikan yang menembus langit. Masya Allah.


WAKAF 
Selama ini yang kita tahu bahwa wakaf identik dengan sumbangan seseorang atas tanah dan bangunan yang dimilikinya untuk dijadikan pemakaman, masjid, mushola, sekolah dan lainnya. Artinya, hanya orang-orang mampu dan kayalah yang mampu dan mau mewakafkan hartanya. 

Namun itu salah besar. Kalau teman-teman membaca tulisan saya sebelumnya, nyatanya untuk berwakaf tidak perlu menunggu kaya dulu. Sama seperti shadaqah atau zakat kita diperbolehkan memberikan kepada siapapun yang kita rasa layak mendapatkannya. Akan tetapi bedanya, penerima zakat dan shadaqah dibebaskan menggunakan untuk apa yang diterimanya. Kalau dana wakaf beda. Dana wakaf harus dikelola supaya dapat memberi manfaat terus menerus bagi penerimanya. 


Dalam sambutannya mas Khohar dari Dompet Dhuafa mengatakan, kebun wisata Indonesia Berdaya ini merupakan salah satu bentuk dana wakaf yang dikelola bersama 30 petani binaannya. Mereka dilibatkan langsung untuk menggarap lahan dan melakukan perputaran program agroindustri. Sehingga tidak hanya menyuplai buah secara utuh ke pasar-pasar tradisional dan modern kabarnya juga sudah diekspor ke Eropa.

Sedangkan bagi pengunjung yang datang juga bisa membeli buah siap panen dengan memetik sendiri. Dari pendapatan jual - beli - sewa uangnya digunakan lagi untuk perputaran program Indonesia Berdaya. Nah dari sini kita bisa melihat, ya, bagaimana kontribusi Dompet Dhuafa dapat menghasilkan dan memberi banyak manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar dan buat pengunjunga yang dapat mendapatkan manfaat wisata edukasi petik buah naga sekaligus edukasi mengenai manfaat wakaf. 


Sebagai salah satu lembaga amil zakat, Dompet Dhuafa telah dikukuhkan sebagai lembaga amil zakat tingkat nasional oleh Menteri Agama RI tanggal 8 Oktober 2001. Atas dasar itu, Prudential mempercayakan Dompet Dhuafa sebagai salah satu nashir terpercaya dalam penyaluran dana melalui program wakaf PRUsyariah yang baru diluncurkan sekitar sebulan lalu.



Community Investment - We Do Good 
Mas Bobby perwakilan Prudential Indonesia menjelaskan, "program wakaf dari PRUsyariah Prudential menawarkan pilihan bagi nasabah dan calon nasabah dalam menyalurkan wakaf. Jadi, wakaf dalam bentuk asuransi itu diperbolehkan."

Dengan begitu, tak perlu menunggu kaya dulu ya untuk berwakaf. Melalui santunan asuransi pun nyatanya kitapun dapat berwakaf.



Wakaf adalah bentuk kedermawanan dalam agama Islam yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sehingga wakaf menjanjikan pahala yang tak putus-putus. Ibarat mata rantai kebaikan yang saling menyambung, demikian pun dengan komitmen terbaru Prudential Indonesia We Do Good atau Kami Mewujudkan Kebajikan.



Prudential percaya dalam bisnis unsur keseimbangan itu perlu. Kapan harus mendapat keuntungan, kapan harus beramal. Melalui program We Do Good, Community Investment Prudential berfokus pada empat pilar yakni pendidikan, filantropi, kesehatan dan keamanan dan pemberdayaan Indonesia Timur.

Bersyukur sekali saya bisa mengikuti lagi asyiknya jalanin bareng Prudential ke surganya wakaf produktif di Subang ini setelah sebelumnya melihat langsung bagaimana desa pra sejahtera di Jonggol yang belum ada listrik kini tersenyum cerah. Saya percaya, kebaikan akan mengikat seperti mata rantai yang menguatkan. Ketigapuluh petani dan keluarganya di sini sudah merasakan manfaat produktif dari wakaf. Efek domino sebuah proses wakaf telah bergulir ibarat bola salju yang semakin lama membesar.


Rabu, 13 Maret 2019

Kiat Bangun Masyarakat Berpengetahuan Melalui Rakornas Bidang Perpustakaan 2019

Maret 13, 2019 0


Teman-teman, kapan, sih, terakhir kali kamu ke perpustakaan? Kalau saya baru aja bareng anak anak main-main isi liburan di Perpustakaan Nasional bulan lalu. Dan kebetulan kemarin saya main-main lagi, nih, ke Perpustakaan Nasional Jakarta tapi bukan untuk numpang WiFi sambil cari source tulisan, sih, tapi untuk menghadiri Press Conference Rakornas Perpustakaan 2019.

Apa itu Rakornas? Kalau dari KBBI Rakornas adalah kepanjangan dari Rapat Koordinasi Nasional. Ini merupakan gelaran kegiatan yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional selama empat hari penuh. Tepatnya dari tanggal 13 - 16 Maret 2019 yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta.

Kabarnya, seluruh rangkaian acara tersebut disambut dengan antusias. Pasalnya lebih dari 2.000 peserta akan hadir. Mereka berasal dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus dan Sekolah, serta para pustakawan dan para penggiat literasi seluruh Indonesia. Wowww. 

Saya terus terang penasaran, apa, sih, magnetnya sehingga kegiatan ini begitu mencuri perhatian? Eiimm, bisa jadi karena Narsum yang hadir mengisi setiap sesi Talk show memang mumpuni. Tercatat sejumlah menteri di kabinet Gotong Royong akan hadir diantaranya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Brojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Wakil Ketua Ombudsman Adrianus E. Meliala, Pimpinan Komisi X DPR RI, Kepala Perpustakaan Nasional, Ketua Kademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, serta Nara sumber lainnya.



Dalam Press Conference yang berlangsung pada 11 Maret 2019 silam tema yang diusung yakni "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat". Adapun hadir beberapa narasumber, diantaranya :
1. Dra. Ofy Sofiana, M.Hum sebagai Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi.
2. Dr. Joko Santoso, M.Hum sebagai Kepala Biro Hukum dan Perencanaan.
3. Dra. Sri Sumekar, M.Si sebagai Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional.
4. Dr. Bachtiar sebagai Kepala Pusat Penerangan Kemendagri.
5. Dra. Woro Titi Haryanti, MA sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan.

Dalam penjelasan Narsum yang hadir kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2019 memiliki target untuk menciptakan manusia berkualitas dan berdaya saing di era globalisasi. Tujuan ini juga sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 yang menetapkan penguatan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu skala prioritas nasional, dan masuk dalam RPJMN 2020 - 2024.

Sebagai wadah untuk mencapai tujuan tersebut perpustakaan berperan penting sebagai akses penguatan literasi masyarakat. Caranya dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya baca di masyarakat secara sistematik. 




Dari tema yang diangkat tersebut saya bisa memahami betapa selama ini secara keseluruhan masih banyak masyarakat yang enggan datang ke  perpustakaan. Banyak faktor memang yang menyebabkannya. Dari pengalaman saya sendiri, suasana perpustakaan yang kurang nyaman ditambah setiap ke perpustakaan dimana koleksi bukunya ga pernah ada penambahan menjadi pemicu keengganan saya mampir ke perpustakaan.

Diakui Dra. Ofy Sofiana, M.Hum kini Perpusnas tampil dengan wajah baru. Bila dulu perpustakaan menjadi sekedar tempat untuk membaca buku saja namun kini telah bertranformasi menjadi ruang terbuka. Di sini masyarakat bisa berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual dan berlatih ketrampilan hidup melalui fasilitas yang disediakan. Ada WiFi, ruang membaca yang nyaman, full AC, parkir murah, juga koleksi buku yang komplit.

Ada banyak kegiatan yang telah diselenggarakan perpustakaan seperti workshop menulis dan workshop membordir. Bahkan ke depannya bakal ada workshop membatik di atas media yang ga biasa. Namanya Daluang. Daluang adalah lembaran tipis seperti kertas yang dibuat dari kulit pohon Daluang yang pembuatannya dengan cara memukul-mukul kulit pohon hingga tipis. Baru tau kan? Makanya banyakin baca 

Dari kegiatan workshop yang diselenggarakan Perpustakaan di beberapa daerah dampak positif dapat dirasakan. Kesejahteraan peserta workshop semakin meningkat melalui pengaplikasian ilmu yang didapatnya saat workshop untuk membuka usaha.

Dra. Woro Titi Haryanti, MA pun merisaukan kemalasan orang Indonesia untuk membaca. Menurutnya, tingkat literasi negara kita cukup rendah. Padahal buku adalah jendela dunia. Kita bisa punya wawasan dari membaca buku. "Percuma punya perpustakaan di rumah kalau jadi pajangan saja," tegasnya.

Sebab itu kita tak perlu mencemaskan kekuatiran akan persaingan di era revolusi industri 4.0 yang sudah ada di depan mata kita. Karena akses untuk memenangkan persaingan adalah dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya membaca.

Bahkan pemerintah pun telah menyiapkan dananya. Menurut Dr. Bachtiar dana yang disiapkan sejumlah 1,78 Trilyun yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2018 disebutkan bahwa Perpusnas mendapat mendapat mandat sebagai penanggung jawab penyaluran Dana Alokasi Khusus yang mencakup pemerataan layanan perpustakaan hingga ke desa, peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif, pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, peningkatan manfaat TIK, penguatan kerjasama dan jejaring perpustakaan, peningkatan budaya dan kampanye gemar membaca, peningkatan kualitas dan beragam koleksi hingga pelestarian kandungan informasi bahan perpustakaan dan naskah kuno.

Waah, jadi ga sabar ya menunggu perpustakaan lainnya bertransformasi seperti Perpusnas sekarang. Yuk ah budayakan kembali tradisi membaca. Tak harus lama, koq. Meluangkan 5 menit dalam sehari untuk membaca sudah cukup untuk membuka wawasan kita.  Dan jangan malas juga ke perpustakaan ya, karena setidaknya sepulang dari sana ada satu ilmu baru yang kita dapatkan. Setuju? 珞

Minggu, 10 Maret 2019

Seberapa Pentingkah Peran Kita Untuk Ikut Bela Negara?

Maret 10, 2019 0


Teman-teman, kalau saya sebutkan kata bela negara, apa sih yang teman-teman ingat pertama kali? Kalau saya ingatnya, koq, ke perjuangan kemerdekaan negara, ya? Meskipun tak mengalaminya langsung tapi dari buku-buku sejarah dan pelajaran di sekolah saya tau ada darah dan airmata di dalamnya. Selama 3,5 abad bangsa kita dijajah akhirnya kita mampu mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945 lalu. Senangnya. 

Kini, 74 tahun telah berlalu. Tampaknya kita bisa bernapas lega karena kita ga perlu angkat senjata seperti masa penjajahan dulu. Untuk memperingati hari bersejarah tersebut, setiap memasuki bulan Agustus seluruh pelosok negeri berdandan mempercantik diri. Umbul-umbul, gapura, baliho, bendera marak meramaikan sepanjang jalan hingga gang kecil. Semua orang bergembira berpartisipasi mengikuti berbagai lomba mulai dari balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, bikin kreasi tumpeng, dan lainnya. Karena ini menjadi sebuah cara untuk mengingat patriotisme pejuang kemerdekaan kala itu.

Bela Negara adalah sikap dan perilaku yang dilandasi semangat patriotisme seseorang, kelompok atau seluruh komponen berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam kepentingan mempertahankan eksistensi serta menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara seutuhnya. 


Namun kemudian ada pertanyaan menggeliat di dalam sanubari saya. Benarkah patriotisme ditunjukkan hanya setahun sekali saat merayakan hari kemerdekaan aja? Benarkah rasa nasionalis kita hanya diwujudkan saat menyanyikan lagu kebangsaan dan mengenakan busana nasional misalnya batik aja? Nooo, itu keliru teman-teman.

Dalam diskusi santai yang digelar Dirjen Bela Negara yang dinaungi Direktorat Jendral Potensi Pertahanan dari Kementrian Pertahanan RI pada 6 Maret 2019 silam, hadir narasumber Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan. M.Si Dirjen Pothan, Kemhan RI  dan Brigjen TNI. Tandyo Budi Revita, S.Sos Direktur Belanegara, Ditjen Pothan Kemhan. Kemudian dari sisi selebriti hadir Karina Nadila putri Pariwisata Indonesia 2017 dan Dimas Beck artis dan pemerhati HIV/AIDS yang masih muda belia. Boleh dibilang mereka ini merupakan cerminan dari generasi Y dan Z ; kelahiran rentang dari 1980-an hingga 2000-an.



Terkait dengan perkembangan jaman dimana segala informasi mengalir deras tentu berimbas dengan penyebaran informasi palsu atau hoax. Hal inilah yang menjadi sumber kecemasan hingga tagline Ayo Bela Indonesiaku yang diinisiasi Direktorat Bela Negara dapat menggerakkan masyarakat terutama generasi Y dan Z seperti Dimas dan Karina untuk tetap menjaga semangat bela negara agar tetap menyala dan bergelora.

Terlebih, sekarang ini ancaman kita bukanlah datang dari negara luar tapi dari dalam negara itu sendiri. Ancaman laten ini tentu saja dapat mengancam persatuan bangsa. Kita akan dipecah belah dengan maraknya fitnah, hoax dan ujaran kebencian yang dihembuskan oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Menurut penjelasan Brigjen TNI Tandiyo Budi Revita, sebagai wujud warga negara yang memiliki hak dan kewajiban sama maka bukan angkat senjata atau mengadakan WAMIL seperti di Amerika atau Korea sana. Namun dari sumbangsih profesi sejatinya kita telah melakukan pembelaan negara secara non fisik seperti yang dilakukan Dimas dan Karina.

Tujuan Bela Negara : Mempertahankan negara dari berbagai ancaman; Menjaga keutuhan wilayah negara, Mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1045 sehingga identitas dan integritas bangsa/negara tetap terjaga. 


Dimas Beck dengan kapasitasnya sebagai selebriti dia bekerjasama dengan organisasi sosial untuk menggalang dana yang diperuntukkan untuk anak-anak penderita HIV/AIDS yang dikucilkan masyarakat. Menurutnya, mereka tetap berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak karena mereka hanyalah korban. Tak sepantasnya mereka ikut mendapat hukuman terkait dengan penyakit yang ditakuti sebagian besar masyarakat sekarang.

Lain lagi dengan Karina. Dengan kapasitasnya sebagai putri pariwisata perempuan cantik ini tergerak untuk menceritakan kepada anak-anak di pelosok untuk mengembangkan cita-citanya. Baginya, cita-cita itu tidak melulu nanti ingin menjadi dokter, menjadi guru atau menjadi polisi saja. Bahkan menjadi putri pariwisata sepertinya ia dapat mengenalkan Indonesia dengan cara lain kepada anak-anak yang ditemuinya. Hingga bila ada upaya dari negara lain yang membuat pengakuan dengan menyebutkan kekayaan daerah Indonesia adalah hasil kebudayaan asli mereka dapat dicegah.

Bagi pelajar aksi bela negara dapat diwujudkan dengan sikap rajin belajar. Sehingga pada nantinya akan memunculkan sumber daya manusia yang cerdas serta mampu menyaring berbagai informasi yang berasal dari pihak asing. Dengan demikian, masyarakat tidak akan terpengaruh dengan adanya informasi yang menyesatkan.



Jadi kalau ditanya seberapa pentingkah peran kita untuk ikut bela negara? Jawabannya penting sekali teman-teman. Sebagai Blogger dengan kapasitas menulis maka kita tentu dapat menyiarkan berbagai informasi yang benar dan meluruskan informasi yang salah dan terlanjur beredar di masyarakat. Karena ini adalah bukti tanggung jawab kita akan masa depan bangsa. Ini adalah makna patriotisme sesungguhnya, bukan sekedar merayakan HUT RI dengan balap karung, lomba makan kerupuk belaka. Setuju? Ayo Bela Indonesiaku


Senin, 04 Maret 2019

Prudential Dan YOAI Beri Sentuhan Berbeda Dalam Penanganan Kanker Melalui Ruang Rawat Inap Remaja Pertama Di RS Kanker Dharmais

Maret 04, 2019 29



Setiap menjejakkan kaki di RS Kanker Dharmais hawa suram selalu menyambut kedatangan saya. Entahlah. Rasanya di sini seperti mengingatkan saya akan sosok si Malaikat Maut dalam drama korea Goblin. Seolah-olah dia dan teman-temannya ada di sekitar saya sedang mengamati setiap gerak gerik sambil memegang kartu kematian.

Ya, penyakit kanker nyatanya masih menjadi momok sebagian besar masyarakat. Begitupun saya. Dua anggota keluarga saya meninggal dunia hanya berselang 20 hari akibat kanker. Alm mas Bambang (keponakan) dan Kak Amrul (kakak ipar) terpaksa menyerah juga. Sejak diketahui, - sekitar lima bulanan aja - leukimia yang bersarang di dalam tubuh mas Bambang dan  - seminggu saja - kanker kelenjar getah bening yang bersarang di dalam tubuh Kak Amrul akhirnya merenggut kehidupan keluarga saya.

Kalau diingat-ingat, selama mendampingi mereka menjalani pengobatan, Kak Amrul saya amati ikhlas menjalaninya. Beliau menyadari penuh akan makna qada dan qadar di setiap kehidupan manusia. (baca : https://www.mba-diahworo.web.id/2018/07/pelajaran-kecil-soal-kanker.html ) Akan tetapi lain lagi dengan mas Bambang. Awal-awal menjalani pengobatan dia selalu semangat dan yakin akan kesembuhannya. Tapi lama-lama dia bosan menjalani rangkaian kemoterapi. Hanya berdiam di tempat tidur kamar pasien dari hari ke hari merontokkan semangatnya. Pilu hati kami setiap membujuk dia untuk menelan makanan dan menjalani setiap tahap pengobatannya.


Faktor Pendukung Proses Penyembuhan Kanker 
Dalam upaya penyembuhan kanker ada faktor-faktor yang mempengaruhi survivor kanker dalam proses penyembuhannya. Diketahui untuk mematikan penyebaran sel-sel kanker pasien harus menjalani tiga cara dalam pengobatannya yakni operasi, kemoterapi atau terapi radiasi. Tindakan tersebut dapat menyebabkan hilangnya napsu makan. mual, timbul luka (kalau mas Bambang sariawan), lelah (mood swing), rambut rontok, diare hingga kerusakan saraf.



Demikianpun bagi survivor kanker anak. Gejala gangguan psikologis seperti rasa marah, cemas, sakit, depresi dan hilang harapan jika tidak ditangani dengan baik dapat memperburuk kesehatannya.

Agar pasien anak mampu mengatasi kondisi psikologis yang dialaminya maka pendampingan psikologis dari keluarga dapat membantunya menjalani beragam pengobatan dengan nyaman. Peran lingkungan yang kondusif di rumah sakit sebagai rumah keduanya pun memiliki peran dalam membantu mereka untuk sembuh. Sebab itu Prudential bekerjasama dengan YOAI (Yayasan Onkologi Anak Indonesia) berinisiatif memberikan sentuhan lebih di ruang perawatan anak. Bangsal perawatan yang menarik dan pelayanan yang lebih ramah di RS Kanker Dharmais diharapkan membuat anak-anak merasa nyaman menjalani beragam pengobatan yang seringkali tidak nyaman.





Survivor Remaja Pun Butuh Privasi
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, perawatan bagi pasien anak dan remaja tidaklah bisa dipukul rata. Boleh dibilang usia remaja adalah masa yang tanggung. Mau dicampur dengan pasien dewasa tidak mungkin apalagi dicampur dengan anak-anak. Remaja punya privasi yang berbeda. Kebutuhan mereka pun jauh lebih kompleks dibandingkan anak-anak. Di usia ini remaja dengan mudah dapat berkomunikasi langsung dengan dokter tanpa melalui orang tuanya terkait penyakit dan pengobatannya. Mereka bisa searching sendiri di internet dan kemudian membahasnya dengan dokter atau orang tuanya.

Imam asal Bekasi yang baru empat hari dirawat menginginkan dirinya segera dipindahkan ke ruang rawat inap remaja. "Kalau di sini saya ga tega denger anak nangis. Saya ngerti mereka lagi kesakitan cuma saya kasian aja denger tangisannya."

Adanya kebutuhan yang berbeda dari pasien usia 0 - 18 tahun mendapat jawaban dengan kehadiran ruang rawat inap untuk anak usia di atas 11 tahun hasil pengembangan dari ruang rawat anak di RS Kanker Dharmais. Ruang rawat inap remaja ini adalah yang pertama di Indonesia.





Ruang rawat inap remaja ini berada di ruangan seluas 1000 meter persegi ada 46 tempat tidur yang didisain unik, khas remaja. Selain itu hadir fasilitas lain berupa ruang untuk bersosialisasi (teen lounge). Di ruang ini juga dilengkapi dengan internet dan televisi besar seperti berada di ruang keluarga yang nyaman. Menariknya, di sini juga ada ruang konsultasi dengan psikolog serta ruang khusus loker untuk pasien dan pendampingnya.

"Kami harap fasilitas tersebut dapat membantu memberikan semangat untuk pasien anak dan remaja agar cepat sembuh," kata Direktur Utama RS Kanker Dharmais Prof. dr. H. Abdul Kadir, PhD., Sp.THT KL (K), MARS yang mengantarkan saya dan teman-teman Blogger serta Media akan fasilitas terbaru di RS Kanker Dharmais, Jakarta.


Peresmian Ruang Rawat Inap Remaja RS Kanker Dharmais 


Dalam peresmiannya pada 27 Februari 2019 silam sekaligus memperingati acara puncak dari peringatan World Cancer Day di auditorium RS Kanker Dharmais hadir pula Jeins Reisch, Presiden Direktur Prudential Indonesia, Rahmi Adi Putra, Ketua Umum YOAI (Yayasan Onkologi Anak Indonesia) dan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K) Menteri Kesehatan.

Dalam sambutannya Jeins Reisch menyampaikan, sebagai perusahaan asuransi yang telah berdiri di Indonesia sejak 23 tahun lamanya Prudential percaya bahwa menjalankan bisnis dengan baik harus diikuti dengan memberi kembali kepada masyarakat. Melalui lingkup Community Investment (CSR Prudential) Prudential berfokus pada empat pilar yakni pendidikan, filantropi kesehatan dan keselamatan dan pemberdayaan Indonesia Timur.

Dalam rangka mewujudkan pilar kesehatan dan keselamatan bersinergi dengan taglinenya WE DO GOOD Prudential telah memberikan bantuan pada korban bencana dan memiliki kepedulian pada anak-anak penderita kanker. Sejak tahun 2003 Prudential dan YOAI berkomitmen membantu anak-anak survivor kanker untuk mendapatkan bantuan pengobatan dan ruangan yang memadai di rumah sakit saat perawatan. Dan kini kita bisa lihat, di tahun 2005 bangsal anak-anak telah berdiri dan di awal tahun 2019 bangsal remaja telah dapat dinikmati saat menjalani pengobatan di rumah sakit yang tak sebentar.

"Ini adalah upaya yang dapat kami lakukan dalam menciptakan Indonesia lebih sehat," tegasnya kemudian.



Ucapan senada disampaikan Rahmi Adi Putra Tahir, Ketua Umum YOAI. Beliau menyampaikan, YOAI telah bekerjasama dengan berbagai pihak baik dari pemerintah maupun swasta untuk mendukung pengobatan kanker pada anak di Indonesia.

"Selain itu kami juga berkomitmen terus menyediakan informasi dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini kanker dan mengedukasi orang tua tentang kanker pada anak dengan mengadakan berbagai kegiatan. Salah satunya yakni seminar remaja peduli kanker dengan pembahasan seputar penyakit kanker, penyebab dan beban kanker seperti hari ini."



Ditambahkan oleh Ibu  Menkes Nila Moeloek, masalah kanker adalah masalah yang harus diselesaikan bersama. Kehadiran remaja-remaja yang dibentuk YOAI dalam naungan Cancer Buster Community sebagai pionir di lingkungannya diharapkan dapat menghambat penyebaran kanker melalui perilaku sehat sehari-hari melalui program Germas (Gerakan Masyarakat Sehat).

"Jadi kalau ada bapaknya atau teman-temannya yang masih merokok jangan dibiarkan. Cegah, ya?!" pesannya kemudian.


Raksasa Baik Hati itu... 
Jeins mengatakan, Prudential telah berkolaborasi dengan YOAI sejak tahun 2003. Kala itu bantuan berupa pengobatan yang memadai untuk anak-anak penderita kanker diwujudkan dengan pengadaan ruang rawat inap yang nyaman. Prudential memahami kondisi lingkungan yang kondusif melalui desain warna ruang rawat inap yang menarik dapat membangkitkan mood pasien anak-anak setelah kemoterapi atau radiasi. Hal ini diharapkan dapat mengatasi tekanan psikologis pasien serta dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Pada awalnya, RS Kanker Dharmais memiliki ruangan khusus untuk anak-anak seluas 500 meter persegi saja. Pasti rasanya ga betah ya kalau pasien menumpuk di ruangan tersebut? Akhirnya diperluas menjadi 1000 meter persegi dengan biaya total mencapai 4,5 miliar.


Nini Sumohandoyo, Corporate Communications & Sharia Director Prudential Indonesia yang juga hadir mengatakan, "dana yang disalurkan Prudential Indonesia didapatkan perusahaan dari setiap pembelian polis PRUSyariah pada 2017. Dalam rangka memperingati sepuluh tahun kehadiran Unit Usaha Syariah Prudential Indonesia dananya dialokasikan untuk renovasi ruang rawat inap remaja yang berada di lantai empat RS Kanker Dharmais Jakarta.

Satu pertanyaan muncul, atas alasan apa sehingga RS Kanker Dharmais ini kembali dipilih Prudential untuk menerima bantuan dana renovasi ruang rawat inap anak dan remaja? Sederhana saja jawabannya teman-teman. RS Kanker Dharmais adalah pusat rujukan rumah sakit di seluruh Indonesia. Terlebih sekarang ini penderita kanker semakin meningkat saja, dan sebagian besar anak-anak menderita leukimia seperti anaknya Denada.


Dari data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) pada 2015, di Indonesia terdapat sekitar 4.100 kasus kanker anak-anak per tahun, dimana sebagian besarnya adalah leukimia. 

Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada 2013 menunjukkan prevalensi kanker anak umur 0 - 14 tahun sebesar sekitar 16.291 kasus. Sedangkan data dari Kemenkes mengungkapkan bahwa setiap tahunnya ada lebih dari 175 ribu anak di dunia didiagnosis mengidap kanker dan sekitar 90 ribu diantaranya meninggal dunia. Kurangnya deteksi dini membuat kanker sulit disembuhkan. 


Hal ini menyebabkan terjadinya antrian panjang yang melelahkan untuk bisa menjalani perawatan. Ga terbayangkan gimana rasanya kalau pasien berasal dari luar kota. Pendampingnya pun mau tinggal di mana? Berapa biayanya lagi yang keluar? Belum lagi masih harus memikirkan kondisi psikologis pasien. Pasti hal itu amat sangat melelahkan jiwa raga semuanya.




Syukur alhamdulillah, peresmian renovasi ruang rawat remaja ini merupakan kelanjutan komitmen perusahaan asuransi Prudential Indonesia dengan YOAI, yayasan yang diinisiasi beberapa orang tua yang anak-anaknya pernah menderita kanker dan telah sembuh.

Selain merenovasi ruang rawat inap, sejak tahun 2002, untuk menunjang pengobatan kanker pada anak-anak Prudential juga menyediakan tujuh mesin apheresis yang dialokasikan ke tujuh rumah sakit diantaranya RS Kanker Dharmais. Kegunan mesin ini untuk memisahkan sel-sel darah baik untuk terapi pasien maupun donasi komponen darah dari donor ke pasien yang membutuhkan transfusi. Dengan alat ini pasien kanker anak lebih cepat penanganannya dan tentu bisa lebih cepat proses penyembuhannya.

Jadi, tidak salah ya, bila Rahmi Adi Tahir mengatakan kalau Prudential adalah raksasa yang baik hati. Love you Prudential!








Kamis, 14 Februari 2019

Hempaskan Niat Diet di Brotta Suki

Februari 14, 2019 2


Saya terdiam sejenak. Kuah kaldu pekat dan beraroma kuat dengan rasanya yang gurih hanyut dalam lidah saya. Pelahan-pelahan, satu demi satu, mulai dari sliced beef, crab stick, chicken somay meluncur mulus ke dalam perut saya. Tidak terasa paket Setsuki yang terhidang di meja tandas dalam tempo kurang dari setengah jam saja. Astagaaa...

Sabtu tanggal 9 Februari 2019 panas matahari yang lagi terik-teriknya mengantarkan saya ke depan resto Brotta Suki. Dari kejauhan warna bangunannya yang mencolok sudah terlihat jelas. Warnanya dominan oranye dan merah seolah memanggil saya untuk segera mendekat. Lokasinya juga mudah dicari. Terletak di jalan raya Cempaka Putih lokasi restonya tepat persis di depan Daily Inn Hotel dan  halte busway Pulomas By Pass.



Terus terang kala mendapat ajakan untuk kulineran seru di resto Brotta Suki ini saya penasaran banget dengan citarasanya. Kalau sepintas dari namanya yang ada 'suki-suki' gitu saya membayangkan ini adalah resto ala Jepang. Namun perkiraan saya rupanya meleset sedikit. Menurut mbak Riri dan mas Febri, owner Brotta Suki yang menemani saya dan teman-teman icip-cip mengatakan kalau citarasa yang dihadirkan di Brotta Suki adalah gabungan dari Jepang, China dan Thailand.

Menariknya, di resto Brotta Suki saya dan teman-teman diajak makan dengan nuansa berbeda. Di depan meja kami yang kursinya diatur berhadapan, sebuah kompor gas dengan selangnya yang menjulur dan menembus ke bawah meja siap memasak menu pilihan kita. Mau rebus tinggal rebus, mau bakar tinggal bakar. Namanya juga Suki dan barbeque ya hehehe...



Tapi uniknya kita ga direpotkan lagi dengan alat masaknya karena saya dan teman-teman bisa memasak sekaligus baik rebus maupun bakar dengan satu alat saja. Namanya Mookata. Pan grill dari Thailand ini terbuat dari tembaga tebal sehingga kalau dipakai memasak tingkat panasnya stabil terus. Penting lho ini, karena saat menikmati Suki dan Barbeque kalau sudah dingin apa enaknya, ya?



Btw, Resto Brotta Suki ini terhitung masih kinyis-kinyis usianya, lho. Belum ada satu tahun, tepatnya tanggal 13 Juli 2018 silam. Cerita punya cerita, kenekatan  mba Riri dan mas Febri mendirikan resto Brotta Suki dilatarbelakangi kesukaan keduanya terhadap kuliner suki dan Barbeque. Mereka berpikir, daripada bolak balik jajan kenapa ga bikin sendiri aja, sih? Lagipula mereka merasa resto-resto yang ada harganya boleh dibilang tak bersahabat. Akhirnya, taraaaaa, inilah dia akhirnya Resto Brotta Suki yang rasanya enak, harganya terjangkau dan hati-hati karena bisa bikin kita melupakan diet :)

Kelebihan menikmati Suki di Resto Brotta Suki selain soal harga rupanya kaldu super pekat yang menjadi andalannya. Ada dua pilihan kaldu yang dapat kita pilih yakni kaldu original khas kaldu sup dan kaldu Tom Yam yang rasanya asem seger bikin ngiler. Menurut mba Riri citarasa kaldu di brotta Suki adalah hasil uji coba resep dan  modifikasi berkali-kali yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Pantesan enak, hehehe...



Barbeque
Ada empat pilihan hidangan barbeque yang dapat kita pilih sesuai kesukaan. Ada beef saja Rp 40K, gindara saja Rp 35K, ayam saja Rp 35K atau all in one alias paket barbeque Rp 50K. Murce kan? Dan lagi semuanya sama enaknya, serius. Awalnya saya kira, meskipun sudah dimarinate dengan sejenis kecap rasa ikan gindaranya pasti bau amis. Tapi setelah saya coba rupanya saya salah besar. Daging ayamnya juga enak, 100 %full meat dan ga keras. Begitupun beef sliced-nya, empuk semuaaa :)



Suki
Ada 10 jenis hidangan rebusan yang dapat kita pilih sesuai kesukaan. Ada crabstick, chickn somay, meatball, chikuwa, shrimpball, fish ball, crab claw, cheese ball, fish roll dan beef roll enoki. Semua ini dibandrol dengan harga 15K aja,




Sedangkan kalau kita mau yang lebih hemat dan sehat ada paket suki yang isinya wuaah banyak sekali. Ada somay ayam, bakso ikan, bakso sapi, crab stick, chikuwa, shrimp ball, beef sliced, enoki, soun, tofu dan sawi hijau dan putih yang dibandrol 75K.



Cara memasaknya gampang banget. Nyalakan kompor untuk memanaskan Mookata. Olesi margarin di bagian tengah untuk memasak barbeque. Sementara itu kita juga bisa menunggu kaldu mendidik di bagian pinggir pan untuk  merebus Suki. Tanpa perlu lama-lama matang deh. Oh  iya jangan lupa di pinggir meja disediakan sendok sayur ya teman-teman. Jadi ga usah mengambil kaldu di dalam Mookata memakai sendok bebek yang ada di mangkuk kita hahahaa...

Hangout di Brotta Suki memang ga bikin kantong bolong teman-teman. Harganya aman dan nyaman didukung pula oleh citarasanya yang aduhai membuat saya kepingin balik lagi suatu hari. Saya merekomendasikan ini dikarenakan sebagai muslim yang sering kebingungan mau sholat bila waktu sholat telah tiba tak perlu kuatir. Di lantai dua disediakan musholla yang muat kira-kira untuk 6 orang. Di lantai ini juga diperuntukkan untuk smoking area jadi ga salah ya kalau saya sebut resto ini surganya hang out heheh...




So far, selama kunjungan saya dan teman-teman di Brotta Suki suasana terbilang sepi. Tapi saya lihat ada beberapa babang ojol yang datang mengambil pesanan online. Mungkin karena jam kantor dan kesibukan jadi orang-orang yang beraktivitas di sekitaran Cempaka Putih memilih untuk take away saja ya. Menurut mba Riri, kelezatan kuliner di Brotta Suki berjalan alami saja. Dari mulut ke mulut penggemar Suki dan Barbeque silih berganti datang. Biasanya ramai di siang menjelang sore hingga malam.

Nah, buat teman-teman yang penisirin mau ke Brotta Suki waspadai jam-jam ramainya ya. Etapi meskipun ramai, pelayannya yang mayoritas perempuan cekatan-cekatan, koq. Jam buka dari jam 11.30 sampai jam 22.00 WIB. Dan perlu juga diwaspadai promo-promonya, cek deh di akun Instagram Brotta Suki.