Senin, 06 Agustus 2018

Jutaan Cerita Dibalik Batu Nisan Museum Taman Prasasti



Gerbang masuk menuju Museum Taman Prasasti berbentuk pagar bergaris-garis dengan bukaan dua pintu. Di belakangnya, tampak pohon-pohon rimbun yang memperindah pohon-pohon lainnya dengan perpaduan warna yang cantik. Suasana siang yang sepi tampak terlalu tenang. Membuat kesan muram semakin menggigit saat membayangkan jutaan cerita dibalik batu nisan Museum Taman Prasasti.



Sehari sebelumnya, saya dan Waya Komala sepakat untuk main-main di lahan bekas peninggalan koloni Belanda dulu ini. Sebetulnya, bukan disengaja juga sih hang out di museum yang berada di jalan Tanah Abang 1 No.1 ini. Kebetulan saja. Karena selama dua hari kami lagi ada kegiatan di kantor Sudin Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat. Nah, lokasinya, kan, persis bersebelahan dengan Museum Taman Prasasti. Jadi sekalian aja deh memanfaatkan waktu di sela-sela waktu luang yang kami punya untuk eksplore lokasi yang antimainstraim buat ukuran emak-emak polos ((poloss??)) seperti kita.



Komplek Museum Taman Prasasti ini tadinya adalah kompleks pemakaman orang nasrani yang dibangun di atas tanah milik Van Riemsduk pada tahun 1795. Tanah yang dihibahkan untuk kompleks pemakaman ini menjadi menarik karena waktu itu diantaranya banyak pejabat dan tokoh penting Belanda yang dimakamkan di sini.

Salah satu tokoh penting yang sering ada di buku pelajaran sejarah adalah tokoh Belanda yang satu ini. Ada yang masih ingat dengan nama Gubernur Jendral Hindia Belanda Thomas Stamford Rafless? Lelaki keturuna Inggris tersebut dikenal dengan gagasannya yang spektakuler ; diantaranya adalah menghentikan kerja paksa jaman Belanda.


Nah, istri Raffles, Olivia sebelum wafat berpesan agar dimakamkan dekat dengan sahabat dekatnya yaitu John Casper Leyden, di Batavia. Di pemakaman inilah akhirnya nisan Olivia bersanding dengan sahabatnya di usianya yang ke-43.

Untuk mengenang istrinya yang menyukai bunga sekaligus penggagas pembangunan Kebun Raya Bogor, Raffles kemudian membangun tugu kenangan di Kebun Raya Bogor.

Tapi sayang sekali saya tidak dapat menemukan nisan Olivia di antara 1.372 nisan di lahan seluas 1,3 hektar ini. Ya sudahlah, toh masih banyak monumen lain yang pasti mengandung cerita dibalik deretan nisan yang sudah dipindahkan semuanya kerangka jenazahnya. Salah satunya adalah bangunan berupa rumah mungil bercat putih yang merupakan nisan keluarga A.J.W Van Delden. Siapa dia?

Bangunan rumah cantik mungil ini rupanya adalah bangunan makam keluarga Van Delden 

A.J.W Van Delden adalah singkatan dari Ambrosius Johannes Willebrordus Van Delden. Tokoh ini sempat beberapa kali menduduki jabatan penting. Terakhir ia bertugas sebagai kepala perdagangan VOC. Yang menarik, di tahun 1866 tokoh kelahiran Goor ini sempat ke Australia. Tujuannya untuk bernegosiasi denga pemerintah koloni Australia mengenai pemberian subsidi untuk membangun jalur uap kapal reguler antara Jawa - Australia. Nah, hasilnya dapat kita rasakan sekarang kan?

Di Museum Taman Prasasti yang kerap disebut dengan kuburan Jahe Kober ini saya tertarik juga dengan nisan Kapiten Jas. Konon, dia adalah legenda. Dan dari sedikit informasi yang saya terima, sampai sekarang masih banyak orang yang mengunjungi nisan beliau untuk ziarah. Padahal sebagaimana nisan lainnya, di museum ini semua kerangka tidak ada. Jadi hanya batu nisannya saja.

kapiten jas

Lalu, siapa sih Kapiten Jas ini? Nama beliau diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, sebuah gereja Portugis yang ada di luar kota lama. Pada abad ke 17, banyak warga Batavia yang meninggal akibat kondisi kota yang tidak sehat. Nah, halaman gereja lama-lama tidak muat menampung jenazah, saking banyaknya. Hingga akhirnya banyak yang dimakamkan di tanah sebelah halaman gereja. Tanah itu kemudian disebut dengan tanah Kapiten Jas. Oleh sebab itu, sampai sekarang masih ada pengunjung dari dalam dan luar negeri untuk ziarah ke makam ini.

Kuburan masal tentara PETA

batu nisan bekas kuburan Belanda di Museum Taman Prasasti


Berulang kali cekrek-cekrek kamera saya penasaran juga sih mencari dua nisan orang Indonesia di sini. Sayang, lagi-lagi tidak ketemu. Mereka adalah Miss Riboet yang tenar sebagai tokoh pemain opera pada masa itu dan Soe Hok Gie. Pemuda keturunan Tionghoa tersebut meninggal akibat menghirup gas beracun di gunung Semeru pada tahun 1969. Di usianya yang ke 29 lelaki ini dikenal sebagai ketua senat mahasiswa fakultas sastra UI dan juga salah satu pendiri MAPALA. Waktu itu ia dimakamkan di kebon jahe Kober selama beberapa tahun. Selanjutnya keluarganya mengkremasi jenazahnya dan membuang abunya di kawah Mandala Wangi Gunung Pangrango. Hal itu diwujudkan karena kecintaan mendiang pada alam pegunungan.





Oiya, di Museum Taman Prasasti ini masih banyak tokoh penting lainnya yang mungkin kita kenal. Ada arsitek gereja Katedral, sebuah gereja termegah di Jakarta serta bangunan kuno lainnya di Jakarta dan Surabaya. Namanya Marius Hulswit. Kalau kamu penasaran, coba mampir deh ke gereja Katedral. Di dinding pintu utama gereja ada kalimat berbahasa latin bertuliskan "Marius Hulswit architectus erexit me 1899 - 1901". Artinya : Aku didirikan oleh Marius Hulswit 1899 - 1901.

Nah, saya menemukan satu batu nisan bertuliskan Claessenns. Bernama lengkap Monsignor Adami Caroli Claessens pekerjaannya adalah seorang pastur agama Katholik. Selama kepemimpinannya agama Katholik berkembang cukup baik seperti di Cirebon, Magelang, Madiun dan Malang.

Menurut info yang saya dapatkan dari sedikit foto-foto yang terpampang di gerbang Museum Taman Prasasti tadi, beliau berjasa membangun kembali gereja Kathedral yang sempat roboh pada bulan Mei 1890. Namun sebelum perbaikan gereja di tahun 1893 kemudian dilanjutkan penerusnya MGR Walterus Jacobus Staal. Nah, sepertinya bila dirunut-runut maka Marius Hulswit lah yang akhirnya menorehkan namanya di gereja Kathedral.



Monsignor Adami Caroli Claessens 

Tidak terasa satu jam saya dan Waya ada di sini. Dering telpon dari Mba Tanti Amelia menyadarkan kami untuk gegas kembali ke kantor Sudin Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Pusat. Tugas telah menanti. Lain waktu saya akan kembali untuk menggali lebih banyak lagi jutaan cerita dibalik batu nisan Museum Taman Prasasti.







6 komentar:

  1. Walaupun sebentar, tapi seru juga ya. Auranya agak-agak gimana gitu. Kapan-kapan kita jalan lagi ya, Diah ☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya makanya buat ukuran emak emak polos kaya kita ((polosss???)) jalan kaya gini itungannya antimainstraim ya hehehe

      ayo kapan kita lanjut way. asik ya meet up kita ini heheh

      Hapus
  2. Balasan
    1. hahah iya mas, satu jam penuh manfaat ini hehehe

      Hapus
  3. Klasik banget ya mbak.. kayak di film-film latar belakang England

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, apalagi ketika membaca nama-nama di batu nisan, seolah seperti berada di era mereka ketika masih ada deh hehehe

      Hapus