Rabu, 25 Juli 2018

Ramuan Rasa di Konser Gelanggang Indonesia



Meramu banyak perbedaan menjadi satu pertunjukan yang padu bukanlah pekerjaan mudah. Belum lagi menggabungkan dua hal yang berbeda yaitu musik dan olahraga. Di sini, ramuan rasa dalam konser Gelanggang Indonesia jadi 'menggigit' berkat tangan dingin orang-orang dibaliknya. Siapa saja mereka, ya?

Okay, sebentar ...



Konser musik bertajuk Gelanggang Indonesia - Pejuang, Selamat Bertanding! bakal digelar sebentar lagi. Sesuai dengan temanya tersebut, pertunjukan musik orkestra yang diselenggarakan di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat ini bakal membuat dahaga penonton terpuaskan oleh keragaman. Bagaimana tidak, Jayakarta Symphony Orchestra meracik konser musik ini dengan empat latar belakang berikut :

1. Konser yang digelar pada 12 Agustus 2018 momennya berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Untuk menggugah kembali semangat kebangsaan dan cinta tanah air maka konser musik ini menjadi sebuah cara untuk memperingatinya.

Kemerdekaan adalah hal sangat penting yang wajib diperingati ~ Purwacaraka, konduktor 

2. Mengingat setelah lebih dari 50 tahun Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games, maka tahun ini adalah sebuah kehormatan untuk kembali menjadi tuan rumah yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, konser ini sebagai bentuk dedikasi untuk para atlet yang sebentar lagi akan bertanding dalam event olahraga besar Asian Games 2018.

3. Selain didedikasikan untuk atlet Asian Games yang akan bertanding pada 18 Agustus sampai 2 September 2018 nanti konser ini juga dipersembahkan untuk seluruh pahlawan olahraga yang telah mengharumkan nama Indonesia selama ini dengan prestasinya di bidang olahraga.

4. Untuk itu, dalam konser ini (yang rencananya akan digelar menjadi kegiatan rutin) tiket yang terjual akan didonasikan kepada mantan atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia dengan prestasinya. Untuk kali yang pertama mantan atlet tinju Ellyas Pical mendapat kesempatannya yang pertama.

Mengapa Ellyas Pical?

Mantan Petinju asal Saparua Maluku Tengah ini adalah contoh atlet berprestasi yang namanya sangat tenar di tahun 80-an. Kemenangannya di beberapa kali pertandingan IBF kelas bantam yunior telah mengharumkan nama bangsa kita. Akan tetapi, tidak adanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah setelah ia menggantungkan sarung tinjunya banyak menuai kritikan setelah tersandung masalah hukum.

Atas dasar kepedulian atas dedikasi pahlawan olahraga seperti Ellyas Pical maka acara musik yang digagas oleh salah satu pendiri yayasan Jayakarta Nada Persada - yang bernaung dari Jayakarta Symphony Orchestra - yaitu Bapak Dedi S Panigoro menjadi sebuah bentuk kado manis.

Dalam sesi press conference yang berlangsung hangat kemarin sore, Dedi S Panigoro selaku penasihat mengatakan, "ada 17 lagu perjuangan yang akan ditampilkan."


Adapun, ketujuh belas lagu perjuangan tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Lagu perjuangan yang dikategorikan ke dalam lagu wajib nasional diantaranya adalah Halo-halo Bandung, Bangun Pemudi Pemuda, Rayuan Pulau Kelapa dan Tanah Pusaka.

Sedangkan untuk lagu perjuangan yang dikategorikan ke dalam lagu-lagu populer yang bertemakan semangat perjuangan diantaranya One Moment In Time, We Are The Champion, Asian Games Themes Song berjudul Bright as The Sun dan lagu Laskar Pelangi.

Nah, ada yang masih ingat dengan lagu Laskar Pelangi? Lagu ini pernah dipopulerkan oleh grup band NIDJI dengan vokalis Giring Ganesha. Lagu ini menceritakan tentang perjuangan dan semangat anak-anak SD di Belitung untuk dapat terus bersekolah di sela-sela kegiatannya membantu orang tuanya mencari uang.

Dan, lagu Laskar Pelangi nyatanya akan ditampilkan oleh penyanyi aslinya dalam konser musik ini yakni Giring Ganeshan. Keren kan?

Ada lagi penyanyi Jazz asal Bandung yang pernah mendapat kesempatan terlibat dalam tur grup band Jazz asal British INCOGNITO tahun 2002 lalu yaitu Dira Sugandi. Perempuan kelahiran tahun 1979 ini juga pernah berduet dengan Jason Mraz di ajang tahunan Java Jass Festival 2009 lalu dan pernah berakting di film Indonesia juga. Wuuiihh, keren deh!

Balutan suara indah penyanyi-penyanyi yang bakal tampil dalam konser musik Gelanggang Indonesia dikemas dengan indah oleh instrumen musik yang luar biasa. Sebut saja nama Sri Hanuraga seorang pianis jazz yang sangat piawai. Dia pernah meraih soloist prize pada kompetisi East Eastern Jazz Festival di Nijmegen Belanda tahun 2006 lalu.



Kemudian ada nama Purwacaraka yang sudah tidak diragukan kelihaiannya dalam meramu musik orkestra sebagai konduktor. Dan yang menarik, di gelaran konser yang penuh ramuan rasa ini Nathania Karina sebagai konduktor perempuan jadi bintangnya. Mengingat profesi ini masih didominasi oleh lelaki.

Nathania Karina yang akrab dipanggil Nia adalah konduktor bergelar Doctor of Musical Artz di Music Education Boston University tahun 2015. Yang tidak saya sangka, selain pernah tampil di empat event musik bergengsi internasional rupanya ia pun adalah salah satu pendiri Jayakarta Symphony Orchestra dengan Dedi S Panigoro.

Dan, dari sedikit kepoin profilnya, perempuan ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Tercatat ia menjadi direktur musik di yayasan CSR sebuah perusahaan label rekaman ternama di Indonesia. Kegiatannya adalah menghimpun dana untuk mengembangkan dan mendukung kegiatan musik diantaranya konser, masterclass dan berpartisipasi dalam berbagai festival.

Jadi, tidak heran ya bila Jayakarta Symphony Orchestra yang didirikannya ini memiliki 'arah' yang sama yaitu kegiatan sosial. "Dari 1200 kursi di Theater Jakarta targetnya semua tiketnya sold out," harapnya dengan optimis.

Untuk pembelian tiket bisa di GOTIX, Live Life atau bisa menghubungi Evi 0812 77510 222, Raisha 0812 1899 4162 dan Tria 0818 8998 32








Tidak ada komentar:

Posting Komentar