Senin, 30 Juli 2018

Mari Jaga Hati Dengan Deteksi Dini Hepatitis B



Lebih baik sakit hati... daripada sakit gigi...

Kenal tidak dengan lagu dangdut yang dipopulerkan Meggi Z tersebut? Apa betul sakit hati itu jauh lebih baik daripada sakit gigi, sih? Sebentar. Yuk kita ulas dulu, sakit hati itu apa sih?

Dari Wikipedia hati adalah kelenjar terbesar di dalam tubuh kita. Letaknya dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Fungsi hati adalah sebagai alat ekresi, dimana tugasnya membantu fungsi ginjal mengeluarkan zat berupa lendir dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun (Detoksifikasi).



Sebagai kelenjar pembuangan, seperti halnya kulit yang menghasilkan keringat atau ginjal yang menghasilkan urine, maka hati menghasilkan empedu. Jumlahnya 1/2 liter setiap harinya.
Zat empedu yang dihasilkan hati berguna untuk mencerna lemak, mengaktifkan lipase, membantu daya serap lemak di usus dan mengubah zat yang tidak larut dalam air menjadi larut. Proses tersebut terjadi di saluran empedu. Bila saluran empedu tersumbat, menyebabkan empedu masuk ke peredaran darah sehingga menyebabkan kulit penderita menjadi kekuningan. Inilah yang kerap disebut dengan sakit kuning.

Padahal, menurut penjelasan dr. Irsan Hasan, spPD-KGEH Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dalam diskusi bertema "Peranan Uji Diagnostik Dalam Memerangi Hepatitis" bahwa penyakit yang dikira sakit kuning belum tentu diagnosanya adalah sakit hepatitis.

Lho koq??

Nah sebelum membahas mengenai perbedaan sakit kuning versus hepatitis, saya mau jelaskan dulu pengertian dari hepatitis, ok!

Hepatitis berasal dari kata hepar (hati) dan itis (radang). Jadi Hepatitis artinya sakit radang hati. Bukan sakit hati akibat putus cinta, ya hihihihi...

Selama ini kita mengenal nama penyakit Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, bukan? Nah, selama ini kita mungkin mengira bahwa setelah orang terkena sakit Hepatitis A selanjutnya bila sakit lagi ia naik level jadi Hepatitis B. Demikian pula dari Hepatitis B lanjut naik level ke Hepatitic C. Padahal tidak begitu.

Penyakit Hepatitis dibedakan namanya karena penyebabnya berbeda-beda.



Virus penyebab sakit Hepatitis A menular melalui makanan yang tidak bersih dan higin dalam pengolahannya. Seorang yang menderita penyakit ini mengalami demam, pusing, lesu, nyeri sendi.  Kelenjar getah bening pun membesar diikuti pula dengan perubahan warna kuning pada mata dan kulit. Sehingga penyakit hepatitis A boleh jadi bisa saja diasumsikan sama dengan sakit kuning. Meskipun tidak semua penyakit Hepatitis A mengalami perubahan warna kulit jadi kuning. Tapi, menurut dr Irsan, orang yang menderita Hepatitis A bisa 99 persen sembuh total karena sifatnya akut alias mudah diobati.

Begitupun dengan penyakit Hepatitis C. Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran penyakit Hepatitis C sudah ditemukan obatnya. Syukurlah.

Nah kalau hepatitis B ditularkan melalui makanan maka virus Hepatitis B ditularkan melalui ibu ke anak dan Hepatitis C ditularkan melalui gaya hidup yaitu minum alkohol. Meskipun  sama-sama ditularkan transfusi darah dan hubungan sexual yang tidak aman, tapi sayangnya obat untuk Hepatitis B belum ada obatnya sampai sekarang.

FAKTA : 

Setidak-tidaknya 1 dari 10 orang Indonesia mengidap hepatitis kronik. 

80 % pengidap hepatitis kronik tanpa gejala 

Kemenkes RI menargetkan Indonesia bebas Hepatitis pada tahun 2020

ki - ka : Suryo Suwignjo, dr Wiendra Waworuntu, dr Irsan Hasan 

Dalam forum diskusi ini hadir pula dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung - Kemenkes RI. Beliau mengatakan, Hepatitis B di Indonesia memiliki jumlah penderita terbanyak di dunia. Dari 250 juta penduduk Indonesia paling banyak jumlah penderita hepatitis A sebanyak 60%, nomor duanya adalah penderita Hepatitis B sebanyak 7,1% dan penderita Hepatitis C sebanyak 1%. Sisanya??

Beliau mengakui, sebagaimana dijelaskan dr. Irsan bahwa sampai saat ini tidak ada data pasti mengenai jumlah hepatitis. Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang tidak mengetahui dirinya terkena Hepatitis. Dan orang yang sudah terdeteksi terkena hepatitis juga malu mengakuinya. Sehingga banyak yang memilih tidak melanjutkan pengobatan dan bahkan merahasiakannya ke keluarganya sendiri.

Akibatnya, beban negara terhadap penyakit ini sangat tinggi. Pengobatan untuk penyakit hepatitis kronis yang sudah menjadi sirosis hati bahkan menjadi kanker hati untuk satu orangnya saja biayanya mencapai 4 Milyar!! Untuk itu, Kemenkes RI mengeluarkan program awareness terhadap hepatitis. Adapun program awareness terhadap hepatitis ini dikelompokkan menjadi dua tindakan:


  • tindakan promotif misalnya dengan menggiatkan sosialiasi hepatitis ke tengah masyarakat
  • tindakan preventif misalnya dengan mengadakan screening gratis. 


Tindakan preventif difokuskan kepada ibu hamil untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anaknya dikarenakan sampai kini penyakit hepatitis B belum ada obatnya. Kemenkes RI bahkan menargetkan akan menarik 5 juta ibu hamil untuk screening secara gratis.

Mengapa ibu hamil?

Ibu hamil merupakan faktor penyebab penularan hepatitis B  secara vertikal yang paling dominan yaitu sebanyak 95%. Proses penularan terjadi melalui tiga cara yakni saat masih dalam kandungan, saat terjadi partus yang menyebabkan luka gesekan dan saat setelah partus. Oleh sebab itu setiap bayi yang baru lahir diharapkan untuk langsung diberikan vaksinasi HB0 untuk mencegah tertularnya penyakit hepatitis B dari ibunya.



Ditambahkan dr. Irsan, saat ini, kalangan profesional di bidang liver atau peneliti hati mewaspadai penyakit perlemakan hati yang juga dapat memicu hepatitis. Perlemakan hati dianggap berbahaya karena selain penderita tidak merasakan gejala seperti penyakit hepatitis, perlemakan hati juga tidak dapat dideteksi melalui test darah. Perlemakan hati hanya bisa dideteksi melalui USG atau CT Scan hati. Untuk itu, upaya deteksi dini bisa dilakukan dengan cara USG abdomen untuk pencegahan hepatitis akibat perlemakan hati.

Kesimpulan, mari menjaga pola hidup sehat dan makan makanan yang tepat untuk mencegah penularan hepatitis. Juga dihimbau oleh Suryo Suwignjo untuk mulai dari diri sendiri untuk proaktif mendapatkan deteksi dini supaya target Indonesia agar bebas hepatitis tercapai. Dan, untuk ibu hamil segera deteksi dini hepatitis ya, gratis koq.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar