Jumat, 08 Juni 2018

Hormati Perbedaan Karena Keragaman Adalah Anugerah



Bulan Ramadhan sudah menginjak hari ke 23. Tidak terasa sebentar lagi kita umat muslim di seluruh dunia akan merayakan hari kemenangan kita. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, bulan yang sangat mulia-yang didalamnya penuh keberkahan-tidak terasa usai sudah. Akankah kita masih diberi umur panjang untuk menyambut kedatangan bulan suci ini di tahun depan? Wallahu alam.

Berpuasa sejatinya bukanlah sekedar menahan lapar dan haus belaka. Dalam agenda Silaturahmi Kapolda dan Wartawan dengan Netizen di Gedung Promoter Kapolda Metro Jaya, Jakarta, 6 Juni 2018 kemarin, dalam tauziahnya, Ustad H. Muhammad Ali mengatakan, "orang yang berpuasa hendaknya menjaga pandangannya, lisannya, pendengarannya dan seluruh anggota badannya dari hal yang dilarang Allah SWT."




Hal ini mengindikasikan bahwa Allah tidak menerima puasa seseorang yang masih selalu berkata dusta, senang mengadu domba, memfitnah, menyakiti hati orang dengan kata-kata buruk dan tidak meninggalkan perbuatan maksiat. Terlebih di tahun ini, dimana suhu politik semakin memanas, membuat perpecahan semakin santer saja. Antar suku, agama dan ras saling bersiteru. Seolah ada rasa tidak puas bila pembalasan belum dilakukan. Ibaratnya, mata ganti mata, gigi ganti gigi. Rantai kebencian berbalut identitas agama dan golongan untuk kepentingan perebutan kekuasaan dan kemakmuran bangsa kita begitu mengkhawatirkan kondisinya.

Menyikapi fenomena yang dapat memecah belah kebhinekaan di negara kita ini, hadir tamu-tamu istimewa yaitu 50 anak yatim piatu dari komunitas masyarakat cinta POLRI untuk menerima santunan dan tokoh-tokoh lintas agama dalam Silaturahmi Kapolda Metro Jaya dan Wartawan dengan Netizen yang dibarengi dengan buka puasa bersama. Sayang sekali, bapak Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Idham Aziz batal hadir dikarenakan ada hal mendesak sehingga diwakilkan oleh Wakapolda Brigjen Pol Purwadi Arianto.




Adapun, perwakilan dari tokoh agama yakni bapak pendeta Datulon Sembiring, Biksu Syailendra Virya, Romo Rd Aloysius Tri Harjono, Pedande Gede Nyeneng dan Ustadz H. Muhammad Ali yang hadir serempak memberikan pernyataan bahwa melalui tokoh agama mereka berkomitmen untuk sama-sama menjaga, mempertahankan dan terus memperkokoh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kata Bhinneka Tunggal Ika 'mungkin' telah akrab di telinga kita sejak kecil dalam pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang kini telah berganti nama menjadi pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan Nasional). Bermakna 'berbeda-beda tetapi satu jua' mengingatkan bahwa Indonesia memiliki belasan ribu pulau, ribuan suku bangsa, beragam agama, kepercayaan, ideologi politik dan ratusan bahasa dan budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hal tersebut menunjukkan bahwa keragaman yang ada justru seharusnya mempersatukan kita semua dalam naungan negara.

Ironisnya, permainan politik yang kita rasakan sekarang nyatanya semakin membuat kita tersesat. Nuansa kebencial kultural semakin berjarak lebar dengan tujuan utama negeri ini dibangun. Tidak mudah memang bertoleransi terhadap tabiat maupun karakter orang yang berbeda suku, agama, golongan dan budaya yang majemuk. Apalagi dengan adanya teknologi sosial media, membuat orang dengan mudah menumpulkan rasa, logika dan komitmen kebangsaan apalagi pertemanan bila 'tidak sama'. Padahal, perbedaan yang ada sejatinya tidak menghalangi adanya persatuan. Semestinya bisa memperkaya jiwa kebangsaan kita dan menjadikan bangsa ini berjiwa besar, tidak mudah diadu domba.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, moment untuk mengukuhkan sikap saling menghormati perbedaan menjadi sebuah cara manis yang diambil Kapolda Metro Jaya untuk mengakhiri Ramadhan yang sebentar lagi berlalu. Dengan hati yang bersih, di hari yang fitri yang tinggal menuju hari lagi kita semua diharapkan untuk tidak mudah terprovokasi dan malah ikut menebarkan kebencian.



Sebagaimana disampaikan Bapak Wakapolda Brigjen Pol Purwadi Arianto,"bulan Ramadhan menjadi momen menguatkan sikap saling menghormati dan bertoleransi. Diharapkan media massa dan media sosial ikut menjaga kesucian bulan Ramadhan dengan berita yang menyejukkan dan berita positif di masyarakat. Begitu juga dengan para netizen yang aktif di media sosial mari #sebarkanberitabaik."

Mari berdamai dengan luka politik yang telah terjadi. Jangan mau diadu domba. Mari sebarkan berita baik agar suasana kondusif, aman dan tentram dapat membawa Indonesia selamat dari tekanan politik globalisasi yang membelah dan para pemain politik yang berpikir dangkal. Karena sejatinya perbedaan di antara kita seharusnya menyatukan kita. 

Nasionalisme itu ialah suatu itikad; suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat itu ada satu golingan, satu 'bangsa'! ~ Ir. Soekarno. 




20 komentar:

  1. berbeda itu tak akan membuat kita saling bermusuhan, jika tak ada oknum oknum yang nakal dan ingin menciptakan kerusuhan. tak senang kedamaian di tengah tengah nya. semoga allah menjaga jalinan persaudaraan sebangsa di nkri ini ya bu

    BalasHapus
  2. acara seperti ini emanmg penting banget ya mba mengingat ada begitu banyak isu yang bisa memecah belah kita..

    BalasHapus
  3. Saya suka deh acara ini. Membuat kita mengingat kembali bahwa kita semua satu

    BalasHapus
  4. betul banget sekarang jangan hanya merasa pemikirannya yang paling benar sehingga menghina, menghasut dan memfitnah orang lain menjadi kebiasaannya

    BalasHapus
  5. Bikin viral #sebarkanberitabaik kita bisa banget yah jagain bulan mulia dengan konten baik. Thanks for sharing kak.

    BalasHapus
  6. Acaranya bagus ya untuk menyatukan keberagaman dan saling menghargai perbedaan.

    BalasHapus
  7. Acara seperti ini tuh harusnya lebih sering diadain ya biar tumbuh rasa persatuanya plus sadar kalau negara kita ini bhineka tunggal ika.

    BalasHapus
  8. Acara kayak gini penting banget demi linimasa media sosial yang cantik menjelang pilpres. Semoga ada bekasnya dari Ramadhan tahun ini, mbak woro biar gak huruhara gituuu politik kiteee

    BalasHapus
  9. Kalau jaman saya sekolah namanya pelajaran PPKn.. Yuk lah gerakkan sebarkan berita baik dan benar.

    BalasHapus
  10. Indonesia negara yang majemuk, maka perbedaan itu fitrah

    BalasHapus
  11. Nasionalisme adalah sebuah itikad. Wah bagus banget quote-nya. Keragaman Indonesia itu malah merupakan keunggulannya.

    BalasHapus
  12. Sedih banget, karena permainan politik dan nafsu ingin berkuasa membuat kita terpecah belah..
    Marilah kita rawat keberagaman dna kebhinnekaan ini..

    BalasHapus
  13. Kesadaran akan perbedaan dan keragaman merupakan pintu masuk untuk membangun keinginan saling menghormati dan menjembatani. Ah mudah-mudahan Indonesia lebih damai kedepannya. #sebarkanberitabaik

    BalasHapus
  14. Banyak orang yang sudah lupa hakikat Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia. Jadinya sekarang gampang sekali terpecah belah karena politik atau isu agama. Semoga dengan kegiatan ini bisa membangkitkan lagi semangat nasionalisme kita ya mbak untuk kemajuan negeri Indonesia juga.

    BalasHapus
  15. Suka banget sama quote di akhir!!

    BalasHapus
  16. Mengetahui makna bhineka tunggal ika namun gak bisa menerapkannya. Kebanyakan sih begitu ya. Malah sekarang ada sekolah tahfidz yang menghilangkan pelajaran ppkn di tingkat SD.

    BalasHapus
  17. Masyarakat sekarang ini memang perlu juga di edukasi mengenai perbedaan apalagi sekarang ini gampang banget melempar isu yang bisa memecah belah karena perbedaan.

    BalasHapus
  18. Acaranya seruu, saya sempat daftar tapi mendadak ga bisa ikut

    BalasHapus
  19. Selamat Hari Raya, mohon maaf lahir dan batin :)

    BalasHapus
  20. Senang sekali melihat keakraban yang terjalin di acara ini, semoga masyarakat Indonesia semakin cerdas dalam membuat konten apapun di media sosial.

    BalasHapus