Rabu, 02 Mei 2018

Senja di Masjid Ramlie Musofa Sunter



Senja di Masjid Ramlie Musofa Sunter. Akhir-akhir ini perasaaan yang tidak boleh disebut namanya itu mulai muncul kembali. Frekwensi saya dalam chit chat di WAG dengan teman-teman menurun drastis. Sesekali saya menyahut dengan komen singkat. Lebih seringnya hanya memencet ikon smiley. Hadir di setiap event blogger masih saya sempatkan, namun feel nge-blog saya juga semakin luntur. Entah, menguap kemana semangat saya selama ini? Saya jadi seperti orang hilang arah.




Di titik ini saya sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Bahkan untuk berkomunikasi dengan keluarga rasanya pun enggan. Tapi rutinitas harus berjalan terus, bukan? Saya resah, apa sih yang saya cari? Apa sih yang saya inginkan? Semua bias.

Mungkin yang saya alami ini adalah fase yang wajar dialami semua orang. Akan tetapi saya tidak mau berlama-lama larut dengan perasaan cemas seperti ini terus. Oleh sebab itu ketika di puncak rasa yang serba tidak pasti ini saya harus tentukan sikap.
Saya memutuskan untuk pergi seorang diri dan belum tau akan ke mana dan mau apa. Pokoknya pergi saja.






Saya yakin, bukan tanpa sebab mengapa akhirnya kaki saya menjejak di gerbang pagar hitam Masjid Ramlie Musofa Sunter. Bangunan tinggi bercat putih yang sering disebut-sebut dengan Taj Mahal di India terlihat begitu megah di antara bangunan elit lainnya di sepanjang jalan danau Sunter Jakarta Utara ini. Seolah mengerti akan keraguan saya memasuki bangunan masjid megah menjulang ini dua orang satpam di pos security kemudian mengucapkan salam lalu menyilakan saya masuk.

Bernuansa cat putih dan marmer prasasti dengan guratan tulisan tiga bahasa di sekeliling saya membuat saya tercenung. Masya Allah indahnya. Yang pertama menarik perhatian saya adalah dinding bagian dalam pintu gerbang utama. Di sana tergurat tulisan di atas marmer hitam bak prasasti berisi surat Al Qariah. Di seberangnya, di dinding kanan kiri tangga utama menuju ruang shalat utama tergurat surat Alfatihah. Dan yang menakjubkan, baik surat Al Qariah maupun sural Al Fatihah semuanya terdiri dari tiga aksara, yakni aksara Cina, Arab dan Indonesia.



Dan saya masih menemukan lagi guratan tulisan di atas keran berisi tuntunan wudhu dan bacaannya. Kemudian searah dengan tempat wudhu, sebelum memasuki ruang shalat perempuan saya masih menemukan tulisan yang ditempel di pintu berisi bacaan doa sebelum memasuki masjid. Dan di sebaliknya, sebelum keluar ruang shalat ada bacaan doa keluar masjid.




Menurut omong-omong yang saya dengar, tulisan-tulisan tersebut bertujuan untuk memudahkan orang yang lupa atau belum paham urut-urutan dalam tatacara sholat. Masya Allah kembali saya berucap karena saya sendiri pun terbantu  dengan bacaan tulisan seperti ini karena doa masuk masjid masih kerap lupa saya ucapkan.

Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 2 ribu meter ini terdiri dari 3 lantai. Diapit oleh tembok bangunan tetangga, toilet lelaki dan perempuan menempel di tembok kanan kirinya. Di bangunan utama, tangga utama diapit oleh ruang wudhu yang menembus ke ruang sholat lantai bawah yakni untuk area perempuan. Sementara itu ruang sholat utama terletak di atas tangga utama yang bila tidak mencukupi bisa menggunakan lantai tiganya.




Fasilitas lainnya, untuk memudahkan kaum difabel dan lansia, di masjid ini juga disediakan lift. Rak mukena yang terlihat baru dan bersih membuat nyaman saya berlama-lama bermunajat di masjid unik berornamen indah ini.

Selesai sholat saya pun menemukan jawabannya. Saya tidak perlu menguatirkan sesuatu yang tidak kasat mata. Semua orang boleh berencana tapi tetap gusti Allah yang punya skenario-Nya. Kita hanya harus berusaha, berikhtiar dan menjalani lakon hidup kita dengan ikhlas.

Saya kemudian teringat dengan kata-kata Dee Lestari :

"kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar saja." 

Saat saya memandang ke langit bias emas matahari mulai memudar. Cukup lama juga saya di sini. Baiklah saya harus pulang. Senja di masjid Ramlie Musofa Sunter pun menjadi saksi jelajah hati saya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar