Kamis, 24 Mei 2018

Gerakan Anti Hoax Bisa Ditumbuhkan dari Rumah, Bagaimana Caranya?



Gerakan anti hoax bisa ditumbuhkan dari rumah, bagaimana caranya? Tapi nanti dulu bahasnya ya. Sekarang pertanyaannya, sadar tidak, sih, selama ini kita telah dicekoki dengan berita bohong yang banyak beredar di akun media sosial kita?

Seperti tadi pagi misalnya.

Ada beberapa teman di beberapa grup Whatsapp mengedarkan broadcast bahwa dengan meng-klik url resto cepat saji favorit anak-anak maka kita akan mendapatkan kupon gratis. Nah, siapa yang tidak senang ya, lagi puasa begini bisa dapat gratisan. Alhamdulillah.

Tidak lama kemudian, beredar kembali broadcast lain bahwa share kupon resto cepat saji tersebut adalah hoax. Namanya click per pay. Jadi, setiap kita mengklik url resto tersebut maka websitenyalah yang dapat duitnya sedangkan kita cuma mendapat iklan situsnya, bukan kupon gratisnya. Zonk.

Saya bisa memahami bila banyak yang jadi korban dengan ikut-ikutan men-share broadcast seperti itu. Maksudnya, sih, baik. Karena peduli dan ingin berbagi kebahagiaan saja di bulan Ramadhan. Tapi sayangnya tidak dicek dulu kebenarannya, hoax atau tidak. Untungnya tidak kena UU ITE lho, karena mereka yang membagikan informasi atau konten hoax, ujaran kebencian, konten bermuatan isu SARA, kesusilaan dan pencemaran nama baik bisa dijerat dan dikenakan hukuman.

Apa itu hoax?
Sebelum membicarakan apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari jeratan hukum, kita perlu memahami dulu apa itu hoax. Kata hoax berasal dari bahasa Inggris yang artinya tipuan, menipu, berita bohong atau berita palsu. Jadi bila diartikan hoax adalah ketidak benaran suatu informasi.

Berita hoax memang meresahkan publik dengan adanya informasi yang tidak jelas keabsahannya. Terlebih di jaman digital seperti sekarang ini segala pemberitaan mudah sekali tersebar luas dalam waktu singkat. Misalnya saja sewaktu kejadian teror bom di Surabaya kemarin yang dilanjutkan dengan kabar info ancaman bom lagi di Duren Sawit Jakarta. Banyak orang jadi panik sehingga tanpa pikir panjang, demi untuk mengingatkan orang-orang terdekatnya, lalu men-share info ancaman bom yang nyatanya adalah hoax.

Buku Anak Muda & Masa Depan Bangsa


Dimas Oky Nugroho, Editor sekaligus pemilik Cafe Diskusi Kopi Ruang Berbagi
Bertempat di Diskusi Kopi ruang berbagi di bilangan Halimun, Guntur, Jakarta Selatan pada 5 Mei 2018 lalu saya dan teman-teman Blogger berkesempatan hadir dalam launching buku Anak Muda & Masa Depan Bangsa yang dirangkum Dimas Oky Nugroho. Dalam buku yang memuat buah pikiran anak muda dari Aceh sampai Papua berisi 60 tulisan yang terbagi dalam 5 bab ini merupakan sebuah apresiasi terhadap tantangan sosial yang cukup besar di Indonesia, mengingat sejarah perekonomian Indonesia mengalami masa genting di masa reformasi lalu. Melalui #suarakaderbangsa buku ini penuh ide-ide menarik dari generasi yang bangga akan warisan untuk jadi bagian dari sebuah bangsa yang besar yang layak dibaca.



Kembali bicara soal anti hoax. Dalam buku terbitan Mizan, Maret 2018 ini saya mengutip paragraf yang diambil dari tulisan Wahyu Dhyatmika berjudul PERAN MEDIA DIGITAL DI ERA HOAKS DAN DISINFORMASI sebagai berikut :

Di tengah arus perubahan cepat ini, justru peran individu yang akan semakin besar. Semua orang tanpa terkecuali sekarang memiliki akses pada sebuah platform untuk bersuara : media sosial. Pendapat, keresahan, keberpihakan, kegembiraan, sudut pandang, bisa diekspresikan oleh siapa saja dengan terbuka. Siapapun yang membaca, jika setuju dan menyukainya - atau menolak dan membencinya - bisa merespons seketika itu juga. 


Oleh sebab itu sebelum menentukan ada di mana posisi kita ; setuju atau tidak, menolak atau membenci, sebelum merespon informasi yang masuk ada baiknya kita menahan diri sebentar agar tidak mudah terprovokasi berita yang belum jelas kebenarannya. Apalagi bila terkait dengan isu SARA dan politik yang makin syedep digoreng supaya jadi viral. Padahal bisa jadi itu berita hoax yang belum jelas kebenarannya sehingga dapat memicu rasa curiga, salah paham dan berujung dengan pertikaian.

Minuman kopi nyatanya punya banyak manfaat. Selain berguna untuk mengatasi stress dan depresi, kopi pun bisa meredakan sakit kepala. 

Terlebih di tahun terakhir politik seperti ini, hawa panas sudah menyelimuti media sosial dari kemarin-kemarin. Tidak jarang ada yang jadi bermusuhan hanya karena berbeda tokoh pilihannya nanti. Bila dibiarkan, bukan tidak mungkin kita terpecah satu sama lain. Padahal di balik itu, bisa jadi para tokoh politik yang terlihat bersiteru nyatanya sedang asyik ngopi bareng. Kalau begini yang rugi sebenarnya siapa, coba?

Mari memulai dari rumah


salah satu sudut cafe Diskusi Kopi Ruang Berbagi

Terkait dengan beragam karakter orang, sejatinya rumah adalah tempat awal mula seseorang mendapat asah, asih dan asuh. Melalui sosok ibu yang berperan penting dalam tumbuh kembangnya seorang anak mendapat ilmu, pengalaman dan kasih sayang di dalam rumah. 

Oleh sebab itu, karena ibu adalah sosok yang memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak maka ibu harus memberikan contoh positif pada anaknya. Karena anak ibarat spons busa yang mudah menyerap apapun informasi; baik perbuatan maupun perkataan yang baik ataupun buruk. Jadi, kita tidak usah heran bila melihat orang yang hobinya nyinyir tentu bermula dari rumah awalnya.

Perilaku orang yang hobi nyinyir, berkata pedas dan menuduh tanpa alasan dengan mudah kita temukan di media sosial. Bukan tidak mungkin ada di antara teman kita yang hobinya julid-in sosok publik figur, atau hobi men-share hal-hal yang membuat gerah. Akan tetapi, haruskah kita menyalahkannya?

Mari makan nasi goreng kambing di Cafe Diskusi Kopi Ruang Berbagi. Otak boleh ngebul, tapi jempol tetap harus adem. 

Fruit Punch Cafe Diskusi Kopi Ruang Berbagi, rasanya rame seperti ramenya silang sengkarut dunia media sosial. Biar begitu, jangan lupa bahagia, yes. 

Berikut saya kutip paragraf dari buku yang sama tulisan Wijayanto berjudul HOAX DAN TRADISI KRITIS KITA sebagai berikut :

Filosofi pendidikan yang diajukan Prof. Yohanes Surya perlu diterapkan di sini. Profesor fisika yang telah melahirkan generasi peraih medali emas dalam olimpiade fisika itu berkeyakinan: "Tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar." Dia membuktikan anak Indonesia pun bisa bersinar sejajar dengan putra terbaik dari bangsa lain. 

Pada akhirnya, hoaks hanyalah ekses dari sebuah era kelimpahan informasi sebagai dampak tak terhindarkan dari kemajuan teknologi komunikasi. Ibarat virus, hoaks hanya dapat dilawan dengan serum kekebalan berupa kemampuan berpikir secara kritis. 

Dari situ kita bisa mengambil benang merahnya, bahwa rumah sebagai madrasah pertama anak maka ibu mempunyai peran penting sebagai guru terbaik terhadap karakter anaknya kelak. Untuk itu, dengan serum kekebalan berupa kemampuan berpikir secara kritis maka gerakan anti hoax bisa ditumbuhkan dari rumah, bagaimana caranya?






1 komentar:

  1. mari anti hoax dimulai dari diri, keluarga, rt, sampai sekeliling dulu ya mbak :)

    BalasHapus