Jumat, 13 April 2018

Challenge Nyengir Sambil Pose Di Wahana Ekstrim Dufan


Terakhir kali saya menginjakkan kaki ke Dufan bareng anak-anak tidak terasa sudah empat tahun yang lalu. Waktu itu, boleh dibilang saya takjub juga dengan si kecil Dega yang baru kelas 2 SD sudah berani diajak naik wahana ekstrim seperti Halilintar dan Kora-kora. Bukannya kapok, ia malah minta naik lagi dan lagi.

Dipikir-pikir, anak-anak saya mirip saya banget. Waktu saya SMP juga seperti itu. Pertama kali menjejakkan kaki di pintu masuk Dufan, dengan sombongnya saya mengajak teman-teman untuk naik semua wahana. “Harus diurut ya, biar jangan sampai ada permainan yang skip,” perintah saya.





Nah, wahana pertama yang dinaiki adalah Kora-kora. Alasannya simple aja sih, karena lokasinya paling dekat dengan pintu masuk Dufan. Jadi ga mau rugi ceritanya, sodara-sodara hehehe...

Begitu merasakan perahu berbentuk kapal bajak laut mulai mengayun, dari pelan semakin lama semakin kencang, lalu semakin tinggi hingga membentuk sudut 90 derajat,  saya pun mulai teriak-teriak ketakutan. Mana duduknya di bangku paling belakang pula. Bisa dibayangkan deh gimana rasanya. Permainan yang durasinya hanya dua menit ini jadi terasa lama sekali. Serem.


Sensasi seramnya naik perahu ayun ini tentu saja saya ceritakan ke anak-anak saat pertama kali mengajak mereka main di Dufan. Terlebih saat saya mengisahkan betapa kerennya saya ketika ayahnya anak-anak yang waktu itu masih jadi TTD alias teman tapi dekat, saya tantang naik Halilintar tiga kali nonstop. Tapi, nyatanya, dia hanya berani naik dua kali saja, hahahaha...

Ketika itu, semasa masih SMA, saya menantang ayahnya anak-anak untuk naik jet coaster Halilintar sebanyak tiga kali nonstop. Pokoknya harus berdampingan duduknya ; di lori paling depan, paling tengah dan paling belakang. Sensasi ketika rangkaian 24 lori berjalan cepat, menanjak tinggi dan menikung lalu menukik tajam dari ketinggian dan merasakan tubuh diluncurkan dengan loop 360 derajat sangat mengasikkan sekali. Cara melupakan beban hidup dengan teriak teriak histeris di sinilah tempatnya.





Sensasi naik aneka wahana di Dufan memang menjadi cerita yang tidak lekang dimakan jaman. Ketika saya mengisahkan naik Kora-kora dan Halilintar di usia mereka ini, anak-anak saya yang sudah berbeda jaman puluhan tahun pun nyatanya dapat merasakan pengalaman bermain di wahana yang sama seperti yang ibunya naiki. Tapi bedanya, nyali saya sudah tidak seperti dulu. Maklumlah sudah usia jelita, alias jelang lima puluh. Kebalikannya, anak-anak saya justru terlihat makin garang naik wahana-wahana ekstrim ini. Heem, time so flies ya hihihi...


Hari Sabtu 7 April 2018 lalu, bertepatan dengan hari libur anak-anak karena ada ujian TRY OUT, giranglah anak-anak ketika saya ajak having fun lagi di Dufan. Sayangnya si nomor dua, mas Tsaka ga bisa ikut karena harus latihan basket sehubungan dengan pertandingan dalam waktu dekat. But, show must go on, rite :D

Karena mas Tsaka ga bisa ikut, maka formasi kali ini digantikan Ivanna, keponakan saya, anak bontotnya kakak saya. Nah, kalau dilihat sepintas, Ivanna ini adalah anak yang lembut hati. Meskipun sudah duduk di bangku kelas 7, terbiasa jadi anak bungsu membuat dia kelihatan manja dan penakut. Jadi, paling nanti saya ajak naik yang aman-aman saja, misalnya naik Carousel, menikmati wahana istana boneka, atau main di rumah miring saja. We’ll see :D



Setelah tangan kami distempel, tanda sudah diperbolehkan menikmati semua fasilitas taman hiburan ala Disneyland ini, saya minta anak-anak menemani saya dulu ke taman prestasi. Di lokasi ini saya dan teman-teman Blogger dan keluarganya menerima sambutan sepatah dua patah kata dari Viva.co.id dan pihak Dufan. Mas Adi dari Viva.co.id menjelaskan tujuan diadakan blogger family gathering ini tidak lain untuk menjalin kedekatan sekaligus mempererat silaturahim.



Menurut Mas Adi, kegiatan ini bukan baru kali ini diselenggarakan. Kalau tidak salah, tahun 2015 lalu juga pernah. Ah, saya kemana ya? huhuhuhu...

Mas Adi berharap, Blogger yang hadir dapat lebih aktif lagi menulis. Kalau bingung mau nulis apa, nah ini, serunya bermain di Dufan juga bisa dijadikan konten kan? Ah iya ya


Mas Raymond dari Dufan gantian menjelaskan sekilas mengenai Dufan. Dunia Fantasi atau lebih populer dengan sebutan Dufan merupakan theme park yang menyerupai Disneyland di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Dibuka pertama kali untuk umum di tahun 1985 (saya masih kelas 5 SD) seluruh 33 wahana permainan yang ada di pusat hiburan outdoor ini telah memiliki sertifikat ISO sejak Februari 2017. Jadi keamanan dan kenyamanan pasti terjamin karena wahana-wahana di Dufan mayoritas merupakan wahana ekstrim yang sangat berbahaya. Untuk itu, bagi anak-anak, persyaratan tinggi badan minimal harus dipatuhi, ya.



Mas Raymond berharap, setiap pengunjung yang datang dengan wajah ogah-ogahan, pulangnya bisa ceria lagi. Karena pengunjung akan diajak berpetualang fantasi keliling dunia melalui wahana yang terbagi dalam 9 kawasan, yakni Indonesia, Jakarta, Asia, Eropa, Yunai, Amerika, Hikayat, Kalila dan Fantasy Lights. 

Dan, jika selama ini kita mengenal karakter Dufan yakni monyet berhidung panjang asli Kalimantan bernama Bekantan, tapi rupanya masih ada delapan karakter lainnya lagi. Lucu deh namanya. Ada Garin, Bije, Kabul (katak tukang ngibul), Cili, Dufan, Dufi, Tanit (tapir genit), Rusba dan Kombi (Komodo bijak dan lucu).

Dikatakan oleh mas Raymond, Dufan merupakan satu-satunya tempat rekreasi edutainment dengan permainan terbesar, terlengkap dan penuh adrenalin. Untuk itu, Dufan memberikan kemudahan bagi setiap pelajar dan mahasiswa dengan harga spesial, terlebih lagi jika rombongan sekolah.



Sekedar info saja, harga masuk ke  Taman Impian Jaya Ancol dan Dufan untuk weekday 225 ribu rupiah dan weekend 320 ribu. Agar lebih hemat, bagi yang suka permainan menegangkan Dufan pun menyediakan annual free pass yang bisa kita tebus dengan harga 299 ribu saja. Dengan annual free pass kita bisa masuk ke Dufan selama setahun penuh dan bebas naik wahana apapun. Akan tetapi, meskipun bebas, annual free pass ini tidak dapat dipindahtangankan. Jadi yang berhak menggunakan adalah si pemegang kartu tersebut.

Jam buka Dufan sebagai berikut :
Weekday : 10.00 – 17.30
Weekend : 10.00 – 19.30

Mas Raymond kemudian mengatakan, mengingat seharian penuh bermain di pusat permainan outdoor yang tentu saja menguras energi karena cape teriak-teriak, maka pengunjung pun dimanjakan dengan fasilitas free drinking water yang tersedia di beberapa tempat. Selain itu, bagi yang membawa bayi dan lansia pun boleh meminjam stroller dan kursi roda.

Ditambah lagi kan sekarang ini yang namanya eksistensi itu perlu banget dipublikasikan. Foto-foto seru kita pun dapat segera kita upload dengan memanfaatkan free wifi dan kalau hapenya drop pun dapat dengan mudah mengecharge di charger point.

Urusan kebersihan juga menjadi hal penting nih. Toilet bersih ada di setiap wahana dan bagi yang ingin beribadah sholat juga ada mushola yang nyaman.


Ok, setelah pemberian kenang-kenangan dari pihak Viva.co.id kepada Dufan, selanjutnya?

Ready guys? Let’s us to do fun at Dufan, okay, yeayyyyy....

“Tapi sebentar. Apa nih chalenge-nya? Yang antimainstream dong!”
Mba Nala kemudian mencetuskan ide, “Chalenge kita kali ini naik wahana ekstrim tapi harus pose kalau dipotret dan harus full smile. Berani ga?”

Dega dan Ivanna mengangguk setuju penuh semangat. Saya diam. Berani ga ya? Okelah, akhirnya saya sambut tantangannya. Biarin gapapa deh kalau harus kalah juga, yang penting bisa happy seseruan bareng anak-anak.


Wahana pertama yang kita taklukkan adalah Halilintar. Alasannya sepele, karena wahana ini paling dekat dengan lokasi taman prestasi hehehe... Selain itu, dari pengalaman yang sudah-sudah, kita takut juga antrian bakal semakin mengular kalau kita menunda-nunda naik salah satu wahana legend di Dufan ini.

Betul saja, antrian kebetulan belum panjang. Di sini kami bertemu dengan anak gadisnya Waya, teman Blogger saya yang anaknya seumuran dengan Nala, anak saya. Sama-sama anak SMA nih. Fix, akhirnya rombongan kami pun bersatu. Seseruan di Dufan bakal makin heboh deh, wuuiiihhh.

Jujur, saya sempat colek-colekan dengan Waya, tersenyum senang saat anak-anak kami bertukaran akun sosial media. Artinya mereka sepakat berkenalan dan mau saling mengenal lebih akrab. Tau sendiri kan gimana anak remaja jaman sekarang? Gengsinya tinggi, gi, gi, gi.  



Selanjutnya, setelah naik Halilintar saya memutuskan untuk istirahat jagain tas perbekalan sambil ngobrol dengan Waya. Sementara anak-anak masih lanjut ke wahana Kora-kora. Katanya, mereka naik wahana perahu ayun ini sampai tiga kali. Haah??? mendadak saya jadi seperti dilempar ke jaman saya remaja yang naik Halilintar tiga kali berturut-turut. *tepokjidat hahaha...

Wahana ketiga apa ya?  Nala kemudian mengusulkan ke wahana Ice Age aja. “Enak bu tempatnya dingin kaya di kutub gitu. Nanti di sana ada karakter Sid, Diego, Manny dan Scrat. Lucu deh,” bujuknya yang sudah mencoba wahana ini beberapa bulan bareng teman-teman sekolahnya.  

Okelah, saya setuju. Hari itu memang panasnya luar biasa. Lumayan bisa ngadem manakala saya membayangkan wahana Ice Age adalah seperti istana boneka. Kita hanya duduk di rangkaian kereta yang berjalan di air yang muat untuk 20 orang, dimana kita disajikan dengan tarian boneka-boneka dari mancanegara yang lucu menggemaskan. Selintas saya melihat ekspresi senyum jahil ketiga anak-anak. Ah, mungkin hanya perasaan saya saja ya. Halu akibat kegerahan.

Saat gerbong kereta datang, ketiga anak saya bareng Tita si kakak, anaknya Waya, langsung ambil posisi duduk untuk mereka berempat. Saya, Waya yang juga mengajak keponakannya yang baru lulus kuliah diminta untuk duduk merapat ke tengah. “Biar ga basah,” alasan Nala sambil tersenyum.

“Wah, sepertinya feeling tante Waya ada yang aneh, deh,” kata Waya agak ketakutan setelah lori kami berjalan. “Aduh, Di, ini gimana. Kita mau diapain?” Waya protes terus sambil menundukkan kepala.

Saya jadi ikutan panik. “Duh, Way, tadi anak-anak ga bilang apa-apa. Aduh, kena kita, nih, dikerjain anal-anak, Way. Aku jd ikut serem, deh!”

Benar saja. Dalam keadaan gelap gulita kereta kami berjalan pelan kemudian menanjak. “Tuh, kan, bener. Ini pasti bakal ada kejutan, deh!” Waya ngumpet di bahu saya. Hadeuuh, saya tengok ke belakang ke arah anak-anak, mereka ketawa-ketawa aja. Ya salaam...

Dalam ketidakmengertian, tiba-tiba dari menanjak kereta kami terjun dan, dan, dan, di depan mata terlihat mulut Dinosaurus yang siap melahap kita bulat-bulat. Aaaaaaaa, saya dan Waya pun teriak ketakutan, lalu membungkukkan kepala dalam-dalam, menghindari air yang menciprati baju kami. Saya menoleh, anak-anak tertawa kemenangan. Satu – kosong.



Dari semua wahana di Dufan, saya paling berkesan dengan pengalaman naik Tornado dan sok-sokan jadi hero saat main di Galactica. Seolah berada di sebuah planet, kita diajak berperang melawan serangan alien dengan menembak sebanyak-banyaknya dari kursi pesawat yang kita tumpangi. Bersenjatakan pistol yang tersedia di depan kursi kita, setiap berhasil menembak lawan, maka poin kita akan bertambah. Seperti anak kecil, saya dan Waya langsung take action bak jagoan di film-film. Kocak deh kalau diingat-ingat hihihih...  




Nah, Tornado merupakan wahana paling seram yang saya naiki, sama seperti Kora-kora. Waya mana mau naik yang kaya begini, mah. Saya berani naik ini juga karena dikomporin anak-anak yang berujung dengan penyesalan.

Bayangkan, ya, ibarat mesin cuci, saat duduk dengan dada terikat di kursi, saya merasakan pengalaman diputar balikkan 360 derajat. Dari depan ke belakang - dari belakang ke depan, begitu terus secara berulang-ulang. Lempengan kursi bermuatan 54 orang ini pun berputar bebas dan terbalik secara tiba-tiba dari ketinggian yang membuat saya memejamkan mata terus. Seram sekali. Setiap saya berusaha membuka mata, yang terlihat adalah awan di langit. Astagfirullah al adzim, gagal deh chalenge pose dan full smile saat kamera karyawan Dufan memotret kita yang sedang menggantung dan hanya bertumpu pada pengikat dada saja di permainan berdurasi 4 menit ini.

Oiya, tips khusus dari saya untuk yang naik wahana ini, jika mengenakan kacamata seperti saya mending dicopot deh. Begitu juga kamera atau Hp juga sebaiknya taruh aja di lantai daripada terjun bebas lalu hancur berkeping-keping, ya kan.

Sayangnya, sore hari jelang Maghrib, hujan menderas ketika kami sedang menikmati wahana Galactica. Sehingga wahana seperti Bianglala dan Niagara tidak beroperasi karena licin. Oke baiklah, sebagai penutup hari yang manis alangkah indahnya jika kita isi dengan naik Carousel. Bak putri kerajaan, kuda yang kami tunggangi berputar-putar dengan iringan live music dari Band lokal yang membawakan lagu-lagu romantis yang juga kita senandungkan bareng-bareng sambil berselfie ria, ahaaayyy...  


Selamat tinggal kasih, sampai kita jumpa lagi...
Aku pergi, tak kan lama....
Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi...
Asalkan engkau tetap menanti...

Terimakasih Viva.co.id, hari ini anak-anak jadi nambah teman baru. Saya dan teman-teman Blogger juga semakin akrab dan secara personal jadi makin kenal dengan tim Viva.co.id. Terimakasih juga untuk Dufan, meskipun seluruh wahana tidak dapat kita coba, akan tetapi lebur deh segala emosi melalui teriakan teriakan lepas yang dapat meredakan stress sehubungan dengan deadline tulisan.


Dan tentunya di Dufan pun kita jadi bisa melakukan aktivitas fisik yang sehat. Karena kita tidak perlu memegang gawai terus menerus tapi melewatinya dengan full bermain ditengah gelak tawa canda keluarga yang happy kecipratan hangatnya silaturahim ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar