Selasa, 20 Maret 2018

Finding Love And Value Your Life With Onggy Hianata



You will definitely value your life. Kamu pasti akan menghargai hidupmu. Demikian kira-kira kutipan bahasa inggris yang saya ingat dalam perjalanan saya pulang setelah sesi meet and greet dengan Onggy Hianata. Orang yang membuat bara di hati saya berkobar kembali untuk menjalani kehidupan lebih baik lagi. Siapa dia, apa yang dilakukannya?

Berawal dari postingan mba Andiyani Achmad di beranda Facebook mengenai undangan meet and greet dengan Onggy Hianata, saya pun tergerak untuk ikut serta. Dan akhirnya, semesta pun menyambut. Di sinilah sekarang saya dan teman-teman Blogger berkesempatan menemukan value your life, nilai kehidupan kami, di Ev Hive Cafe Jakarta Pusat, 14 Maret 2018 lalu.

Value Your Life Bagi Onggy Hianata
Dalam acara meet and greet, kami mengenal lebih jauh sosok pak Onggy dan pengalaman hidupnya yang menginspirasi. Terlahir dari keturunan Tionghoa di Tarakan Kalimantan Utara, sebuah propinsi di paling utara Indonesia yang minim fasilitas membuat Onggy berkeinginan untuk merantau supaya sukses.


 Hasratnya yang besar sempat ditentang papa mamanya. Karena tidak ada biaya akibat kemiskinan yang mencekik keluarganya. Ayah Onggy hanya seorang pegawai toko kelontong biasa, sedangkan yang harus dinafkahi bukan Onggy seorang tapi juga delapan saudara kandungnya.

”Saking miskinnya, saya baru mulai sekolah kelas 3 SD, lho,” katanya sambil tertawa. Waktu itu umur Onggy sudah terlalu besar untuk masuk kelas 1 SD.


Namun, dengan tekad yang kuat, selepas lulus SMA ia pun berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Untuk menutupi biaya hidupnya, ia pernah berjualan jagung bakar di pinggir jalan. Pernah juga menjadi distributor buah-buahan dari kampungnya, pernah juga jadi sales tikar di pasar. Ia pernah juga mencoba peruntungan dengan membuat kerupuk dan menitipkan di toko-toko. Sayangnya, uangnya selalu habis karena ditipu orang. Baru saja sedikit menikmati kesuksesan, alih-alih ia terpuruk kembali.

Bahkan ia pun pernah nekat cari uang haram dengan jualan lotre judi supaya bisa menyambung hidup. Tapi kembali lagi ia teringat pesan papanya. Dimanapun berada, hiduplah di jalan yang benar. Jaga nama baik keluarga dan integritas.




Onggy akhirnya memutuskan cari aman dengan bekerja di pabrik benang. Tapi, lagi-lagi kata hatinya mengatakan, ini bukanlah jalannya. Jika bekerja, seumur hidup ia akan jadi budak terus. Finansial hanya pas-pasan yang didapat sedangkan waktu bersama keluarga tercerabut. Ia tidak bakal bisa menikmati family time karena dibelenggu oleh uang yang dibungkus dengan pekerjaan. Sedangkan, value your life bagi Onggy bukan itu. Ia ingin sukses secara finansial dan sukses secara waktu. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, ia memutuskan berhenti kerja.

Value Your Life, A Life Changing Bootcamp
Tapi sepertinya Tuhan tidak henti memberikan tantangan. Di tahun 92 – 95 Onggy banyak membaca buku dan ikut berbagai seminar untuk membangun mentalnya. Dan ketika masa reformasi di era 97 – 98 ia mengalami kejatuhan besar lagi tapi mentalnya tetap membaja. Visi misinya tidak pernah luntur dengan tetap menjaga nama baik dan integritas.

Akhirnya perjuangannya berbuah manis dalam bisnis jaringan pemasaran yang membuatnya banyak diundang untuk membagikan kiat suksesnya. Karena proses luar biasa tersebut ia merasa berhutang dengan berkat Tuhan sehingga ia kemudian berpikir untuk ‘pay back’ terhadap berkah yang diterimanya. Itulah awal mula lahirnya Bootcamp.



Ibu Florence Kasih perwakilan dari Bootcamp kemudian menjelaskan. Bootcamp merupakan sebuah program dari Edunet Global yang diluncurkan pada 14 Februari 2003. Ini merupakan wadah untuk pembinaan mental sekaigus membangkitkan kembali potensi terbaik dari setiap orang. Ribuan orang telah berhasil berhenti dari ketergantungan rokok,  narkoba,  alkohol dan kebiasaan buruk lainnya.   

Menariknya, sejak diluncurkan 15 tahun yang lalu program ini telah diikuti oleh orang dari 75 negara dimana pelaksanaannya tidak kemana-mana, tetap di Puncak, Bogor, Indonesia. Menariknya lagi, meskipun Bootcamp tidak pernah pasang iklan, tapi karena manfaat yang dirasakan pesertanya begitu luar biasa, tidak heran dari mulut ke mulut pun efeknya menyebar hingga seperti sekarang ini.

Value Your Life, Love, Forgive And Forget
Bootcamp merupakan sebuah program semacam inisiasi yang dilaksanakan selama tiga hari dua malam nonstop. Setiap peserta diajak menelisik apa yang sebenarnya dicari dalam hidup. Menurut ibu Florence Kasih, banyak orang yang tidak tahu cara melepas beban persoalan hidup sekaligus memunculkan sisi positif dalam dirinya. Tapi setelah ikut program Bootcamp diharapkan mereka dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Seperti yang dialami Dra. Ary Hellya Kurniati, Apt dan suaminya Ir. Sudarmono Djoko Nugroho. Dengan berurai air mata, Ibu Ary dari angkatan Bootcamp ke-46 menceritakan masa-masa genting situasi rumah tangganya kala itu. Memiliki kekuasaan dan jabatan tinggi di kantor tanpa disadarinya telah membuatnya menjadi sombong. Anak-anak jadi takut pada ibunya sendiri, karena ia memaksakan anak-anaknya harus belajar terus supaya bisa juara dan bisa jadi orang penting sepertinya.

Karena terlalu menekan, hubungannya dengan anak jadi tidak baik. Anaknya jadi menjauhinya dan melarikan diri dengan main game hingga kecanduan game dan pornografi.

Bahkan kesombongannya kala itu, sampai tidak menghormati suaminya sendiri. Dan puncaknya, suami istri itu sempat hampir bercerai karena peliknya situasi yang ada. Selama mengikuti program Bootcamp ia pun merasakan ada perubahan besar dalam dirinya lalu ia mengajak suaminya untuk ikut program Bootcamp agar permasalahan mereka mendapatkan solusi.

Ir. Sudarmono Djoko Nugroho, suaminya mengamini. Kala itu, rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja. Lurus seperti rel kereta api. Rumah seperti hotel yang digunakan untuk transit saja. Saking sibuknya, anak kedua sampai asing dengan ibunya sendiri. Alhamdulillah bootcamp menyelamatkan rumah tangga mereka.   


Dr. Erry Gautama dan Dr. dr. Anggraini Dwi S, Sp, Rad.(K) keduanya adalah pasangan dokter juga menceritakan kisahnya setelah mengikuti program Bootcamp. Berlatar belakang kesibukan, menghamba pada uang dan kekuasaan membuat keduanya jadi egois. Kepada anak-anaknya, ibu Anggraini bak diktator. Tapi yang dipikirkan hanya satu, bagaimana nanti anak ketiganya yang autis kalau-kalau nanti ia sudah tidak ada. Bisa mandiri atau tidak?

Melalui program Bootcamp mereka belajar menjadi orang yang humble, belajar mendengarkan anak-anaknya. Kata ibu Anggraini, “Menjadi orang egois itu cape, dari Bootcamp lah saya diajarkan melepaskan beban.”

Yang terakhir, bapak Yulianto, sosok lelaki muda berusia awal 30 tahunan juga membagikan kisahnya. Ia punya trauma masa kecil terhadap ayahnya. Dalam ketidak mengertiannya, Yulianto cilik menganggap ayahnyalah orang yang menjadi dalang terhadap kesusahannya selama ini. Ibunya ditinggalkan begitu saja dengan anak-anak yang masih kecil. Bisa dibayangkan, dalam kemiskinan mereka harus berpahit diri menjalani keadaan sehingga sampai membuat Yulianto memutuskan tidak mau menikah. Karena takut mengecewakan seperti apa yang dilakukan ayahnya pada ibunya.

Sempat ia pernah ingin bunuh diri saat naik kereta ke Bogor karena beratnya beban yang ia hadapi. Ia merasa bersyukur bisa mengikuti pogram Bootcamp yang mengajarkan prinsip love, forgive and forget untuk diterapkan dalam dirinya. Kini, ia sudah menikah dan mempunyai anak berumur satu tahun.

Begitu dahsyatnya energi positif dari program Bootcamp ini, saya yang belum tahu seperti apa rasanya menjadi peserta Bootcamp tetiba hatinya menghangat. Saya merasa tidak sendiri kalau mengingat masa lalu yang pahit dan seringkali menjadi beban yang tidak terlihat dan menghambat kesuksesan saya. Mungkin di luar sana, banyak orang yang kecanduan rokok, minuman keras, judi, pornografi atau narkoba bisa melepaskan diri dari addict-nya itu dapat kemudian bertransformasi menjadi pribadi yang lebih percaya diri, rajin ibadah, dan rumah tangga yang harmonis.

Dan, sepertinya kembali lagi semesta mendukung apa yang saya inginkan sekarang. Siapa yang menyangka, ketika bapak berhati besar ini mengatakan bahwa saya dan teman-teman berkesempatan bisa menjadi peserta Bootcamp akan datang. Masya Allah. Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan saya dengan sosok pak Onggy. Who knows.

Value Your Life, Terbang Menembus Langit


Dan, seperti dihujani berkah hari itu, kembali saya dan teman-teman dikejutkan dengan ajakan menonton screening film di XXI Plasa Indonesia yang merujuk pada kisah pahit pengalaman pak Onggy. Diperankan oleh Dion Wiyoko sebagai Onggy dan Laura Basuki, Fajar Nugros selaku sutradara dan penulis skenario membuat film bergenre drama ini semakin menarik. Karena kita diajak untuk pantang menyerah dalam menghadapi persoalan hidup.


Dikomandani oleh Demi Istri Production, film Terbang Menembus Langit akan tayang serentak di seluruh bioskop indonesia 19 april 2018 mendatang. Nah, buat yang ingin menemukan value your life, jangan lupa nonton film Terbang Menemus Langit, ya 😄😄

1 komentar:

  1. Aku sangat kagum kepada mereka yang bisa keluar dari kesulitan lalu membangun kerajaannya di atas kesulitan tersebut. Kemiskinan membuat Bapak ini tidak tinggal sebagai orang miskin terus menerus. Iya melakukan sesuatu, Iya bekerja keras, akhirnya ia sukses... Sebuah gathering yang sangat berfaedah ya mbak Woro

    BalasHapus