Sabtu, 17 Maret 2018

Film Hongkong Kasarung, Renungan Tentang Sebuah Keyakinan Dibalik Tawa




Film dibuka dengan adegan baku hantam antara Sule dengan dua orang pemuda bermata sipit di Hongkong. Bisa ditebak, karena bukan lawan yang seimbang berujung dengan tersungkurnya lelaki berdarah Sunda tersebut. 

Masih dengan sisa tenaga yang dimiliki, Sule berusaha mengejar mobil combi yang digas kencang. Di dalamnya, ada seorang gadis yang tampak ketakutan. Matanya menengok terus ke belakang, ke arah Sule yang terlihat mulai kepayahan. Bahu lelaki yang mengenakan penutup kain untuk kepalanya tampak berat menggendong dua tas besar. Sementara mobil semakin kencang melaju meninggalkan Sule.  Lalu itu tas milik siapa? Apa hubungannya Sule dengan gadis itu? Mengapa Sule ada di Hongkong?

Flash back ke sebulan sebelumnya, kehidupan Sule yang damai di desanya jadi berubah 180 derajat seiring dengan kepulangan Cecep dari Malaysia. Cecep yang bekerja sebagai TKI terlihat mempunyai magnet tersendiri bagi Iis, kekasih hati Sule. Sule pun patah hati ketika akhirnya Iis tega memutuskannya.

Untuk merebut cintanya lagi, Sule menuruti saran pamannya untuk bekerja di Malaysia. Supaya mampu mengajak Iis jalan-jalan ke pasar malam, bisa membelikan gulali kesukaannya dan bisa membeli motor Trail seperti milik Cecep agar bisa memboncengi Iis.

Keyakinan
Sule yakin bisa pergi ke Malaysia walaupun Emak menentangnya. Tapi begitu melihat keyakinan dan tekad bulat anak satu-satunya ini Emak akhirnya mengijinkan. Meski untuk itu Emak harus menjual sawah dan terpaksa menyingkirkan Rebecca, perempuan lain dalam hidup Sule yang sudah dianggap jadi anggota keluarga. Tapi Sule meyakinkan Rebecca, ia pasti akan dijemput kembali suatu hari nanti.

Begitupun saat mengalami banyak masalah selama di Hongkong, Sule tetap yakin ada jalan keluar walaupun ia sendiri tidak tahu harus bagaimana memecahkannya. Saat ditelantarkan di Hongkong oleh pamannya, karena kehabisan uang, Sule hanya mengikuti langkah kakinya kemana membawa. Kebingungan berdiri di belantara gedung perkotaan dan sibuknya orang lalu lalang dengan urusannya sendiri-sendiri, tertidur di emperan toko dalam lapar dan haus, diomeli orang, dipukuli preman dijalani Sule dengan lapang dada.

Karakter Sule yang naif, khas orang desa yang tidak mempunyai prasangka apapun terhadap orang lain diwujudkannya saat mencari keberadaan Alin, yang diculik preman yang punya masalah bisnis dengan ayahnya. Hitungannya kan mereka tidak saling kenal, jadi Sule pantaslah kalau tidak punya petunjuk sama sekali untuk mencari gadis itu. Apalagi di Hongkong, yang nama jalannya saja Sule tidak tahu karena tidak bisa membaca aksara cina. Berkomunikasi dengan bahasa mandarin pun Sule tidak bisa. Di samping itu, apa urusannya toh. Bukankah mereka tidak ada sangkut pautnya? Itulah sebabnya Makmur teman Sule yang menemani, bolak balik mengingatkan Sule untuk berfokus saja pada tujuan awalnya yakni bekerja di Malaysia. Tapi, bukan Sule namanya jika menyerah begitu saja.


Kasarung 
Sebagai penikmat film indonesia. Beruntung saya berkesempatan menyaksikan screening film Hongkong Kasarung bareng teman-teman Blogger Cronny di Senayan City, 12 Maret 2018 lalu. Film bergenre komedi action ini menceritakan tentang kebingungan Sule yang diwujudkan dengan apik melalui judulnya yang sound familiar di telinga yakni Hongkong Kasarung. Yes, mungkin jaman dulu kita pernah mendengar cerita anak-anak berjudul Lutung Kasarung? Atau ada yang pernah mendengar lagu rap yang pernah ngetop beberapa tahun melalui suara Iwa K yang judulnya Batman Kasarung?


Nah, saya pun baru tahu kalau kasarung artinya bingung. Artinya tersesat. Kurang lebih Hongkong Kasarung artinya tersesat di Hongkong. Bahasa kerennya,  Lost In Hongkong. Akan tetapi, yang menarik buat saya, makna ketersesatan di film ini bukan saja dialami Sule sebagai tokoh sentralnya tapi juga dialami Makmur dan Cecep. Mereka berdua tersesat dalam fenomena yang sering disebut dengan gegar budaya sejak menjadi TKI.

Dalam beberapa adegan, karakter Makmur yang asli Jawa malah jadi sok kehongkong-hongkongan. Ia selalu menyebut kata HONGKONG jadi Hwong-kwong. Begitupun dengan Cecep, pemuda desa di kampung Sule yang menjadi TKI Malaysia. Setelah kepulangannya, gaya bahasanya jadi sok kemelayu-melayuan. Mereka berdua merasa bangga bisa berbahasa dengan logat luar seolah mencitrakan dirinya sudah naik level dibandingkan dengan menjadi petani di kampung saja. Ini menarik sekali.




So far, setting di Hongkong dan tanah pasundan sangat memanjakan mata penonton. Kita bisa ‘liburan gratis’ di Hongkong melalui banyak adegan yang diambil di Hongkong. Karakter Sule yang memerankan dirinya sendiri, seperti biasa memang sangat memikat. Penonton tidak henti dibuat tertawa dengan kepolosannya. Terlihat bodoh iya tapi justru itulah smart-nya Sule yang mampu membuat penonton menertawakan tingkahnya. Film yang mengambil kearifan lokal yaitu budaya sunda ini mengundang decak kagum saya. Kita jadi punya sudut pandang mengenai alam dan budaya yang satu ini.

Negatifnya hanya satu. Terlalu banyak kebetulan selama Sule berada di Hongkong untuk film yang berdurasi 100 menit ini. Tapi itu bukan masalah, karena dalam film ini kita tidak perlu mikir yang berat-berat. Nikmati saja. Tertawa saja. Bagus koq tertawa, karena bermanfaat untuk melepaskan stress. Makasih Sule hehehe

Nah, lalu bagaimana kelanjutan film Hongkong Kasarung. Apakah Sule berhasil merebut hati Iis kembali? Bagaimana nasib Rebecca, ditepatikah janji Sule untuk menjemputnya kembali? Bagaimana dengan nasib Alin, sanggupkah Sule menolong gadis itu? Penasaran kan, yuk tonton di bioskop mulai tanggal 15 Maret 2018.



Pemain : 

Sule sebagai Sule
Pamela Bowie sebagai Aline
Sas Widjanarko sebagai Mang Saswi (paman Sule) 
Selvy Kitty sebagai Iis (pacar Sule) 
Ery Makmur sebagai Makmur (teman Sule, TKI Hongkong) 
Rizki Febian sebagai Rizki (mahasiswa Indonesia) 
Yatie Surachman sebagai Emak Sule 
Parto Patrio sebagai pak Rustam (staf KBRI) 
George Rudi sebagai Pak Rengga  (pengusaha Hongkong) 
Uus sebagai Cecep (mantan TKI Malaysia) 
Dicky Chandra sebagai Haji Dadang (pedagang kerbau) 
Agus Kuncoro sebagai Somad (pengusaha kambing) 
Idan Suparo sebagai Idan (ajudan pak Rengga) 
Daus Separo sebagai Daus (teman Mang Saswi) 
Iwa K sebagai boss Key (preman lokal di Hongkong) 
Volland Volt sebagai Mister Bag (pembunuh bayaran) 

Produksi : Artomoro Production 
Executive Producer : Ir. H. Ruyoto dan Heru Iswanto
Co Producer : Sule dan Parto
Sutradara : Eric Satyo
Skenario : Eric Satyo 









1 komentar: