Jumat, 16 Februari 2018

Menjadi Broadcaster di RTV TV Station Of Kidzania, Kenapa Tidak?




Melihat tingkah anak-anak seleb yang pinter-pinter sekali nyanyi lagunya Via Valen di sosmed sontak membuat saya jadi ngikik sendiri. Ampuuunn, lucu-lucu banget, siih. Sayangnya, kata-kata cinta dan sayang yang dikeluarkan dari mulut mungil mereka bikin hati saya mendadak jadi jengah. Koq sepertinya ada yang janggal.  Sepertinya kurang pantas ya meski mereka cuma sekedar menirukan saja, tanpa ada maksud apa-apa.


Polah anak-anak yang hobi menyanyikan lagu dewasa memang sudah menjadi hal kekinian. Bukan saja anak selebriti, bahkan di acara ajang pencarian bakat yang diikuti anak-anak pun sama saja. Pesertanya bukannya menyanyikan lagu anak-anak malah justru memilih lagu-lagu dewasa. Entah apa pertimbangannya.


Tidak bisa dihindari, kurang familiarnya anak-anak dengan lagu seusianya disebabkan oleh kurangnya pengenalan lagu anak dari orang tuanya sendiri. Saya pun sempat kecolongan sewaktu Umi, ART saya duet nyanyi lagu-lagunya Rossa dengan putri saya. Berawal dari Nala yang waktu itu baru kelas 2 SD terbiasa mendengar lagu-lagu favoritnya Umi lama-lama dia jadi hapal dan akhirnya bisa nyanyi juga. *sigh


Adakah Dampak Negatif Nyanyi Lagu Dewasa?
Jika dibandingkan dengan jaman saya kecil, meskipun ibu saya tidak pernah mengajak saya bernyanyi karena sibuk cari uang, tapi ada hal penting yang membuat masa kecil saya baik-baik saja yaitu TVRI. Setiap sore habis mandi, saya duduk manis di depan TV menonton tayangan anak-anak yang mendidik dan menghibur. Pengetahuan saya jadi bertambah melalui acara cerdas cermat (sebuah kuis ilmu pengetahuan yang pesertanya adalah perwakilan dari sekolah-sekolah). Melalui acara anak-anak,  saya jadi bisa menyanyikan lagu daerah dan lagu anak juga mampu menirukan tarian Minang Din Din Badidin. 



Jujur, melihat perkembangan anak-anak jaman sekarang, yang terlintas di benak saya cuma satu. Wah ini mah bakal tua sebelum waktunya deh kalau anak-anak senangnya nyanyi lagu dewasa. Semestinya, mental anak-anak berkembang dengan sewajarnya. Apa yang dipikirkan dan dilakukannya sesuai dengan pola pikir anak-anak yaitu bermain, bermain dan bermain. 

Tapi ini sebaliknya, anak-anak sejak kecil sudah dikotori pikirannya dengan kata-kata ‘sayang’, ‘cinta’, ‘selingkuh’, ‘selimut tetangga’, ‘buaya darat’, dan lain lain yang dapat memancing keingintahuannya lebih jauh. Ke depannya nanti, kita juga yang bakal bingung gimana menjelaskannya. Hemmm... 


Sebagai orang tua tentu saja kita tidak bisa begitu saja melarang keinginan anak-anak sementara teman-temannya bebas-bebas saja tidak ada larangan dari orang tuanya. Nah, salah satu cara yang saya terapkan untuk meminimalisasi panca indera anak terhadap lagu dewasa adalah dengan mendengarkan lagu anak-anak. Saya juga rajin bersenandung dan mengajak anak-anak menyanyikan lagu anak sepanjang masa seperti Ambilkan Bulan, Amri Membolos, Becak dan lain sebagainya yang mengandung unsur pendidikan, budi pekerti dan keasikan dunia anak. Kalau lagu-lagu anak yang sempat booming seperti Abang Tukang Bakso atau Semut-semut kecil NO WAY. Tidak ada unsur edukatifnya sama sekali, bukan? Hiihihihih...

Anak Hobi Meniru, Salahkah?
Sudah kodratnya memang bila anak suka meniru. Apa saja ditirunya melalui role model terdekatnya yaitu orang tua. Saat mamanya berdandan, memasak atau mengenakan sepatu hak tinggi serta merta ditirunya. Saat papanya membaca koran, mengetik di laptop atau mencuci mobil juga tidak luput bakal ditirunya.


Seiring berkembangnya usia anak, peniruan pun berkembang. Jika selama ini yang ditirunya hanya orang terdekatnya kini semakin meluas. Profesi orang dewasa di sekitarnya pun ditirunya habis-habisan dengan bermain pura-pura bersama teman sebayanya.  Biasanya anak-anak mencontoh profesi yang pernah dilihatnya misalnya jadi dokter gigi, pilot, polisi, supir taxi, karyawan hotel, penyanyi, penari, karyawan Bank dan lain-lain.


Nah, untuk mewujudkan mewujudkan cita-citanya tanpa harus menunggu dewasa, ada sebuah kota yang diciptakan khusus untuk anak-anak bernama Kidzania. Di kota berskala kecil ini anak-anak bebas bermain peran menjadi apa yang diinginkan (ada lebih dari 100 profesi lho) dan berhak mendapat gaji juga seperti karyawan umumnya.


Namanya juga kotanya anak-anak, tentu saja jalan raya, bangunan hotel, bangunan rumah sakit, pabrik-pabrik, supermarket dan lain-lain diciptakan dengan skala kecil khusus untuk anak-anak. Di ‘kota’ ini setiap pengunjung anak dipanggil dengan sapaan ‘bapak’ dan ‘ibu’ untuk mengentalkan kesan bahwa mereka sudah menjadi orang dewasa. Asyik ya hehehe...


Menjadi Broadcaster, Kenapa Tidak?
Dari begitu banyaknya profesi yang ada si Kidzania,  untuk mengakomodir cita-cita anak-anak yang belum terwujudkan yaitu menjadi seorang broadcaster di stasiun televisi, sekarang ini di Kidzania sudah hadir wadahnya. Di establishment stasiun televisi RTV setiap ‘karyawannya’ dapat memilih profesi yang diinginkannya. Bisa menjadi Pembawa Acara (Host), Pengarah Acara (Floor Director), Pengisi Acara (Performer), Juru Kamera (Cameraman), Operator Video (Switcher), Operator suara (Soundman) sampai menjadi Penonton (Audience) juga boleh.



Tentu saja namanya karyawan, setiap anak yang bermain di sini juga mendapat gaji seperti di establishment lainnya. Akan tetapi, gajinya berbeda-beda sesuai dengan job desknya ; menjadi crew gajinya 20 Kidzos, pengisi acara 30 Kidzos dan 10 Kidzos jika menjadi audience atau penonton saja. Dengan durasi permainan selama 35 menit anak-anak yang bisa menjadi seorang broadcaster di sini ada minimal usianya yaitu 4 tahun sampai usia 16 tahun.


Peresmian Establishment RTV TV Station Of Kidzania
Dalam peresmian establishment ini tanggal 13 Februari 2018 lalu hadir Presiden Kidzania Bapak Kerry Riza dan Chief Executive Officer RTV Ibu Artine Savitri Utomo. Hadirnya establishment RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta ini merupakan bukti dukungan dan komitmen dari RTV untuk berpartisipasi mengembangkan pendidikan anak Indonesia dengan menghadirkan tayangan-tayangan yang educated dan fun. Sama halnya dengan visi Kidzania yang mengedepankan unsur pendidikan dan hiburan (edutainment), Kidzania dan RTV percaya aktivitas ini bermanfaat sekali dan bisa diaplikasikan untuk menambah wawasan anak.



Bapak Kerry Riza mengatakan, “kehadiran establishment RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta ini dapat memfasilitasi ketertarikan dan keingintahuan anak-anak terhadap dunia entertainment melalui aktivitas yang menarik dan didukung dengan peralatan digital yang modern.”



Keseriusan RTV dan Kidzania dibuktikan dengan hadirnya peralatan digital yang modern saya buktikan saat mengunjungi establishment setelah resmi dibuka. Di studio mini ini ada tiga background yang bakal dijadikan lokasi shooting pembuatan acara Dubi Dubi Dam, Fun Times dan Pesta Sahabat dan dilengkapi dengan alat standar broadcaster milik RTV. Setiap ‘karyawan’ akan belajar sambil bermain menggunakan kamera, switcher dan teleprompter sungguhan. Nah, bagi pengunjung yang karakternya ceria dan aktif bisa nih menjadi pembaca acara yang dilengkapi dengan uniform dan aksesories pendukung untuk pentas. Asik banget kan.



Konsep Fun And Experimental Learning
Duduk sebagai audience saya pikir tadinya hanya duduk menyimak jalannya shooting acara Dubi Dubi Dam saja. Tidak taunya saya dan seluruh yang duduk di bangku audience termasuk Bapak Kerry dan Ibu Artine malah dikerjain pengarah acaranya. Hadeeuuh...




Kami diminta berdendang lagu anak-anak sekaligus menari dengan gerakan yang kami tiru tim kreatif RTV untuk acara Dubi Dubi Dam. Bolak balik kami diminta mengulangi gerakannya karena kata pembawa acaranya, penampilan audience-nya kurang seru. Aaah, bisa saja hahahaha...


Dijelaskan oleh ibu  Artine, tayangan RTV yang diduplikasikan di Kidzania ada dua yaitu Dubi Dubi Dam dan Fun Times yang ditayangkan di channel RTV setiap harinya di jam 14.00 WIB. “Di program Dubi Dubi Dam anak-anak akan lebih banyak bernyanyi dan menari membawakan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Sedangkan, di program Fun Time anak-anak dapat bercerita dan menuangkan kreativitas melalui kegiatan hasta karya.”


Ditandaskan pula oleh Bapak Kerry Riza, “dengan adanya RTV TV Stations Of Kidzania Jakarta diharapkan orang tua dapat lebih terinspirasi dalam mengedukasi dan menghibur anak-anaknya, karena konsep yang kami sediakan adalah bentuk nyata aktivitas orang dewasa yang nantinya akan mereka aplikasikan di masa depan.”


Yup saya setuju. Musik merupakan materi hiburan yang universal. Bukan saja anak-anak yang terpikat, orang dewasa pun sama. Banyak penelitian yang memaparkan adanya hubungan musik dengan kecerdasan hingga tumbuh kembang anak. Tapi, meskipun musik menunjukkan korelasi yang positif tetap saja kita sebagai orang tua harus pandai memilah milah musik dan nyanyian apa yang tepat untuk anak-anak. Kita pun harus cerdik memberikan aktivitas yang menghibur tapi mendidik untuk anak-anak seperti di Kidzania Jakarta. Nah, yuk ah agendakan family time dengan anak-anak di Kidzania untuk memperat bonding. Jangan lupa nyanyi bareng anak-anak yaa...



2 komentar:

  1. Wah sekarang jadi RTV yaaa...
    Fadly Fara seneng banget nontom Dubi Dubi Dam dan Fun Time. Gak pernah absen deh beedua

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sekarang ada RTV di Kidzania sal. yuk ajak fadly sm fara ke kidzania main profesi broadcaster. seru deh bakalan :)

      Hapus