Rabu, 06 Desember 2017

Mari Lakukan Papsmear, Karena Saya Peduli Kanker Serviks

Apa yang terlintas dalam pikiranmu bila mendengar kata kanker? Ngeri, mungkin, ya. Apalagi andai orang yang kita sayangi atau justru kita sendiri yang divonis terkena penyakit yang dapat menyebabkan kematian ini. Bagaimana perasaannya?

Saya termasuk orang yang kurang akrab dengan penyakit ini. Terlebih di keluarga saya tidak ada yang mengalaminya. Akan tetapi, belum lama ini, saat saya dicurigai ada lesi di kedua payudara saya yang dicurigai adalah tumor, saya merasa hidup saya seolah seketika terhenti.

Jujur, saat menjalankan skrining perasaan saya campur aduk. Terlebih saat itu saya sendirian di rumah sakit. Kegelisahan saya rupanya dibaca oleh dokter onkologi yang melayani. Ada satu pesannya yang saya ingat,

“Akankah jauh lebih baik jika ibu tahu dari awal. Sehingga ‘dia’ belum merembet kemana-mana. Karena  pengobatannya akan jauh lebih panjang dan berat, bu, jika terlambat diketahui.”

Mata saya basah. Well, saya bersyukur bila melihat diri saya hingga hari ini. Saya hanya diminta menjaga pola makan, rutin melakukan aktivitas fisik, mengelola stress lalu kembali ‘dating’ ke rumah sakit kanker enam bulan lagi untuk kontrol.

ki - ka : Chaca, MC, Ibu Eli, Dr. Yuslam 

Dalam Blogger Gathering bersama Mayapada Hospital, 30 November 2017 lalu di The Hook Restaurant, kembali mata saya basah. Kali ini saya membayangkan bagaimana keberanian dan ketegaran ibu Eli Sumbangsih menghadapi dua penyakit kanker yang dihadapinya, yaitu kanker kolon dan kanker serviks.

Perempuan berperawakan kecil mungil tapi bermental baja ini kemudian menceritakan. Awalnya di tahun 2015 ia mulai meraba pada bagian perutnya seperti ada benjolan. Setelah menjalankan CT scan, ia kemudian dinyatakan menderita kanker kolon. Anehnya, meski saat itu ia tidak merasakan gejala sakit sama sekali namun rupanya ‘dia’ sudah masuk ke stadium 2A. Dokter lalu menyarankannya untuk segera dioperasi. “Usus yang diambil panjangnya 20 cm, lho,” katanya sambil tersenyum.  

Delapan bulan setelah operasi, ia mengalami keputihan yang sangat banyak. Ia pun mengunjungi beberapa ginekolog, akan tetapi diagnosanya tetap tidak memuaskan. Feelingnya kuat bahwa ada yang ‘salah’ di dalam tubuhnya dengan menemukan kenyataan lagi, ia menderita kanker serviks stadium 1B.

Berbeda dengan saat mendengar vonis pertama saat terkena kanker kolon, saat ia divonis terkena kanker serviks perasaaannya biasa saja. Tidak kaget lagi. Begitupun saat memutuskan untuk menjadi WTS atau Wanita Tanpa Serviks  *istilah yang digunakan ibu Eli dengan nada bercanda* karena seluruh organ kandungannya harus diangkat saat operasi. Jadi, kini, ia tidak bisa hamil, melahirkan, atau menstruasi seperti wanita pada umumnya. Sungguh, sebuah keputusan yang sulit saya terima ketika membayangkan beliau kini dipaksa menopouse karena sudah tidak memiliki ovarium, uterus dan serviks lagi.

Dengan senyum ramahnya, tercermin keikhlasan, kesabaran dan ketegarannya saat menceritakan bagaimana ia menjalani statusnya sekarang sebagai survivor kanker. Beruntung ia bergabung dengan komunitas kanker sehingga ketika emosinya turun naik, teman-teman di komunitas saling menguatkan dan memberi semangat.

Dengan bergabung di komunitas kanker, ia juga jadi tahu bahwa pengobatan herbal boleh saja dilakukan tapi hanya untuk pendamping saja.  Tetap, pengobatan medis adalah yang utama. Karena pengobatan herbal sejatinya tidak ‘memerangi’ sel kanker tapi hanya memperkuat daya tahan tubuh saja.  
Mendengar kisah ibu Eli yang begitu menyesakkan, hadir pula Chaca seorang hijabber Blogger dan istri musisi dari rocket band yang menceritakan pengalamannya saat papsmear. “Ngga sakit, koq. Kaya di-’giniin’ doang.” Katanya sambil memperagakan tangannya seperti gerakan mencolek.

Chaca sangat concern pada kesehatan wanita mengingat mertuanya adalah seorang pasien kanker. Selama mendampingi mertuanya ia jadi paham bahwa kanker itu berbahaya. Dan yang terpenting, sebagai wanita yang di usianya sekarang ini sangat rentan terkena kanker serviks dan mempunyai aktivitas sexual yang aktif ia mengakui betapa pentingnya papsmer untuk kesehatannya. 


Senada dengan Chaca, Dr. Yuslam Fidianto, Sp.Og kemudian memaparkan, “bahwa di Indonesia, ada 92 ribu kasus kematian yang disebabkan oleh kanker. Dimana 10,3 persennya disebabkan oleh kanker serviks.”

Sekarang ini, jumlah wanita penderita kanker serviks setidaknya telah mencapai 21 ribu kasus sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan urutan ke dua tertinggi di dunia setelah kanker payudara. Meningkatnya angka penderita kanker serviks sekarang ini didominasi usia muda yaitu pada kisaran usia 21-22 tahun di tahun 2000 dan semakin menyebar ke usia di bawah 20 tahun pada tahun 2012.

Mengapa banyak wanita usia muda bahkan usia muda sekali sudah terkena kanker serviks?

Dokter Yuslam mengatakan, hal tersebut penyebabnya ditengarai karena kurangnya tindakan skrining penyakit kanker di Indonesia. Padahal, skrining merupakan sebuah upaya deteksi dini untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas. Dengan melakukan tes papsmear dengan pemeriksaan atau prosedur tertentu, maka skrining dapat digunakan untuk mencari solusi jika ditemukan positif terkena kanker.


perbedaan servic normal dan kanker serviks. sumber foto dari akun Instagram @mayapadahospital 

Lalu mengapa banyak orang yang masih enggan melakukan papsmear?

Dokter Yuslam mengatakan, bahwa sampai sekarang masyarakat kita masih awam dengan yang namanya test papsmear. Banyaknya mitos yang simpang siur juga mengesankan bahwa papsmear adalah test yang menakutkan dan menyakitkan mengakibatkan orang enggan melakukan test papsmear.

Jujur, mengenai mitos papsmear saya juga pernah mendengarnya. Di masyarakat berkembang kabar bahwa orang yang terkena kanker serviks sama artinya dengan orang yang terkena penyakit kelamin. Stigma tersebut mencuatkan stempel bahwa orang yang terkena kanker serviks adalah bukan perempuan baik-baik. 

Padahal, kata dokter Yuslam, HPV dibagi menjadi dua tipe, yakni yang beresiko rendah dan beresiko tinggi. Penyebab penyakit kelamin yaitu kutil kelamin disebabkan HPV yang beresiko rendah yaitu tipe 6 dan tipe 11. Sedangkan untuk tipe beresiko tinggi yaitu HPV tipe 16 dan 18 lah yang harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kanker serviks dan dapat menyebabkan kematian. Jadi, meski sama-sama disebabkan oleh virus HPV akan tetapi karena tipe resikonya berbeda tentu saja mitos tersebut dapat disanggah kebenarannya.

Kanker serviks sering disebut sebagai silent killer alias pembunuh diam-diam karena hampir tidak ada gejala yang mudah terdeteksi sejak awal. Tidak heran seringkali kanker sudah menyebar di dalam tubuhnya ketika orang memeriksakan kondisinya. Alhasil pengobatan yang dilakukan menjadi semakin sulit.

Untuk itu yang perlu diketahui mengenai kanker serviks ini adalah proses penularannya yaitu hubungan sexual ; aktivitas sex yang terjadi dengan orang yang terinfeksi virus ini. Rentannya perempuan terkena kanker serviks biasanya ditunjang oleh beberapa faktor resiko lain yaitu bergonta ganti pasangan sexual, aktif secara sexual sejak usia dini, memiliki banyak anak, merokok, dan lemah sistem imunitas tubuhnya.

Lantas untuk menghindari penyebaran atau tindakan pencegahannya apa yang harus kita lakukan?


Dokter Yuslam membagikan tipsnya. Menurutnya, pencegahan utama yang perlu digarisbawahi adalah meliputi hubungan sex yang aman. Caranya :

1.   setialah pada pasangan. Wanita yang memiliki satu pasangan pun bisa terinfeksi virus ini jika pasangannya memiliki banyak pasangan sexual lain. Untuk itu, setia pada pasangan berlaku untuk kedua-duanya, baik lelaki maupun perempuan. 
2.   Cegah kehamilan dengan KB karena memiliki anak banyak beresiko tinggi terkena penyakit ini.
3.   melakukan vaksinasi
4.   berhenti merokok
5.   menggunakan pelindung KB yaitu kondom. Sebagaimana dijelaskan bolak-balik bahwa penularan virus terjadi akibat hubungan sexual maka dengan menerapkan hubungan intim yang sehat dapat mencegah tertularnya virus HPV.
6.   Rajin membersihkan organ intim. Dokter Yuslam menyarankan untuk tidak setiap hari menggunakan pantyliners. Gunakan hanya saat setelah datang bulan atau setelah berhubungan sexual saja supaya cairan tidak merembes ke pakaian. 
7.   skrining rutin pada leher rahim dengan cara papsmear

Tindakan papsmear memang bagi orang awam terasa menakutkan. Begitu juga saya, yang belum pernah sekalipun melakukan test papsmear. Meski sempat ditawari paket skrining kanker serviks dan payudara sekaligus saat USG payudara, tapi saya mengurungkan niatnya. Bukan karena alasan biaya sih, tapi saya perlu dokter yang menenteramkan. Karena saya orangnya nyalinya kecil. *receh ya*

sumber foto : akun instagram @mayapadahospital


Mengenal Dokter Yuslam Fidianto, Sp.OG yang juga praktek di Mayapada Hospital Lebak Bulus Jakarta Selatan dalam acara Blogger Gathering kemarin membuat keinginan saya terpanggil untuk segera memeriksakan diri. Saya peduli kanker serviks karena saya mencintai diri saya sendiri. Karena saya mencintai keluarga saya. Mengingat dewasa ini, banyak yang meninggal karena kanker. Hari ini, bisa jadi nasib malang menimpa orang lain. Tapi, besok bisa saja terjadi pada kita. Siapa yang tahu. Setiap orang hanya bisa menjaga diri (kesehatan) baik-baik.

Nah, yuk, mulai sekarang segera lakukan test papsmear dan lanjutkan dengan vaksinasi untuk mencegah kanker serviks. Vaksinasi HPV berguna untuk mencegah infeksi virus dan difokuskan untuk perempuan dari umur 9 tahun hingga 55 tahun atau yang belum pernah melakukan hubungan sexual, sedangkan papsmear merupakan bentuk deteksi yang difokuskan pada perempuan yang kegiatan sexualnya terbilang aktif. 


Jangan ditunda lagi ya, karena jika sudah terlambat penanganannya tentu bakal lebih sulit pengobatannya, mengingat kebanyakan awalnya memang tidak menunjukkan gejala apa-apa. 

Kebetulan di Mayapada Hospital lagi ada promo akhir tahun. Mumpung lagi ada penawaran harga spesial  yaitu sampai 31 Desember 2017, kesempatan emas banget untuk melakukan vaksinasi nih. Apa saja pilihannya : 


Paket Rose
Rp. 3.100.000
Sudah termasuk:
• Biaya administrasi
• Pemeriksaan Dokter Obstetric & Gynecology
• 3x vaksinasi (Gardasil 0.5ml)

Paket Lavender
Rp. 2.600.000
Sudah termasuk:
• Biaya administrasi
• Pemeriksaan Dokter Obstetric & Gynecology
• 3x vaksinasi (Cervarix 0.5ml)

FYI saja, saat ini The Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui dua vaksin untuk mencegah infeksi HPV, yaitu Cervarix dan Gardasil.
  • Jenis pertama yaitu Cervarix. Umumnya digunakan untuk mencegah kanker serviks dan pra Vaksin jenis ini akan mencegah infeksi HPV-16 dan HPV-18 yang secara umum sebagai penyebab kanker. Vaksin HPV ini ditujukan hanya untuk wanita.
  • Jenis kedua yaitu Gardasil. Digunakan untuk mencegah kanker dan pra kanker serviks, vulva, vagina dan anus. Selain mencegah infeksi yang disebabkan HPV-16, HPV-18, juga menangkal infeksi HPV-6 dan HPV-11 sebagai penyebab kutil kelamin. Untuk laki-laki, penggunaan vaksin ini dapat dilakukan pada usia 9-26 tahun.
Info lebih lanjut hubungi 021-29217777 ext. 7124

Mayapada Hospital adalah sebuah rumah sakit yang diprakasai oleh Mayapada Grup melalui Mayapada Healthcare Group. Dengan pelayanan bertaraf internasional kita tidak perlu keluar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan berkelas internasional. Ada dua lokasi strategis yang dapat kita pilih yaitu Mayapada Hospital Tangerang atau Mayapada Lebak Bulus yang sama-sama memiliki petugas medis terbaik. 




8 komentar:

  1. Sejak acara kemarin saya yang tadinya penakut untuk periksa sekarang ingin merencanakan papsmear ah mb..
    Karena mencegah lebih baik yah mb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, biaya pengobatan juga jauh lebih murah kalau kita sedari dini tau.

      Hapus
  2. Iya nih belum papsmear lagi...tiga tahun lalu udah

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah belum pernah sama sekali mba. pengen segera aah :)

      Hapus
  3. yaaaa jadi diingatkan papsmear sayaaaa makasih ya Dee

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mba, yuk papsmear trus lanjutin sm vaksinasi :)

      Hapus
  4. Emang bener banget yah pencegahan dan pengobatan kanker serviks harus dilakukan sejak dini. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas dede, pengobatannya juga lebih murah dan mudah kalau kita bisa tau dari awal

      Hapus