Senin, 30 Oktober 2017

Ayo, Cegah Kanker Payudara Dengan Sadanis

Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman berkas dari RS. Kanker Dharmais. Dokumen tersebut adalah hasil laboratorium setelah saya melakukan test mamografi di mobil keliling milik YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Mau menangis saya ketika membaca hasilnya. Dikatakan, saya harus segera melakukan USG Payudara.

USG payudara? Kenapa harus? Ada apa dengan payudara sebelah kiri saya?

Flash back...
Dua minggu sebelumnya. Sewaktu event CFD di bilangan Menara BNI Jakarta, saya mendatangi unit mobil Mamografi untuk melakukan cek mamografi secara gratis. Setelah mengisi formulir dan mengisi beberapa pertanyaan seputar siklus haid, payudara saya kemudian diperiksa oleh dokter perempuan. Waktu itu saya diminta berbaring dengan tangan diangkat. Dokter kemudian menekan-nekan payudara saya dengan gerakan memutar untuk mendeteksi ada benjolan atau tidak. Ke depannya saya baru tau, tindakan dokter ini dinamakan Sadanis atau pemeriksaan payudara secara klinis.

Setelah itu, saya mengantri lagi untuk melakukan test mamografi. Saat melakukan test ini, pertama-tama saya diminta untuk menanggalkan baju dan bra saya. Kemudian saya diminta untuk berdiri tegak di depan mesin mamogram. Payudara saya kemudian diletakkan pada pelat film lalu dijepit sampai ngepress. Tidak lama kemudian, payudara saya seperti discan dari atas, bawah, samping kanan dan samping kiri menembus jaringan payudara. Hal yang sama dilakukan untuk payudara sebelah saya.

Secara umum, test mamografi itu ngga lama koq. Hanya saja, ada perasaan rikuh ketika telanjang dada di depan dokter yang menyinar dan ada ketidaknyamanan (bukan sakit, sih) aja saat payudara saya dipress.

Sekarang ini, terus terang saya masih shock mendapati hasil laboratorium untuk segera melakukan USG Payudara. Saya takut. Belum siap rasanya menerima keadaan bila nanti terbukti saya.... aaah... tidak berani saya memikirkanya.

Dalam keadaan dilema, shock, feel lonely seperti ini beruntung sekali saya bisa berkesempatan hadir dalam forum diskusi bersama Phillips Indonesia dan YKPI atas undangan mba Yunika Umar. Thanks ya mbaa *peluk

Upaya Jemput Bola Yang Dilakukan YKPI  Dengan Unit Mobil Mamografi  


Dalam forum diskusi yang diselenggarakan di Conclave di bilangan Kebayoran Baru Jakarta Selatan hari Jumat 27 Oktober 2017 lalu hadir ibu Linda Gumelar selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Beliau mengatakan, unit mobil mamografi yang disediakan di beberapa titik merupakan sebuah upaya jemput bola yang dilakukan YKPI dilatar belakangi fakta bahwa kanker payudara adalah penyebab kematian nomor satu wanita di Indonesia. Diketahui, dari data RS. Kanker Dharmais menyatakan sebanyak 60 – 70% penderita yang mencari perawatan telah berada pada stadium akhir.

Penyebabnya, tidak lain adalah karena mayoritas orang masih banyak yang enggan melakukan pemeriksaan karena takut jika mengetahui apabila positif terjangkit kanker. Seperti saya. Padahal, menurut ibu Linda, semakin dini didiagnosa akan semakin besar kesempatan hidupnya.

Untuk mengurangi penderitaan pasien kanker payudara dan juga keluarganya, YKPI yang terkenal dengan simbol pita pink-nya ini juga membuat rumah singgah yang bisa dihuni oleh penderita dari kalangan tidak mampu. Pasien hanya membayar 15 ribu perhari untuk biaya kebersihan saja. Meskipun murah, jangan salah, fasilitas AC disediakan di sini mengingat pasien kanker payudara khususnya yang habis melakukan kemoterapi akan merasakan kepanasan luar biasa.

Bagi penderita kanker payudara, mengkomunikasikan kebutuhan atau perasaan bukanlah hal yang mudah. Dengan adanya pita pink sebagai sahabat yang memahami dan saling berbagi pengalaman untuk saling menguatkan sesama penderita kanker YKPI mempersilakan, bagi yang ingin tau lebih banyak mengenai rumah singgah YKPI yang berada di jalan Anggrek Nelimurni, Slipi, untuk menghubungi hotline 0815 999 5555 dan sosial media pita pink.

ki - ka : Bpk. Suryo Suwignjo, Ibu Linda Gumelar, Ibu Dr. Niken Wastu,
Bpk dokter Samuel 

Kanker Menjadi Perhatian Pemerintah
Dalam forum diskusi ini juga hadir dr. Niken Wastu Palupi Kasubdit P. Kanker dan kelainan darah dari Kemenkes RI yang menyampaikan fakta temuan sekarang ini telah terjadi perubahan pola penyakit terkait dengan perilaku manusia. Diketahui, sejak tahun 2010 – 2015 kematian akibat penyakit tidak menular terus meningkat, misalnya saja, tekanan darah tinggi, stroke, jantung, kanker dan kencing manis. Transisi epidemiologi yang terjadi sekarang ini terkait dengan perubahan perilaku hidup seperti pola makan dengan gizi tidak seimbang, merokok, kurang aktifitas fisik dan lain-lain.



Dr. Niken menyampaikan, beban negara yang menanggung biaya kesehatan paling tinggi berasal dari klaim kesehatan pada penyakit jantung, ginjal dan kanker. Untuk itu pemerintah terus mensosialisasikan upaya pencegahan dengan tujuan agar dapat menurunkan angka kematian akibat kanker, meningkatkan kualitas hidup penderita kanker dan meningkatkan upaya pendeteksian dini terhadap penemuan dan tindak lanjut dini kanker.

Tindakan Pencegahan Kanker
Beberapa tindakan preventif berikut ini untuk mengendalikan faktor resiko penyebab kanker payudara, yaitu : 
Jauhi rokok
Konsumsi serat
Menjaga berat badan
Hindari konsumsi alkohol
Olahraga teratur, seminggu tiga kali
Konsumsi vitamin



SADARI (pemeriksaan payudara sendiri)
Untuk mengetahui adanya perubahan fisik pada payudara sebaiknya dilakukan pemeriksaan pada tubuh dengan menggunakan tangan sendiri. pemeriksaan ini efektif untuk mengetahui gejala awal kanker payudara, sehingga jika ditemukan sesuatu yang tidak semestinya kita bisa langsung mendapat penanganan cepat.

SADANIS (Pemeriksaan Payudara Secara Klinis)
Jika SADARI atau pemeriksaan sendiri belum cukup atau tidak merasa sreg ; takut tidak akurat ; ada baiknya juga mengunjungi pusat kesehatan untuk mendapatkan tindakan SADANIS secara gratis. SADANIS adalah tindakan pemeriksaan pada tubuh oleh tenaga klinis. Jika ditemukan ada yang mencurigakan, dari SADANIS akan dianjurkan untuk test mamografi seperti yang saya lakukan baru-baru lalu ini.

Mitos dan fakta
Dalam forum diskusi ini DR. dr. Samuel J. Haryono, spB (K), spesialis bedah onkologi banyak memberikan masukan yang selama ini mungkin kita banyak dengar tapi rupanya salah kaprah. 

Menurutnya, semakin dini tumor terdiagnosis semakin besar kemungkinan penyintasan. Mamografi adalah metode deteksi dini dengan alat yang paling efektif dibandingkan metode sentuhan. Diketahui bahkan sampai tiga tahun sebelum terdeteksi metode sentuhan sudah dapat terdeteksi dengan mamografi.

Bebarapa percobaan ilmiah yang dirancang dengan baik telah membuktikan bahwa kematian akibat kanker payudara berkurang secara signifikan sebanyak 25 – 30% pada wanita yang melakukan mamografi secara rutin setiap tahunnya.

Dr Samuel mengharapkan mulai sekarang kesadaran akan kanker payudara semakin ditingkatkan. Terlebih bagi wanita yang berusia 40 tahun atau lebih dini lagi agar mau melakukan test mamografi agar prognosis cepat dan akurat dapat segera diketahui.



Nah, ini sebagai info aja, 85% kasus kanker payudara ditemukan pada wanita yang tidak memiliki riwayat kanker payudara pada keluarganya. Jadi, bila selama ini kita mendengar mitos bahwa kanker adalah penyakit keturunan adalah salah. Kanker terjadi akibat perubahan perubahan perilaku gaya hidup.

Dr samuel menghimbau untuk jangan takut terhadap efek radiasi sinar X saat mamografi berlangsung. Mamografi sama sekali tidak memicu terjadinya kanker. Itu mitos saja. Pemeriksaan mamografi dilakukan dengan menggunakan sinar X dengan dosis rendah. Alat ini mampu melihat kelainan pada payudara sampai ke ukuran yang terkecil hingga kurang dari 5 mm (stadium nol). Aman koq.

Kanker Pun Bisa Sembuh
Berdasarkan riset kesehatan tahun 2013, kanker payudara merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama terbanyak setelah kanker rahim yang menyebabkan kematian. Sayangnya, mayoritas penderita kanker payudara ditemukan sudah dalam stadium lanjut ketika peluang kesembuhan semakin kecil. Padahal, peluang kesembuhan mencapai 98% bila terdeteksi dini dan diobati secara medis.

Untuk membangkitkan semangat penderita kanker payudara, sekaligus membuktikan bahwa kanker pun bisa sembuh turut hadir juga Grace Tanus, seorang penyintas kanker payudara yang telah bebas kanker selama 7 tahun terakhir. Perempuan yang terlihat strong banget itu menceritakan dengan penuh semangat masa-masanya ketika baru divonis dokter mengidap kanker.

Pesannya, jangan percaya satu diagnosa dokter saja. Cari second opinion dari dokter lain. Selain itu, kita tetap harus berupaya lain dengan cari informasi sebanyak-banyaknya.

Di penghujung forum diskusi, ada pesan dari ibu Linda untuk jangan pernah sekalipun mengucapkan kata 'sabar' pada penderita kanker. Lebih baik ucapkan 'semangat' agar bisa memotivasinya untuk sembuh.

Terimakasih pada Pak Suryo Suwignjo, Presdir Phillips Indonesia bahwa Royal Phillips, perusahaan yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hidup orang banyak telah menyelenggarakan forum diskusi bareng YKPI sehubungan dengan bulan kesadaran kanker payudara sedunia yang jatuh pada bulan Oktober ini. 

Rencananya, saya akan menuruti saran dokter Samuel untuk segera melakukan USG Payudara. Doakan ngga ada apa-apa ya. 





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar