Senin, 25 September 2017

Terpikat Rasa Ningrat Dari Kuliner Khas Timur Tengah dan India Di Eatz



Eatz, sebuah resto di kawasan Radio Dalam Raya Jakarta Selatan melayangkan undangan untuk launching gerai kuliner khas Timur Tengah dan India. Sebelumnya, Cafe Supermarket Foodcourt Eatz sendiri telah berdiri di area AEON Mall BSD Ground Floor. 

Biasanya, kalau saya dapat undangan peluncuran menu baru atau launching tempat kuliner teranyar, banyak pertimbangan pribadi saya untuk hadir di acara tersebut. Namun, kali berbeda. Tanpa ragu-ragu saya say ‘yes’ ketika mengetahui bahwa kuliner yang diangkat adalah menu-menu khas Timur Tengah dan India. Jarang-jarang nih, hihihihi...




Resto Eatz terletak di dekat kawasan perkantoran dan Plaza Pondok Indah. Tepatnya di area Ruko Margaguna No. 9 Radio Dalam Jakarta. Bisa saya bayangkan, saat kedatangan saya dan teman-teman Blogger Rabu 20 September 2017 lalu, di siang hari yang panas pengunjung terbanyak yang menikmati sajiannya adalah pegawai kantor, pengusaha atau orang-orang yang melakukan usaha di seputaran wilayah tersebut.




Waktu istirahat yang sempit ditambah panasnya matahari dan kemacetan di sana sini membuat orang menjadi dimudahkan dengan kehadiran Eatz untuk mengisi hak tubuhnya yaitu makan siang. Dan tentunya, orang sudah tidak perlu bingung lagi mau makan apa. Tinggal pilih saja. Mengingat aneka kuliner semua tersedia, salah satunya adalah Eatz yang menyajikan makanan bercita rasa Timur Tengah dan India yang otentik.




Mba Meilita selaku owner Eatz mengatakan, nama ‘EATZ’ diambil dari sebuah filosofi yang berarti ‘makan’. Harapannya, saat orang mengunjungi Eatz mereka dapat menikmati makanan enak rasa berkelas dengan harga terjangkau. Sehingga saat kita duduk di resto Eatz maka kita seperti berada di tempat asal makanan ini yaitu Timur Tengah.



Jujur, apa yang dikatakan mbak Meilita adalah benar adanya. Saat saya memasuki pintu kaca resto Eatz, nuansa khas Timur Tengah mendominasi seluruh ruangan. Meja-meja kayu dengan kursinya yang berukuran besar dan tinggi sepertinya dibuat menyesuaikan dengan postur orang ‘sana’ untuk orang yang ingin menikmati cara makan konvensional. Di bagian atap, rumbai-rumbai berwarna merah dan kuning dihias dengan lampu gantung yang berkesan classy sekali. Nah, di area dinding juga tidak luput dari berbagai pernik ornamen khas Eastern Middle Country seperti pedang dan piring-piring hiasan. Di lemari tinggi juga dipajang bumbu-bumbu rempah yang diletakkan dalam toples-toples besar. Keingintahuan saya mengenai rempah-rempah asli sana terjawab sudah.


Di lantai dua, suasananya lain lagi. Dibuat ala lesehan dengan karpet bermotif Turki, setiap spot dipisahkan dengan tirai berupa manik-manik yang mengingatkan saya akan negeri 1001 malam. Aaah, romantis sekali. Mendadak saya pun bermetamorfosis jadi putri Jasmin sedang menunggu Aladin datang dengan karpet ajaibnya lalu soundtrack “A Whole New World” berkumandang. Hahahahaha...


Suasana resto Eatz yang unik menurut saya belum layak diacungi juara jika rasa makanan yang disajikan belum persis sama atau mendekati taste asli ‘sana’. Seperti rendang saja, andai kita makan di luar negeri rasanya tentu tidak persis sama seperti saat kita mengolah sendiri di tanah air atau sengaja membeli di rumah makan padang. Konon, katanya, pengaruh cahaya matahari dan unsur hara mempengaruhi taste tanaman rempah-rempah yang ditanam di daerah tersebut.


Untuk memastikan masakan di Eatz menghadirkan rasa yang autentik tapi bisa diterima lidah orang Indonesia,  Eatz tidak tanggung-tanggung mendatangkan sejumlah bahan makanan dari luar negeri. Di antaranya adalah beras, rempah seperti cardamon, daun kari, tembakau, kemiri, teh, dan saffron.


"Kami memilih mendatangkan langsung bahan-bahan makanan itu dari luar negeri karena memang tidak ada di Indonesia. Jika ada rasanya juga tidak sama.” Ungkap mba Mei.


Bersama teman-teman Blogger, agenda kulineran kami diawali dengan Faluda, minuman dingin andalan Eatz. Faluda merupakan minuman dingin yang terbuat dari campuran sirup mawar, selasih, jeli, susu dan es krim. Rasanya manis-manis segar dingin, tidak heran jika Faluda menjadi minuman yang disukai anak-anak.


Kemudian giliran salad khas sana disajikan sebagai hidangan pembuka. Ada tiga hidangan yang saya icip yaitu Fattuce, Arabic Salad dan Tabouleh. Menurut Mba Mei yang menemani kami icip-icip, “umumnya, salad ala Midle Eastern Dressingnya menggunakan minyak zaitun dan perasan jeruk lemon.” Aiih segarnya.


Untuk hidangan utama, yang menjadi unggulan resto ini adalah nasi. Ada tiga nampan nasi mandi, nasi kebuli dan nasi biryani dengan pilihan daging domba atau ayam yang disajikan dalam nampan besar untuk porsi 3 orang per nampannya. Ketiga jenis nasi itu sebenarnya mirip sih kata saya. Bedanya ada pada campuran bumbu yang digunakan. Kalau nasi biryani warnanya agak kuning karena aroma kunyitnya lebih dominan dan rasanya sedikit pedas karena dimasak bersama rempah-rempah.




Oiya, Mba Mei kemudian membagikan tips. Menurutnya, di ‘sana’ umumnya orang makan nasi biryani dipadu dengan Tabouleh. Tabouleh sendiri adalah salad yang dibuat dari daun mint yang di-chop, tomat dengan saus perasan jeruk lemon.




Nah, untuk membuat menu set nasi tersebut , seperti yang sudah dikatakan, berasnya pun didatangkan langsung dari India, beras Basmati. Bulir berasnya saya perhatikan memang lebih panjang dari beras Indonesia, sih.


Setelah makan makanan berat, tanpa disangka-sangka kembali saya dan teman-teman disuguhi Morrocon Mint Tea. Menurut Mba Mei, umumnya orang sana selalu minum teh hangat seperti ini setelah makan. Gunanya untuk menetralisir lidah kita dari rasa makanan berat tadi.


Benar juga, meski teh Morrocon terasa sedikit getir dan sepat saat saya hirup tapi otak saya mendadak tidak merasakan enegh akibat banyak rempah-rempah tajam yang tidak biasa saya makan.


Kesimpulan saya, buat pecinta makanan khas Timur Tengah boleh dicoba deh resto yang satu ini. Buat yang lidahnya belum terbiasa makan makanan khas ‘sana’ juga jangan kuatir. Karena Chef Hinam yang berasal dari  Srilanka telah menyesuaikan tastenya agar bisa diterima lidah orang Indonesia tapi rasanya tidak meleset jauh dari cita rasa asli masakan sana.





Nah, gimana? Masih ragu-ragu? Tenang, di Eatz masih banyak lagi makanan yang perlu dicoba koq. Jika ngga mau makanan berat coba aja makanan ringan seperti Samosa, Puding, Paratha atau Arabic Bread. Yukk ah cuus ke Eatz. 

3 komentar:

  1. Aku mau banget datang lagi lagi dan... Lagiiii ke Eatz. Atmosfir Aladdin banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti terlempar ke negeri 1001 malam ya mba hihii

      Hapus
  2. Menu khas dengan citarasa khas, bumbunya bener2 medhok dan ngangenin :)

    BalasHapus