Rabu, 30 Agustus 2017

Hobi Jadi Profesi, Siapa Takut!


Bagi orang yang tidak mempunyai naluri kreatifitas tinggi, tumpukan kertas mungkin tidak punya arti apa apa. Tinggal cegat tukang rongsokan, kiloin dapet duit deh seketika. Nah, lain halnya bagi seorang Crafter, kertas koran yang biasa digunakan untuk membungkus cabe di pasar bisa lho diolah menjadi benda-benda yang mempunyai daya jual tinggi. Siapa yang nyangka,  koran yang dilipat-lipat lalu dianyam seperti tikar bisa disulap menjadi box untuk menaruh alat tulis. Dari koran yang dilinting-linting menjadi gulungan panjang pun bisa dianyam seperti rotan untuk dijadikan keranjang buah. Cantik deh.

Sewaktu saya datang menghadiri undangan dari Astragraphia di Sedayu Hotel di kawasan MOI Kelapa Gading, 23 Agustus 2017 lalu saya takjub sekali dengan hasil karya Evelyn Gasman seorang young entrepreneur yang sering membuka kelas craft karena passion-nya yang kuat dalam seni, crafting dan desain. Dua tahun lalu sebelum dia merintis usaha yang bergerak di bidang papercraft dia adalah seorang karyawan biasa. Namun karena hobinya yang senang berimajinasi dengan kertas membuatnya tidak ragu lagi memutuskan untuk resign dan serius menekuni bidang yang sesuai dengan passionnya itu yaitu membuat objek-objek dari bahan dasar kertas.




Evelyn mengakui, tantangan bagi seorang Crafter adalah bagaimana membuat produknya mempunyai sentuhan berbeda dibandingkan dengan kompetitornya. Terlebih sekarang ini industry kreatif nasional tengah berkembang pesat. Fakta tersebut didapat dari data BEKRAF pada tahun 2016, produk-produk industry kreatif Indonesia bisa meraih pemasukan hingga 852 trilyun rupiah. Jumlah tersebut menunjukkkan bahwa industry kreatif berpotensi memberi kontribusi yang besar terhadap kemajuan ekonomi negara.


Dipertegas oleh Bapak King Iriawan selaku Chief of Bussines Planning and Marketing Astragraphia dalam sambutannya memaparkan, “Industry kreatif di Indonesia berkembang sangat pesat beberapa tahun ini. Perkembangannya setiap tahunnya mencapai kenaikan sebesar 10 persen. Sehingga dengan kenaikan tersebut menjadi indicator atau tanda bahwa kenaikan ekonomi juga semakin maju.”
Seiring dengan berkembang pesatnya usaha dalam industry kreatif tentu saja membuat kompetisi antar pelaku usaha pun semakin sengit. Pelaku usaha industry kreatif dituntut untuk serius mengembangkan ragam jenis produk yang dihasilkan. Selain itu, pelaku usaha ini juga harus terus berinovasi untuk membuahkan produk yang unik dan menarik agar bisa mencuri ‘pasar’ dan sanggup bersaing dengan kompetitornya.

Keseriusan Evelyn Gasman dengan usaha yang dirintisnya ini lalu dibuktikannya dengan tanpa ragu menginvestasikan dananya untuk membeli perlengkapan pendukung pekerjaannya sebagai asset bisnisnya. Mulai dari detil peralatan yang kecil-kecil seperti gunting, alat penggulung kertas, alat penghancur kertas, lem berkualitas, hingga mesin-mesin besar.



Evelyn menyadari, sebagai seorang Crafter di bidang papercraft sudah seharusnya jika mempunyai pengetahuan untuk memilih jenis kertas yang berkualitas hingga pemilihan mesin besar yang harganya cukup menguras modal. Jika salah pilih bukan lagi keuntungan yang didapat tapi justru kerugian besar.

Nah, perangkat handal pilihan Evelyn Gasman adalah mesin dengan kualitas terdepan di kelasnya yang mampu meng-copy, mengeprint, men-scan dan mengirim Fax namanya Fuji Xerox DocuCentre VI C Series tipe 2271.

Mesin buatan Jepang berjenis Product Of Bussines ini rupanya tidak hanya bisa digunakan untuk perkantoran yang membutuhkan layanan copy print scan dan fax sebagaimana biasanya. Namun untuk pelaku bisnis industry graphic art seperti Evelyn pun mesin ini sangat membantu sekali untuk menuangkan ide-idenya untuk diaplikasikan di seluruh produk buatannya.




Dengan kecepatan cetak 25 halaman permenit dan sudah ada memori 4 gigabite dengan hardisk sebanyak 160 gigabite mesin ini mempunyai kemampuan printing 1200 X 2400 high resolution poto sehingga setiap pencetakan tidak pecah-pecah hasilnya.

Menariknya, ukuran kertas yang bisa digunakan dengan mesin ini bisa sampai long banner yang panjangnya 1200 mm X 297 mm dengan fitur warna atau black and white. Tinggal disesuaikan saja.
Jenis kertas pun bukan saja bisa diaplikasikan di kertas berjenis A3 dan A4 yang sering digunakan untuk mencetak dokumen seperti biasanya, namun kertas berjenis kalkir yang tipisnya 52 gsm sampai ketebalan 300 gsm pun bisa.



Uniknya, transaksi di Astragraphia ada dua jenis yaitu sewa atau beli. Jika sewa kontraknya adalah dua tahun sementara jika beli kontraknya 5 tahun. Menurut Fitri Marketing Communication Departement Head Astragraphia, “mesin Fuji Xerox buatan Jepang ini rata-rata masa pakainya adalah 8 sampai 10 tahun.”

Jika masa kontraknya setelah 5 tahun habis, maka secara otomatis pelanggan dapat memperpanjangnya lagi atau jika mau trade in alias tukar tambah dengan mesin baru pun dengan welcome pihak Astragraphia akan membantu.  

Sebagai seorang konsumen yang juga pelaku bisnis craft, tentu saja agar efektivitas pekerjaan tidak terhambat kita tidak mau direpotkan lagi dengan urusan mesin ngadat, toner macet atau kering dan lain-lain. Untuk itu kita tidak perlu kuatir karena Astragraphia berkomitmen penuh dengan menawarkan layanan 3 hours down time.

Apakah itu?

Apabila ada kerusakan mesin maka dalam tempo 3 jam kerusakan sudah dapat diperbaiki. Tiga jam tersebut dihitung dari saat kita melaporkan bukan dihitung saat Teknisinya datang. Untuk melaporkan bisa melalui telpon ke Call Centrenya di 1500345 atau melalui email ke ccc@astragraphia.co.id.
Sebagaimana dikatakan Fitri, komitmen adalah janji. Janji adalah value yang diberikan Astragraphia pada pelanggannya. Jika dalam tiga jam bila kerusakan belum dapat diperbaiki maka pelanggan akan mendapat diskon 10 persen dari pemakaian bulanannya.



Lah pemakaian apa? Jadi begini, mesin-mesin Fuji Xerox tidaklah dijual putus. Oleh sebab itu tidak ada garansi berjangka waktu seperti kalau kita membeli produk elektronik lainnya. Namun meski tidak ada kartu garansi, Astragraphia akan memberikan layanan purna jualnya berupa perbaikan mesin, perawatan mesin dan pengisian toner.  

Setiap bulan teknisi akan datang ke lokasi untuk mencatat angka pemakaiannya, ya seperti petugas PLN gitu deh. Nah, kira-kira sudah berapa banyak kertas yang digunakan untuk mencetak, kira-kira sudah berapa banyak toner yang terpakai. Jadi sebagai customer kita tidak perlu direpotkan lagi untuk biaya perawatan, perbaikan atau pengisian toner. Semua sudah ditangani langsung oleh Astragraphia, kita hanya cukup menelpon ke Customer Servicenya saja.


Dari 33 kantor cabang dan 93 titik layan yg mencover seluruh kota dan kabupaten di seluruh Indonesia dimana jumlahnya ada 514, sebagai pemimpin di bidang solusi cetak segala bentuk layanan dengan standar kualitas Astragraphia merupakan kontribusi penuh yang diberikan kepada seluruh pelanggannya untuk memperkuat daya jual dan pelayanan kepada pelanggannya. Bermitra dengan Fuji Xerox, Astragraphia memberikan solusi dokumen cetak dengan menyediakan 4 portofolio produk, yaitu office, production, printer dan global services.

Nah, kembali lagi ke hobi. Mengerjakan hal yang disukai sambil menghasilkan uang tentu mengasikkan ya. Namun, langkah besar untuk banting setir meninggalkan karier yang sedang dijalani pun memerlukan banyak konsiderasi sehingga masih banyak yang ragu mengambil keputusan seperti Evelyn.

Untuk itu, coba deh kita telisik lagi apa sih hobi kita? Jika hobi kita dijadikan peluang bisnis apakah kita mau berkomitmen dan serius menjalankannya? Waktu, tenaga dan uang gimana? Siapkah kita? Wuiiih alamat bakal panjang kali lebar deh pembahasannya. Oke next saya ulik lagi yaa.. J


6 komentar:

  1. hobiku , membaca blog dan kadang mencuri ide di blog orang untuk jadi bahan tulisan . hehehehhe :)

    BalasHapus
  2. Awet dan banyak manfaatnya. Gak usah ke rental lagi buat cuci foto. Tinggal di print di rumah aja. Duduk manis dan jadi deh foto kita

    BalasHapus
  3. Kalau hobi bisa jadi profesi justru nikmat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, menjalankannya pun pasti enjoy :)

      Hapus