Sabtu, 29 April 2017

Lima Tahun Menghapus Trauma. #SmileinAja Deh!



Saat itu di tahun 2000. Satu demi satu teman saya mengabarkan kehamilannya. Entah kenapa ya, koq mereka pake rame-rame hamil segala, sih? Bisa jadi, penyebabnya karena pergantian abad kali ya. Anak yang lahir tahun 2000 konon memasuki generasi baru yaitu generasi millennium. Harapan dan doa tersemat dibalik itu.

Mendengar berita bahagia tersebut sudah pasti saya seneng dong. Smilein Aja. Akhirnya saya nambah lagi punya keponakan baru deh. Saking hebohnya menunggu kelahiran bayi-bayi mereka, saya sampai sengaja beli setengah lusin thermometer digital di bilangan Pramuka Jakarta lho. Di kawasan yang terkenal sebagai pusat alat kesehatan dan obat-obatan dengan harga grosir ini, sudah pasti saya pengen cari harga murah tapi berkualitas. Tentunya harapan saya, semoga kado Welcome Baby Born dari saya berupa termoter digital ini pasti lain dari yang lain deh. Spesial.

Dibalik SmileinAja ala saya-saya gembira menyaksikan kehamilan teman-teman saya-ada terselip perasaan kosong dalam dada. Sambil mengelus-elus perut saya yang rata, teringat kembali peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya melahirkan seorang bayi lelaki pertama saya yang katanya wajahnya mirip suami saya. Tapi baru sekejap dilahirkan, bayi saya harus masuk incubator karena berat lahirnya masih dibawah rata-rata. Apalagi saat melahirkan, kandungan saya baru berumur 28 minggu. Artinya, dari prediksi kelahiran normal, bayi saya maju lebih kurang dua bulan. Setelah bertahan selama 14 jam, akhirnya bayi saya meninggal tanpa sempat saya susui.

Peristiwa yang sama terulang kembali pada kehamilan kedua saya. Setiap detik saya mengkuatirkan keadaan janin di perut saya. Entah karena pikiran atau apa, saya pun harus berkali-kali bedrest di rumah sakit disebabkan adanya bercak lendir darah seperti haid di celana dalam saya. Puncaknya, di usia kandungan 28 minggu, kembali saya melahirkan bayi lelaki berbobot 1,7 kilogram. Sayang, bayi saya ngga mampu bertahan seperti kakaknya juga. Bayi saya hanya mampu bertahan menghirup udara selama 4 jam saja. Pilu hati ini.

Setelah habis obat-obatan untuk menghentikan produksi air susu dan melewati masa nifas saya memutuskan untuk bekerja untuk menetralisir hati. Alhamdulillah, suami saya mengijinkan.

Sampai akhirnya…

Lima tahun berselang setelah kelahiran dan kematian bayi ke dua saya, saya terkesiap. Teman-teman saya bergantian mengabarkan kehamilannya. Dan, respon mereka selalu sama.

“Elo kapan mau punya anak, sih?”

“Ga bosen-bosen pacaran mulu, lo, yee!”

“Eh, say, move on dong. Move on!”

Sudut hati kecil saya berteriak. Issssh, siapa juga yang ngga mau punya anak, sih? Hiekz. Smilein Aja deh!



Hamil lagi…  
Setelah menguatkan mental dan hati, saya dan suami akhirnya memutuskan berkonsultasi dengan dokter kandungan di RS Bersalin. Terus terang saya berani berkonsultasi mengenai kelahiran premature yang saya alami ke dokter kandungan mengingat saya dan suami sudah bekerja mapan. Insha Allah, untuk biaya kesehatan sudah ada yang meng-cover meski musti mengikuti system reimburse di kantor. Alhamdulillah.

Memasuki trimester pertama, saya melewati kehamilan seperti yang sudah-sudah. Ada perasaan enegh dan suka yang asem-asem. Saya juga jadi hobi beli majalah dan buku kesehatan khususnya mengenai kehamilan. Tentu, saya ngga pengen peristiwa menyedihkan itu kembali lagi kan. Enjoy, percaya diri dan dibawa seneng aja deh.


Memasuki trimester kedua, saya mulai panik. Bayang-bayang ketakutan mulai datang lagi. Terlebih di bulan ke-empat kehamilan adalah waktunya saya dipasangi cincin di mulut rahim. Kata Dokter, mulut rahim saya lemah. Jadi  ketika bobot bayi makin bertambah sejalan dengan usia kehamilan, kekuatan otot untuk mencengkram dan menjaga mulut rahim tetap tertutup sampai waktunya melahirkan sangat mustahil. 

Melalui proses operasi dan pembiusan total, proses pemasangan ring Cyrocrat (kalau ga salah, ejaannya seperti ini ya) berhasil dilakukan. Kata dokter, saat tiba waktunya melahirkan kelak, yaitu saat pembukaan jalan lahir sudah lengkap maka ring yang mencengkram mulut rahim saya juga otomatis akan dilepas.

Menjadi Ibu…
17 Oktober 2001, bayi perempuan saya lahir cukup bulan dengan berat 3,250 kilogram dan ngga ada kendala apa-apa yang menyertainya.

6 Juli 2004, bayi lelaki saya lahir maju dua minggu dari prediksi kelahiran. Saya sempat disuntik untuk menjalani pematangan paru berkali-kali untuk jaga-jaga andai si janin tetap nekat minta ‘keluar’. Setelah berhasil dihambat proses kelahirannya selama berhari-hari, bayi saya pun lahir dengan selamat. Bobot berat badannya pas-pasan,  supaya tidak masuk incubator yaitu 2,6 kilogram.

16 Desember 2006, bayi lelaki saya lahir cukup bulan dengan berat 3,2 kilogram. Tapi di usia kehamilan 7 bulan, dari hasil USG saya harus bersiap terhadap kemungkinan Sesar. Kondisinya saat itu namanya placenta praveia, artinya jika saya nekat mengejan melahirkan normal maka yang akan keluar duluan adalah ari-ari bayi. Harusnya kan bayi dulu, baru ari-ari. Kondisi placenta praveia seperti itu bisa  membahayakan jiwa ibu dan bayi itu sendiri.

Ketiga anak saya satu demi satu lahir dengan selamat melalui proses pengikatan leher rahim sejak kandungan menginjak bulan ke empat. Alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya ucapkan saat suster menempelkan mulut bayi ke puting payudara saya untuk inisiasi menyusui dini. Rasanya seperti mimpi.  Ya Allah, saya baru aja melalui perjuangan untuk menjadi perempuan sejati yaitu melahirkan.



SMiLe Aja
Kini anak-anak saya sudah beranjak remaja. Jika mengingat ke masa itu saya masih sering takjub. Perasaan takut untuk hamil karena takut ‘kehilangan’ mampu saya lewati. Rasa sakit saat melahirkan merupakan tantangan dalam hidup seorang perempuan. Kita ngga seharusnya takut dan menghindarinya.

Banyak cara untuk membangun kepercayaan diri dan rasa nyaman selama kehamilan. Nah, berikut tips ala saya :
1.      Tukar pikiran dengan ibu hamil lain. Dengan kondisi sama-sama hamil, kita akan mendapat teman berbagi yang memiliki empati tinggi.

2.      Gabung dengan kelas relaksasi. Selama kehamilan, emosi sering naik turun. Dengan mengikuti kelas relaksasasi emosi kita akan lebih teratur.

3.      Konsultasi ke dokter apakah olahraga ringan seperti jalan kaki dan senam hamil diperbolehkan atau ngga. Untuk kasus seperti saya, yang bolak balik harus bedrest karena sering keluar flek ya ngga bolehlah.

4.      Banyak membaca informasi seputar kehamilan akan membuat kita lebih percaya diri dan ngga percaya mitos-mitos yang selama ini kita dengar.

5.      Merangsang perkembangan otak janin dengan iringan music dan rajin mengajak ngobrol. Ingat, janin di dalam perut kita bukan cuma segumpal daging. Ia mampu merasakan apa yang dilakukan mamanya.

6.      Tetap sabar dan tenang. Yakin aja, semua akan segera berakhir. Hadapi aja dengan penuh semangat dan senyuman. SMiLe Aja.

Meninggal bisa kapan aja. Saat tidur kita juga bisa meninggal. Ini bukan semata-mata persoalan kesalahan melainkan takdir. Kita hanya harus berhati-hati dan berusaha untuk mencegah atau mengatasinya. Caranya, SMiLe Aja J

Untuk informasi SMiLe lebih lanjut :
Website : www.sinarmassmsiglife.co.id
Facebook : sinarmasmsig
Twitter : sinarmasmsig
Instagram : sinarmasmsiglife
Youtube : user/SMiLe140485


8 komentar:

  1. Subhanallah.. Dee ternyata dirimu wanita kuat dan hebat! Peluk erat Diah Woro

    BalasHapus
  2. Wah mbak Diah, baca ceritanya, pengalamanku gak ada apa2nya cupuuuu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. tiap orang pasti punya pengalaman menarik sal jelang melahirkan :)

      Hapus
  3. Duh, aku baru tau cerita ini. Dirimu perempuan hebat. Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. salut juga buat wanita hebat kaya waya :-*

      Hapus
  4. selamat ya mbak adek babynya.....menjadi ibu memang pengalaman yg tak terlupakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. ga akan terlupakan deh moment ketika melihat bayi yang kulitnya lembut hangat itu ditempelkan ke badan kita. ser seran deh :)

      Hapus