Jumat, 11 Maret 2016

Dari Tabu Menjadi Tahu Mengenai HIV




Seperti halnya tiang-tiang penopang bagi sebuah rumah, peran seorang ibu sangatlah penting. Lewat tangan-tangan mereka, karakter dan kepribadian anak-anak akan dibentuk. Tapi, apa jadinya apabila seorang ibu tidak mempunyai peran dalam pembentukan karakter anaknya menilik dari berbagai faktor yang menyertainya?

Faktor terjadinya kekerasan
Sebut saja faktor ketidaksetaraan gender sering membuat seorang perempuan dituntut harus bersikap penurut, sabar dan setia pada suaminya. Budaya patriarki yang kental membuat perempuan sering terintimidasi oleh hukum dan peraturan yang mendiskriminasi. Selain itu, aspek sosial berupa kurangnya akses pendidikan sehingga banyak memicu terjadinya pernikahan dini (kawin muda) menjadi solusi sementara untuk mengatasi masalah ekonomi yang menjerat. Sejalan dengan pernikahan dini, kehamilan di usia yang belum matang secara psikologis juga membuat masalah internal tersendiri bagi si perempuan. Seperti roda, permasalahan-permasalahan tersebut saling bersinggungan dan memicu terjadinya kekerasan.

Kekerasan yang dialami perempuan sering berupa kekerasan seksual seperti perkosaan, pencabulan, pelecehan, penganiayaan, trafiking, prostitusi maupun pemaksaan aborsi. Berdasarkan fakta, 6,7 juta lelaki membeli seks sementara itu 4,9 juta perempuan kawin dengan lelaki yang membeli seks. Data tersebut menunjukkan bhwa perempuan rentan tertular berbagai penyakit seksual seperti HIV akibat ketidak mampuannya untuk bernegosiasi melakukan hubungan seks secara aman dengan pasangannya. Jika sudah seperti ini tanpa disadari, sang ibu akan menulari bayinya melalui air susu ibu.

HIV AIDS dan Feminisasi Epidemi HIV di Indonesia
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang yang darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum tentu membutuhkan pengobatan. Tapi virus dalam darahnya dapat menulari orang lain apabila melakukan hubungan seks beresiko atau berbagi jarum suntik dengan orang lainnya.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan berbagai penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh akibat virus HIV. Penyakit yang menyerang umumnya adalah TBC, Kandidiasis, radang kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker yang membutuhkan pengobatan. Jadi dengan kata lain AIDS disebabkan oleh infeksi HIV.



Dr. Fonny J. Silfanus, M.Kes
Dr. Fonny J. Silfanus, M.Kes Deputi Sekretaris Bidang Koordinasi Program KPA Nasional memaparkan fakta-fakta mengenai penyebaran HIV di Indonesia dalam Gathering Blogger Perempuan Bicara HIV di Hongkong Café, Jakarta 26 Februari 2016 lalu. Berdasarkan fakta yang diterima Kemenkes RI per-September 2015, presentasi jumlah penderita AIDS lebih banyak ditemukan pada lelaki sebanyak 54% dan perempuan sebanyak 31% dimana paling banyak menyerang ibu rumah tangga dibanding pekerja. Faktor resiko terbanyak berasal dari kalangan heteroseksual sebanyak 64,5%, Pengguna jarum Suntik (Penasun) sebanyak 12,4% dan homoseksual sebanyak 2,7% dan kelompok umur tertinggi ada di kelompok usia 20-29 tahun (32%) kemudian usia 30-39 tahun (29,4%).


Mengerikan, temuan kasus HIV yang semula tinggi di kalangan lelaki usia produktif sekarang telah berkembang penularannya di kalangan perempuan yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Tren ini dikenal dengan feminisasi epidemi HIV. Perkembangan lebih lanjut epidemi ini adalah terjadinya peningkatan penularan HIV dari ibu hamil kepada bayinya. Yang memprihatinkan, kebanyakan ibu hamil berstatus HIV positif tidak mengetahui apabila dirinya sudah terinfeksi HIV.

Penularan HIV dimulai dari lelaki, baru ke perempuan, kemudian ke anak. ~ Dr. Fonny


Perubahan perilaku beresiko seperti berhubungan seks secara aman dengan menggunakan kondom dan tidak berbagi jarum suntik dikatakan sudah bisa menahan laju epidemi HIV selama ini, terbukti dengan menurunnya angka kematian dikarenakan AIDS setiap tahunnya. Meski kualitas layanan HIV sudah ditingkatkan namun dikhawatirkan penularan HIV juga akan masih terus meningkat disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan informasi, stigma buruk mengenai HIV juga keengganan dan rasa tabu membicarakan  HIV.

Stigma HIV
Banyak beredar anggapan keliru mengenai HIV. Misalnya saja, dilarang berjabatan tangan dengan penderita HIV, nanti akan tertular. Sebagaimana virus Influensa, ada larangan untuk berdekatan dengan penderita HIV, karena akan tertular ingus, batuk atau ludahnya. Sebagaimana najis binatang, ada larangan untuk menggunakan alat makan minum atau bahkan makan bersama dengan penderita HIV.  Semua itu salah besar. HIV tidak ditularkan lewat jabatan tangan, berpelukan, pemakaian kamar mandi dan toilet bersama, berenang di kolam renang, gigitan nyamuk atau serangga, buangan ingus, dahak, ludah atau pemakaian alat makan bersama-sama. Cara penularan HIV lewat darah seperti berbagi jarum suntik yang tidak steril atau pada saat transfusi darah, imunisasi, tindik tattoo dan lain sebagainya. Selain lewat darah, penularan HIV juga terjadi lewat cairan mani dan cairan vagina dan lewat Air Susu Ibu.

Ayu Oktarina, Sosial Media ODHA Berhak Sehat

Ayu Oktariani seorang perempuan yang hidup dengan HIV juga angkat bicara sebagai nara sumber. Dengan tegar dan berkesan ceria dia menceritakan bagaimana perasaannya saat mengetahui dirinya positif terinfeksi HIV, “saat itu saya merasa hidup saya tinggal sebentar lagi.”

Perempuan beranak satu ini mengisahkan, ia tertular HIV dari almarhum suaminya yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Berkat dukungan dari keluarganya, Ayu banyak mempelajari pemahaman demi pemahaman mengenai HIV AIDS lalu membagi pengalaman yang didapatnya ke masyarakat secara luas. Ia yang juga terjun langsung di yayasan ODHA Berhak Sehat berharap agar pembelajaran dan informasi mengenai HIV dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat sekaligus menghapus stigma buruk dan diskriminasi yang terlanjur mengakar di mata masyarakat.

Meski positif tertular HIV, seperti orang sehat pada umumnya dia bebas beraktivitas seperti biasa. Ia yang sudah menikah lagi ini mengatakan, meski  menderita HIV ia melakukan hubungan seks sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya. Tentunya setelah berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti pedoman Terapi Anti Rektoral (ART) dengan meminum obat-obatan antivirus.  

Ia juga berharap, kesadaran orang yang beresiko tinggi terhadap penularan HIV akibat gaya hidup atau pekerjaannya seperti Pekerja Seks Perempuan, Laki dan Waria, atau Laki yang Seks dengan Laki juga pasangannya masing-masing dengan sukarela mau menjalani tes HIV. Penting sekali untuk segera melakukan tes HIV untuk menjada perilaku selanjutnya demi kesehatan dirinya, pasangannya serta (calon) anak-anaknya kelak, pungkasnya.


Dari Tabu Menjadi Tahu
Perempuan jaman sekarang sebaiknya jangan mengerti urusan Kasir, Kasur dan Sumur saja. Segeralah melakukan perubahan dari diri sendiri. Untuk menghindari bahaya penularan HIV yang menjangkit kalangan ibu rumah tangga dewasa ini sudah semestinya perempuan memberanikan diri untuk bernegosiasi dengan pasangannya untuk mau menggunakan kondom. Tidak perlu merasa tabu berdiskusi tentang seks baik kepada usia sebaya, pasangan maupun kepada anak, apalagi pada remaja.

Dr. Maya Trisiswati, MKM
Menurut Dr. Maya Trisiswati, MKM, “kita harus mengenali tubuh sendiri dan mulai meningkatkan hak otoritas pada tubuh kita. Cari segala info mengenai seksualitas dan lakukan perawatan pada alat kesehatan dan reproduksi kita.”

Untuk mencapai keharmonisan rumah tangga, hal-hal yang perlu didiskusikan pada pasangan mencakup apa yang diinginkan dan apa yang tidak diinginkan dalam hubungan seks. Selain itu, kapan waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seks, ekplorasi daerah sensitive, variasi atau teknik baru, dan tentunya kesepakatan bahwa seks berfungsi sebagai alat rekreasi dan prorekreasi bagi kedua belah pihak.

Hubungan seks adalah hak dan kewajiban ~ Dr. Maya Trisiswati, MKM

Kepada anak, jadikan pertanyaan momentum untuk memberikan info mengenai seks sesuai dengan usia perkembangan anak. Terkadang, apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan apa yang anak pikirkan. Jadi cermati dulu pertanyaan anak, gali pengetahuan anak tentang pertanyaan tersebut.

Sebaiknya sejak dini kita sudah mulai mengenalkan pada anak fungsi alat tubuhnya, perbedaan laki dan perempuan, kebersihan diri dan mengajarkan otoritas pada tubuhnya. Siapa yang boleh menyentuh tubuhnya, bagian mana dari tubuhnya yang tidak boleh disentuh orang selain ibunya. Ajarkan juga untuk tidak malu atau takut melaporkan hal-hal yang mencurigakan dan bagaimana cara melindungi dirinya.  

Kepada remaja, pendekatan yang bisa kita lakukan adalah menjadi sahabat dengan menghilangkan gaya populer orang tua yang kaku. Di masa yang serba bias, sebaiknya remaja mengerti masa-masa menghadapi pubertas dari orang tuanya sendiri bukan dari teman sebaya atau dari rumor saja. Pengetahuan mengenai perilaku seksual dan dampaknya bagi masa depannya seperti kehamilan dini perlu juga dikenalkan. Apabila remaja sudah mengenal pacaran ajarkan juga cara berpacaran yang sehat semisal dengan menghindari berdua-duaan. Di usia ini pengenalan bahaya HIV, AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual) yang lebih dikenal dengan penyakit kelamin juga pengaruh Narkoba amat disarankan.


Hidup Berdampingan Dengan HIV
Pesatnya perkembangan epidemi HIV yang menyebabkan AIDS di kemudian hari bukan saja persoalan kesehatan semata, melainkan juga persoalan sosial. Sebagai tiang dari sebuah rumah, sudah sepatutnya ibu rumah tangga tidak lagi tabu mencari tau berbagai informasi mengenai kesehatan reproduksi dan untuk kemudian mengedukasi pasangan dan anaknya.

Dengan memahami informasi mengenai HIV AIDS, pemahaman tentang bagaimana bertanggung jawab dan melindungi diri dari perilaku beresiko sehingga tidak ada infeksi HIV baru bisa dicegah dan semakin kecil pula kemungkinan untuk tertular HIV.

Berikut tips untuk mencegah HIV

  • Puasa Seks
  • Setia pada pasangan
  • Penggunaan Kondom
  • Hindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama 

Nah, jadi penularan HIV hanya melalui cairan berupa darah, sperma dan Air Susu Ibu. Pendapat kalangan elit pemerintahan yang mengatakan baju bekas pakai atau tusuk gigi bekas pakai penderita HIV bisa menularkan HIV adalah salah besar. Diskriminasi berupa komentar yang mengatakan ODHA dan kelompok terdampak HIV tidak layak mendapatkan jaminan kesehatan dikarenakan penyakit yang dibuatnya sendiri amat disayangkan. Justru sebagian besar penderita HIV ditularkan bukan dari kesalahannya sendiri. Yuk ah, mulai sekarang kita ubah sudut pandang kita. Perubahan paradigma masyarakat harus dimulai dari diri sendiri.

17 komentar:

  1. Kadang perempuan, gak bersalah, tapi jd korban jg ya (misal suami pake narkoba dgn jarum suntik tdk steril, suami main pelacur dll hiks), moga kita terlindungi dari semua itu aamiin.
    Terim kasih infonya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba, semoga berguna. Miris banget udha ga tau apa apa kalo tertular HiV kmudian malah mendapat diskriminasi dan stigma buruk bahkan dr kluarganya seklaipun. :(

      Hapus
  2. alhmdulillah aku jd tercerahkan nih mbk, makasih bgd yak share ilmunya,

    BalasHapus
  3. Terima kasih tulisannya, mba. Dulu jumlah ibu-rumah tangga yang tertular hiV dari suaminya tak sebanyak ini. Kasian karena mereka yang tak tahu malah menjadi korban :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, miris banget ya sama fakta HIV terkini :(

      Hapus
  4. Waw jadi nambah ilmu nih karena sudah berkunjung ke blognya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga bermanfaat ya :)

      Hapus
  5. hiks..dulu masih tabu dengan penderita HIv, setelah kenal Ayu ku jadi tau dan bagaimana cara merangkul penderita tsb.

    makasih mba sharingnya emang bermanfaat bangget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masama mak nchie, ga bisa bayangin ya andai ada org terdekat dr kita ada yg jadi penderita HIV juga :(

      Hapus
  6. gak perlu tabu kalau untuk informasi ya mbak. Ayu cerita banyak waktu aku ketemu juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mak, awalnya mungkin jengah ya utk memulai tapi kalo dibiasakan lama lama juga biasa aja ya :)

      Hapus
    2. Betul mak, awalnya mungkin jengah ya utk memulai tapi kalo dibiasakan lama lama juga biasa aja ya :)

      Hapus
  7. Jadi inget beberpa bulan lalu ada pejabat negara yg ga tau (ato pura2 ga tau) dan bilang HIV bisa ditularkan dari salaman/pelukan :( .. kyknya dia hrs ikut seminar ini biar tau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia mba, bukan empati yang ditunjukkan malah diskriminasi lagi ya.. cape deh

      Hapus
    2. Nah itu dia mba, bukan empati yang ditunjukkan malah diskriminasi lagi ya.. cape deh

      Hapus
  8. Yup, kalo yang udah pada dewasa susah diajak ngobrol, baiknya yang anak-anak, kita tanamkan nilai-nilai positif, bahwa menghakimi apa pun secara mentah itu tak pernah baik. Makasih sharingnya mbak.

    Salam,
    Rava.

    BalasHapus