Selasa, 10 November 2015

Upah Kejujuran





"Bu, hasil UTS IPA yang kemarin udah dibagiin diminta lagi sama Bu Guru. Katanya mau direvisi lagi nilainya," cerita Dega sepulang sekolah kemarin.

Laah, ada masalah apa emangnya? Saya penasaran.

Buru-buru Dega membuka laci buku pelajaran dan menyodorkan selembar kertas ulangannya. "Jadi, jawaban nomor 19 kan harusnya daun mangkokan itu melengkung, jawaban aku menyirip. Nih, lihat deh."

Saya perhatikan pertanyaan soal tersebut memang rancu.

19. Bentuk daun seperti gambar di samping adalah ...
.

Gambar daun yang katanya bernama daun mangkokan itu menurut saya memang tidak jelas lengkungannya, justru tulang daunnya terlihat diarsir lebih kentara. Dan kebetulan di materi pelajarannya, pembahasan mengenai bentuk daun sama sekali ngga ada, yang ada justru mengenai jenis-jenis tulang daun. Jadi, saya, Dega dan mungkin teman-temannya juga bisa jadi salah paham membaca gambarnya.

Tapi jika membaca ulang pertanyaannya, memang sih maksud yang diminta soal tersebut adalah menanyakan bentuk daun dan bukan tulang daun.

"Nilai aku ga jadi 100 ya, Bu," sesal Dega mengembalikan saya ke kenyataan.

Saya tersenyum. "Ya udah gapapa De, namanya juga salah," hibur saya.

"Ngga dapet uang sepuluh ribu dong ya, bu?"

Buukk... sesuatu menyentak hati saya.

Selama ini memang saya merangsang anak-anak untuk rajin belajar dengan iming-iming uang. Apabila mendapat nilai ulangan 100 mereka boleh menukarkan ke saya dengan uang Rp 10.000. Terus terang cara ini manjur. Mereka jadi siap tempur berprestasi dengan cara jujur.
Tentunya namanya juga merangsang, jika sudah ajeg ga perlu dirangsang lagi. Si sulung Mba Nala ngga perlu disuruh, ngga perlu iming-iming, dia udah jalan sendiri dengan pakem yang saya terapkan selama ini. Prestasinya di akademik dan Paskibra benar benar ga bisa disepelekan.

"Ya sudah, gapapa. Lain kali lebih teliti aja ya. Jangankan Dega, bu Guru juga bisa salah koq. Lumrah namanya juga manusia, pasti pernah salah." Hibur saya.

Semalam, saat saya mencuci piring sisa makan malam, Dega seperti biasa menemani. Duduk di bangku dekat bak baju kotor dia bercerita kembali soal ulangan IPA-nya itu.

"Bu, tadi aku udah kasih nilai ulangan IPA aku yang kata bu Guru mau direvisi. Terus sama bu Guru abis dibaca langsung dipulangin lagi ke aku. Aku cuma disuruh mengganti jawabannya aja dari menyirip jadi melengkung. Nilainya tetap 100 Bu. Ga berubah."

Pernah sih memang saya meminta gurunya-jika ada jawaban Dega yang salah baik di latihan maupun ulangan-agar ditulis ulang apa jawaban yang benarnya. Terkadang saya puyeng juga dihadapkan pada soal essay yang jawabannya suka ngga ada di materi buku pelajaran.

"Terus?"

"Kata Bu Guru, itu upah kejujuran aku."

Saya tersenyum lebar, saya peluk erat Dega.

Masya Allah, kehidupan memang tak selalu dapat kita mengerti endingnya gimana ya, nak. Dengan kita menjalani apa bagian dari kita dengan ikhlas, insha allah selalu ada jalan ya nak.

9 komentar:

  1. guru pastinya bisa menilai kok mba, anak2 yg jujur dan tdk, baik ketika ulangan maupun mengerjakan tugas sehari2

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba.. saya coba lepasin aja keputusan sama Dega waktu itu, mau tetep disetor apa ngga nilainya utk direvisi, rupanya dia milih di jalur benar.. alhamdulillah..

      Hapus
  2. Keren ya, Dega. Siapa dulu dong ibunya. :v Salam buat Dega, Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo siapa? SIAPA? SIAPPPAA? hahaha...

      njih mak haya, salam disampaikan buat Dega.. :)

      Hapus
    2. hayo siapa? SIAPA? SIAPPPAA? hahaha...

      njih mak haya, salam disampaikan buat Dega.. :)

      Hapus
  3. Dega hebat, ibunya Dega lebih hebat ... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah mak ei.. jadi tersipu sipu kaya ikan sapu sapu 😳😳

      Hapus