Senin, 30 November 2015

Cerdas Menggunakan Obat Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

Pelantikan Kader Gema Cermat dengan pemasangan rompi dan penyematan pin secara simbolis 


Jumat 27 November 2015 lalu saya hadir kembali dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan bertajuk GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) di Kantor Kemenkes Kuningan Jakarta. Mengapa kita harus cermat? Mengapa harus cerdas? Yuuggh, baca kembali postingan saya sebelumnya ya, yang ini J

Meningkatkan kualitas hidup dengan pola hidup sehat
Sebelum melantik secara simbolik Kader-kader Gema Cermat , ibu Menkes Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F.  Moeloek, Sp.M(K) menuturkan bahwa masyarakat Indonesia yang mengerti dan sadar akan kesehatan angkanya rendah sekali. Diketahui pengobatan sendiri (swamedikasi) yang dilakukan secara tidak tepat dan pengetahuan informasi yang tidak memadai menyebabkan tujuan pengobatan tidak tercapai.

Sambutan Ibu Menkes Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M(K)


Beliau melanjutkan, “Sesuai dengan agenda prioritas dalam Nawa Cita Presiden tahun 2014 – 2019 yaitu ‘meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia’, diharapkan manusia berkualitas dan SDM yang berpengetahuan bisa diwujudkan dari badan yang sehat. Dari badan yang sehat maka IQ yang tinggi dan kesejahteraaan hidup kelak akan meningkat. Nah, tujuan badan yang sehat bisa dicapai jika masyarakatnya tidak lagi sembarangan menggunakan obat. Untuk itu kita harus mengetahui cara penyimpanan dan pembuangan obat secara benar. Kita juga harus dapat menentukan jenis dan jumlah obat yang diperlukan sesuai dosisnya.”

Ibu Menkes tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi kita dibukakan fakta mengenai kondisi mata seorang pasien ibu Menkes yang juga seorang Dokter Spesialis Mata. Diceritakan olehnya, si pasien datang memeriksakan kondisi matanya yang sudah terlambat disembuhkan. Awalnya,si  pasien menderita sakit mata yang menyebabkan matanya merah sehingga pasien tersebut menggunakan stereoid yang juga adalah antibiotic terus menerus. Betul sekali sakit matanya hilang, tapi sedikit-sedikit dipakai terus menerus, lama-lama mata si pasien rusak sarafnya.

Apabila suatu saat antibiotic sudah tidak mempan di tubuh kita, siapa yang rugi? Kita tidak bisa terobati, dan penyakit justru akan terus merongrong sehingga nyawa kita akan terancam, mati.~ Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M(K)

Ketika Antibiotika sudah tidak berguna
Fakta yang diungkap oleh ibu Menkes juga ditanggapi serius oleh bapak Dr. Hari Paraton, SpOGK,  Kepala Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA). Dalam tema yang bertajuk “Ketika Antibiotika Sudah Tidak Berguna”, beliau menunjukkan gambar-gambar slide berisi pasien-pasien dengan luka menganga dari berbagai kasus yang sulit disembuhkan.

Bapak Dr. Hari Paraton SpOGK dari KPRA

Dalam pemaparannya beliau menuturkan, “antibiotik dibuat kurang lebih tahun 1940. Peran antibiotik sejatinya untuk menyembuhkan milyaran umat manusia. Pelaksanaan operasi pun sembuh tanpa infeksi berkat antibiotik. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Sesuai dengan namanya, anti-bio-tik (membunuh sesuatu yang bio/hidup), maka bakteri jahat dan baik pun sama-sama dihancurkan.“

Jika dibandingkan, jumlah sel tubuh tubuh manusia terdiri dari 10 trilyun sementara jumlah bakteri ada 90 trilyun. Adapun jumlah bakteri baik lebih banyak daripada yang jahat. Nah, tapi apa yang terjadi pada tubuh jika bakteri baik yang jumlahnya sangat banyak itu bisa mati dan berubah menjadi jahat akibat mengkonsumsi antibiotik sembarangan?

Padahal bakteri baik berguna untuk :

memecah protein
Mencerna makanan
Stibulasi pembentukan antibody
Menghambat pertumbuhan bakteri jahat dan jamur
Membentuk vitamin B dan vitamin K.

Sambil menunjukkan kembali gambar slide luka-luka pasien yang sulit disembuhkan, Dr Hari menjelaskan kembali, “jika bakteri baik mati atau bermutasi jadi jahat, maka bakteri akan langsung merusak sel tubuh. Luka akan sulit disembuhkan, timbulnya nanah terus menerus, tubuh tidak secara otomatis lagi memproduksi toksin yang dikeluarkan tubuh dan kematian akan meningkat. 

Antibiotik setelah tahun 2000 tidak ada yang baru lagi, jadi sekarang ini kita hidup apa adanya dengan antibiotik yang ada. Sedangkan kuman tambah lama tambah resisten. Dirilis dari sumber WHO diperkirakan tahun 2050, 10 juta nyawa akan mati kalau tidak diatasi. Tugas kita saat ini menurunkan fungsi bakteri agar tidak resisten. Diketahui penggunaan antibiotik pun tidak hanya untuk pengobatan atau kesehatan saja. Daging ayam, susu, telur yang kita konsumsi sudah mengandung residu antibiotik. Antibiotik dalam hal ini digunakan untuk mempercepat tumbuhnya ayam, meningkatkan produksi susu dan telur. ~ Dr. Hari Paraton, SpOGK 


Jadi pemahaman di masyarakat yang simpang siur ini harus segera diluruskan, pungkasnya. Sebelum menutup beliau berpesan, apabila kita sakit dan berobat ke Dokter lalu diberikan antibiotik, segera tanyakan ke dokter tersebut, perlu atau tidak antibiotik diberikan pada kita. Beliau mengingatkan sekali lagi untuk cerdas menggunakan obat.


Pelantikan Stake Holder untuk mensosialisasikan Gema Cermat


peresmian sosialiasi pencanangan Gema Cermat pada Stake Holder

Selain didukung oleh Kementrian Kesehatan dan lembaga terkait, Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat pun ikut didukung oleh peran serta Stake Holder dari Masyarakat. Komunitas Blogger, Kader Posyandu dan komunitas Masyarakat Bekasi  yang sedari pagi mengikuti simulasi CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) dibimbing seorang Tutor dalam satu kelompok. Mereka ditugaskan untuk mendefinisikan kandungan bahan aktif dari merek-merek obat untuk berbagai macam penyakit yang di jual bebas di pasaran.

dialog singkat ibu Menkes dengan wakil Blogger 


Selain itu mereka juga ditugaskan untuk mengetahui :

Komposisi (informasi tentang zat aktif yang terkandung di sediaan obat)

indikasi obat (informasi mengenai khasiat obat)

dosis dan cara pakai (informasi mengenai cara penggunaan obat, meliputi waktu dan berapa kali dalam sehari obat tersebut digunakan)

efek samping (Efek obat yang merugikan dan tidak diharapkan terjadi akibat penggunaan obat pada dosis yang dianjurkan)

kontra indikasi (kondisi tertentu yang menyebabkan penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan atau dilarang karena dapat meningkatkan resiko terhadap pasien)

tanggal kadaluarsa


Simulasi tersebut diharapkan akan menjadi materi edukasi dan sosialisasi Stake Holder untuk mengkampanyekan dan menyebarkan Gerakan Cerdas Menggunakan Obat di lingkungannya.
  
Seperti yang diucapkan ibu Menkes, “Memang sih mengucapkan itu gampang, melaksanakannya pasti sulit sekali”. Dengan kesamaan visi dan misi dari segala lini, tujuan Gema Cermat untuk mendukung upaya pembangunan kesehatan oleh pemerintah bukan tidak mungkin akan tercapai. Untuk saya sendiri, mulai sekarang akan berhati-hati menggunakan obat, lebih baik tanya apoteker. Bagaimana dengan kamu?








4 komentar:

  1. ngeri bu, sosialisasi harus lebih gencar, dan juga banyak pihak harusnya sadar penggunaan zat aditiv pada makanan, minuman, termasuk juga pada hewan ternak, bagaimanapun kesehatan manusia semakin lama semakin terancam, yg penting berdoa sebelum makan minum

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebaiknya kita mulai dari diri sendiri ya mas, semoga hal positif yang kita lakukan bisa menular ke orang lain dan sama-sama bisa bergerak di lingkungannya masing-masing :)

      Hapus
  2. Setuju Mbak Diah, sebaiknya kita tanyakan kepada dokter dulu, perlu enggak antibiotik? dan aktif juga dengan apoteker yang memberikan obat, ini obat apa? ini isinya apa? efek sampingnya apa? hehee lebih bijak ya setelah mengikuti gema cermat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, udah waktunya kita harus kritis terhadap asupan yang kita konsumsi. Semoga antara pasien dan dokter bisa saling bersinergi positif ya mak, supaya tujuan gema cermat bisa tercapai. karena yang udah2, dokter suka sewot kalo pasien nanya sampe detil hehee

      Hapus