Jumat, 09 Oktober 2015

Pak, Botolnya Jatuh!

Rencananya hari ini saya akan menjenguk ibu di Rawa Belong mumpung si bungsu Dega libur sekolah (ada rapat katanya). Sebelumnya, dari beberapa option transportasi yang saya tawarkan, Dega memilih naik Tije dari UKI dengan pertimbangan biayanya lebih murah.

Memang, sejak lama saya sudah mengajak krucils untuk terlibat dalam segala hal. Misalnya ya seperti hal begini. Dega akan menanyakan dulu pada saya, mana yang lebih murah jika naik A atau naik B? Enaknya apa, ngga enaknya apa saya jabarkan supaya dia tau kelebihan dan kekurangannya. Selain itu juga supaya dia belajar memilih apa yang terbaik dan ternyaman buat kondisi sekarang belum tentu bisa nyaman dan baik di kondisi lain.

Di halte busway UKI, Dega dan saya ikut antri dengan penumpang lain. Dari dua jalur yang terpisahkan oleh pagar aluminium, Dega mengajak saya pindah ke sisi kanan yang kosong. Menurutnya, kenapa semua orang antri di sisi kiri padahal kan ada sisi kanan yang kosong? Kenapa semua tumplek di situ?

Saya jelaskan, bahwa sisi kanan itu untuk jalur penumpang yang akan keluar dari Bis sedangkan jalur kiri tempat kita berdiri ini merupakan jalur untuk penumpang yang akan naik. Jadi semua ada peruntukannya dan ngga bisa dilanggar seenaknya supaya semua berjalan tertib. Dega pun mengangguk-angguk, mahfum.

Setelah menunggu beberapa menit, Bis kami pun datang. Saya gandeng tangan Dega agar tertib mengikuti langkah penumpang di depannya untuk memasuki bis. Dalam hitungan detik, Dega melepaskan gandengan saya dan memungut botol air mineral yang baru saja dibuang (tanpa) sengaja oleh seorang Bapak-bapak di pinggir pintu masuk Halte busway.

Tadinya saya pikir Dega memungut botol bekas itu untuk dibawa pulang lalu dikumpulkan untuk dijual kembali ke tukang rongsokan seperti kebiasaannya selama ini (Nanti saya tulis ah). Tapi saya salah.

Dengan sigap dia mencolek lengan sang Bapak di depannya. Seraya mengulurkan botol dia berkata, "Pak, ini botolnya barusan jatuh."

Jleebbb. Mau pingsan saya.

Sepintas saya lihat Bapak itu tersenyum cengar cengir apalah-apalah gitu. Sempat terdengar bapak itu berkata, " Makasih ya, De." Tangannya kelihatan serba salah memegang botol air mineral yang airnya sudah hampir habis itu.

Teng tong.

Buru-buru saya seret Dega kuatir bahaya mengintai. Bayangkan, di mulut halte yang berjarak hanya sejengkal dengan pintu bis, salah melangkah bisa-bisa terperosok kan? Seram aah.

Di dalam bis saya pandangi anak ini terus. Terus terang mengingat peristiwa tadi saya jadi ingat suatu iklan dimana seorang anak kecil perempuan berkata kepada seorang bapak-bapak yang ngga mau antri. Anak itu berkata sambil tersenyum, "Excuse me, please."

Bapak yang diajak bicara menjawab dengan galak. "Kenapa?"

Si gadis kecil itu menjawab dengan polos, "Oh, Bapak bisa bahasa Indonesia.Tuuuh..." tangannya menunjuk tulisan di dinding SILAKAN ANTRI. Bapak itu kena deh sama anak kecil hiihihihi...

Nah, sampai sini saya ngga mau menanyakan lebih lanjut ke Dega apakah dia bermaksud 'nyindir' seperti iklan atau benar-benar begitu naif menyangka botol si Bapak itu terjatuh. Yang saya acungkan jempol ngga lain adalah human insterest Dega. Thanks God.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar