Selasa, 13 Oktober 2015

Belajar dari Layang-layang

Dua tahun lalu setiap musimnya mas Tsaka suka sekali main layang-layang. Pencetus awalnya adalah Firman seorang pemuda tetangga yang tiap libur kerja sering main ke rumah untuk 'jagongan' dengan ayahnya anak-anak. Lantaran malu udah 'bangkotan' masih main layang-layang dia sering iseng mengajak mas Tsaka main layang-layang. Ceritanya mungkin buat jadi tameng kali ya :)

Sekali dua kali mas Tsaka nebeng belajar memainkan layang-layang dan benang milik Bang Firman. Yaah, namanya pemain pemula, ngga terhitung layang-layang dan benang milik bang Firman jadi rusak. Nah, daripada ngga enak hati akhirnya saya ajak mas Tsaka dan Dega ke agen layang-layang di sebelah perumahan Griya Kenari Mas Cileungsi.

Sampai di agen layang-layang saya jadi galau. Gimana ngga galau, dikarenakan sistemnya grosiran maka pembelian satu jenis layang-layang minimal harus 50 buah dan satu jenis benang minimal harus satu pak isi 10 benang. Sementara mas Tsaka sendiri ingin membeli layang-layang jenis kertas dan jenis plastik. Kemudian benangnya dia ingin yang jenis nylon dan gelasan. Yang gelasan ingin yang merk ini dan itu. Hhmm...

Sebelum mereka kecewa-saya ngga berani memutuskan jadi atau tidaknya membeli-saya kembalikan keputusan kepada Mas Tsaka. Dia menjawab simple, katanya, "mendingan sisanya dijual aja, Bu."

"Terus yang jualan siapa?" Pancing saya penasaran.

"Ya Mas-lah yang jualan sama Dega. Ya kan De?" Saya lihat ke spion, Dega mengangguk setuju. Cepat dia melanjutkan, "nanti hasilnya dibagi rata."

Oke, deal. Hitung-hitung mereka sambil belajar enterpreneurship nih. Saya tersenyum, "Oke, tapi targetnya ga usah muluk-muluk ya. Andai laku ya syukur alhamdulillah, andai ngga laku setidaknya kita sudah irit, bisa beli dengan harga grosiran, oke."

"Siiiipppp!!!"

Sampai rumah, berbekal kardus bekas air mineral mereka menumpukkan 100 buah layang-layang dan menata benangnya di atas bangku panjang yang disulap jadi etalasenya. Kemudian mereka geser bangku panjang itu ke balik pagar agar terlihat orang. Keterlibatan saya hanya mendiskusi kan harga jualnya yang pantas berapa. Semangat sekali mereka ini ya... hihihi...

Mengetahui mas Tsaka dan Dega jualan layang-layang, teman-teman tetangga sekitar pun jadi latah ikut main layang-layang. Lucunya, karena mas Tsaka sekolah pagi dan Dega sekolah siang maka shift jualan otomatis sudah mereka atur sendiri. Mas Tsaka jualan siang sepulang sekolah aplusan dengan Dega yang sekolah pagi jualannya siang. Mereka njalaninya happy banget, ga kaya saya yang sering ogah-ogahan sewaktu kecil dulu harus piket jaga toko kelontong di rumah 😊

Oiya, ada cerita-cerita menarik selama mereka berjualan lho. Haikal yang bisa sehari 4 kali bolak balik berbelanja sempat dianggap aneh oleh Dega. Katanya, "Haikal itu uang jajannya berapa ya, Bu? Aku hitung dia sudah habis hampir sepuluh ribu lho buat beli layangan aja."

Wah, kritis juga nih bocah. Mungkin Dega membandingkan dengan dirinya yang setiap hari hanya menerima uang saku Rp 3.000 aja kali ya. Itupun masih harus dia sebar lagi untuk uang ini dan uang anu.

Baiklah, mumpung sikonnya pas, saya 'racuni' aja deh sekalian. Saya jelaskan banyak hal mengenai Haikal yang belum paham hitung-hitungan Matematika jadi dia pikir uang orang tuanya selalu ada. Saya juga gambarkan, mengenai kemungkinan orang tuanya yang memang tidak mengajarkannya untuk berhemat. Atau jangan-jangan Haikal disuruh-suruh teman-temannya membelikan layang-layang. Siapa tau kan?

Kemudian saya balikkan keadaan. Gimana jika Dega jadi Haikal? Mau ngga dikasih uang terus sama Mamanya tapi ga diajarin apa yang bisa dibeli, mana yang sebaiknya dibeli.

Tampaknya ia mengerti, Dega menggelengkan kepalanya. "Kasian sebenernya ya bu berarti jadi Haikal."  
Bakat Enterpreneur Dega juga kelihatan sekali. Ketika Aca ragu-ragu memilih mana yang akan dibeli, layang-layang kertas atau plastik. Saya ngikik aja dari dalam rumah mendengar saran dan pendapat Dega. "Kalau layang-layang kertas cocoknya buat main di musim panas, kalau layang-layang plastik itu cocoknya buat musim hujan, ngga bakal basah. Awet deh."

Astaga Dega, siapa juga yang mau main layang layang saat hujan sih? Etapi ini kata saya lho, karena kelihatannya Aca menuruti saran dan pendapat Dega. Dia membeli dua-duanya lho. Hahaha...

Lain waktu mas Tsaka dan Dega gundah gulana. Pasalnya, dari rumor di mobil jemputan Dega ada kabar jika Akbar tetangga sederetan rumah ikut jual layang.

"Enak banget dia niru-niru jualan. Temen temen kan semua jadi pindah belinya ke dia. Udah ah, aku ga mau jualan lagi." Mas Tsaka ngambek.

Saya tertawa. "Ya begitulah hidup. Ngga enak kan kalo apa apa ditiru? Ibu tau banget, apa yang kamu rasa. Tapi kan dari awal kita ngga berniat benar-benar dagang kan?"

Mas Tsaka menatap saya, mencari keyakinan baru. "Iya sih, tapi kan dagangan aku jadi ngga laku."

Hihihihi.. saya bilang, main layang-layang itu musiman. Jadi jangan takut ngga laku. Semua ini kan awet, ngga basi. Jika belum laku, simpan yang baik. Nanti kita main lagi jika musim layang-layang ada lagi."

Waah, saya ngga sangka banyak hal-hal yang luput dari pemikiran saya lho mengenai jual beli yang mereka harus pahami. Saya ngga tega harus mengatakan pada mereka, bahwa kenyataan hidup itu sesungguhnya seperti ini; ada persaingan, ada masa baik dan masa buruk, ada masa kapan harus undur diri sejenak. Duuhh...

Nak, bukan kalian aja yg belajar, ibu pun juga terus belajar. Mari kita sama sama belajar dari kehidupan ini yugh.

6 komentar:

  1. kalau dtempat saya banyak juga org tua yg malah ngelarang anaknya main layangan, padahal kalau lihat apa yg didapat Mas Tsaka dan Dega, pelajarannya banyak juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biarkan anak2 mengeksplorasi masa kecilnya mas, kita orang tuanya cukup mengawasi aja..
      Ssttt, teman saya sampe tua gini ada yg belom bisa nerbangin layangan lho.. mungkin dulunya memang ga pernah main hihiihi

      Hapus
  2. waktu kecil saya suka sekali main layangan di belakang rumah. Manfaatnya banyak kok, daripada banyak menghabiskan waktu dengan main game :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas.. setuju.. syukurlah anak2 udah ga main game lagi.. mereka lebih milih baca buku, main sepeda, atau main bulu tangkis jika ga musim layangan :)

      Hapus
  3. aku dulu pernah main layang2 di atas genteng :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. aku malah ga bisa sama sekali sampe sekarang mak

      Hapus