Kamis, 27 Agustus 2015

Gusti Allah Mboten Sare Nggih, Pak

Kemarin sore mba Nala minta diantar ke Giant dekat rumah untuk beli air mawar. Air mawar? Buat apa? Sempat saya bengong sejenak saat mas Tsaka menggoda mbanya. Dia bilang, "air mawar buat apa mba? Buat nyekar ke kuburan yah?"

"Enak aja... ya buat maskeran lah." Mba Nala melotot keki. Astaga, putri saya ini rupanya makin beranjak gede aja. Kebutuhan pribadinya ga lagi bisa disamakan dengan yang dipakai semua anggota keluarga hehehe...

Baru beberapa meter keluar pagar, di dekat gerbang perumahan saya lihat dua orang bapak berusia paruh baya berjalan memikul kerupuk bangka. Ada sesuatu yang istimewa sehingga saya harus menepikan mobil dan mengejar kedua bapak tersebut.

Bapak yang berperawakan agak gemuk terlihat mengenakan kaca mata hitam. Di tangan kirinya ada sebuah tongkat untuk membantunya melangkah. Di depannya, bapak yang berkulit kuning langsat kelopak matanya sedikit menutup. Dari kejauhan saya melihat mereka berjalan dengan percaya diri meski kegelapan menutupi pandangan mereka. Mereka buta.

Saat saya hampir mendekat, saya dengar abang becak yang sedang duduk dalam becaknya memandu langkah kedua bapak itu agar tidak menabrak becaknya yang sedang diparkir. Alhamdulillah, saya lega melihatnya.

Segera saya berteriak menghentikan langkah kedua bapak itu untuk membeli kerupuk bangka jualannya. Satu plastik besar seharga Rp 13.000 dan satu plastik sedang seharga Rp 7.000 saya beli.

Saat saya tengah memilih, seorang ibu yang baru turun dari angkot mendekat. Dia ikut membeli kerupuk seperti saya. Tanpa menawar pula sama seperti saya tadi. Selesai mengulurkan selembar uang dua puluh ribu, bapak yang berperawakan gemuk itu bertanya pada saya, "kembali ngga bu?"

Masya Allah bapak. Kalau ada orang jahat yang bermaksud akan menipu gimana itu ya? Hati saya mendesir. "Ngga pak, uangnya dua puluh ribu koq. Kan tadi saya beli yang 13 ribu sama 7 ribu. Ya kan?"

Mata saya basah saat kembali ke mobil. Tanpa banyak bicara, saya ulurkan dua plastik kerupuk ke tangan mba Nala dan mas Tsaka. Sesaat saya menyalakan mesin mobil, saya lihat kedua bapak itu belum beranjak. Rupanya ada pembeli lagi, seorang pengendara motor.

Pak, gusti Allah mboten sare nggih. Kekurangan bapak sesungguhnya adalah kekuatan bapak juga. Meski bapak ga bisa melihat, tapi mata orang orang di sekeliling bapak telah menjadi mata pengganti bapak. Meski berjualan berkeliling dalam kegelapan, insha Allah campur tangan-Nya selalu ada untuk mencukupkan rezeki bapak. Semoga dagangannya laris manis ya pak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar