Minggu, 12 April 2015

(REPORTASE) FILM ADA SURGA DI RUMAHMU : MENGAPA MENCARI SURGA YANG JAUH JIKA ADA YANG DEKAT?


27 Maret 2015 lalu merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Bayangkan, saya akan menjadi bagian dari bertaburnya kegembiraan para pendukung film Ada Surga Di Rumahmu dalam Gala Premierre di XXI Epicentrum HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Film drama keluarga religi ini diproduksi oleh Mizan Production, PGN, Nava Production dan disutradarai oleh Aditya Gumay pemilik Teater Ananda yang telah mengorbitkan banyak Selebriti terkenal seperti Olga Syahputra, Ruben Onsu dan lain-lain.


Tidak ingin mengecewakan pihak pengundang dan  tidak ingin melewatkan sedikitpun acara tersebut, saya telah hadir di tempat sejak pukul 15.30 WIB. Setelah mengisi daftar hadir, saya dari komunitas Blogger Reporter dikelompokkan dengan teman-teman dari berbagai Media dan diajak menghadiri Konferensi Pers sebelum menonton film tersebut.

Dalam Konferensi Pers yang berlangsung singkat, Sutradara Aditya Gumay mengenalkan satu demi satu Aktris dan Aktor pendukung seperti Husain Alatas atau lebih dikenal Hussain Idol sebagai Ramadhan, Elma Theana sebagai Umi, Zizi Shahab sebagai Kirana, Nina Septiana yang terkenal lewat ajang Miss World Muslimah 2012 sebagai Nayla, Reyhan Khan sebagai Ramadhan cilik, dan Oka Aurora sang penulis skenario. Selanjutnya, saya baru mengetahui dari salah satu goodie bag yang diberikan panitia-sebuah buku berjudul sama-bahwa Oka Aurora selain menjadi penulis Skenario ia juga merupakan penulis buku yang  didasari kisah pengalaman pribadi Ustad Al Habsy.





Aditya Gumay mengatakan, ada dua kandidat saat memilih casting yang pas dengan tokoh Ramadhan, yaitu Irwansyah dan Hussain Alatas. Dengan pertimbangan wajah khas Timur Tengah yang dimiliki Hussain itu sangat pas, lalu didukung kemampuan acting Hussain yang natural, maka setelah menonton film ini, memang tidak salah pilih jika Aditya memilih Hussain. Salut dari saya, tanpa menjual banyak nama aktris dan actor beken, film ini menjadi tontonan yang sangat menginspirasi hati.

Dalam film berlatar belakang Palembang Sumatera Selatan ini banyak adegan menggunakan dialek khas Palembang. Namun, jangan khawatir, meskipun ada beberapa dialek yang tidak ditranslate, saya masih bisa mengerti dan menikmati jalannya cerita. 

Sempat saya menitikkan air mata saat Ramadhan menangis hebat tanpa suara-agar tidak didengar kedua temannya-rindu pada uminya saat menumpang tinggal sementara di Mesjid. Di scene lain, saya ikut tergelak ketika Nayla dan Kirana dalam waktu hampir bersamaan datang ke rumah Ramadhan untuk menjenguk Umi yang sedang sakit. Saya bisa merasakan kecemburuan Nayla pada Kirana, apalagi buah tangan yang dibawa Nayla hanya seplastik tomat untuk dibuat juice sementara Kirana membawa sekeranjang buah-buahan.

Awal kisah, setelah lulus SD Ramadhan (Hussain Alatas) berpisah dengan kedua saudara kandungnya Raina dan Raihan. Agar bisa terus sekolah, ia harus melanjutkan pendidikannya di pesantren milik Ustad Atthar (Ustad AL Habsy), sahabat/kakak Ayahnya yang letaknya jauh dari rumahnya di tepi sungai Musi.

Di lingkungan barunya ini, Ramadhan bertumbuh dengan dua teman sekamarnya. Seperti botol ketemu tutup, mereka saling melindungi satu sama lain. Setiap ada kesempatan, mereka bertiga kerap mencuri waktu menonton tayangan televisi di warung dekat Pesantren. Ramadhan pun sesumbar dan diamini kedua sahabatnya, suatu hari nanti ia pun akan tampil di televisi, lihat saja katanya.

Sepuluh tahun berselang gayung pun bersambut, pesantren tempat Ramadhan bernaung menjadi lokasi shooting film dimana Kirana (Zhizi Shahab) seorang perempuan asli Palembang turut membintangi film tersebut. Mengetahui kemampuan bela diri yang dimiliki Ramadhan, maka ia ditawari seorang kru film untuk mengikuti casting film laga di Jakarta.

Berbekal tabungan seadanya, ketiga sahabat ini nekat berangkat ke Jakarta untuk menjemput impian mereka meskipun tanpa ijin dari Ustad Atthar. Malang tak dapat ditolak, jadwal casting ditunda. Kebingungan melanda, bagaimana mereka melewatkan beberapa hari dengan uang yang kian menipis. Pergilah mereka menuju mesjid, dan seketika masalah mereka terjawab. Dengan sopan, Ramadhan memohon ijin kepada pengelola mesjid untuk menumpang sementara di Mesjid dan sebagai balas jasanya Ramadhan dan teman-temannya membantu membersihkan Mesjid.

Di malam hari Ramadhan memimpikan Umi, mendadak ia terbangun dengan suara tangis anak lelaki yatim piatu yang sedang bermunajat di mesjid. Anak lelaki itu menceritakan jika waktu bisa berputar kembali, ia ingin bisa berbakti pada orang tuanya, sayang semua itu terlambat, orang tuanya telah tiada akibat kecelakaan lalu lintas.  Ramadhan pun hanya bisa menangis tanpa suara, nalurinya sebagai anak tidak mampu dibohongi. Meski sudah menelpon Abuya pun, ia tetap mengetahui ada yang tidak beres pada Umi. Esok harinya, Ramadhan memutuskan kembali ke Palembang. Kedua temannya sempat menghalangi, namun Ramadhan tetap kukuh pada keinginannya untuk pulang.

Suatu hari, dalam keadaan terbaring sakit, ustad Atthar memberi tahu Ramadhan bahwa Abuya, ayah Ramadhan adalah sosok yang sangat berjasa. Abuya rela mendonorkan sebelah ginjalnya agar Ramadhan bisa melanjutkan pendidikan yang sesuai untuk menjadi Dai. Flash back ke awal cerita, rupanya Abuya melihat bakat Ramadhan menjadi Dai ketika beliau meminta Ramadhan kecil memberi ceramah di mesjid disaksikan teman-temannya dan didengar sepenjuru kampung.

Ustad Atthar berkata untuk yang terakhir kalinya, “Seorang ayah akan berkorban untuk kesuksesan lima orang anaknya, namun lima orang anak belum tentu mau berkorban untuk sang ayah”. Kata-kata tersebut begitu membekas hingga Ramadhan memutuskan menguburkan cita-citanya menjadi Artis dan melunaskan niat Abuya yang ingin menjadikannya seorang Dai.

Cerita yang begitu sederhana namun sarat pesan saya temukan di film ini. Kadang kita sibuk mengejar surga  di tempat yang jauh. Kita pergi berhaji ke Mekkah berkali-kali, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, sedekah berjuta-juta rupiah sampai kita lupa bahwa surga terdekat itu ada di rumah kita, yaitu orang tua dan keluarga.

Aditya Gumay berkata saat Konferensi Pers, “setelah nonton ini, ada lho yang langsung pengen pulang, ketemu ibunya.” Ya, saya setuju dengan ucapannya, setelah menonton film ini saya ingin segera ke rumah Ibu. Kapan ya terakhir kali saya mengunjungi ibu? #cry

Film Ada Surga Di Rumahmu telah ditayangkan serentak 2 April 2015 lalu di bioskop-bioskop. Film yang wajib ditonton karena mengandung banyak hikmah yang bisa didapat. Film ini pun didapuk layak untuk tontonan segala kalangan usia karena non adegan tidak pantas.





5 komentar:

  1. Pengen banget nonton film ini jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Rekomended dariku mak.. Jangan lupa bawa Cinta, Asa dan mas Ari ya :-)
    *ssstt... Baca Mommylicious book seperti berasa kenal luar dalam sama kluarga kecilmu itu deh :-)

    BalasHapus